BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Jumat, 16 Oktober 2020

ANATOMI TENTANG KELENJAR PARATIROID

 


ANATOMI TENTANG KELENJAR PARATIROID

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah tentang “Kelenjar Paratiroid” ini dapat tersusun hingga selesai. Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR                                     
DAFTAR ISI


BAB  I  PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

1.2.        Rumusan Masalah

1.3.        Tujuan

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1.       Kelenjar Paratiroid

2.2.       Mekanisme Kelenjar Tiroid
2.3.       Hormon Pada Kelenjar Paratiroid
2.4.       Efek Hormon Paratiroid
2.5.       Gangguan Fungsi Kelenjar Paratiroid

BAB III PENUTUP

3.1.      Kesimpulan

3.2.      Saran

 

DAFTAR PUSTAKA      

 


 

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Normalnya empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.

Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH).

Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagian besar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan. Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.

1.2 Rumusan Masalah

1.      Bagaimana mekanisme kerja kelenjar paratiroid?

2.      Apa dan bagaiman fungsi hormon yang dihasilkan kelenjar paratiroid?

3.      Apa saja efek hormon paratiroid?

4.      Apa yang terjadi jika kelenjar paratiroid tidak berfungsi normal?

1.3 Tujuan

1.      Untuk mengetahui dan memahami mekanisme kelenjar paratiroid

2.      Untuk mengetahui dan memahami fungsi hormon yang dihasilkan kelenjar paratiroid

3.      Untuk mengetahui efek hormon paratiroid

4.      Untuk mengetahui dan memahami jika kelenjar paratiroid tidak berfungsi normal

 


 

BAB II
PEMBAHASAN

 

2.1 Kelenjar Paratiroid

Manusia mempunyai empat buah kelenjar paratiroid, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya. Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum. Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor didalam darah dan tulang.


Fungsi kelenjar paratiroid :

·         Memelihara kosentrasi ion kalsium yang tetap pada plasma.

·         Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal, mempunyai efek terhadap reabsorbsi hormontubuler dari kalsium dan sekresi fosfor

·         Mempercepat absorbsi kalsium di intestinal.

·         Jika pemasukan kalsium berkurang, hormon paratiroid menstimulasi reabsorsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah.

·         Dapat menstimulasi dan mentransportasi kalsium dan fosfat melalui membran sel.

 

2.2 Mekanisme Kelenjar Paratiroid

Di dalam melaksanakan kerjanya, kelenjar paratiroid diatur dan diawasi secara langsung oleh kelenjar hipofisis. PTH adalah konsentrasi ion-ion kalsium yang terdapat didalam cairan ekstraseluler. Produksi PTH akan meningkat apabila kadar kalsium didalam plasma menurun. Didalam keadaan fisiologis normal, kadar kalsium dalam plasma berada

dalam pengawasan hoemostatik dalam batas yang sangat sempit. Pengawasan ini dipengaruhi oleh perubahan diet setiap hari dan pertukaran mineral antara tulang dengan darah.

Kelenjar Paratiroid mengeluarkan hormon paratiroid. Hormon paratiroid  adalah suatu hormon peptida yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid, yaitu empat kelenjar kecil yang terletak di permukaan belakang kelenjar tiroid Hormon Paratiroid bersama-sama dengan vitamin D dan kalsitonin mengatur kadar kalsium dalam darah. Sintesis paratiroid hormon dikendalikan oleh kadar kalsium plasma, yaitu dihambat sintesisnya bila kadar kalsium tinggi dan dirangsang bila kadar kalsium rendah.

Seperti aldosteron, hormon paratiroid esensial untuk hidup. Efek keseluruhan Hormon paratiroid adalah meningkatkan konsentrasi kalsium dalam plasma dan mencegah hipokalsemia. Apabila Hormon paratiroid sama sekali tidak tersedia, dalam beberapa hari individu yang bersangkutan akan meninggal, biasanya akibat asfiksia yang ditimbulkan oleh spasme hipokalsemik otot-otot pernapasan. Melalui efeknya pada tulang, ginjal, dan usus hormon paratiroid meningkatkan kadar kalsium plasma apabila kadar elektrolit ini mulai turun sehingga hipokalsemia dan berbagai efeknya secara normal dapat dihindari. Hormon ini juga bekerja menurunkan konsentrasi fosfat plasma.

 

2.3 Hormon Pada Kelenjar Paratiroid

Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid/parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur : absorpsi kalsium dari usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang.

Hormon Paratiroid (PTH) adalah hormon petida yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid  yang tumbuh dari jaringan endoderm, yaitu sulcus pharyngeus. Secara normal ada 4 buah kelenjar paratiroid pada tubuh manusia yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid. 2 tertanam di kutub superior dan 2 ladi di kutub inferior. Setiap kelenjar paratiroid panjagnya kira-kira 6mm, lebar 3mm, tebal 2 mm dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama mengandung sel utama (chif cell) yang mengandung aparatus golgi, retikulum endoplasma dan granula sektorik yang mensintensis dan mensekresikan Hormon paratiroid.

Hormon paratiroid (Parathyroid hormone (PTH), parathormone atau parathyrin), disekresikan oleh chief cells  sebagai polipeptida yang terdiri dari 84 asam aminodengan berat molekul 9500. Efek Keseluruhan PTH adalah meningkatkan konsentrasi  plasma (dan CES keseluruhan) sehingga mencegah hipokalsemia. Jika PTH tidak ada samasekali maka kematian timbul dalam beberapa hari, biasanya akibat asfiksia karena spasme hipokalsemik otot-otot pernafasan. Hormon ini juga menurunkan konsentrasi .

 

1.      Stuktur Hormon

PTH (1-34) mengkristal sebagai dimer heliks panjang yang sedikit menekuk. Analisis mengungkapkan bahwa pembentukan perpanjangan heliks hPTH (1-34) kemungkinan adalah konformasi bioaktif. Berikut adalah gambar N-terminal fragmen 1-34 dari hormon paratiroid yang telah mengkristal dan strukturnya telah disempurnakan.

Pada kenyataannya, karena ginjal dengan cepat mengeluarka semua hormone yang mengandung 84 asam amino dalam beberapa menit tetapi gagal untuk mengeluarkan banyak fragmen dalam beberapa jam, maka sebagian besar aktivitas hormonal disebabkan oleh fragmen-fragmen ini.

2.      Fungsi Hormon

Hormon parathyroid berfungsi untuk menstabilkan konsentrasi kalsium dalam darah. Apabila konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler turun sampai dibawah normal ia akan di rangsang pengeluaranya, begitupun sebaliknya, apabila konsentrasi ion kalsium terlalu tinggi melampaui batas normal akan terjadi umpan balik negatif yang menghambat sekresi hormon paratiroid.

3.      Sifat Kimia dan Sekresi Hormon

Proses sintesis hormon ini dimulai dengan precursor hormon dengan jumlah asam amino 115 yang disebut sebagai proparatiroid hrmon (pre-proPTH). Pre-proPTH yang sudah terbentuk akan masuk kedalam ribosom pada retikulum endoplasma yang memungkinkan masuknya kedalam ruang sisterna yang akam memisahkan rangkaian pre- sehingga akan terbentuk proPTH yang terdiri dari 90 asam amino. ProPTH akan dikonversi menjadi hormon paratiroid yang sudah lebih aktif pada aparatus golgi dengan memisahkan asam amino-6 terminal, sehingga akan terbentuk suatu polipeptida dengan 84 asam amino yang kemudian akan disimpan dalam bentuk granula sekretorik dan akan disekresikan apabila ada rangsangan.

Hormon paratiroid dilepaskan dari kelenjar apabila terjadi penurunan ion kalsium plasma dan bekerja pada ginjal dan tulang, dan secara tidak langsung pada usus, Sebagai respon dari penurunan ion kalsium plasma ini, kelenjar tiroid dengan cepat melepaskan hormon paratiroid untuk mengenbalikan kadar kalsium plasma menjadi normal.

Kerja paratiroid juga dipengaruhi oleh fosfat dan kalsitonin, secara tidak langsung vitamin D juga ikut mengatur kerja hormon paratiroid. Apabila keadaan kalsium plasma sudah kembali normal, maka akan diberikan efek umpan balik negatif terhadap kelenjar paratiroid untuk mengurangi sekresi hormonnya.

 

 

 

4.      Sel atau Organ Yang Dituju

Sekresi hormon paratiroid ditujukan pada ginjal, tulang dan usus.

·         Mobilisasi kalsium dari tulang: pada mekanisme yang tidak jelas, efek hormon paratiroid adalah menstimulasi osteoclast terhadap readsorpsi mineral pada tulang, dan liberasi kalsium dalam darah.

·         Pengaturan absorpsi kalsium dari usus halus: terfasilitasinya absorpsi kalsium dari usus halus akan meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Hormon paratiroid menstimulasi proses ini, tetapi secara tidak langsung melalui stimulasi produksi senyawa aktif yaitu vitamin D dalam ginjal. Vitamin D menginduksi sintesis ikatan kalsium protein dalam sel epitel usus halus dan memberikan fasilitas absorpsi yang efisien terhadap kalsium kedalam darah.

·         Penekanan berkurangnya kalsium dalam urin: Adanya stimulasi yang terus menerus kalsium kedalam darah dari tulang dan usus halus, hormon paratiroid merusak eksresi kalsium alam urin, selanjutnya akan menahan kalsium dalam darah. Efek ini diperantarai oleh stimulasi reabsorpsi tubuler kalsium. Efek lain dari hormon paratiroid pada ginjal yaitu menstimulasi ion fosfat dalam urin.

5.      Mekanisme Kerja Hormon

Hormon Paratiroid dan Hormon Tiroid-hubungan protein (PTHrP) merupakan hormon yang mengontrol kesetimbangan kalsium dan fosfor. Dua reseptor telah diidentifikasi bentuk ikatan hormon paratirid dengan tiroid adalah PTHrP.

Tipe I reseptor hormon paratiroid: ikatan kedua hormon paratiroid dan gugus amino terminal senyawa peptida PTHrP. Molekul ini adalah G protein-reseptor coupled dengan 7 segmen transmembran. Bagian ekstraselular mempunyai 6 residu sistein. Ikatan ligan untuk reseptor ini aktivitasnya oleh adenylyl cyclase dan sistem phospholipase C, diturunkan oleh sinyal protein kinase A dan protein kinase c. Jalur siklik AMP lebih dominan.

Kemungkinan peryataan akan aksi hormon paratiroid, penandaan mRNA sebagai reseptor tipe I dengan penyebaran yang luas dalam tulang dan ginjal. Senya mRNA juga dinyatakan pada kadar yang rendah dalam banyak jaringan, kemungkinannya pada reseptor untuk PTHrP.

Tipe II reseptor hormon paratiroid: Ikatan hormon paratiroid, ditunjkan sebagai bentuk yang sangat lambat untuk PTHrp. Molekul ini diekspresikan hanya dalam jumlah yang kecildari jaringan-jaringan, dan bentuknya atau sifat fisiologiknya berbeda nyata walaupun dengan karakteristik yag kecil. Seperti pada reseptor tipe I, juga dalam bentuk ikatan dengan adenylyl cyclase dan induksi ikatan ligan yang meningkat konsentrasi intraseluler untuk siklik AMP.

 

 

6.      Mekanisme Kerja PTH

Adapun Mekanisme Kerja Hormon Paratiroid adalah :

PTH meningkatkan  plasma dengan menarik  dari bank tulang. Sepanjang hidup PTH menggunakan tulang sebagai “bank” untuk menarik  sesuai kebutuhan agar kadar plasma dapat dipertahankan. Hormon paratiroid memiliki dua efek besar pada tulang yang meningkatkan konsentrasi  plasma. Pertama, hormon ini memicu efluks cepat  kedalam plasma dari cadangan labil  yang jumlahnya terbatas dicairan tulang. Kedua, dengan rangsang disolusi tulang, hormon ini mendorong pemindahan dan  secara perlahan dari cadangan stabil mineral tulang didalam tulang itu sendiri kedalam plasma. Akibatnya, remodeling didalam tulang bergeser kearah reabsorpsi tulang dibandingkan pengendapan tulang. 

Efek langsung PTH adalah mendorong pemindahan  dari cairan tulang kedalam plasma. Sebagian besar tulang tersusun membentuk unit-unit osteon, yang masing-masing terdiri dari satu kanalis sentralisyang dikelilingi oleh lamela yang tersusun konsentrik. Lamela adalah lapisan osteosit yang terkubur dalamtulang yang diendapkan disekitar eskosit-eskosit tersebut. Osteon biasanya berjalan sejajar dengan sumbu panjang tulang. Pembuluh darah menembus tulang dari permukaan luar atau rongga sumsum dan berjalan melalui kanalis sentralis. Osteoblas terdapat disepanjang permukaan luar tulang dan disepanjang permukaan dalam yang melapisi kanalis sentralis. Osteoklas juga terdapat di permukaan tulang yang sedang mengalami resorpsi. Osteoblas permukaan dan osteosit yang terkubur tersebut dihubungkan oleh anyaman ekstensif saluran-saluran halus berisi cairan-cairan, kanalikulus, yang memungkinkan pertukaran bahan osteosit yang terperangkap tersebut dan sirkulasi. Saluran halus ini mengandung juluran panjang halus dari osteosit dan osteoblas yang berhubungan satu samalain, seolah olah sel sel tersebut saling berpegangan tangan. Anyaman sel ini disebut membran tulang.

Pada kondisi hipokalsemia kronik,PTH mempengaruhi pertukaran lambat  antara tulang itu sendiri dan CES dengan mendorong disolusi lokal tulang. Hormon melakukannya dengan merangsang osteoklas untuk menelan tulang, meningkatkan pembentukan lebih banyak osteoklas dan secara transien menghambat aktivitas osteobla. Tulang mengandung sedemikian banyak  dibandingkan dengan plasma sehingga meskipun PTH mendorong peningkatan resorpsi tulang, tidak akan terlihat efek nyata yag segera pada tulang karena proporsi tulang yang terkena amatlah kecil.  yang diambil dari tulang, nantinya akan diendapkan kembali dalam tulag ketika konsentrasi dalam plasma darah cukup. Namun, sekresi berlebihan PTH yag terus menerus akhirnya menyebabkan terbentuknya rongga diseluruh tulang yang terisi oleh osteoklas yang banyak. Ketka PTH mendorong larutnya ktrisal  ditulang untuk mengambul kandungan  nya, baik  maupun  dibebaskan kedalam plasma. Peningkatan  plasma merupakan hal yang tidak diinginkan, tetapi dapat diatasi dengan pengaruh PTH terhadap ginjal.

PTH bekerja pada ginjal untuk menghemat  dan mengeluarkan. PTH merangsang konservasi  dan mendorong eliminasi  oleh ginjal selama pembentuka urin. Dibawah pengaruh PTH, ginjal dapat meningkatkan reabsorpsi  yang terfiltrasi sehingga  yang lolos ke

urin lebih sedikit. Efek ini meningkatkan kadar plasma dan menurunkan pengeluaran  diurin. Sebaliknya, PTH menurunkan reabsorpsi sehingga sekresi  diurin meningkat. Akibatnya, PTH menurunkan kadar  bersamaan dengan meningkatnya kadar  . Ini sangat penting untuk mencegah pengendapan   yang dibebaskan dari tulang agar produk kalium fosfat konstan. Oleh karena itu PTH bekerja pada ginjal untuk menurunkan reabsorpsi  oleh tubulus ginjal. Efek penting PTH pada ginjal lainnya adalah pengaktifan vitamin D oleh ginjal untuk mencegah terjadinya difisiensi vitamin D.

Konsekuensi utama defisiensi vitamin D adalah gangguan penyerapan diusus. PTH mempertahankannya dengan mengorbankan tulang. Akibatnya matriks tulang mengalami mineralisasi karena tidak tersedia garam-garam  untuk diendapkan. Akibatnya tulang menjadi lunak dan berubah bentuk yang dikenal sebagai rakhitis.

Secara tidak langsung, PTH mendorong penyerapan dan   oleh usus halus dengan membantu mengaktifkan vitamin D. Vitamin ini sebaliknya secara langsung meningkatkan penyerapan dan   diusus halus.

2.4 Efek Hormon Paratiroid

-

Ginjal

Tulang

Saluran Pencernaan

Merangsang pembentukan vit.D

Meningkatkan mobilisasi  Ca & P dari tulang ke dalam cairan ekstra sel.

Meningkatkan absorbsi Ca dan P dengan bantuan vitamin D.

Meningkatkan reabsorbsi tubulus ginjal terhadap Ca dan Mg.

Meningkatkan pembentukan tulang

 

Meningkatkan penge-luaran P. HCO3 dan Na.

Meningkatkan penghancuran tulang.

 

-   

-       

 

2.5 Gangguan Fungsi Kelenjar Paratiroid

1. Hiperparatiroidisme

Hiperparatiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya. Hiperparatiroidisme dapat menimbulkan berbagai gejala seperti tulang menjadi rapuh, lemah, dan

berbentuk abnormal. Selain itu, kadar ion kalsium yang berlebihan dalam darah dapat masuk ke air seni dan mengendap bersama ion fosfat. Endapan ini dapat membentuk batu ginjal sehingga menyumbat saluran air seni.

Jika jumlah hormon paratiroid yang disekresi lebih banyak daripada yang dibutuhkan maka ini disebut hiperparatiroidisme primer. Jika jumlah yang disekresi lebih banyak karena kebutuhan dari tubuh maka keadaan ini disebut hiperparatiroidisme sekunder.

a)   Hiperparatiroidisme primer                             

Ø  Berkurangnya kalsium dalam tulang sehingga timbul fraktur spontan, sering nyari pada tulang, tumor tulang. Bagian yang sering terkena adalah tulang panjang.

Ø  Kelainan traktus urinarius : defek (kegagalan) pada tubulus ginjal biasanya reversible (bisa kembali), batu ginjal, kadang-kadang neprokalsinosis (deposisi kalsium dalam nepron)

Ø  Manifestasi dari sistem saraf sentral (defresi, konfusi dan koma)

Ø  Kelemahan neuromuskular, tenaga otot berkurang, hipotonik (penurunan tonus) otot, fatigue (hilang tenaga), dan kadang-kadang terjadi aritmia kardiak.

Ø  Manifestasi gastrointestinal : kurang nafsu makan, nausea, muntah (vomitus) dan konstipasi.

b)   Hiperparatiroidisme sekunder

Pada penyakit ini terdapat hiperplasia dan hiperfungsi kelenjar paratiroid yang disebabkan : gagal ginjal kronik dan kurang efektifnya PTH pada beberapa penyakit (defisiensi vitamin D dan kelainan gastrointestinal)

2. Hipoparatiroidisme

Hipoparatiroidisme adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara kongenital). Kadang-kadang penyebab spesifik tidak dapat diketahui. Gejala-gejala utama adalah reaksi-reaksi neuromuscular yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium serum yang sangat rendah.


 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya.

Di dalam melaksanakan kerjanya, kelenjar paratiroid diatur dan diawasi secara langsung oleh kelenjar hipofisis. PTH adalah konsentrasi ion-ion kalsium yang terdapat didalam cairan ekstraseluler. Produksi PTH akan meningkat apabila kadar kalsium didalam  plasma menurun. Didalam keadaan fisiologis normal, kadar kalsium dalam plasma berada dalam pengawasan hoemostatik dalam batas yang sangat sempit. Pengawasan ini dipengaruhi oleh perubahan diet setiap hari dan pertukaran mineral antara tulang dengan darah.

Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid/parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur : absorpsi kalsium dari usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang.

Bila kelenjar paratirod tidak berfungsi normal, maka akan menyebabkan terjadinya beberapa penyakit yaitu :

·         Hiperparatiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya.

·         Hipoparatiroidisme adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat.

3.2 Saran

Dari pembahasan diatas mungkin saja masih banyak kekurangan dalam penyampaian materi maupun cara penyusunannya maka kami mengharapkan saran dari para pembaca makalah ini dan semoga makalah ini bermanfaat.

 


 

Daftar Pustaka

                                                                                  

http://askepnurse14.blogspot.com/2014/05/makalah-kelenjar-paratiroid.html
http://myyunianggraini.blogspot.com/2016/05/kelenjar-paratiroid_22.html

 

 

”RESUME PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENGHADAPI” DILEMA ETIK/MORAL PELAYANAN KEBIDANAN

 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENGHADAPI

DILEMA ETIK/MORAL PELAYANAN KEBIDANAN

 

Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk (Jones,1994).Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang adanya hal yang baik dan buruk serta mempengaruhi sikap seseorang.moral juga merupakan keyakinan individu bahwa seseuatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berbeda.

Isu moral adalah merupakan topik yang penting berhubungan dengan benar dan salah dalam kehidupan sehari hari,sebagai contoh nilai-nilai yang berhubungan dengan kehidupan orang sehari-hari menyangkut kasus abortus,euthanasia, keputusan untuk terminasi kehamilan.isu moral juga berhubungan dengan kejadian yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari,seperti menyangkut konflik,malpraktik,perang dsb.

Dilema moral menurut campbell adalah suatu keadaan yang di hadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hamper sama dan membutuhkan pemecahan masalah.

Contoh kasus dilemma moral:

“seorang ibu primipara masuk kamar bersalin dalam keaadaan inpartu.sewaktu dilakukan anamnesis dia mengatakan tidak mau di episiotomy. Ternyata selama kala II kemajuan kala II berlangsung lambat, perineum masih tebal dan kaku.keadaan ini dijelaskan kepada ibu oleh bidan, tetapi ibu tetap pada pendiriannya menolak di episiotomy.sementara waktu berjalan terus dan denyut jantung janin menunjukkan keadaan fetal distress dan hal iini mengharuskan bidan untuk melakukan tindakan episiotomy, tetapi ibu tetap tidak menyetujuinya.bidan berharap bayinya selamat. Sementara itu ada bidan yang memberitahukan bahwa dia pernah melakukan tindakan ini tanpa persetujuan pasien,maka bidan akan dihadapkan pada suatu tuntutan dari pasien”.sehingga inilah merupakn contoh gambaran dilemma moral.

Pengambilan keputusan dalam pelayan kebidanan

Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative perilaky tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada. Terdapat lima hal pokok dalam pengambilan keputusan, yaitu:

1.      Institusi,berdasarkan perasaan, lebih subjektif dan mudah terpengaruh.

2.      Pengalaman,mewarnai pengetahuan praktis,serngnya terpapar suatu kasus meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus.

3.      Fakta, keoutusan lebih real, valid dan baik

4.      Wewenang, lebih bersifat rutinitas.

5.      Rasional, keputusan bersifat objektif,transparan,konsisiten.

Factor-faktor yang mempengarubu pengambilan keputusan:

1.      Posisi atau kedudukan.

2.      Masalah: terstruktur,tidak terstruktur,rutin,incidental

3.      Situasi:factor konstan,factor tidak konstan

4.      Kondiis,factor-faktor yang menentukan daya gerak

5.      Tujuan,antara atau objektif.

 

Pengambilan keputusan yang etis

Proses pengambilan keputusan merupakan bagian dasar dan integral dalam praktik suatu profesi dan keberadaanya sangat penting karena akan menentukan tindakan selanjutnya. Dalam bidang kesehatan, khususnya pelayaan kebidana,pengambilan keputusan harus dilakuakan melalui pemikiran  mendalam,karena objek yang akan dipengaruhi oleh keputusan tersebut adalah manusia,tidak hanya klien atau pasien dan keluraganya , tetapi juga tenaga kesehatan (bidan, dokter,perawat,dll), serta sitem kesehatan itu sendiri. Jika menurt sejarah kebidanan, awalnya bidan tidak memiliki peran berarti dalam proses pengambilan keputusan.hal ini disebabkan oleh :

a.       Sistem pelayanan kesehatn model paternalistic. Dalam model ini,dokter dianggap sebagai ahli yang paling tau masalah kesehatan,sehingga keberadaan bidan sering kalai terpinggirkan.

b.      Keengangan bidan.pengambilan keputusan mengandung risiko dan tanggung jawab yang akan selalu menyertainya.oleh karena itu,bidan sering kali merasa takut mengemban konsekuensi akibat keputusan yang diambli,sehingga banyak bida yang berusaha menghindari proses pengambilan keputusan.

Ciri keputusan yang etis:

  1. Mempunyai pertimbangan tentang apa yg benar & apa yg salah.
  2. Sering menyangkut pilihan yg sukar
  3. Tidak mungkin dielakkan
  4. Dipengaruhi oleh norma-norma, situasi, iman, tabiat dan lingkungan sosial

Situasi

a.Mengapa kita perlu mengerti situasi ?

            - Untuk menerapkan norma-norma terhadap situasi

            - Untuk melakukan perbuatan yg tepat & berguna

            - Untuk mengetahui masalah yg perlu diperhatikan

b.Kesulitan-kesulitan dalam mengerti situasi:

            - Kerumitan situasi & keterbatasan pengetahuan kita

            - Pengertian kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, prasangka & c. c. c.faktor subyektif yg lainBagaimana kita memperbaiki pengertian kita tentang situasi:

- Melakukan penyelidikan yg memadai

- Menggunakan sarana ilmiah & keterangan para ahli

- Memperluas pandangan tentang situasi

- Kepekaan terhadap pekerjaan

- Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain

 

 

 

 

 

TEORI-TEORI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

 

TEORI UTILITARISME

 

1.      Mengutamakan adanya konsekuensi kepercayaan adanya kegunaan

2.      Dipercaya bahwa semua manusia mempunyai perasaan menyenangkan dan sakit

3.      Ketika keputusan dibuat seharusnya memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan ketidaksenangan

4.      Prinsip umum adalah didasari bahwa tindakan moral menghasilkan kebahagiaan yang besar bila menghasilkan jumlah atau angka yang besa

Dua bentuk teori utilitarisme

1.Utilitarisme berdasar tindakan

      Prinsip: setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan yang akan menghasilkan hasil atau tingkatan yang lebih besar

2.Utilitarisme berdasar aturan

      Modifikasi antara utilitarisme tindakan dan aturan moral, aturan yang baik akan menghasilkan keutungan yang maksimal

Tindakan individu didasarkan atas prinsip kegunaan dan aturan moral.Tindakan dikatakan baik bila didasari aturan moral yang baik.Filsuf John Stuart Mill (1864)

bahwa kesenangan dan kebahagiaan dinilai secara kualitatif.“ everbody to count for one, nobody to count for more than one”.Suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan.Tidak ada seorangpun yang tidak berguna bagi yang lain. Kebahagiaan terbesar adalah milik semua orang yang bisa dirasakan dan berguna bagi banyak orang.

Richard B. brandt Bahwa perbuatan dinilai baik secara moral, jika sesuai dengan aturan moral, jika sesuai dengan aturan moral yang berlaku dan berguna pada suatu masyarakat.

 

TEORI DEONTOLOGY

IMMANUEL KANT (1724-1804)

1.Sesuatu dikatakan baik dalam arti sesungguhnya adalah kehendak yg baik, kesehatan kekayaan, kepandaian adalah baik, jika digunakan dg baik oleh kehendak manusia, tetapi jika digunakan dg kehendak jahat, akan menjadi jelek sekali.

2.Kehendak menjadi baik jika bertindak karena kewajiban.

3.Bertindak sesuai kewajiban disebut legalitas

 

TEORI  HEDONISME

ARISTIPPOS (433-355 SM)

  1. Sesuai kodratnya setiap manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Akan tetapi ada batas untuk mencari kesenangan
  2. Hal yg penting adalah menggunakan kesenangan dg baik, dan tidak terbawa oleh kesenangan.

 

EPIKUROS (341-270 SM)

  1. Dalam menilai kesenangan (hedone) tidak hanya kesenangan inderawi, tetapi kebebasan dari rasa nyeri, kebebasan dari keresahan jiwa juga.
  2. Apa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah kesenangan

 

JOHN LOCKE (1632-1704)

      Kita sebut baik bila meningkatkan kesenangan dan sebaliknya dinamakan jahat kalau mengurangi kesenangan atau menimbulkan ketidaksenangan.

 

TEORI EUDEMONISME

      ARISTOTELES (384-322 SM)

      Dalam buku Ethika Nikomakheia

1.Dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita.

2.Seringkali kita mencapai suatu tujuan untu mencapai tujuan yang lain lagi

3.Semua orang akan menyetujui bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia)

 

 

 

DIMENSI ETIK
DALAM PERAN BIDAN

 

Peran bidan secara menyeluruh meliputi beberapa aspek:

      praktisi, penasehat, konselor, penasehat, teman, pendidik, dan peneliti atau pada garis besarnya adalah pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti dalam pelayanan kebidanan.

Menurut United Kingdom Central Council (UKCC) 1999 tanggung jawab bidan meliputi:

1.Mempertahankan dan meningkatkan keamanan ibu dan bayi

2.Menyediakan pelayanan yg berkualitas dan informasi dan nasehat yg tidak bias yg didasarkan pada evidence based

3.Mendidik dan melatih calon bidan untuk dapat bekerjasama dalam profesi dan memberikan pelayanan dengan memiliki tanggung jawab yang sama, termasuk dengan teman sejawatnya atau kolega, sehingga bagaimana agar fit for practice and fit for purpose (menguntungkan untuk praktik dan menguntungkan untuk tujuan)

 

Dimensi kode etik meliputi:

1.Antara anggota profesi dan klien

2.Antara anggota profesi dan sistem kesehatan

3.Anggota profesi dan profesi kesehatan

4.Sesama anggota profesi

Prinsip kode etik terdiri dari:

1.menghargai otonomi

2.melakukan tindakan yang benar

3.mencegah tindakan yang dapat merugikan

4.memperlakukan manusia dengan adil

5.menjelaskan dengan benar

6.menepati janji yang telah disepakati

7.menjaga kerahasiaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jawaban pertanyaan:

STUDI KASUS

  1. Bidan Alya menangani seorang Ny. Rohali, primipara berusia 35 tahun. Bidan tersebut menggali informasi mulai dari riwayat kesehatan masa lalu, sekarang dan riwayat kesehatan keluarganya.

            Kehamilan Ny.Rohali berusia 14 minggu dan ini merupakan kehamilan yg direncanakan. Pada akhir pertemuan, Ny. Rohali mengatakan bahwa rencana persalinan SC sebagai pilihannya. Bidan Alya menjelaskan bahwa persalinan SC untuk kasus komplikasi, ia tidak melanjutkan diskusinya karena takut memberikan informasi yg salah dan terjadi konflik. Maka bidan Alya menyarankan Ny.Rohali untuk konsultasi ke dokter kandungan. Ada beberapa pertanyaan untuk bahan pertimbangan:

    a. Haruskah bidan Alya meneruskan diskusi tentang persalinan SC sebagai pilihan

    b. Menurut anda apakah keinginan Ny.Alya untuk SC harus dipenuhi?

    c. Haruskah persalinan SC menjadi satu pilihan untuk beberapa ibu, padahal tanpa indikasi?

 Jawban:

A.menurut sepengetahuan saya saat ini bidan Alya tidak perlu meneruskan diskusi tentang persalinan SC tersebut,karena Ibu sudah mengatakan keinginannya dan pasien di berikan kebebasan untuk untuk memilih tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya. Karena seorang bidan harus memberikan informasi yang jelas kepada pasien sehingga dapat dipahami oleh pasien/klien dan setelah ibu memahami  betul penjelasan dari bidan  barulah pasien/klien diberi kebebasan untuk memlih dan menetukan tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya. Tetapi pasien tetap memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang persalinan SCserta bidan pun juga berhak untuk memberikan informasi tentang persalinan SC maupun persalinan normal.

B. menurut saya iya, karena Bidan itu sendiri di akui sebagai tenaga yang professional yang bertanggung jawab ,bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, dan nasehat selama siklus kehidupan(reproduksi wanita) dan bukan memaksakan kehendak orang lain, jika itu yang diinginkan oleh Ny Alya. Namun kita sebagai bidan tidak lepas dari tanggung jawab untuk kedepannya. Sehingga Ny. Alya pun bebas memilih dan menetukan  tindakan yang akan di hadapi atau dilakukan kepada dirinya.

C. menurut saya Tidak,karena persalinan SC ini lebih di peruntukkan untuk kasus kehamilan patologi yang memang tidak bias dilakukan melalui jalan lahir. Persalinan SC ini pun lebih berisiko tinggi di banding persalinna normal yang berisiko rendah. Dikatakan berisiko tinggi karena kerap kali terjadinya infeksi  pada bagian bagian yang di bedah dan pemulihannya juga lama,sedangkan persalinan normal tingkat pemulihan organ reproduksi lebih cepat dan juga saat in partu terjadi penekanan pada dada bayi sehingga membantu atau melatih pernafasan dada bayi.

Kasus 2:

Ny. Della datang ke Rumah Sakit, ia mengeluh banyak keputihan keluar dari kemaluannya. Bidan di rumah sakit melakukan berbagai pemeriksaan seperti pemeriksaan serviks, usapan vagina dan pemeriksaan urine. Hasil pemeriksaan vulva ditemukan sekret yang mukopurulent, tampak kotor, basah, lembab, dan berbau serta terdapat hiperemis di daerah sekitar vulva dan vagina. Ny. Della didiagnosis terkena gonore dan infeksi chlamydia. Setelah selesai pemeriksaan, pada saat istirahat, bidan menceritakan kondisi ibu pada teman sejawat dan mahasiwa bidan. Ada beberapa pertanyaan sebagai bahan pertimbangan:

  1. Apakah tindakan yang dilakukan bidan tersebut melanggar kode etik?
  2. Bagaimana seharusnya tindakan bidan dalam menjamin privasi dan kerahasiaan klien?

Jawaban:

A.    Menurut saya iya. Bidan tersebut telah melanggar kode etik profesi bidan yaitu melanggar kewajiban terhadap tugasnya,salah satunya yaitu”setiap Bidan harus menjamin kerahasian keterangan yang dapat atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan kepentingan klien”. Sedang kan bidan di ats mencerikan ke teman sejawatnya berarti melanggar kode etik profesi nya.

 

B.     Ketika bertugas ,bidan tidak dibenarkan menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya kepada siapapun termasuk keluarganya(contoh, jika menemukan pasien dengan penyakit spilis atau gonore). Kdang-kadang pasien menceritakan  keadaan rumah tangganya kepada bidan dan bidan tidak boleh menceritakan hal tersebut kepada suami atau orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Wahyuningsih,Heni Puji,2005.Etika profesi Kebidanan.Yogyakarta:Fitramaya.

Soepardan,Suryani,2005.Etika Kebidanan & Hukum Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran

Soeparto Pitono,2006. Etika dan Hukum di Bidang Kesehatan. Surabaya : Airlangga university Press