BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Rabu, 14 Oktober 2020

MAKALAH KASUS ABORTUS IMMINENS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

     Angka Kematian Ibu juga menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penangananya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan,  melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan ) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup (Profil Dinkes, 2013).

 AKI pada tahun 2012 sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup mengalami peningkatan dibanding tahun 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini memacu untuk terus menelaah penyebab kematian ibu agar target MDG’s (102 per 100.000 kelahiran hidup) dapat tercapai (Profil Dinkes, 2013).

Data yang diperoleh dari dinas kesehatan Provinsi Riau angka kematian ibu tahun  2012 disebabkan oleh perdarahan sebanyak 28% kasus, pre-eklamsia dan eklamsia 24% kasus, hipertensi dalam kehamilan  sebanyak 20% kasus, infeksi 11% kasus, abortus 5% kasus dan penyakit lain seperti penyakit jantung, diabetes dan lain-lain (Widyastuti, 2011)

Perdarahan antepartum sebanyak 52%, abortus menyumbang sebanyak 20%, plasenta previa 7%, plasenta akreta / inkreta 6% dan solusio plasenta 19%. Perdarahan postpartum sebanyak 45%  terjadi pada 24 jam pertama, 68-73% dalam satu minggu setelah bayi lahir (Saifuddin, 2010)

WHO memperkirakan 15-20% kematian maternal disebabkan oleh komplikasi abortus. Abortus merupakan  masalah kesehatan karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan. Sebanyak 10-15% kehamilan yang telah di diagnosis secara klinis berakhir dengan keguguran (Varney, 2007).  

                Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, setiap tahun diperkirakan 1,5-3 juta ibu mengalami abortus. Kejadian abortus yang terjadi di Indonesia disertai dengan  komplikasi utama berupa perdarahan dan infeksi yang dapat berakhir dengan kematian (Depkes RI). Pada tahun 2012 abortus menyumbang angka kematian ibu di Indonesia sebesar 1,6% (Kemenkes RI, 2015).     

           Ada beberapa factor yang merupakan  predisposisi terjadinya abortus salah satunya karena kurangnya pengatahuan ibu, pada dasarnya abortus dapat dicegah dengan mengenal tanda bahaya selama kehamilan. Secara teoritis ada beberapa bahaya selama kehamilan khususnya hamil muda yang meliputi: perdarahan yang timbul hanya berupa bercak atau perdarahan yang banyak  dan disertai rasa sakit dibagian perut (Kusmiaty, dkk, 2009). Tanda bahaya pada kehamilan  menunjukkan ibu dan janin yang dikandung dalam  bahaya. Bila ada tanda bahaya, biasanya ibu perlu  mendapatkan pertolongan dirumah sakit untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi yang dikandungnya (Laily, 2011).

           Berdasarkan hal diatas  maka penulis tertarik untuk membahas laporan kasus praktik komprehensif  dengan judul “ Asuhan kebidanan pada Ny. R gravida 12 minggu dengan abortus imminens “.

1.2  TUJUAN

1.   Tujuan umum

                  Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan  pada  Ny. R gravida 12 minggu  dengan abortus imminens melalui pendekatan manajeman kebidanan dan dapat mendokumentaasikan asuhan kebidanan yang telah diberikan.

 

 

2.   Tujuan Khusus

a.          Melakukan pengumpulan data subjektif pada Ny. R gravida 12 minggu dengan abortus imminens

b.         Melakukan pengumpulan objektif pada Ny. R gravida 12 minggu dengan abortus imminens

c.          Menentukan diagnose dan masalah kebidanan pada Ny. R gravida 12 minggu dengan abortus imminens

d.         Melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan pada Ny. R gravida 12 minggu dengan abortus imminens.

 

1.3        MANFAAT PENELITIAN

1.         Manfaat keilmuan

                        Hasil penulisan dapat memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada ibu dengan Abortus Imminens

2.         Manfaat aplikatif

                                Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens menggunakan pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian SOAP.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                       

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

2.1. KEHAMILAN

  2.1.1  Pengertian

Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo,2016).

2.1.2 Tanda dan Gejala Kehamilan

Menurut Suririnah (2008) untuk dapat menegakkan kehamilan ditetapkan dengan melakukan penilaian terhadap beberapa tanda dan gejala kehamilan, yaitu :

a)       Amenorea (berhentinya menstruasi)

            Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de graf dan ovulasi sehingga menstruas tidak terjadi. Lamanya amenorea dapat diinformasikan dengan memastikan hari pertama haid terakhir (HPHT), dan digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan tafsiran persalinan.

b)      Mual (nausa) dan muntah (emesis)

            Pengaruh esterogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebih dan menimbulkan mual muntah yang terjadi terutama pada pagi hari yang disebut morning sicknes.

 

c)   Ngidam (menginginkan makan tertentu)

      Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian disebut ngidam. Ngidam sering terjadi pada bulan-bulanan pertama kehamilan dan akan menghilang dengan tuanya kehamilan.

d)     Syncope (pingsan)

            Terjadi gangguan sirkulasi darah ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan syncope atau pingsan.

e)      Kelelahan

            Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari penurunan kecepatan basal metabolisme (basal metabolisme rate – BMR) pada kehamilan yang akan meningkatkan seiring pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas metabolisme hasil konsepsi.

f)       Payudara tegang

            Esterogen meningkatkan perkembangan sistem duktus pada payudara, sedangkan progesterone menstimulasi perkembangan sistem alceolar payudara. Bersama somatomamotropin, hormon-hormon ini menimbulkan pembesaran payudara, menimbulkan perasaan tegang dan nyeri selama dua bulan pertama kehamilan, pelebaran puting susu serta pengeluaran kolostrum.

g)      Sering miksi

            Desakan rahim menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi.

h)      Konstipasi atau obstipasi

            Pengaruh progesterone dapat menghambat peristaltik usus (tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB.

 

 

i)    Pigmentasi kulit

                 Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih 12 minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.

j)    Epulis

      Hipertrofi papila ginggivae / gusi, sering terjadi pada triwulan pertama.

k)   Varices

Pengaruh esterogen dan progesterone menyebabkan pelebaran pembuluh darah terutama bagi wanita yang mempunyai bakat. Varices terjadi disekitar genitalia eksterna, kaki dan betis, serta payudara.

2.1.3 Tanda Pasti Hamil

a.       Denyut jantung janin

b.      Gambaran sonogram janin

c.       Gerakan janin ( Prawiroharjo 2016 )

 

2.2  ABORTUS

2.2.1         Pengertian

        Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan sebagai batasan adalah kehamilan yang kurang dari 500 g (Prawirohardjo, 2016).

 

 

 

 

 

 

2.2.2   Macam-Macam Abortus

1) Abortus imminens

            Abortus tingkat permulaan, merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai dengan perdarahan pervaginam, sedangkan jalan lahir masih menutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.

2)         Abortus insipiens

        Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah mendatar, osteum uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih didalam kavum uteri dalam proses pengeluaran.

  3)    Abortus komplet

         Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

4)   Abortus inkomplet

        Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal.

5)      Missed abortion

         Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih dalam kandungan.

6)    Abortus habitualis

        Abortus spontan yang terjadi sebanyak tiga kali atau lebih secara berturut-turut

7)   Abortus infeksius

        Abortus yang disertai infeksi organ genitalia.

 

8)    Abortus septik

         Abortus yang terinfeksi dengan penyebaran mikroorganisme dan produknya ke dalam sirkulasi sistemik ibu. (Prawirohardjo, 2016).

Tabel Macam-macam Abortus 

DIAGNOSA

PENDARAHAN

NYERI PERUT

UTERUS

SERVIKS

GEJALA KHAS

Abortus iminens

sedikit

sedang

Sesuai usia gestsi

tertutup

Tidak ada ekspulsi jaringan konsepsi

Abortus Insipiens

Sedang - banyak

Sedang- hebat

Sesuai usia gestasi

Terbuka

Tidak ada ekspulsi jaringan konsepsi

Abortus inkompet

Sedang - banyak

Sedang- hebat

Sesuai usia gestasi

Terbuka

Ekspulsi sebagian jaringan konsepsi

Abortus Komplit

Sedikit

Tanpa/sedikit

Lebih kecil dari usia gestasi

Terbuka/ tertutup

Ekspulsi seluruhnya jaringan konsepsi

Missed Abortion

Tidak ada

Tidak ada

Lebih kecil dari usia gestasi

Tertutup

Jaringan telah mati tapi tidak ada ekspolsijaringan konsepsi

Sumber : Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, 2013.

2.2.3 Etiologi

Abortus terjadi karena beberapa sebab, antara lain:

1.         Kelainan petumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Factor yang menyebabkan kelainan ini adalah:

a.       Kelainan kromosom terutama trisomy, autosom dan monosomi X

b.      Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.

c.       Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan alcohol

 

2.         Kelainan pada plasenta endertaritis vili korialis karena hipertensi menahun

3.         Factor maternal, pneumonia, typus, anemia berat, dan plasmosis.

4.         Kelainan trektus genitalia seperti inkompetensi servix (untuk abortus pada trimester ke II), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

 

2.2.4 Patofisiologi Abortus

        Pada awal abortus terjadi perdarahan desidua basalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut (Masjoer, 2001).

 

2.2.5 Manifestasi Klinis

      Menurut Masjoer 2001 menjelaskan bahwa tanda dan gejala abortus antara lain :

1.      Terlambat haid amenore kurang dari 20 minggu

2.      Pada pemeriksaan fisik terdapat keadaan umum tampak lemah, kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, dan suhu  badan normal atau meningkat.

3.      Pendarahan pervaginam, mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi.

4.      Rasa mulas atau keram perut didaerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang, akibat kontraksi uterus.

5.      Pemeriksaan ginekologi :

a.    Inspesksi vulva: pendarahan pervaginam, ada/tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva.

b.   Inspekulo: pendarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

c.    Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba/ tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai/lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglasitidak menonjol dan tidak nyeri.

2.2.6           Pemeriksaan penunjang :

a)       Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus

b)      Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup

c)      Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.

 

2.3  KONSEP ABORTUS IMINENS

             Diagnosa klinis abortus mengancam, ditegakkan jika terjadi perdarahan atau pengeluaran duh berdarah melalui os serviks yang tertutup selama paruh pertama kehamilan.Hal ini terjadi pada 20 -50% wanita selama gestasi dini dan daapat menetap selama beberapa hari sampai minggu.Sekitar separuh dari kehamilan ini akan gugur,meskipun resiko ini jauh lebih rendah jika aktifitas jantung janin terdeteksi. Tidak ada terapi yang efektif untuk abortus mengancam . Tirah baring , meskipun sering dianjurkan, tidak mengubah perjalanannya. (Cunningham,2013)

Menurut Nugroho 2012 diagnosis abortus iminnens :

1.       Anamnesa :

a.       Amenorea, dengan PP test (+)

b.      Vaginal spoting, keluarnya darah minimal / light

c.       Diikuti nyeri abdomen ( low abdominal pain / abdominal cramping )dalam beberapa jam hingga hari setelah vaginal spoting.  Nyeri biasanya terletak dianterior dan berirama seperti persalinan biasa, serangan nyeri biasanya berupa nyeri pinggang bawah persisten disertai perasaan tekanan pada panggul,atau bisa berupa nyeri tumpul pada daerah simpisis pubis disertai nyeri tekan didaerah uterus.

2.      Pemeriksaan Ginekologi :

a.       Osteum uteri Eksternum (OUE) tertutup

b.      Gestasional sac (GS)  masih utuh sehingga tidak ada cairan amnion ataupun jaringan yang keluar

c.       Biasanya fetus masih hidup.

 

                  Diagnosis abortus iminens biasanya di awali dengan keluhan perdarahan pervaginam pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dan tes kehamilan urin masih positif. Untuk menentukan prognosis abortus iminens dapat dilakukan dengan melihat kadar hormone hCG pada urin.(Prawiroharjo,2016)

  Bila ibu ini masih menghendaki kehamilan tersebut, maka pengelolaan harus maksimal untuk mempertahankan kehamilan ini. Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan janin  yang ada dan mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau belum. Denyut jantung janin dan gerakan janin diperhatikan di samping ada tidaknya hematoma retroplasenta atau pembukaan kanalis servikalis. Pemeriksaan USG dapat dilakukan baik secara transabdominal maupun transvaginal.

 

Penatalaksanaan Abortus Iminens

            Penderita diminta untuk melakukan tirah baring sampai pendarahan berhenti. Bisa diberi spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau diberi tambahan hormon progesterone atau derivatnya untuk mencegah terjadinya abortus. Obat-obatan ini walaupun secara statisik kegunaannya tidak bermakna, tetapi efek psikologis kepada penderita sangat menguntungkan. Penderita boleh di pulangkan setelah tidak terjadi perdarahan dengan pesan khusus tidak boleh berhubungan seksual dulu sampai lebih kurang 2 minggu.(Prawiroharjo,2016)

Menurut  Mansjoer  2001, penatalaksanaan pada kasus abortus iminens adalah:

1.      Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik berkurang

2.      Periksa denyut nadi dan suhu badan 2x sehari  bila pasien tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.

3.      Tes kehamilan dapat dilakukan bila hasil negative,mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan USG  untuk menuntukan apakah janin masih hidup.

4.      Berikan obat penenang,biasanya fenobarbital 3X30mg. Berikan preparat hematinic misalny sulfas ferosus 600-1000mg.

5.      Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C

6.      Bersihka vulva minimal 2x sehari dengan cairan antiseptic untuk mencegah infeksi.

 

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEHAMILAN PADA IBU DENGAN ABORTUS IMINENS

Tanggal    : 06 Oktober 2018             MR       : 949808

Pukul       : 10.00  WIB                                   Tempat  : Poli Kebidanan RSUD Petala Bumi

 

A.    Data Subjektif

Nama Ibu        : Ny. R                              Nama Suami        : Tn.A

Umur               : 38  thn                             Umur                   : 44 thn

Agama             : Islam                               Agama                 : Islam

Pendidikan      : SLTP                               Pendidikan          : SLTA

Pekerjaan         :Swasta                              Pekerjaan             : Swasta

Alamat            : Jln. Sari Amin                 Alamat                 : Jln. Sari Amin

No Hp             : 08127635XXXX            No Hp                  : -

Penanggung Jawab :

Nama Suami                    : Tn.A               Pekerjaan             : Swasta

Umur                               : 44 thn             Alamat                 : Jln. Sari Amin

Hubungan dengan klien  : Suami

1.      Alasan Kunjungan

Ibu mengatakan hamil 3 bulan, ingin memeriksakan kehamilan, Keluar dari darah dari kemaluan dengan konsistensi cair warna merah segar pagi  ini sewaktu bak, nyeri perut tidak ada,ibu cemas dengan keadaannya.

2.      Riwayat Menstruasi

Umur Menarche          : 12 thn, teratur

Lamanya Haid                        :  ±5-7 hari, teratur

HPHT                          : ? Juli 2018

TP                                : ? Maret 2019

Masalah lain                : Ibu tidak mengalami masalah menstruasi

 

 

 

3.      Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu :

No

Tgl/

Thn

Usia Kehamilan

Tempat

Jenis Tindakan

Peno long

Penyulit

JK BB

Keadaan Anak Sekarang

1.

Abortus

5 Bulan

RSUD

curatage

SPOG

 

 

 

2.

20-10-2000

Cukup Bulan

BPM

Persalinan Normal

Bidan

Tdk ada

Lk/3200 gr

Sehat

3.

21-01-2005

Cukup Bulan

BPM

Persalinan Normal

Bidan

Tdk ada

Lk/3000 gr

Sehat

4.

14-09-2012

Cukup Bulan

BPM

Persalinan Normal

Bidan

Tdk ada

Lk/3200 gr

Sehat

5.

21-02-2014

Cukup Bulan

BPM

Persalinan Normal

Bidan

Tdk ada

Lk/2900 gr

Sehat

 

4.      Riwayat Perkawinan

Perkawinan ke             : 1 (pertama)

Lama perkawinan        : 19 tahun

Usia saat kawin           : 19 tahun

5.      Riwayat kehamilan saat ini : G6 P4A1H4

Pertama kali memeriksakan kehamilan pada UK 6 minggu di BPM , hasil planotest tgl 20-8-2018 (+)

Imunisasi TT : lengkap

Pemeriksaan saat ini yang ke : 3 kali

Masalah yang pernah dialami selama kehamilan yaitu keluar darah dari kemaluan pagi ini,ibu ke puskesmas sail, dari puskesmas sail dirujuk ke RSUD petalabumi dengan diagnose abortus iminens

6.      Riwayat penyakit atau operasi yang lalu : tidak ada riwayat penyakit atau operasi yang lalu.

7.      Riwayat penyakit keluarga (Ayah, Ibu atau yang pernah menderita sakit) : tidak ada riwayat penyakit keluarga

8.      Riwayat yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi : tidak ada riwayat yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi

9.      Riwayat Keluarga Berencana (KB) : ibu mengatakan pernah meggunakan jenis KB Suntik 3 bulan selama 2 tahun.

 

10.  Pola makan/minum/eliminasi dan istirahat :

Makan : 3 kali sehari

Minum : 8-10 gelas sehari

Jenis makanan atau minuman yang sering dikonsumsi : nasi, roti, sayur-sayuran, daging, ikan, telur, tahu dan tempe, buah-buahan.

Eliminasi :

BAK   : 7-8 x sehari

BAB    : 1 x sekali

Istirahat :

Tidur   : ±7-8 jam perhari

Tidak ada masalah dalam pola istirahat

11.  Riwayat Psikososial :

Ibu  menerima kehamilan ini namun cemas dengan kondisi saat ini,support dari suami dan keluarga

12.  Riwayat Perilaku Kesehatan :

Ibu tidak merokok, tidak mengkonsumsi obat-obatan atau meminum minuman beralkohol serta ibu tidak mengkonsumsi minuman atau ramuan apapun seperti jamu-jamuan.

13.  Penilaian tambahan skor Poedji Rochjati : 18

 

B.     Data Objektif

1.      Keadaan Umum :

Kesadaran       : Komposmentis

Sikap Tubuh    : Normal

TTV     :  TD    : 110/70 mmHg                       Nadi    : 84x/menit

   P       : 20x/menit                              Suhu    : 36,6ºC

TB : 155 cm          Lila      : 34 cm

BB sebelum hamil : 70 kg             BB sekarang    : 75 kg

Rambut / kepala               : Bersih, tidak ada tampak ketombe dan rambut rontok

Mata                                : Sklera tidak ikterik dan konjungtiva tidak pucat.

Muka                               : Tidak tampak hiperpigmentasi dan tidak tampak udema.

Hidung                            : Tampak bersih, tidak tampak benjolan.

Leher                               : Tidak teraba pembengkakan kelenjar tiroid

Payudara                          :  Bentuk simetris, areola mamae tampak hiperpigmentasi, putting susu menonjol.

Abdomen                         : Hasil inspeksi didapat tidak ada bekas operasi, linea nigra dan striae albicans.

                              Hasil palpasi, yaitu          : TFU 3 jari atas sympisis pubis              

Ekstremitas                      : Tidak ada varises dan tidak ada oedema

Akral                                : hangat

Genitalia                          : Pengeluaran  pervaginam  flek sedikit

 

C.     Pemeriksaan penunjang :hasil usg tgl :6-10-2018 uk:12 minggu, janin baik

 

D.    Analisa

Diagnosa : G6P4A1H4 usia kehamilan 12 minggu dengan abortus iminens

Masalah : cemas dengan kehamilan

E.     Penatalaksanaan

1)         Memberitahu kepada ibu tentang kondisinya saat ini. pembesaran perut ibu sesuai usia kehamilan.

2)         Menjelaskan kepada ibu untuk mengurangi aktifitas fisik, beristrirahat sampai perdarahan berhenti

3)         Menganjurkan kepada ibu untuk tidak berhubungan  selama 2 minggu.

4)         Memberi support kepda ibu agar jangan cemas karena kehamilan ibu saat ini masih dalam keadaan baik.

5)         Menjelaskan kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi bagi ibu hamil seperti nasi, sayuran, buah-buahan, tempe, daging, susu  ibu hamil dan lainnya.

6)         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberain therapy yaitu folac 1x1

7)         Menjadwalkan kepada ibu untuk melakukan kunjungan ulang tgl 13-10-2018 atau jika ada keluhan


 

BAB IV

 

PEMBAHASAN

 

Penulis akan membahas tentang kesenjangan antara teori dan praktek dilahan dalam melakukan suhan kebidanan kehamilan tiemester I  pada Ny.R umur 38 dengan abortus imminens  dipoli kebidanan RSUD Petala Bumi.

Dalam melakukan asuhan kebidanan , pendekatan dengan SOAP  yaitu dari data subjektif, data objektif, assessment dan penatalaksaan.

A.     Data Subjektif

            Dari hasil anamnesa yang ditemukan pada n Ny.R umur 38 tahun, Ibu hamil 3 bulan, keluar darah dari kemaluan  tanpa nyeri dan hasil planotest (+). Ibu juga memiliki riwayat abortus pada kehamilan  pertama , dan ini merupakan kehamilan ke 6. Ibu cemas dengan kehamilannya saat ini.

            Menurut  Mochtar (2012) umur harus dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko  seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang ,mental dan psikis belum siap.Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali terjadi perdarahan. Pada kasus yang terjadi dengan Ny.R  berumur 38 tahun merupakan umur yang beresiko dalam mengahadapi kehamilan dan persalinan.

              Menurut Nugroho 2012 diagnosis abortus iminnens,diaognosis dari anamnesa :Amenorea, dengan PP test (+)Vaginal spoting, keluarnya darah minimal / light,hal ini sesuai dengan data subjektif  yang ditemukan pada Ny.R.

 Menurut  Nugroho 2012 kehamilan dengan abortus imminens disertai dengan nyeri, namun pada kasus ini pasien tidak mengalami nyeri karena pada kasus ini pasien baru mengalami abortus imminens dan langsung datang ke RSUD Petala Bumi.

              Faktor psikologis ibu hamil sangat berpengaruh pada proses kehamilan, pada kasus ini ibu mengalami kecemasan karena kondisi kehamilannya untuk itu perlu  dukungan untuk menghadapi kehamilan ini

B.        Data objektif

Secara umum dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pada Ny. R tidak terdapat kelainan, namun pada pasien ini tidak lakukan pemeriksaan ginekologi yaitu inspekulo.

                        Menurut Masjoer  (2001) bahwa pada kasus abortus dilakukan pemeriksaan ginekologi yaitu inspekulo untuk mengetahui pendaharan dari cavum  uteri, ostium uteri masih tertutup, sedangkan  yang didapat dilahan praktek ada kesenjangan antara teori dan praktek pada pasien dengan kasus abortus iminens seharusnya dilakukan pemeriksaan inspekulo sedangkan pada prakteknya pemeriksaan ini tidak dilakukan, karena dari hasil USG kehamilan dalam keadaan baik

 

C.     Assesment

                        Dari data subjektif dan objektif yang di kumpulkan disimpulkan diagnosanya yang dapat ditegak pada Ny. R yaitu G6P4A1H4 usia kehamilan 12 minggu dengan abortus imminens.

Menurut  Prawiroharjo (2016)  abortus imminens diawali dengan perdaharan pervaginam yang terjadi pada kehamilan kurang dari 20 minggu,  Penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam.

 

D.          Penatalaksanaan

              Pada kasus ini penatalaksanaan yang diberikan adalah mengurangi aktifitas fisik dan beristirahat sampai perdarahan berhenti.  Menurut Cunningham (2013)  penatalaksanaan pada kasus abortus imminens tidak ada terapi yang efektif untuk abortus mengancam . Tirah baring , meskipun sering dianjurkan, tidak mengubah perjalanannya .

Menurut Mansjoer 2001, penatalaksanaan pada kasus abortus imminens adalah istirahat baring agar aliran darah ke uterus  bertambah dan rangsang mekanik berkurang.

Pada Ny. R untuk mengurangi aktiftas fisik dan  istirahat sampai perdarahan berhenti. Selama proses penyembuhan tidak boleh berhubungan kurang lebih 2 minggu karena dengan berhubungan sperma yang masuk mengandung prostaglandin yang dapat menyebabkan kontraksi uterus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB V

PENUTUP

 

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan asuhan kebidanan yang telah diberikan “ Ny. R dengan G6P4A1H4 usia kehamilan 12 minggu dengan abortus imminens di poli kebidanan RSUD Petala Bumi  Provinsi Riau” yang menggunakan manajemen kebidanan SOAP mulai dari pengumpulan data sampai penatalaksanaan, maka penulis  dapat membuat kesimpulan :

1.      Data subjektif diambil dari melakukan anamnesa / wawancara dengan pasien.

Data subjektif yang didapat yaitu keluhan utama ibu mengatakan hamil 3 bulan, ingin memeriksakan kehamilan, keluar darah dari kemaluan  dengan koksistensi cair warna merah segar pagi ini sewaktu bak, nyeri perut tidak ada, ibu cemas dengan keadaannya. HPHT  ? juli 2018.

2.      Data objektif didapat dari melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Pada pemeriksaan inspeksi didapat pengeluaran pervaginam flek sedikit dan dilakukan pemeriksaan USG.

3.      Dioagnosa didapat dari data subjektif dan objektif, maka dapat ditegakkan diognosa G6P4A1H4 usia kehamilan 12 minggu dengan abortus imminens.

4.      Penataksanaan atau asuhan yang diberikan adalah dengan  menganjurkan ibu untuk tidak beraktifitas dan tidak berhubungan salama 2 minggu.

 

 

 

5.2 SARAN

1. Bagi bidan : bidan dapat lebih mengindentifikasi gejala abortus imminens sehingga dapat melakukan antisipasi  atau melakukan tindakan sregera, merencanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens.

2. Bagi rumah sakit : disarankan agar RS dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan asuhan pada ibu hamil dengan abortus imminens secara optimal melalui penanganan yang cepat dan tepat.

3. Bagi pendidikan : diharapkan dengan mengetahui permasalahan yang timbul pada ibu hamil dengan abortus imminens , dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dalam menangani  kasus khususnya ibu hamil dengn  abortus imminens

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Cunningham et al. 2013.Obstetri Wiliams. Volume 1 Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Dinkes Riau. 2013. Angka Kematian Ibu. Riau.www.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 28 Januari 2015.

Kusmiaty, dkk. 2009. Buku Ajar Asuhan  Kebidanan pada ibu nifas.Jakarta Andi Offset

Laily, 2011. Kesehatan Reproduksi wanita. http://www.ypkp.net/. Diakses 14 Januari 2015

Mansjoer arif dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

Nugroho Taufan, 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika

Prawirohardjo, S. 2016. Ilmu Kandungan. Jakarta : YBPSP.

Suririnah 2008, Buku Pintar Kehamilan dan Persalinan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Widyastuti, Y. Dkk. 2011. Faktor Faktor yang Behubungan dengan Kejadian Abortus di Instlasi Rawat Inap Kebidanan RSUD

World Health Organization. 2013 Pelayanan Kesehatan Ibu Difasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan Edisi 1

 

 


 

SKOR POEDJI ROCHJATI

 

I

II

III

IV

Kelompok

 Faktor Resiko

No

Masalah/Faktor Resiko

SKOR

TRIBULAN

I

II

III.1

III.2

 

 

Skor Awal Ibu Hamil

2

2

 

 

 

1

Terlalu Muda Hamil I < 16 tahun

4

2

Terlalu Tua Hamil I >35 tahun

Terlalu Lambat Hamil I, kawin  > 4 tahun

4

3

Terlalu lama hamil lagi (>10 tahun)

4

4

Terlalu cepat hamil lagi (< 2 tahun)

4

5

Terlalu banyak anak, 4 atau lebih

4

4

6

Terlalu tua umur > 35 tahun

4

4

7

Terlalu pendek < 145 cm

4

8

Pernah gagal hamil

4

4

9

Pernah melahirkan dengan

a.       Tarikan tang/vakum

b.      Uri dirogoh

c.       Diberi Infus/tranfusi

 

4

4

4

 

 

10

Pernah Sectio caesarea

4

11

Penyakit pada ibu hamil

a.       Kurang darah

b.      Malaria

c.       TBC paru

d.      Payah jantung

e.       Kencing manis

f.       PMS

 

4

 

4

 

4

12

Bengkak pada muka/tungkai dan tekanan darah tinggi

4

13

Hamil kembar 2 atau lebih

4

14

Hamil kembar air (hydramnion)

4

15

Bayi mati dalam kandungan

4

16

Kehamilan lebih bulan

4

17

Letak sungsang

8

18

Letak lintang

8

19

Pendarahan dalam kehamilan ini

8

8

20

Preeklampsi berat/ kejang – kejang

8

                           Jumlah

 22

 

 

 

(Buku KIA, 2009)




0 komentar:

Posting Komentar