BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kesadaran
masyarakat mengenai kebersihan makanan merupakan hal yang perlu diperhatikan,
karena makanan atau minuman yang mengandung bahan tercemar bila dikonsumsi akan
menyebabkan penyakit bawaan makanan atau foodborne illness, yaitu
penyakit yang ditularkan melalui makanan. Penyakit bawaan makanan oleh bakteri
umumnya akan menimbulkan gejala diare
(Hastuti, 2004).
Penyakit
bawaan makanan oleh bakteri dapat berupa intoksifikasi atau infeksi.
Intoksifikasi melalui makanan disebabkan oleh adanya toksin bakteri yang
terbentuk didalam makanan pada saat bakteri bermultiplikasi, sedangkan infeksi
melalui makanan disebabkan oleh masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui makanan
yang terkontaminasi dan tubuh memberikan reaksi terhadap bakteri tersebut.
Kedua hal ini akan menyebabkan penyakit pada saluran cerna (Moehyi, 2000).
Makanan
yang aman adalah makanan yang hygiene yaitu terhindar dari cemaran yang berasal
dari faktor-faktor lingkungan seperti bangunan tempat pengolahan makanan, alat
yang dipakai, hygiene peroranganpenjamah makanan, dan air yang digunakan. Ada
keterkaitan antara air, sanitasi, peralatan, lalat, hewan lain, hygiene
perorangan dengan makanan yang mengakibatkan penularan penyakit (Sulistiyani,
2002).
Penyakit
dapat ditularkan dari makanan ke manusia melalui tangan yang tidak bersih,
kotoran yang menempel di badan maupun pakaian, dan percikan ludah. Penjamah
makanan atau orang yang menangani makanan dengan personal hygiene yang rendah
dan kebiasaan sanitasi yang tidak baik, lebih sering mengkontaminasi makanan
dengan organisme enterik. Selama ini, kasus keracunan makanan sering terjadi
adalah akibat seseorang menelan makanan yang telah dicemari racun yang
dikeluarkan oleh bakteri Staphylococcus
(Hartono, 2001).
Makanan siap saji (nasi bungkus) yang di
jual di warung-warung non permanen (tenda maupun gerobak) merupakan golongan
makanan yang berisiko tinggi terkontaminasi bakteri karena disajikan dalam
keadaan tidak panas, sehingga sangat memungkinkan terkontaminasi mikroba.
Sumber Staphylococcus aureus adalah
carrier atau orang pembawa Staphylococcus
aureus dalam tubuhnya yang biasanya
menderita luka atau lesi. Staphylococcus mengkontaminasi makanan dengan dengan cara
kontak langsung, misalnya kontak langsung melalui tangan atau kulit dan pakaian
atau melalui sapu tangan.
Keracunan
Staphylococcus merupakan gejala intoksikasi yang paling
banyak dilaporkan di Amerika Serikat, dimana setiap tahunnya meliputi 20%
sampai 50% dari seluruh keracunan yang disebabkan oleh makanan. Gejala
keracunan ini disebabkan oleh tertelannya suatu toksin yang disebut enterotoksin
yang mungkin terdapat di dalam makanan dan di produksi oleh spesies dan strain
tertentu dari bakteri Staphylococcus.
Toksin ini disebut enterotoksin karena dapat menyebabkan gastroenteritis atau
infllamasi pada saluran usus.
Hasil penelitian Siti Thomas dan Elly
Karlina (2009), dari 22 penjual makanan siap saji (nasi bungkus) di
Telogosari Kulon, Pedurungan dan
Semarang sebanyak 14(63,6%) sampel tidak
terkontaminasi Staphylococcus
aureus dan 8 (36,4%) terkontaminasi Staphylococcus
aureus. Menurut Azwar (2000), dari survey yang perna
dilakukan menunjukkan bahwa 43-97% pegawai yang bekerja pada berbagai industri
pengolahan makanan merupakan pembawa bakteri Staphylococcus, Coliform
dan Enterococci.
Dari latar belakang diatas penulis tertarik melakukaan
penelitian tentang
“Identifikasi Staphylococcus
aureus Pada Makanan Siap Saji
(nasi bungkus) Yang Dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru”.
1.2
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah apakah terdapat Staphylococcus aureus pada makanan siap Saji (nasi bungkus) yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru ?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya cemaran Staphylococcus aureus pada makanan siap saji (nasi bungkus) yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui ada tidaknya Staphylococcus
aureus pada makanan
siap saji (nasi bungkus) yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru.
2. Untuk mengetahui persentasi kontaminasi Staphylococcus aureus pada makanan siap saji (nasi bungkus) yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat
menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahaya Staphylococcus
aureus pada nasi bungkus.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti selanjutnya
di Program DIII Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru khususnya tentang
Identifikasi Staphylococcus aureus
dan sebagai bahan bacaan di Perpustakaan Universitas Abdurrab.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan
dalam mengolah makanan khususnya bagi pedagang makanan siap saji (nasi bungkus).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Staphylococcus
aureus
2.1.1 Klasifikasi Staphylococcus aureus
Dalam klasifikasi, Staphylococcus
aureus dimasukkan ke dalam filum Protophyta, kelas Shizomycetes, ordo
Eubacteriales, famili Micrococcaceae, genus Staphylococcus
dan spesies S. aureus (Entjang,
2001).
2.1.2 Morfologi dan Sifat-sifat Umum
Staphylococcus aureus adalah
bakteri yang tidak bergerak, tidak berspora, diameter 0,8-10 mikron dan gram
positif bulat. Pada sediaan langsung yang diambil dari medium cair terlihat
cocus tunggal, bergerombol dan seperti rantai pendek. Sediaan yang dibuat dari
pembenihan padat biasanya terlihat sebagai gerombolan yang tidak teratur
seperti buah anggur (Jawetz et al,
2005). Hasil pewarnaan Gram Staphylococcus
aureus dapat dilihat pada Gambar 2.1
Gambar 2.1
Hasil Pewarnaan Gram Staphylococcus
aureus

Sumber:
http://tymask.wordpress.com
2.1.3
Pertumbuhan
dan Perbenihan
Jenis-jenis Staphylococcus aureus
di laboratorium tumbuh dengan baik pada media agar darah pada
suhu 370C. Batas suhu untuk pertumbuhannya ialah 150C-400C,
sedangkan suhu pertumbuhan optimum ialah 350C. Pertumbuhan terbaik
dan khas ialah pada suasana aerob dan
anaerob tetapi juga bersifat anaerob fakultatif dengan pH optimum
pertumbuhannya 7,0-7,5. Pada Agar Darah umum koloni
lebih besar dan dikelilingi zona hemolisis. Koloni masih sangat muda tidak berwarna, tetapi dalam
pertumbuhannya terbentuk pigmen kuning keemasan yang larut dalam alkohol, eter
dan klorofom (Warsa, 2000).
Staphylococcus aureus umumnya
meragikan manitol dan dapat tumbuh pada perbenihan dengan konsentrasi garam
yang tinggi 7,5%-10%. Berdasarkan sifat ini maka bakteri ini dapat di isolasi
dari tinja dengan menggunakan perbenihan dengan konsentrasi garam yang tinggi
(Bonang dan Koeswardono, 2002).
2.1.4
Patologi
Staphylococcus aureus
Staphylococcus
aureus menyebabkan penyakit pada hampir semua jaringan tubuh, terutama
berupa abses yang bagian tengahnya mengalami nekrosis berisi leukosit
polimorfonuklear, nanah dan bakteri yang dikelilingi oleh dinding fibroblastik
avaskuler yang terdiri dari fibrin. Infeksinya digolongkan sebagai lokal atau
menyebar. Staphylococcus aureus dapat
menyebabkan folikulitis (infeksi folikel
rambut), furunkel dan karbunkel, pionika (infeksi pada kuku) dan keracunan
makanan karena menghasilkan enterotoksin (Hart, 2001).
2.1.5 Pencegahan dan Pengobatan
Penyebaran langsung dengan kontak fisik dapat dicegah dengan kebersihan
kulit, mencegah pencemaran bakteri pada luka-luka dan lecet. Pengobatan untuk
kasus ringan di luar Rumah Sakit dapat diberikan Penisilin G. Pada infeksi yang
berat atau jika diduga tahan (resisten) terhadap penisilin dapat diberikan
metisilin atau derivat penisilin lain yang resisten penisilinase (Warsa, 2000).
2.2 Makanan
2.2.1 Penjamah Makanan
Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan
makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan,
pengangkutan sampai dengan penyajian. Menurut Purnawijayanti (2001) tenaga
penjamah makanan adalah setiap orang yang secara langsung menangani makanan
baik yang dikemas maupun tidak, menangani peralatan makanan atau yang melakukan
kontak langsung dengan permukaan makanan (Irnawati, 2004).
Syarat utama pengolah makanan adalah memiliki kesehatan yang baik. Untuk itu disarankan pekerja melakukan tes kesehatan, terutama tes darah dan pemotretan rontgen pada dada untuk melihat kesehatan paru-paru dan saluran pernapasannya. Tes kesehatan tersebut sebaiknya diulang setiap 6 bulan sekali, terutama bagi pengolah makanan di dapur (Moehyi, 2000).
2.2.2 Sanitasi Makanan
Secara luas sanitasi adalah penerapan dari prinsip-prinsip yang akan
membantu dalam memperbaiki, mempertahankan atau mengembalikan kesehatan yang
baik pada manusia. Untuk mempraktekkan ilmu ini, maka seseorang harus mengubah
segala sesuatu dalam lingkungan yang dapat secara langsung atau tidak langsung
membahayakan terhadap kehidupan manusia (Jenie, 2001).
Menurut WHO, sanitasi makanan dapat diartikan pula sebagai upaya
penghilangan semua faktor luar makanan yang menyebabkan kontaminasi dari bahan
makanan sampai dengan makanan siap saji. Tujuan dari sanitasi makanan itu
sendiri adalah mencegah kontaminasi bahan makanan dan makanan siap saji
sehingga aman dikonsumsi oleh manusia (Purnawijayanti, 2001).
2.3 Sterilisasi
Menurut
Hasdianah (2012), sterilisasi adalah usaha yang dilakukan untuk membebaskan
alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba.
Penyelididkan suatu spesies mikroba selalu didasarkan atas penyelidikan biakan
murni spesies. Oleh karena
itu, untuk dapat memisahkan kegiatan mikroba satu dengan mikroba lain atau
untuk memelihara suatu biakan murni perlu dipergunakan alat-alat dan medium
yang steril.
Sterilisasi
alat atau medium dapat dikerjakan secara mekanik (misalnya secara penyaringan),
secara kimia (misalnya dengan desinfektan), atau secara fisik (misalnya dengan
pemanasan, sinar ultra violet dan sinar X). Cara sterilisasi yang dipakai
tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan (ketahanan terhadap panas, bentuk bahan yang
disterilkan: padat, cair atau gas).
Sterilisasi secara fisik terdiri atas pemanasan basah dan pemanasan
kering. Sterilisasi dengan pemanasan
basah menggunakan autoclave yang
dilengkapi dengan katup pengaman dengan suhu sterilisasi 1210C
selama 15 menit. Steriilisasi dengan
pemanasan kering terdiri dari pemanasan dengan menggunakan Oven dengan suhu 170-180 0C selama
2 jam dan pembakaran dengan nyala api sampai pijar (Entjang, 2000).
Sterilisasi
kimia selain menggunakan desinfektan maka dapat juga digunakan bahan antiseptik.
Antiseptik adalah suatu bahan yang
tergantung dari sifat dan cara pemakaiannya ditujukan untuk mencegah
pertumbuhan atau membunuh bakteri pada jaringan hidup sehingga dapat mencegah
sepsis. Beberapa jenis antiseptik antara
lain preparat jodium, alkohol 70% dan
lain-lain (Depkes, 2002).
2.4 Pengujian Secara Invitro
Pengujian
secara In vitro adalah pengujian yang
dilakukan diluar tubuh, yang berkenaan dengan percobaan biologis yang dilakukan
di dalam tabung reaksi atau alat-alat laboratorium lainnya, biasanya dilakukan
dengan tujuan untuk percobaan atau penelitian. Penelitian secara In vitro ini bertujuan untuk menjelaskan
pengaruh dari variabel eksperimental pada subjek dari bagian pokok suatu organisme. Hal ini
cenderung untuk memfokuskan pada organ , jaringan, sel, komponen sel, protein , atau biomolekul
(Irianto, 2006).
|
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Desain Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Eksperimental
Laboratory secara in vitro.
3.2 Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi
Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
pada penelitian ini adalah semua penjual makanan siap saji (nasi bungkus) di Jalan Sempurna Gang Anggrek Pekanbaru. Sampel dalam penelitian ini adalah makanan
siap saji (nasi bungkus) yang di beli
dari 3 penjual makanan siap saji (nasi
bungkus) di Jalan Sampoerna Gang Anggrek
Pekanbaru. Sampel makanan siap saji
(nasi bungkus) diambil masing-masing tiga nasi bungkus dengan lauk yang
berbeda.
3.4 Teknik
Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel secara sensus artinya teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel. (Riduwan, 2010).
3.5 Bahan, Medium dan Alat
Bahan-bahan yang dipakai adalah makanan siap saji
(nasi bungkus), larutan NaCl 0,9%, Aquades, darah, H2O2
3%, Alkohol 96%, Alkohol 70%, disk novobiosin, Gentien Violet, Lugol,
Fuchsin. Medium yang dipakai dalam penelitian ini adalah Agar Darah, Manitol
Salt Agar (MSA), Brain Heart Infusion Broth (BHI), D-Nase Agar, Nutrien Agar,
Muller Hinton Agar.
Alat yang digunakan adalah labu erlenmeyer, labu
takar,gelas ukur, pipet takar, pipet tetes, gelas kimia, lumpang, timbangan
analitik, pemanas, cawan Petri, tabung reaksi, rak tabung reaksi, batang
pengaduk, autoclave, inkubator, oven, jarum ose, kaca objek, mikroskop, lampu
bunsen, kertas pH, lemari es dan kapas.
3.6 Prosedur
Kerja
3.6.1 Persiapan Alat
Alat-alat gelas yang digunakan dalam penelitian ini
disterilkan terlebih dahulu dalam oven pada suhu 1600C selama 1 jam
atau autoclave pada suhu 1210C selama 15-20 menit pada tekanan 15
atm dan jarum ose dipijarkan pada lampu bunsen.
3.6.2 Penyediaan Medium
Pada dasarnya medium pengkulturan mikroba disediakan
dengan cara melarutkan serbuk medium untuk Brain Heart Infussion Broth sebanyak
16 gram dan Manitol Salt Agar sebanyak 105 gram, Nutrien Agar sebanyak 23 gram,
D-Nae agar sebanyak 28 gram, Muller hinton agar sebanyak 39 gram, Agar Darah sebanyak 40 gram (seperti tertera pada kemasan di dalam satu
liter aquades) dan diaduk serta
dipanaskan.Untuk medium padat
setelah agar larut semua, pH
medium diukur dengan kertas pH. Kemudian
medium tersebut disterilkan dengan autoclave pada suhu 1210C dengan
tekanan 15 atm selama 15-20 menit. Seterusnya medium dituang ke cawan Petri
steril, dan untuk medium Agar Darah ditambahkan darah 5-8%. Untuk medium cair setelah semua bahan medium larut
dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan disterilkan dengan autoclave.
3.6.3 Desinfektan Tempat Kerja dan Aseptis
Tangan
Bersihkan
tempat kerja dan tangan dengan menggunakan larutan alkohol 70% sebagai
desinfektan.
3.6
4 Isolasi Bakteri
Sampel makanan siap saji (nasi bungkus) diambil 10
gram ( nasi dan lauk yang sudah tercampur rata) ke dalam 100 ml larutan NaCl
0,9% haluskan dalam lumpang steril. Masukan 1 ml sampel yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam medium enrichment BHI
Broth lalu di inkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam. Kemudian
dari medium BHI Broth yang tumbuh dengan terjadinya kekeruhan dilakukan
pewarnaan Gram untuk melihat bentuk sel bakteri. Jika didapat bakteri coccus Gram
positif ditanam secara zig-zag ke medium Agar Darah. Lalu diinkubasikan pada
suhu 370C selama 24 jam.
Setelah
masa inkubasi akan terlihat koloni bakteri pada permukaan medium dengan
mengamati bentuk, warna, sifat,ukuran dan permukaan koloni. Lakukan kembali
pewarnaan Gram dari koloni yang terdapat pada medium dan tes katalase.
Subkultur ke medium Agar Darah steril
jika tersangka Staphylococcus untuk mendapatkan biakan murni. Kemudian
ditanam ke dalam medium Manitol Salt Agar inkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam Setiap reaksi
yang timbul pada medium tersebut dicatat dengan teliti (Sembiring, 2000).
3.6.5
Pewarnaan Gram
Kaca objek
bersih dari lemak ditetesi 1-2 tetes larutan NaCl 0,9% steril satu ose bakteri
diletakkan di atas tetesan larutan NaCl 0,9%, ratakan dan fiksasi. Tetesi
larutan gentien violet 1-2 tetes di atas kaca objek biarkan selama 1 menit, buang
larutan gentien violet cuci tetesi lugol
selama 30 detik cuci dengan air mengalir kemudian lunturkan
dengan alkohol 96% sampai zat warna gentian violet tidak mau luntur lagi cuci
dengan air mengalir dan tetesi fuchsin selam 1 menit cuci kembali dengan air
mengalir dan keringkan. Kaca objek ditetesi dengan minyak imersi selanjutnya objek
diamati di bawah mikroskop (Merc, 2007).
3.6.6
Subkultur
Untuk mendapatkan biakan murni dari bakteri perlu
dilakukan subkultur pada medium baru dengan cara menanam ulang koloni yang
tumbuh pada medium Agar Darah .
3.7 Pengamatan
Semua pengamatan dilakukan berdasarkan
panduan Bergeys Manual of Determinative Bakteriologi ( Soemarmo, 2000)
3.7.1
Pertumbuhan Pada Medium Cair ( BHI Broth)
Untuk memperbanyak bakteri terlebih dahulu ditanam
pada media cair jika terjadi pertumbuhan bakteri akan terlihat kekeruhan pada
medium yang sebelumnya terlihat jernih dan jika tidak terjadi pertumbuhan maka
medium tetap jernih seperti semula.
3.7.2
Hasil Pewarnaan Gram
Hasil pewarnaan Gram, diamati di bawah mikroskop. Pengamatan dilakukan terhadap zat warna.
Jika bakteri berwarna ungu berarti termasuk bakteri Gram positif dan jika
berwarna merah jambu termasuk bakteri Gram negatif.
3.7.3 Pertumbuhan Koloni Pada Medium Selektif (Agar Darah dan MSA)
Koloni Staphylococcus
aureus bentuk bulat, ukuran sedang,
berwarna kuning emas dan mampu menghemolisa eritrosit terbentuk gelanggang
jernih di sekeliling koloni. Pada
medium Manitol Salt Agar berwarna kuning karena mampu meragikan manitol dan
merubah pH menjadi asam.
3.7.4
Uji Katalase
Satu koloni
dari medium Agar Darah ditetesi dengan larutan H2O2 3%, apabila ada gelembung udara katalase positif
dan apabila tidak ada gelembung udara katalase negatif. Uji katalase digunakan
untuk membedakan genus Staphylococcus
dari genus Streptococcus.
|
Satu koloni dari medium Agar Darah di kultur pada
medium D-Nase Agar setelah ditetesi dengan HCL 10 % jika terjadi gelanggang
jernih dilaporkan tes D-Nase positif, jika tidak terjadi gelanggang jernih
(sensitif). Staphylococcus aureus, Staphylococcus
albus bersifat yang lain.
|
Satu koloni dari medium Agar Darah di kultur pada
medium Nutrien Agar secara zig-zag setelah masa inkubasi dengan melihat warna
pigmen yang dihasilkan Staphylococcus aureus berwarna kuning
emas, Staphylococcus albus berwarna
putih susu dan Staphylococcus citreus
berwarna kuning jeruk.
|
Satu koloni dari medium Agar Darah di buat suspensi keruh yang telah disamakan dengan larutan Mc. Farland ditanam sampai merata dipermukaan medium Muller Hinton agar biarkan selama 5 menit. Letakkan disk novobiosin tekan sedikit dan Inkubasi. Lihat apakah terjadi zona jernih (sensitif). Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus bersifat sensitif terhadap novobiosin sedangkan erwarna putih susu dan Staphylococcus citreus bersifat resisten
3.8 Jenis
dan Pengumpulan Data
Jenis dan pengumpulan data dalam
penelitian ini diperoleh melalui data primer, yaitu peneliti langsung melakukan
penelitian dengan melakukan Eksperimen langsung terhadap sampel makanan siap
saji (nasi bungkus).
3.9 Pengolahan
dan Analisa Data
Data yang diperoleh dari penelitan ini di
nyatakan secara Deskriptif dalam bentuk tabel.
DAFTAR
PUSTAKA
Azwar, S.2000. Pedoman Bidang Studi Sanitasi Makanan dan
Minuman Pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi. Pusat Tenaga Kesehatan.
Depkes RI. Jakarta.
Bonang G dan E,S. Koeswardono. 2002. Mikrobiologi
Kedokteran Untuk Klinik. Gramedia. Jakarta
Depkes. 2000. Pedoman sanitasi Rumah sakit Di Indonesia.Direktorat Jendral
PPM, PL dan Direktorat
Jendral pelayanan Medik. Jakarta.
Entjang, I. 2000. Mikrobiologi
dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang
sederajat. PT. Citra Aditya. Bandung
Entjang, I. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan. Citra
Aditya Bakti. Bandung
Hart. 2001. Atlas berwarna Mikrobiologi Kedokteran.
Hipokrates. Jakarta
Hastuti, WP. 2004. Faktor
Produksi Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Kontaminasi Bakteri Pada Makanan.
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme.
Yrama widya. Bandung
Irnawati, M. 2004. Study Tentang
Pengetahuan Dan Kebersihan Penjamah Makanan Pada Tempat Umum Pariwisata Di DKI
Jakarta. (online). (https://www.google.co.id/search?q=penjamah+makanan+pdf&ie=utf-8&oe=u
8&rls=org.mozill
a&channel=nts&gws_rd=cr&ei=dykpVI_HMs7JuATBx4GgDg diakses 01
Oktober 2014).
Jawetz, E., Melnick, G.E., 2000, Mikrobiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.
Jenie, et all .2001. Sanitasi Dalam
Industri Pangan. IPB
Merck. 2007. Microscopy Gram-color. Merck. Germay
Moehyi, S., 2000. Penyelenggaraan
Makanan Institusi dan Jasa Boga. Jakarta: Bharata
Purnawijayanti, H. 2001. Sanitasi, Higiene dan Keselamatan Kerja
dalam pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius
Riduwan. 2010. Metode dan Penyusunan Tesis. Alfabeta. Bandung
Sembiring,T.UJ. 2000. Teori
dan Penuntun Bakteriologi Untuk Akademi Analis Kesehatan. Medan.
Thomas,
S dan Karlina, E. 2009. Faktor Perilaku
yang Berhubungan Dengan Kontaminan Bakteri Staphylococus aureus Pada Makanan
Siap Saji.
Soemarmo. 2000. Isolasi dan
Identifikasi Bacteri Klinik. Akademi Analis
Kesehatan.Yogyakarta.
Sulistiyani. 2002. Manajemen
Penyehatan Makanan dan Minuman. Lembaga Penelitian UNDIP. Semarang
Warsa,UC. 2000. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. AGC. Jakarta
Pustaka yang belum : hasdiana







0 komentar:
Posting Komentar