BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Kamis, 15 Oktober 2020

PENGARUH AIR REBUSAN CACING TANAH (LUMBRICUS RUBELLUS) TERHADAP PERTUMBUHAN ENTEROCOCCUS FAECALIS DAN ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO

 

BAB I

PENDAHULUAN 

1.1      Latar Belakang

Cacing tanah telah lama dikenal oleh manusia. Hewan ini hidup di tempat atau tanah yang terlindung dari sinar matahari, lembab dan gembur. Habitat ini sangat spesifik bagi cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Tubuh cacing tanah banyak mengandung lendir sehingga seringkali orang menganggapnya menjijikan.

Dalam dunia pengobatan tradisional Tiongkok, cacing tanah digunakan dalam ramuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Cacing tanah mampu mengobati berbagai infeksi saluran pencernaan seperti typus, demam, diare, serta gangguan perut lainnya seperti maag. Bisa juga untuk mengobati penyakit infeksi saluran pernapasan seperti batuk, asma, influenza dan tuberculosis  (Julendra & Sofyan, 2007).

 Di beberapa tempat di Indonesia seperti Jawa Barat dan Lampung, cacing tanah sudah dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Salah satu jenis cacing tanah yang sering digunakan adalah Lumbricus rubellus yang mengandung protein cukup tinggi yaitu 58-78% berat kering, selain itu juga mengandung 20 jenis asam amino. Di dalam ekstrak cacing tanah juga terdapat zat antipurin, antipiretik, antidota, vitamin dan beberapa enzirn misalnya lumbrokinase, peroksidase, katalase dan selulose yang berkhasiat untuk pengobatan (Rina, 2001).

Aktivitas antibakteri cacing tanah sebagian besar disebabkan oleh adanya peptida antibakteri yang berfungsi untuk melindungi cacing tanah dari mikroorganisme patogen yang hidup di lingkungan yang sama dengannya. Lumbricin-1 merupakan peptida antibakteri yang telah berhasil diidentifikasi dari cacing tanah Lumbricus rubellus dan diduga bekerja dengan cara melubangi dinding sel bakteri dan dapat mengakibatkan kematian bakteri. Peptida ini terbukti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram negatif, Gram positif dan jamur (Najib, 2014).

Enterococcus faecalis merupakan bakteri Gram positif fakultatif anaerob dengan prevalensi resistensi antibiotik meningkat. Bakteri ini ditemukan pada 4-40% infeksi endodontik primer namun sering ditemukan dalam jumlah yang banyak pada gigi pada paska perawatan endodontik dengan lesi periapikal yang persisten. Infeksi umumnya disebabkan  Enterococcus faecalis termasuk infeksi saluran kemih, endocarditis, bakteremia, infeksi kateter terkait, infeksi luka  dan infeksi intra abdomen dan panggul. (Matthew dan Boopathy, 2011).

Bakteri penyebab diare yang sangat sering ditemukan adalah Escherichia coli. Escherichia coli merupakan bakteri oportunis yang banyak ditemukan dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan diare pada pelancong (Karsinah et al, 2010).

Penelitian yang dilakukan Sandra (2012) membuktikan bahwa tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Enterococcus faecalis  dengan konsentrasi 5%,10%,20% dan 80% dalam pelarut akuades dapat menghambat pertumbuhan Shigella dysentriae. Biblio (2011) juga telah membuktikan bahwa tepung cacing tanah  (Lumbricus rubellus) dapat menghambat pertumbuhan Staphylococus aureus, Escherichia coli  dan Salmonella typhi.

Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan  Enterococcus faecalis  dan  Escherichia coli   Secara In vitro”.


1.2 Rumusan Masalah            

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menghambat  pertumbuhan Enterocccus faecalis dan Escherichia coli  secara In vitro.

1.2      Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk  mengetahui  pengaruh air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterocccus faecalis dan Escherichia coli.

  

1.3.2 Tujuan Khusus

a.         Untuk mengetahui apakah air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menghambat pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli

b.         Untuk mengetahui besar zona hambatan yang dihasilkan air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli

c.         Untuk mengetahui perbedaan zona hambat  yang dihasilkan air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli

 

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Penulis

a.       Menambah pengalaman dan pengetahuan tentang pengaruh air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli

 

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Menambah referensi perpustakaan Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru khususnya dalam bidang mikrobiologi.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang khasiat air rebusan cacing tanah sebagai antibakteri.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)

       2.1.1 Klasifikasi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)

    Menurut Rina (2001), klasifikasi cacing tanah (Lumbricus rubellus) adalah sebagai berikut :

Kingdom                     : Animalia

Phylum                        : Annelida

Kelas                           : Oligochaeta

Ordo                            : Torrisela

Family                         : Lumbricidae

Genus                          : Lumbricus

Spesies                        : Lumbricus rubellus

 


       2.1.2 Morfologi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)

Secara alamiah, morfologi dan anatomi cacing tanah berevolusi menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Khairuman (2010) menjelaskan bahwa cacing tanah yang ditemukan hidup di tumpukan sampah dan tanah sekitarnya mempunyai ukuran panjang sangat bervariasi, yaitu berkisar antara beberapa milimeter sampai 15 cm atau lebih.

Gambar 2.1


 

 

Sumber : http://blog.ub.ac.id/nawaby/files/2012/05/cacing.jpg (18 Agustus 2014)

Cacing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen fraksi luar dan fraksi dalam yang saling berhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis   dan seta, kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut), bersifat hemaphrodit (berkelamin ganda) dengan peranti kelamin seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelium (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (selubung bulat) berisi telur dan ova (bakal telur) (Amri, 2010).

Cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandung coelomycetes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan sistem vaskuler tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior, kotoran dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kutikuler (Hanafiah et al, 2003).

       2.1.3 Manfaat dan Kandungan Cacing Tanah (Lumricus rubellus)

Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Lumbricus rubellus memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2.   Sebuah riset baru-baru ini melaporkan, kadar protein yang dimiliki cacing tanah mencapai 58-78% dari bobot kering, dihitung dari jumlah nitrogen yang terkandung di dalamnya. Protein yang dimiliki oleh cacing tanah memiliki mekanisme antimikroba yang berbeda dengan mekanisme antibiotik.

Antibiotik membunuh mikroganisme dengan dua cara, yaitu dengan menghentikan jalur metabolik yang dapat menghasilkan nutrient yang dibutuhkan oleh mikroorganisme atau menghambat enzim spesifik yang dibutuhkan untuk membantu menyusun dinding sel bakteri. Sedangkan, mekanisme yang dilakukan oleh protein yang dimiliki oleh cacing tanah adalah dengan membuat pori di dinding sel bakteri. Hal ini menyebakan sitoplasma sel bakteri menjadi terpapar dengan lingkungan luar yang dapat mengganggu aktivitas dalam sel bakteri dan menyebabkan kematian.

Cacing tanah juga diyakini mengandung 13 jenis asam amino esensial yang kualitasnya melebihi ikan dan daging, dengan demikian mengonsumsi cacing tanah selain bergizi tinggi dan sebagai antibakteri juga dapat menghindari risiko ancaman kholesterol.

2.2 Enterococcus faecalis

       2.2.1 Klasifikasi Enterococcus faecalis

    Menurut Jawetz (2000), klasifikasi Enterocccus faecalis  sebagai berikut :

Kingdom         : Bakteria

Filum               : Proteobakteria

Kelas               : Gamma Proteobakteria

Ordo                : Eubacteriales

Famili              : enterococcaceae

Genus              : Enterococcus

Spesies            : E. faecalis

 

      

2.2.2 Morfologi Enterococcus faecalis

Menurut Soemarno (2001), Enterocccus faecalis  adalah bakteri yang non motil, Gram positif dan bakteri yang berbentuk bulat. Bakteri ini terdiri dari rantai pendek, berpasangan atau bahkan  tunggal.  Bakteri mempunyai habitat di  saluran pencernaan, saluran kemih dan juga dapat berkoloni di rongga mulut manusia. Enterocccus faecalis  merupakan bakteri yang tidak membentuk spora, fakultatif anaerob dengan metabolisme fermentasi.  Bakteri ini berbentuk ovoid dengan diameter 0,5um -1um.

  Enterocccus faecalis   resisten terhadap banyak antibiotik spectrum luas . Resistensi ini diperoleh dari mutasi DNA atau pengadaan gen baru melalui transfer plasmid dan transporson. Gen resisten pada Enterocccus faecalis  disimpan di plasmid sehingga dapat ditransfer kapan saja. Hal ini disebabkan ini disebut dengan resistensi faktor R atau plasmid (resistensi silang)

Gambar 2.2


Enterocccus faecalis  Pada Pewarnaan Gram


                                    Sumber: Soemarno, 2001

       2.2.3 Infeksi  Enterocccus faecalis  

Terdapat sedikitnya 12 spesies enterococcus . Enterocccus faecalis   merupakan yang paling sering dan menyebabkan 85-90% infeksi enterococcus. Enterococcus adalah bakteri yang paling sering meyebabkan infeksi nosokomial , terutama pada unit perawatan intensif dan hanya pada pengobatan dengan sefalosporin dan antibiotic lainnya dimana bersifat resisten  (Hare, 2003).

Enterocccus faecalis  ditularkan dari satu pasien ke pasien lainnya terutama melalui tangan perawat kesehatan yang beberapa diantara mereka mungkin pembawaenterococcus pencernaan. Enterocccus faecalis  kadang - kadang ditularkan melalui alat kedokteran. Pada pasien tempat yang paling sering terkena infeksi adalah saluran kemih, luka tusuk dan dan saluran empedu dan darah. Virulensi bakteri ini disebabkan kemampuannya dalam pembentukan kolonisasi pada host, dapat bersaing dengan bakteri lain, resistensi terhadap mekanisme pertahanan host, menghasikan perubahan patogen baik secara langsung atau secara tidak langsung melalui rangsangan terhadap mediator inflamasi  (Jawetz, 2000).

 

      2.2.4 Pembiakan dan Sifat Pertumbuhan Enterococcus faecalis

Enterococcus faecalis  adalah bakteri yang bertahan hidup pada suhu 5-50 oC dengan pH 4-11.  Pertumbuhan pada medium  Agar darah permukaan koloni sirkular, halus dan menyeluruh. Koloni bewarna abu-abu bersifat alfha atau gamma hemolisa. Enterococcus  faecalis memefermentasi glukosa tanpa pembentukan gas dan tidak menghasilkan katalase dengan hidrogen peroksida. Hal ini dapat menghasilkan reaksi pseudokatalase jika ditanam pada agar darah dan bersifat tidak mencairkan gelatin.Bakteri ini dapat mengkatabolisasi  sumber energi dari  karbohidrat, gliserol, laktat, malat dan  sitrat. Hal ini sangat membantu ketika  E. faecalis hidup di daerah yang minim nutrisi seperti saluran usus yang terinfeksi atau lambung  (Jawetz, 2005).

2.3  Escherichia coli

2.3.1 Klasifikasi Escherichia coli

Menurut Entjang (2003), klasifikasi Escherichia coli secara sistematik adalah sebagai berikut :

Filum                 : Protophyta

Kelas                  : Schizomycetes

Ordo                  : Eubacteriales

Famili                 : Enterobacteriaceae

Genus                : Escherichia

Spesies               : Escherichia coli

 

2.3.2 Sifat Umum dan Morfologi Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek, gram negatif, mempunyai ukuran 0,4-0,7 µm × 1,4 µm, dan sebagian besar gerak positif. Escherichia coli memiliki susunan antigen yang terdiri dari antigen O (somatik), H (flagelar) dan K yang terdapat  pada bagian pembungkus bakteri (Entjang, 2003).

Escherichia coli bersifat oportunis dan banyak ditemukan dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan diare pada pelancong (Karsinah et al, 2010).

                                           Gambar 2.3

                         Escherichia coli  Pada Pewarnaan Gram


                                   Sumber : Karsinah et al, 2010

 

2.3.3 Patogenitas Escherichia coli

Escherichia coli merupakan penyebab diare yang sangat sering ditemukan. Bakteri ini memiliki berbagai strain (jenis) patogenik, di antaranya adalah Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC) sebagai penyebab utama diare pelancong (travelers diarrhea) dan diare pada bayi di negara-negara berkembang, Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC) penyebab utama diare kronik pada anak, Escherichia coli Enteroinvasif (EIEC) yang menyebabkan penyakit mirip disentri, dan Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC) peyebabkan infeksi yang ditandai dengan diare berdarah (Hawley, 2003).

2.3.4 Pembiakan dan Pertumbuhan Escherichia coli

 Jika dilakukan pembiakan, Escherichia coli sangat baik pertumbuhannya pada media Endo Agar dan Mac Concay karena mampu menguraikan laktosa. Penguraian laktosa oleh Escherichia coli akan dihasilkan asam dan formaldehid yang akan melepas ikatan leucofuchin menjadi natrium sulfite dan fuchin kembali, sehingga menimbulkan warna merah. Pembiakan pada media Endo Agar akan terlihat koloni Escherichia coli berwarna merah dengan kilap logam sebagai ciri khas bakteri ini, sedangkan pada media Mac Concay, koloni Escherichia coli berwarna merah (Entjang, 2003).

2.4  Sterilisasi

Menurut Hasdianah (2012), sterilisasi adalah usaha yang dilakukan untuk membebaskan alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba. Penyelididkan suatu spesies mikroba selalu didasarkan atas penyelidikan biakan murni spesies. Oleh karena itu, untuk dapat memisahkan kegiatan mikroba satu dengan mikroba lain atau untuk memelihara suatu biakan murni perlu dipergunakan alat-alat dan medium yang steril.

Sterilisasi alat atau medium dapat dikerjakan secara mekanik (misalnya secara penyaringan), secara kimia (misalnya dengan desinfektan), atau secara fisik (misalnya dengan pemanasan, sinar ultra violet dan sinar X). Cara sterilisasi yang dipakai tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan ( ketahanan terhadap panas, bentuk bahan yang disterilkan: padat, cair atau gas).

 Sterilisasi secara fisik  terdiri atas pemanasan basah dan pemanasan kering.  Sterilisasi dengan pemanasan basah menggunakan autoclave yang dilengkapi dengan katup pengaman dengan suhu sterilisasi 1210C selama 15 menit.  Steriilisasi dengan pemanasan kering terdiri dari pemanasan dengan menggunakan  Oven dengan suhu 150-160 0C selama 1 jam dan pembakaran dengan nyala api sampai pijar (Entjang, 2000).

Sterilisasi kimia selain  menggunakan desinfektan  maka dapat juga digunakan bahan antiseptik. Antiseptik adalah suatu  bahan yang tergantung dari sifat dan cara pemakaiannya ditujukan untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh bakteri pada jaringan hidup sehingga dapat mencegah sepsis. Beberapa jenis antiseptik  antara lain  preparat jodium, alkohol 70% dan lain-lain (Depkes, 2002).  

2.5 Pengujian Secara In vitro

Pengujian secara In vitro adalah pengujian yang dilakukan diluar tubuh, yang berkenaan dengan percobaan biologis yang dilakukan di dalam tabung reaksi atau alat-alat laboratorium lainnya, biasanya dilakukan dengan tujuan untuk percobaan atau penelitian. Penelitian secara In vitro ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari variabel eksperimental pada subjek  dari bagian pokok suatu organisme. Hal ini cenderung untuk memfokuskan pada organ , jaringan, sel , komponen sel, protein , atau biomolekul (Irianto, 2006).

2.6 Ampicilin

Ampicillin adalah antibiotik beta laktam. Sama dengan penicilin lain ampicilin relatif non-toxic. Ampicillin tergolong kelas antibiotik yg disebut penicillin yang digunakan untuk treating infeksi bakteri.  Anggota lain dari kelas ini adalah amoxicillin (Amoxil), piperacilln (Piperacil), ticarcillin (Ticar), dan beberapa lainnya. Antibiotik-antibiotik  tersebut punya mekanisme reaksi yang sama yaitu menghentikan perkembangbiakan bakteri dengan menghalangi bakteri dari pembentukan dinding yang mengelilinginya. Dinding dibutuhkan untuk melindungi bakteri dari lingkungan dan untuk menjaga isi sel. Ampicilin memiliki spektrum kerja yang luas terhadap bakteri Gram negatif misalnya Haemophilus influenzae, Neisseria gonorrhoea, Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Streptococci (Roeshadi, 2005).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian  Eksperimental  laboratories  secara In vitro yaitu melihat daya hambat air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterococus faecalis dan Escherichia coli dengan metode difusi cakram.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

 

 
Populasi pada penelitian ini adalah semua penjual cacing tanah  di  Jl. Pemuda Pekanbaru. Sampel dalam penelitian ini adalah cacing tanah yang direbus dan air rebusannya di buat  digunakan sebagai bahan uji kemudian dilakukan dengan tiga kali pengulangan.

 

3.4 Alat , Bahan dan Medium  Penelitian

       3.4.1 Alat-alat

       Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah  timbangan analitik, autoclave, Oven, gelas ukur, erlenmeyer, lampu spritus, labu ukur, pipet ukur dan Bola hisap, pipet tetes, objek glas, ose cincin, mikroskop, inkubator, batang pengaduk, kapas, kertas saring, disk kosong, corong, spatula, tabung reaksi, rak tabung reaksi, cawan petri, kompor gas, jangka sorong, dan kapas lidi steril.

       3.4.2 Bahan-bahan

    Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air rebusan cacing tanah, strain Enterococcus faecalis, strain Escherichia coli,  NaCl 0,9% steril  (kontrol negatif) dan disk ampicillin  (kontrol positif), alkohol 70% dan larutan Mc Farland (H2SO4 1% dan BaCl22H2O 1,175%).

       3.4.3 Media

    Media  yang digunakan dalam penelitian ini adalah Muller Hinton Agar (MHA) sebagai medium uji daya hambat.

 

 

 

3.5 Prosedur Penelitian

       3.5.1 Sterilisasi

             1. Sterilisasi alat

a)   Cuci alat-alat kaca sampai bersih, lalu keringkan.

b)   Bungkus alat-alat tersebut dengan kertas padi.

c)   Sterilkan dalam Oven pada suhu 150-160o C selama 1 jam.

d)  Setelah cukup waktunya keluarkan dari dalam oven dan biarkan dingin (Hasnyimi, 2010).

             2. Pembuatan Media  MHA

a)         Timbang 3,8 gram media  Muller Hinton agar merk oxoid, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 38gr/L)

b)        Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut, tutup dengan kapas.

c)         Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

d)        Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

e)         Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

f)         Masukkan media tersebut ke dalam Petridis steril

 

             4. Desinfeksi Tempat Kerja

a)         Bersihkan meja kerja dari kotoran dan debu.

b)         Kemudian desinfeksi dengan  menggunakan alkohol 70%.

             5. Antiseptik Tangan

a)         Cuci dan bersihkan tangan terlebih dulu dengan air bersih .

b)         Lalu bersihkan tangan dengan menggunakan alkohol 70%.

       3.5.2 Pengujian Daya Hambat Bakteri

              1. Pembuatan air rebusan Cacing tanah (Lumbricus rubellus)

a)         Siapkan cacing  tanah merah sebanyak 30 ekor

b)         Bersihkan dan pastikan tidak ada unsur  tanah dan kotoran lain untuk

     menjaga kehygienisannya

c)         Siapkan beaker gelas ukuran 500ml

d)        Masukkan cacing tanah ke dalam beaker glas tambahkan 400ml  gelas  

      air rebus hingga mendidih

e)         Saring dan ambil ambil airnya saja

              2. Pembuatan Larutan Mc. Forland

a)         Pipet larutan H2SO4 1% sebanyak 9.5 ml, masukkan ke dalam tabung reaksi.

b)        Tambahkan larutan BaCl22H2O 1,175% sebanyak 0.5 ml, kemudian homogenkan.

              3. Pembuatan Suspensi Bakteri

Ambil satu ose koloni strain  Enterococcus faecalis dan Escherichia coli , kemudian suspensikan dalam tabung yang berisi NaCl 0.9% steril sampai kekeruhan sama dengan larutan standar Mc. Forland.

              4. Penanaman Pada Media Muller Hinton Agar plate

a.    Celupkan kapas lidi steril ke dalam suspensi bakteri yang sudah distandarisasi kekeruhannya, tunggu sampai meresap ke dalam kapas. Kemudian kapas lidi diangkat dan diperas dengan menekankan pada dinding tabung bagian dalam sambil diputar.

b.    Goreskan kapas lidi tersebut pada media Muller Hinton Agar plate dengan memutar cawan petri sampai permukaan media tertutup rapat

c.    Biarkan media Muller Hinton Agar plate selama 5-15 menit supaya suspensi bakteri meresap ke dalam agar.

              5. Penempelan Disk

a.    Penempelan pada Muller Hinton Agar plate dilakukan secara manual satu-persatu dengan pinset.

b.   Siapkan air rebusan cacing tanah, kontrol positif (disk ampicilin), dan kontrol negatif (NaCl 0,9%).

c.    Ambil disk kosong dan celupkan ke dalam air rebusan cacing tanah pada. Letakkan pada permukaan media Muller Hinton yang sudah ditanam Enterococcus faecalis dan Escherichia coli  dengan sedikit ditekan.

d.   Ambil disk ampicilin  dan kontrol negatif dengan menggunakan pinset letakkan pada permukaan media Muller Hinton yang sudah digoreskan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli dan tekan sedikit.

e.      Jarak antara disk yang satu dan disk yang lain tidak kurang dari 2 cm.

f.    Kemudian inkubasi dalam inkubator selama 1 × 24 jam pada suhu 37o C (Soemarno, 2001).

              6. Pembacaan Zona Hambat

a.    Amati zona hambatan yang terjadi di sekeliling disk dan ukur panjang diameternya dengan jangka sorong.

b.   Jika terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti air rebusan cacing tanah memiliki kandungan zat aktif sebagai antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dan Escherichia coli

c.    Jika tidak terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti air rebusan cacing tanah tidak memiliki kandungan zat aktif sebagai antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dan Escherichia coli. Untuk kontrol positif lihat terjadinya zona hambatan apakah bersifat resisten, intermediate dan sensitive (tabel zona hambat terlampir).

 

3.6 Analisa data

Analisa data terhadap uji daya hambat air rebusan cacing tanah terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalisi dan Escherichia coli secara in vitro dilakukan dengan cara mengukur diameter zona bening yang ada di sekeliling disk rebusan cacing tanah  dan diameter yang ada disekeliling disk ampicilin (kontrol positif) dan NaCl 0,9% steril (kontrol negatif). Data yang diperoleh dari penelitian tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan dibahas secara deskriptif.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Biblio, 2011.   Uji Efektivitas Tepung Cacing Tanah Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi, Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, (Online), (//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260, diakses 28 April 2014).

 

Direktorat Jendral PPM & PL dan Direktorat Jendral Pelayanan Medik Mepartemen      Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman sanitasi rumah sakit di Indonesia. Jakarta.

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Hare, R. 2007. Mikrobiologi dan Imunologi. Yayasan Essensia Medica. Jakarta.

Hasyimi, M. 2010. Mikrobiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Trans Info Media. 

       Jakarta.

Hawley. 2003. Mikrobiologi dan Infeksi Penyakit. Penerbit Hipokrates. Jakarta.

Irianto. 2006. Mikrobiologi. Yrama Widaya. Bandung.

Jawetz, Melnick & Adelberg. 2000. Mikrobiologi Kedokteran edisi 20. EGC. Jakarta.

Jawetz, Melnick & Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika.            Jakarta.

Julendra dan Sofyan, 2007. Uji  in Vitro Penghambatan Aktivitas Escherichia coli dengan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus), (Online), (//ejournal.stkip-pgri bar.ac.id/index.php/bio/article/view/44/41, diakses 28 April 2014).

Karsinah et al . 2010. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa Aksara. Jakarta.

Matthews dan Boopathy, 2011.  Enterococcus faecalis an endodontic chalenge. KSR.

 Rina, W. 2001.  Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)     Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli, (Online), (//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260, diakses 28 April 2014)

Sandra, M. 2012. Uji Efektivitas Tepung Cacing Tanah Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Shigella dysentri, (Online), (//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260, diakses 28 April 2014)

 

 

Belum ada :  Najib, khairuman, amri, hanafiah, hasdiana, roeshadi.

 

Soemarno. 2001. Isolasi dan Identifikasi Bacteri Klinik. Akademi Analis Kesehatan. Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar