BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kesehatan merupakan keadaan
sejahtera fisik, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara social dan ekonomi. Berkaitan dengan perspektif tersebut, pembangunan kesehatan
berbanding lurus dengan pembangunan ekonomi, sehingga melalui pembangunan
kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya yang dilakukan
pemerintah untuk membangun kesehatan masyarakat adalah melalui program
Indonesia sehat (Kemenkes RI, 2016).
Terwujudnya keadaan sehat
merupakan kehendak semua pihak, baik individu maupun kelompok. Program
Indonesia sehat ialah salah satu upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang
berprilaku sehat, hidup dalam lingkungan sehat, serta mampu menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu untuk mencapai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya. Untuk
mencapai target tersebut, kementerian kesehatan menyusun strategi penguatan pelayanan
yang mengacu pada tiga pilar utama program Indonesia Sehat, yaitu: (1)
penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3)
pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat
dilakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan,
penguatan upaya promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat.
Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses
pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu
menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko
kesehatan. Sedangkan pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan
sasaran dan manfaat (benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu
ditujukan kepada tercapainya keluarga-keluarga sehat. (Kemenkes RI, 2016).
Keluarga yang sehat akan
menciptakan komunitas yang sehat pula. Oleh karena itu, salah satu aspek
terpenting dari asuhan kebidanan komunitas adalah pemberian asuhan kebidanan
pada unit keluarga. Pelaksanaan asuhan keluarga ini dilakukan dengan
pengembangan model One Student One Client
(OSOC) yang merupakan model pelayanan kesehatan dengan melibatkan satu
mahasiswa mendampingi satu klien (Zidin, 2009).
Di Desa Limbungan wilayah kerja
Puskesmas Rumbai, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan terdapat lebih
kurang 316 KK yang tersebar pada RW 6 dan 7. Pelaksanaan praktik kerja
lapangan kebidanan komunitas
ini dilakukan di RW 6 dan 7 yang ada di desa Limbungan dengan sasaran ibu hamil, ibu nifas, bayi dan
balita, remaja, pasangan usia subur (PUS) dan lansia. Pada
RW 06
terdapat 176 kepala keluarga (KK) dari jumlah tersebut, terdapat beberapa KK yang memenuhi
kriteria untuk diberikan asuhan keluarga karena memiliki masalah kesehatan
dalam keluarganya. Salah satu KK tersebut adalah KK Tn. A yang memiliki istri, balita perempuan, balita laki-laki dan satu bayi perempuan, beralamat
di RT 02 RW
06
dusun Harapan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
pengawasan dan pemberian pendidikan kesehatan kepada Tn. A dan Ny. H dengan judul laporan “Asuhan
Kebidanan Komunitas dalam Konteks Keluarga pada Keluarga Tn. A di RT 02 RW 06 Dusun Harapan Desa Limbungan Wilayah
Kerja Puskesmas Rumbai
Kecamatan Rumbai
Pesisir Kota
Pekanbaru Tahun 2019”.
1.2 Tujuan
Penulisan
A. Tujuan Umum
Melakukan asuhan
kebidanan dalam konteks keluarga secara menyeluruh dan berkesinambungan pada
keluarga Tn. A melalui
pendekatan manajemen kebidanan serta mendokumentasikan asuhan yang telah
diberikan.
B.
Tujuan
Khusus
a.
Melakukan
pengkajian data subjektif dan objektif pada keluarga Tn. A
b.
Melakukan
analisa data dan merumuskan masalah pada keluarga Tn. A
c.
Merencanakan
asuhan berdasarkan analisa data dan rumusan masalah bersama keluarga Tn. A
d.
Melaksanakan
asuhan yang telah direncanakan pada keluarga Tn. A
e.
Menganalisis
keefektifan rencana dan pelaksanaan asuhan yang telah dilakukan pada keluarga
Tn. A
f.
Mendokumentasikan
asuhan yang telah diberikan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada
keluarga Tn. A.
1.3 Manfaat
Penulisan
A. Bagi Keluarga
Dapat meningkatkan kesehatannya
serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga dalam menjaga dan
memelihara kesehatan secara mandiri.
B. Bagi Penulis
Dapat
meningkatkan kemampuan, keterampilan,
dan pengalaman penulis dalam memberikan asuhan kebidanan dalam konteks keluarga
secara komprehensif dan berkesinambungan serta mendokumentasikan asuhan
khususnya pada keluarga Tn. A.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 KONSEP KELUARGA
2.1.1
Pengertian
Keluarga
Keluarga adalah
anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi
atau perkawinan. (WHO, dalam Harmoko 2012).
Keluarga adalah
dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan
perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan
serta mempertahankan kebudayaan (Friedman, 2010).
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dimana
terjadi interaksi antara anak dan orang tuanya.Keluarga berasal dari bahasa
sansekerta kulu dan warga atau kuluwarga yang berarti anggota kelompok kerabat
(Padila, 2012).
Definisi yang
sering dipakai oleh masyarakat indonesia, keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dan anaknya, atau
ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Dari beberapa pengertian tentang
keluarga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1.
Terdiri
dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau
adopsi.
2.
Anggota
keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan
satu sama lain.
3.
Anggota
keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial:
suami, istri, anak, kakak dan adik.
4.
Mempunyai
tujuan: menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik,
psikologis dan sosial anggota.
Peran dan fungsi
keluarga sangat penting dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang
sehat bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi sangatlah tepat bila keluarga sebagai
titik sentral pelayanan kebidanan. Dipercaya bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat
dalam mewujudkan masyarakat yang sehat (UU Nomor 10 Tahun 1992).
2.1.2
Struktur
Keluarga
Struktur keluarga oleh Friedman
di gambarkan sebagai berikut:
A.
Struktur komunikasi
Komunikasi dalam
keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara jujur, terbuka,
melibatkan emosi, konflik selesai dan hierarki kekuatan. Komunikasi keluarga
bagi pengirim yakin mengemukakan pesan secara jelas dan berkualitas, serta
meminta dan menerima umpan balik. Penerima pesan mendengarkan pesan, memberikan
umpan balik, dan valid.
Komunikasi dalam
keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila tertutup, adanya isu atau berita negatif,
tidak berfokus pada satu hal, dan selalu mengulang isu dan pendapat sendiri.
Komunikasi keluarga bagi pengirim bersifat asumsi, ekspresi perasaan tidak
jelas, judgemental ekspresi, dan komunikasi tidak sesuai. Penerima pesan gagal
mendengar, diskualifikasi, ofensif (bersifat negatif), terjadi miskomunikasi,
dan kurang atau tidak valid.
1)
Karakteristik
pemberi pesan :
a.
Yakin
dalam mengemukakan suatu pendapat.
b.
Apa
yang disampaikan jelas dan berkualitas.
c.
Selalu
menerima dan meminta timbal balik.
2)
Karakteristik pendengar
a.
Siap mendengarkan
b.
Memberikan
umpan balik
c.
Melakukan validasi
3). Struktur peran
Struktur peran
adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang
diberikan. Jadi, pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal.
Posisi/status adalah posisi individu dalam masyarakat misal status sebagai
istri/suami.
4). Struktur kekuatan
Struktur
kekuatan adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol, memengaruhi, atau
mengubah perilaku orang lain. Hak (legimate
power), ditiru (referent power),
keahlian (exper power), hadiah (reward power), paksa (coercive power), dan efektif power.
5). Struktur nilai dan norma
Nilai adalah sistem
ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu.
Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosial
tertentu, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.
a.
Nilai,
suatu sistem, sikap, kepercayaan yang secara sadar atau tidak dapat
mempersatukan anggota keluarga.
b.
Norma,
pola perilaku yang baik menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.
c.
Budaya,
kumpulan daripada perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan
tujuan untuk menyelesaikan masalah. (Friedman, dalam Harmoko, 2012).
2.1.3
Tipe atau Bentuk Keluarga
a. Keluarga Inti (NuclearFamily) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan
anak yang belum mengikat diri dalam membentuk keluarga sendiri, tinggal dalam
satu rumah yang di tetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan
perkawinan.
b.
Keluarga Besar (ExtendedFamily)
adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Single parent family adalah
suatu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dan anak (kandung atau
angkat).Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
d. Single adult adalah satu
rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.
e. Dyad family adalah keluarga
yang terdiri dari suami dan istri yang tinggal dalam satu rumah tanpa anak.
f. Keluarga berkomposisi
(composite adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara
bersama.
g. Keluarga kabitas
(cohabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk
suatu keluarga.
h. Multigenerational
family adalah keluarga
dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu
rumah (Suprajitno, 2012).
2.1.4
Pemegang
Kekuasaan Dalam Keluarga
a.
Patriakal, yang
dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.
b.
Matriakal, yang
dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
c.
Equalitarian, yang
dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah dan ibu.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pemegang kekuasaan dalam keluarga sebagai berikut :
a. Hirarki
kekuasaan keluarga
b. Tipe
bentuk keluarga (orangtua tunggal, keluarga campuran, keluarga inti dua-orang
tua tradisional, dll)
c. Pembentukan
koalisi/persatuan
d. Jaringan
komunikasi keluarga
e. Kelas
sosial
f. Tahap
perkembangan keluarga
Latar belakang budaya dan religius (Suprajitno,
2012).
2.1.5
Peran
Keluarga
Peranan
keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan,
yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.Peranan
individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga,
kelompok dan masyarakat.Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah
sebagai berikut:
a. Peranan
ayah
Ayah sebagai suami dan ayah dari
anak-anaknya, ayah berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan
pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
b. Peranan
ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik
anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya,
serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c. Peranan
anak
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial
sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual
(Wakhida, Siti Nuraini, 2017)
2.1.6
Fungsi
Keluarga
Keluarga memiliki beberapa fungsi,
yaitu:
a.
FungsiAfektif
Memfasilitasi
stabilisasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis anggota keluarga.
b.
FungsiSosialisasi
Memfasilitasi
sosialisasi primer anak yang bertujuan untuk menjadikan anak sebagai anggota
masyarakat yang produktif serta memberikan status pada anggota keluarga.
c.
FungsiReproduksi
Untuk
mempertahankan kelanjutan keluarga selama beberapa generasi dan untuk
keberlangsungan hidup masyarakat.
d.
FungsiEkonomi
Fungsi ekonomi
sangat penting bagi kehidupan keluarga, karena merupakan pendukung utama bagi
keutuhan dan kelangsungan keluarga. Fungsi ekonomi keluarga meliputi :
menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya.
e.
Fungsi Rekreatif
Fungsi
rekreatif sangat penting bagi anggota keluarga, karena dapat menjamin
keseimbangan kepribadian anggota keluarga, memperkokoh kerukunan dan
solidaritas keluarga, mengurangi ketegangan perasaan, meningkatkan sling
pengertian dan meningkatkan rasa kasih sayang.
f.
FungsiPerlindungan
(Protektif)
Diantara alasan
seseorang membentuk keluarga, yaitu:
1)
Memenuhi kebutuhan
rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun
dari luarkeluarga.
2)
Membina keamanan
keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan
yang datang dariluar.
3)
Membina dan menjadikan
stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga kecil
bahagiasejahtera.
g.
Fungsi Biologis
Keluarga
berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis manusia, yang secara
khusus dalam bentuk hubungan seks agar manusia tidak memenuhi kebutuhan
tersebut secara bebas seperti binatang.
h.
Fungsi Edukatif
(Pendidikan)
Fungsi edukatif
atau pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab yang sangat penting dipikul
oleh orang tua.Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi
anak.Pendidikan dikeluarga menjadi dasar bagi anak untuk
melanjutkan/mengembangkan pendidikan selanjutnya.
i.
Fungsi Religius
(Keagamaan)
Keluarga
mempunyai kewajiban memperkenalkan dan mengajak anak serta anggota keluarga
lain kepada kehidupan beragama, memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari-hari dalam pengamalan dari ajaranagama. Anak akan mempunyai keyakinan
agama dan landasan hidup yang kuat, jika keluarga mampu melaksanakan fungsi
religius dengan baik.
j.
Fungsi Cinta Kasih
Keluarga
berfungsi untuk menumbuh kembangkan potensi kasih sayang antar anggota
keluarga, membina tingkah laku saling menyayangi untuk mewujudkan keluarga
bahagia sejahtera.
k.
Fungsi
PerawatanKesehatan
Keluarga
berkewajiban untuk menyediakan kebutuhan fisik makanan, pakaian, tempat
tinggal, perawatan kesehatan, dll (Wakhida, Siti Nuraini.
2017).
2.1.7
Tahap Dan Tugas Perkembangan Keluarga
Tahap-tahap
perkembangan kehidupan yang dilalui dalam keluarga sebagai berikut ini:
1. Tahap
pembentukan keluarga atau keluarga baru (beginningfamily).Tahap ini dimulai dari
pernikahan yang dilanjutkan dalam membentuk rumah tangga.Masing-masing
belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan
pasangannya.
2. Tahap
menjelang kelahiran anak (child bearing
family). Pada tahap
ini merupakan persiapan menjadi orang tua, membagi peran dan tanggung jawab
dalam mempersiapkan kelahiran dan membesarkan anak.Melahirkan anak suatu
kebahagian yang sangat dinantikan bagi keluarga.
3. Tahap
menghadapi bayi. Dalam hal ini
keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak, karena
pada tahap ini bayi kehidupannya sangat tergantung kepada kedua orangtuanya, serta kondisinya masih sangat lemah.
4. Tahap
menghadapi anak pra sekolah (famillies
withpreschool).Pada tahap ini
anak sudah mulai mengenal kehidupan sosial, sudah mulai bergaul dengan teman sebaya.Anak pada tahap ini sangat rawan dalam masalah kesehatan, karena tidak
mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih. Dalam fase ini anak sangat
sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai
menanamkan norma-norma kehidupan, norma-norma agama, sosial budaya dan
sebagainya.
5. Tahap menghadapi
anak sekolah(famillies
with children). Dalam tahap
ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk
mempersiapkan masa depan. Membiasakan anak belajar secara teratur, mengontrol
tugas-tugas sekolah anak, dan meningkatkan pengetahuan umum anak.
6. Tahap
menghadapi anak remaja (familles withteenagers). Tahap ini
adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan mencari
identitas diri dalam membentuk kepribadiannya, oleh karena itu pengawasan dan perhatian dari kedua orang tua sangat
diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian antara kedua orang tua dan anak
perlu dipelihara dan dikembangkan.
7. Tahap pelepasan anak ke masyarakat(lounching center famillies). Setelah melalui tahap remaja dan anak telah
menyelesaikan pendidikan, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke
masyarakat untuk memulai
kehidupannya yang sesungguhnya, dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan
berumah tangga.
8. Tahap keluarga berdua kembali atau usia pertengahan (middle age familles). Setelah anak
besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-sendiri, suami istri tinggal berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa
sepi, bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan depresi dan
stres.
9. Tahap masa
tua atau usialanjut.
Pada tahap ini terjadi adaptasi kehilangan pasangan dan mempersiapkan diri untuk
meninggalkan dunia yang fana ini (Suprajitno, 2012).
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok
sebagai berikut:
a. Pemeliharaan
fisik keluarga dan para anggotanya.
b. Pemeliharaan
sumber-sumber yang ada dalam keluarga.
c. Pembagian
tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
d. Sosialisasi
antar anggota keluarga.
e. Pengaturan
jumlah anggota keluarga.
f. Pemeliharaan
ketertiban anggota keluarga.
g. Penempatan
anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
h. Memberikan
dorongan dan semangat para anggota k
2.2
LANNGKAH-LANGKAH ASUHAN KEBIDANAN TINGKAT KELUARGA
Dalam
memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan manajemen yaitu suatu metode
yang digunakan oleh bidan dalam menentukan dan mencari langkah-langkah
pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasiennya dari
gangguan kesehatan.
Langkah-langkah kebidanan
komunitas ialah:
A. Identitas
Masalah
Pengkajian yaitu upaya yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai
langkah awal untuk menentukan masalah dan kebutuhan komunitas akan pelayanan kebidanan komunitas. Pengkajian diawali dengan mengumpulkan data kesehatan di
tingkat keluarga yang ada di komunitas wilayah kerja (Survey Mawas Diri/SMD). Data yang dikumpulkan secara umum antara lain :
a.
Wilayah
desa (Luas, keadaan geografis, jarak desa dan fasilitas pelayanan kesehatan)
b.
Penduduk
(Jumlah, komposisi penduduk, jumlah keluarga, mata pencaharian, pertumbuhan
penduduk, dinamika penduduk)
c.
Status
kesehatan (Angka kematian, jenis dan angka kesakitan ibu, anak dan balita)
d.
Keadaan
lingkungan (Jumlah sarana air minum, jumlah jamban keluarga, pembuangan sampah
dan kotoran, pembuangan tinja)
e.
Sosial
ekonomi (Pendidikan, pendapatan perkapita, organisasi dari lembaga swadaya
masyarakat yang ada, media komunikasi yang dimiliki masyarakat)
f.
Data
keluarga (Pemeriksaan fisik anggota keluarga yaitu ibu, bayi dan balita,
pemeriksaan lingkungan keluarga yaitu rumah, perkarangan, pembuangan sampah dan
kotoran).
B. Analisa
Dan Perumusan Masalah
Setelah
data dikumpulkan dan dicatat sebagai syarat dengan ditetapkan masalah kesehatan
lingkungan di komunitas.
a.
Analisis
Analisa Data adalah kemampuan untuk mengolah dan
menganalisis data untuk mengetahui dan melihat kesenjangan atau masalah yang
dihadapi oleh keluarga apakah itu masalah kesehatan atau masalah terkait
lainnya, yang dikaitkan dengan konsep, prinsip maupun teori yang relevan.Dari hasil
tersebut dapat dirumuskan masalah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan
memprioritaskan masalah.
Rumusan Masalah merupakan suatu kesimpulan tentang permasalahan yang
dialam keluarga serta kebutuhan keluarga akan pelayanan dan asuhan kebidanan.
Sedangkan, Prioritas Masalah adalah masalah/Kebutuhan yang ditemukan biasanya
lebih dari satu, sehingga perlu dilakukan prioritas masalah dengan
mempertimbangkan, yaitu:
a)
Sifat masalah yang dihadapi
b)
Tingkat bahaya yang mengancam komunitas
c)
Kemungkinan masalah untuk diatasi
d)
Berat ringannya masalah yang dihadapi
e)
Sumberdaya yang tersedia di komunitas
Dalam memprioritaskan masalah ada beberapa kriteria
prioritas masalah yang perlu diperhatikan sebagai berikut ini:
a)
Sifat masalah, dikelompokkan menjadi :
1.
Ancaman kesehatan
2.
Keadaan sakit atau kurang sehat
3.
Situasi krisis
b)
Kemungkinan masalah dapat diubah
Kemungkinan
masalah dapat diubah merupakan kemungkinan keberhasilan untuk mengurangi
masalah atau mnecegah masalah bila dilakukan intervensi kesehatan
c)
Potensi masalah untuk dicegah
Potensi
masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dan
dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan kesehatan.
d) Menonjolnya masalah adalah cara keluarga/kelompok
melihat dan menilai masalah dalam hal beratnya dan mendesaknya untuk diatasi
melalui intervensi kesehatan
Tabel 2.1 Skoring menurut Bailon dan Maglaya
|
No |
Kriteria |
Skor |
Bobot |
|
1 |
Sifat masalah Skala : Tidak/ kurang sehat Ancaman kesehatan Situasi krisis |
3 2 1 |
1 |
|
2 |
Kemungkinan masalah dapat diubah Skala : Mudah Sebagian Tidak dapat |
2 1 0 |
2 |
|
3 |
Potensi masalah untuk dicegah Skala : Tinggi Cukup Rendah |
3 2 1 |
1 |
|
4 |
Menonjolnya masalah Skala : Masalah berat harus segera ditangani Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani Masalah tidak dirasakan |
2 1 0 |
1 |
Cara menghitung Skoring/Cara penilaian, yaitu :
1.
Tentukan skor untuk setiap kriteria
2.
Skor dibagi dengan angka skor tertinggi dan kalikan dengan bobot :
Skor x Bobot
Skor Tertinggi
3.
Jumlahkan skor untuk semua kriteria
Setelah dilakukan
skoring, dilakukan penyusunan prioritas berdasarkan skor tertinggi dan disusun
berurutan sampai yang mempunyai skor terendah.
b.
Perumusan
Masalah
Perumusan
masalah dapat dikumpulkan berdasarkan hasil analisa. Dalam rumusan masalah
mencakup masalah utama dan penyebabnya serta masalah potensial.
C.
Perencanaan
Kebidanan
Perencanaan Kebidanan adalah rencana tindakan yang akan dilaksanakan
untuk mengatasi masalah sesuai dengan yang telah ditentukan dengan tujuan
terpenuhinya kebutuhan pasien. Rencana kebidanan harus mencakup : Perumusan
tujuan, Rencana tindakan yang akan dilaksanakan, kriteria hasil untuk menilai
pencapaian tujuan.
Perencanaan kebidanan dibuat berdasarkan masalah yang telah dirumuskan dan diprioritaskan
dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat. Dilakukan dalam bentuk kegiatan
Musyawarah (MMD). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana sebagai
berikut ini, yaitu :
1.
Keterlibatan tokoh masyarakat dan anggota masyarakat dalam menyusun rencana penanggulangan masalah
2.
Rencana penanggulangan dapat dalam bentuk pelayanan
di tingkat keluarga dan atau kelompok yang ada di masyarakat.
3.
Keterpaduan dengan pelayanan kesehatan lainnya, baik tenaga, biaya,
sarana maupun waktu.
4.
Kerjasama lintas program dan lintas sektoral sehingga program pelayanan
bersifat menyeluruh
D.
Pelaksanaaan (Implementasi)
Pelaksanaan (Implementasi) merupakan realisasi rencana yang telah
ditetapkan bersama masyarakat. Melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara
komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada
klien/pasien dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan, yaitu:
a)
Melibatkan peran serta aktif tokoh masyarakat dan anggota masyarakat.
b)
Bila ada masalah yang tidak bisa ditanggulangi, lakukan rujukan
c)
Kerjasama lintas program dan lintas sektoral
d)
Melakukan dokumentasi pelayananan kebidanan komunitas yang diberikan
E.
Penilaian (Evaluasi)
Penilaian (Evaluasi)
merupakan kegiatan menilai/melihat hasil pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dalam perencanaan, yaitu
:
a) Membandingkan
hasil pelayanan
kebidanan komunitas
yang diberikan dengan tujuan yang
ditetapkan.
b) Menilai
efektivitas pelayanan
Penilaian/evaluasi dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat kefektifan dari asuhan
yang sudah diberikan sesuai dengan perubahan/perkembangan kondisi klien.
2.2 KONSEP TUMBUH KEMBANG
2.2.1 Definisi
Tumbuh Kembang
Pertumbuhan (Growth)
dan perkembangan (Development)
memiliki definisi yang sama yaitu sama-sama mengalami perubahan, namun secara
khusus keduanya berbeda. Pertumbuhan menunjukan perubahan yang bersifat kuantitas
sebagai akibat pematangan fisik yang di tandai dengan makin kompleksnya sistem
jaringan otot, sistem syaraf serta fungsi sistem organ tubuh lainnya dan dapat
di ukur (Yuniarti, 2015).
2.2.2 Prinsip
Tumbuh kembang
Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus
menerus. Prinsip tumbuh kembang : Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti rangkaian tertentu, perkembangan merupakan hal yang kompleks,
dapat diprediksi, dengan pola konsisten dan kronologis dan perkembangan adalah
sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut
(Dwienda, dkk 2014)
a.
Cephalocaudal
: merupakan rangkaian pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah
bagian tubuh. Contohnya bayi biasanya menggunakan tubuh bagian atas sebelum
mereka menggunakan tubuh bagian
bawahnya.
b.
Proximodistal
: perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat (proximal) tubuh ke arah
luar tubuh (distal). Contohnya, anak-anak belajar mengembangkan kemampuan
tangan dan kaki bagian atas baru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan
dengan kemampuan menggunakan telak
tangan dan kaki
dan akhirnya jari-jari tangan dan kaki
c.
Differentiation
yaitu ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah ke arah
yang lebih kompleks. Sedangkan sequential yaitu perkembang yang kompleks, dapat
diprediksi, terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis seperti
tengkurap-merangkak-berdiri- berjalan. Setiap individu cenderung
mencapai potensi maksimum perkembangannya.
2.3.3
Ciri-ciri Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan akan terjadi
perubahan ukuran dalam
hal bertambahnya ukuran fisik,
seperti berat badan,
tinggi badan, lingkar
kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain. Pada
pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya
ciri-ciri lama yang
ada selama masa
pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjer timur, lepasnya gigi
susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu. Dalam pertumbuhan juga terdapat
ciri baru seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis
atau dada sedangkan perkembangan selalu melibatkkan proses pertumbuhan yang
diikuti dengan perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan
diikuti perubahan fungsi kelamin. Perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala
menuju ke arah kaudal atau bagian proksimal ke bagian distal. Perkembangan
memiliki tahapan yang berurutan dari kemampuan melakukan hal yang sederhana
menuju hal kemampuan hal yang sempurna. Setiap individu memiliki kecepatan
perkembangan yang berbeda (Hidayat, 2008).
2.3.4 Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan
Tahapan perkembangan memiliki
beberapa masa pertumbuhan, sebagai berikut (Yuniarti, 2015) :
1.
Masa
pranatal, sejak konsepsi sampai kelahiran. Proses pertumbuhan berlangsung cepat
9 bulan 10 hari.
2. Masa bayi dan anak 3 tahun pertama.
Pada anak usia tersebut anak batita memiliki kelekatan emosi dengan orang
tua, suka berkhayal, egosentris.
3.
Masa anak- anak awal (early childhood), dimulai usia 4-5 tahun 11 bulan. Anak masih
terikat kepada orang tua, namun sudah mulai belajar mandiri, keinginanan
besosialisasi dengan temans sebaya, dan masa ini masih meliputi kegiatan
bermain sendiri.
4.
Masa
anak tengah (Middle childhood),
dimulai usia 6-9 tahun. Pada usia ini anak berada
pada taraf operasional konkrit, anak mampu melakukan tugas-tugas seperti
berhitung sederhana tetapi belum bersifat kompleks. Dimana anak mulai
mengembangkan kepribadiaan, konsep diri, sosial, dan akademis.
5.
Masa
anak akhir (Late childhood), dimulai
usia 10-12 tahun. Pada masa ini anak
melakukan aktifitas menyita energi, karena pertumbuhannya masuk ke awal remaja dimana fungsi-fungsi hormon
mulai aktif dan anak pada usia tersebut lebih banyak terlibat
dalam kegiatan games
with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan
permainan.
6.
Masa
remaja (adolecence), dimulai usia 13-21 tahun. Pada masa ini merupakan masa transisi, yaitu dari masa anak-anak ke masa
dewasa, biasanya pada usia tersebut cendrung egosentris, tidak mau dikekang,
revolusioner guna mencari jati diri.
7.
Masa
dewasa muda (young adulthood), dimulai
usia 22-40 tahun. Secara kognitif pada usia tersebut mereka sudah menyelesaikan pendidikan dan mulai mengembangkan karir.
8.
Masa
dewasa tengah (Middle adulthood), dimulai
usia 41-60 tahun. Masa ini dimana kondisi fisik
menurun, masa penuh tantangan, tetapi mereka berhasil membentuk kepribadian
terintegritas justru akan bersikap bijaksana dan mampu membmbing anak-anaknya.
9.
Masa dewasa
akhir (Late adulthood), usia 60
tahun keatas. Pada usia tersebut, kondisi fisik sudah
menurun, cepat lelah
dan stimulus lambat sehingga sering terjadi stress.
Menurut Piaget
dalam Syamsussabri (2013),
perkembangan kognitif anak
dari usianya sangat berbeda. Perkembangan kognitif ini meliputi kemampuan
intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berfikir logis, memecahkan masalah kompleks menjadi
simpel dan memahami ide yang
abstrak menjadi konkrit.
1.
Pada
tahap sensori-motor (0-2 tahun) perilaku anak banyak melibatkan motorik, belum
terjadi kegiatan mental yang bersifat berpikir.
2.
Pada
tahap pra operasional (2-7 tahun) pada tahap ini operasi mental yang
jarang dan secara
logika tidak memadai. Anak belajar
menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Mereka
hanya menggunakan penalaran intuitif bukan logis dan mereka cenderung egosentris.
3.
Pada
tahap operasional konkrit (7-12) anak sudah mampu menggunakan logika serta
mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti, tinggi,
besar, kecil, warna, bentuk, dan seterusnya.
4.
Pada
tahap operasional-formal (mulai 12 tahun) anak dapat melakukan representasi
simbolis tanpa menghadapi objek-objek yang ia pikirkan. Pola pikir menjadi
lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
2.3.5
Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Setiap individu akan mengalami siklus
yang berbeda pada kehidupan
manusia dapat secara cepat maupun lambat tergantung individu dan lingkungannya.
Proses cepat dan lambat tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor herediter,
faktor lingkungan dan faktor hormonal.
1.
Faktor Herediter
Faktor herediter meliputi
bawaan, jenis kelamin,
ras dan suku bangsa.
Faktor ini ditentukan dengan intensitas, kecepatan dalam pembuahan sel telur, tingkat
sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, usia pubertas dan berhentinya
pertumbuhan tulang. Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin
laki-laki setelah lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan
serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun perempuan
akan mengalamai pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa
pubertas.
2.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan memiliki faktor yang memegang peran
penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi
yang sudah di miliki. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan
prenatal dan lingkungan postnatal. Lingkungan prenatal atau lingkungan dalam
kandungan juga meliputi gizi pada saat ibu
hamil, lingkungan mekanis,
zat kimia atau
toksin dan hormonal. Sedangkan lingkungan postnatal
atau lingkungan setelah lahir dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak seperti
budaya lingkungan, sosia; ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca,
olahraga, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan.
3.
Faktor Hormonal
Hormon somatotropin (growth
hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan
menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilago dan sistem skeletal. Hormon
tiroid berperan menstimulasi metabolisme tubuh.
Hormon glukokortikoid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis
(untuk memproduksi testoteron) dan ovarium
(untuk memproduksi estrogen), selanjutnya hormon
tersebut akan menstimulasi perkembangan seks, baik pada laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan
peran hormonnya (Kompasiana, 2010).
2.3 KONSEP
DASAR IMMUNISASI
2.3.1 Pengertian Immunisasi
Imunisasi berasal
dari kata imun yang berarti
kebal atau resisten.
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit
dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit
yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1611/Menkes/SK/XI/2005
imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit
tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan
(Depkes, 2005).
2.3.2 Tujuan Imunisasi
Tujuan
imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah
penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering
berjangkit dan menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I)
2.4.3 Penyakit-Penyakit
yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
Imunisasi merupakan
salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan
bagian dari kegiatan preventif kedokteran yang
mendapatkan prioritas. Sampai
saat ini ada tujuh penyakit
infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian
dan cacat, walaupun
sebagian anak dapat bertahan dan menjadi
kebal. Ketujuh penyakit
tersebut dimasukkan pada program
imunisasi yaitu penyakit
tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak
dan hepatitis-B.
2.4.4 Jenis-Jenis Imunisasi
Jenis-jenis
imunisasi yang diwajibkan dan dianjurkan oleh pemerintah, adalah sebagai
berikut:
A. Vaksin Hepatitis B
Vaksin
Hepatitis B rekombinan mengandung antigen virus Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B
rekombinan berbentuk suspensi steril berwarna keputihan. Vaksin Hepatitis B
diberikan pada bayi sejak lahir untuk mencegah masuknya VHB, yaitu virus
penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau pengerutan hati, bahkan
lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati dan kematian. Vaksin ini disuntikkan
secara intramuskular pada bagian anterolateral paha dengan dosis 0,5 ml. Vaksin
ini dapat disimpan sampai 26 bulan setelah tanggal produksi pada suhu 20C
- 80C, dan jangan dibekukan (Bio Farma, 2006).
B.Vaksin BCG
Vaksin BCG kering
adalah vaksin yang mengandung kuman hidup dari biakan Bacillus Calmette dan Guerin. Vaksin BCG diberikan
pada bayi sejak lahir
untuk mencegah penyakit tuberkulosa (TBC). Jika bayi sudah berumur
lebih dari tiga bulan, harus
dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Sesudah vaksin ini dilarutkan harus
segera dipakai dalam waktu 3 jam dan sisanya harus dibuang. Penyuntikan BCG
harus diberikan secara intrakutan di daerah insertio M. deltoideus dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil
apabila terjadi tuberkulin konversi pada
tempat suntikan. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu
dalam
akan
menyebabkan
terjadinya
abses
di
tempa
suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu di
bawah 50C dan terhindar dari sinar matahari langsung maupun tidak
langsung (indoor day-light).
Pengangkutan diusahakan dalam keadaan dingin, misalnya dengan termos yang diisi
es (Bio Farma, 2006).
C. Vaksin Kombinasi (DPT-HB)
Vaksin
kombinasi mengandung DTP berupa toksoid
difteri dan toksoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis (batuk
rejan) yang diinaktivasi serta vaksin
Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HBsAg murni dan bersifat non-infectious. Vaksin
Hepatitis B ini merupakan vaksin
DNA rekombinan yang berasal dari HBsAg yang diproduksi melalui teknologi
DNA rekombinan pada sel ragi. Vaksin ini bermanfaat untuk memberikan
kekebalan/imunitas aktif terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan Hepatitis B.
Tingkat efektivitasnya berdasarkan penelitian mencapai hampir di atas 90%.
Vaksin DTP-HB diberikan secara intramuskuler terdiri dari 3 dosis masing-
masing 0,5 ml, yaitu:
a.
Dosis
Pertama: Pada bayi usia 2 bulan
b. Dosis Kedua: Satu bulan setelah imunisasi pertama
c. Dosis Ketiga: Satu bulan setelah imunisasi kedua
Untuk menjaga potensinya, vaksin harus disimpan pada
suhu antara +20C - +80C, dan jangan dibekukan (Bio Farma,
2006).
D. Vaksin Polio
Vaksin ini berisi virus polio tipe 1,2, dan 3 yang masih hidup,
tetapi sudah dilemahkan (suku sabin), dibuat dalam biakan
jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Imunisasi
polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat
virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan. Untuk kekebalan terhadap polio,
diberikan 1 dosis terdiri dari 2 tetes vaksin polio oral (0,1 ml). Vaksin polio
oral harus diberikan melalui mulut (secara oral) pada bayi sebanyak 4 kali
dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Sebaiknya
vaksin polio disimpan pada suhu - 200C. Bila disimpan pada suhu 20C - 80C, potensi
vaksin ini akan stabil selama
6 bulan. Bila disimpan pada suhu yang lebih tinggi, potensi vaksin ini akan
segera menurun. Hindarkanlah perubahan dari keadaan beku ke cair yang berulang-ulang. Jangan
dipakai bila vaksin menjadi keruh.
E. Vaksin Campak
Vaksin campak merupakan vaksin
virus hidup yang dilemahkan dan dalam
bentuk bubuk kering atau freezeried, yang
harus dilarutkan terlebih
dahulu dengan pelarut khusus
sebanyak 5 ml yang telah disediakan sebelum digunakan. Satu dosis vaksin
campak cukup untuk
membentuk kekebalan terhadap infeksi campak. Di
negara berkembang dianjurkan imunisasi terhadap campak dilakukan sedini mungkin
setelah usia 9 bulan. Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang
disuntikkan secara subkutan pada lengan atas bayi. Vaksin yang telah dilarutkan
hanya dapat digunakan pada hari itu juga (maksimum untuk 8 jam) dan itupun
berlaku hanya jika vaksin selama waktu tersebut disimpan pada suhu 00C
- 80C serta terlindung dari sinar matahari. Vaksin campak
beku-kering harus disimpan pada suhu di bawah 80C (kalau
memungkinkan di bawah 00C) sampai ketika vaksin digunakan. Tingkat
stabilitas akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut) disimpan pada suhu di
bawah -200C. Pelarut tidak boleh dibekukan, tetapi disimpan pada
kondisi sejuk sampai dengan ketika digunakan. Di Indonesia vaksin campak
pertama kali diberikan mulai bayi berumur
9 bulan. Campak
kedua diberikan pada program
BIAS SD kelas 1, umur 6 tahun (Bio Farma,
2006).
2.4.5
Pemberian Pelayanan Imunisasi
Kegiatan
pelayanan imunisasi terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan tambahan. Dengan
semakin mantapnya unit pelayanan imunisasi, maka proporsi kegiatan imunisasi
tambahan semakin kecil.
1.
Pelayanan imunisasi rutin
Jadwal
pemberian imunisasi pada bayi, anak sekolah, dan wanita usia subur dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi pada Bayi
|
UMUR |
VAKSIN |
|
|
0 bulan |
HB1 |
|
|
1 bulan |
BCG, Polio 1 |
|
|
2 bulan |
DPT/HB kombo 1, Polio 2 |
|
|
3 bulan |
DPT/HB kombo 2, Polio 3 |
|
|
4 bulan |
DPT/HB kombo 3, Polio 4 |
|
|
9 bulan |
Campak |
|
2. Pelayanan Imunisasi Tambahan
Pelayanan imunisasi tambahan hanya dilakukan atas dasar
ditemukannya masalah dari hasil pematauan, atau evaluasi. Kegiatan ini sifatnya
tidak rutin, membutuhkan biaya khusus. Meskipun beberapa di antaranya telah
memiliki langkah-langkah yang baku, namun karena ditujukan untuk mengatasi
masalah tertentu, maka tidak dapat diterapkan secara rutin. Yang termasuk dalam kegiatan
imunisasi tambahan adalah Backlog
Fighting, Crash Program, Akselerasi MNTE
(Maternal Neonatus Tetanus Elimination), Catch Up, dan ORI (Outbreak Response
Immunization) (Depkes, 2005).
BAB 3
TINJAUAN KASUS
Pengkajian
yang dilakukan pada keluarga Tn. A dan Ny. H dimulai sejak hari Rabu tanggal 02-24
Oktober 2019.
Pengkajian ini dimulai dari lingkungan tempat tinggal keluarga sampai personal
dari masing-masing individu yang ada dalam rumah tersebut. pendokumentasian
yang digunakan pada asuhan keluarga ini dimulai dari data umum sampai metode
SOAP (subyektif, obyektif, analisis, dan penatalaksanaan) seperti di bawah ini:
I.
DATA
UMUM
A. Demografi
a. Kabupaten/Kota : Pekanbaru
b. Kecamatan : Rumbai Pesisir
c. Desa/Kelurahan : Limbungan
d. Dusun : Harapan
e. RT/RW : RT 02/ RW 06
f.
Alamat Rumah :
Jl. Pembina
B. Sarana & Prasarana
1.
Sarana
Kesehatan Terdekat
a.
Posyandu : Posyandu Mutiara dan
Posyandu RW 6
b. Puskesmas Pembantu
: Puskesmas Pembantu Lembah Sari
2.
Sarana
Transportasi
a. Sepeda Motor
b. Kendaraan
Umum
3.
Sarana
Komunikasi
a. Telepon Selular
b. Internet
4.
Fasilitas
Pendidikan terdekat :
a. SD :
SDN 117 dan SDN 118
b. Mts : SMP It Junior dan Pondok Pesantren Phtri
5.
Tempat
Peribadatan :
a. Masjid : Mesjid Al Wathan
6.
Fasilitas
Perdagangan :
a. Pasar :
Pasar Kaget
b. Warung :Warung warga
C.
Biografi
Kepala Keluarga
1.
Nama : Tn. A
2.
Umur : 32 Tahun
3.
Agama :
Islam
4.
Pekerjaan : Karyawan Swasta
5.
Pendidikan : S1
6.
Suku/Bangsa
: Jawa
D.
Anggota
Keluarga
|
No |
Nama |
Umur (Thn) |
L/P |
Status |
Pendidikan |
Pekerjaan |
Cek Kesehatan |
|
1. |
Tn. A |
32 |
L |
Suami |
S1 |
Karyawan Swasta |
Tidak
Rutin |
|
2 |
Ny. H |
28 |
P |
Istri |
SLTA |
IRT |
Tidak
Rutin |
|
3 |
An. M |
5 |
P |
Anak |
TK |
- |
Tidak
Rutin |
|
4 |
An. J |
3 |
L |
Anak |
B.
Sekolah |
- |
Tidak
Rutin |
|
5 |
An. H |
6 bln |
P |
Anak |
B.
Sekolah |
- |
Tidak
Rutin |
E.
Anggota
Keluarga yang Meninggal (Dalam 1 Tahun Terakhir)
Tidak
ada
II.
DATA
KHUSUS
A. Riwayat Penyakit Keluarga (Dalam
1 Tahun Terakhir)
Tidak
ada
B.
Data Pasangan Usia Subur Dan Keluarga
Berencana (15-49
Tahun)
|
NO |
NAMA PUS |
AKSEPTOR |
DO |
JENIS KONTRASEPSI |
LAMA PEMAKAIAN |
KET |
|
|
YA |
TIDAK |
||||||
|
1 |
Ny. H |
√ |
- |
- |
IUD |
+ 6 bulan |
- |
C.
Data Bayi/ Balita
|
No |
Nama |
L/P |
Tgl Lhr |
BB/PB |
Status Gizi ( BB/TB) |
ASI Eksklusif |
Imunisasi |
KMS |
Vit A |
Riwayat Kelahiran |
|
1 |
An. M |
P |
24/10/14 |
15/110 |
Baik |
Tidak |
HB0 |
Tidak Ada |
Ya |
RS, SC, BB 3200 gr, PB 49 cm |
|
2 |
An. J |
L |
2/5/17 |
12/80 |
Baik |
Iya |
HB0, BCG, Imunisasi Dasar |
Tidak Ada |
Tidak |
RS, Normal, BB 3100 gr, PB 49 cm |
|
3 |
An. H |
P |
15/4/19 |
8,2/68 |
Baik |
Iya |
HB0, BCG, DPT 1-3, Polio 1-4 |
Ada |
- |
RS, Normal, BB 3100 gr, PB 50 cm |
Catatan:
1. Ibu
tidak membawa balitanya immunisai karena faktor agama dan tidak mendapat izin
suami.
2. Ibu
tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai immunisasi
D. Riwayat Tumbuh Kembang
a.
Bayi
Bayi usia 6 bulan, bayi sudah bisa telungkup,
gigi bawah sudah tumbuh satu.
b.
Balita
Balita
usia 3 tahun, sudah bisa menggunakan 2 kata pada saat berbicara, bisa
menggunakan sepatu sendiri. Balita usia 5 tahun, sudah bisa menggunakan baju
sendiri tanpa bantuan, sudah bisa membedakan warna-warna.
Catatan:
1. Ibu
tidak pernah memantau BB dan PB anak-anaknya secara rutin
2. Ibu
tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai tumbuh kembang anak
3. Ibu
tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan pijat bayi yang dapat menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan bayi.
E.
Pola Makan Keluarga
1.
Kebiasaan
Makan
Di keluarga Tn. A memiliki kebiasaan makan 3 kali
sehari. Menu yang biasa dikonsumsi adalah nasi, lauk pauk, sayur dan buah, keluarga memiliki kebiasaan
makan buah sebelum makan nasi, namun tidak menjarakkan waktu antara makan buah
dan makan nasi. Ny. H sudah memberikan bayinya MP-ASI namun ibu kurang mengetahui cara
memasak MP-ASI dengan baik dan benar. Penentuan menu adalah berdasarkan selera Ny. H. Pertimbangan yang menjadi dasar
dalam memilih
menu makanan adalah berdasarkan selera ibu saat belanja ke pasar. Jenis
lauk-pauk yang sering dikonsumsi dalam keluarga adalah telur, ikan, ayam dan sayur. Anggota keluarga juga telah
menerapkan kebiasaaan mencuci tangan sebelum makan, namun belum menggunakan 6
langkah cuci tangan yang baik dan benar.
2.
Jenis
Keragaman Pangan (Dalam 1 Minggu Terakhit)
|
No |
Pertanyaan |
Konsumsi |
|
|
Ya |
Jarang |
||
|
1 |
Nasi,
roti, mie, biskuit atau makanan lain yang terbuat dari padi-padian |
√ |
|
|
2 |
Kentang,
singkong (dll yang terbuat dari akar atau umbi) |
|
√ |
|
3 |
Sayur-sayuran |
√ |
|
|
4 |
Buah-buahan |
√ |
|
|
5 |
Daging,
dll bagian dari daging |
|
√ |
|
6 |
Telur
|
√ |
|
|
7 |
Ikan
segar, ikan asin, kerang atau seafood, dll. |
√ |
|
|
8 |
Buncis,
kacang panjang atau polong-polongan lainnya |
|
√ |
|
9 |
Keju,
yogurt, susu atau produk susu |
|
√ |
|
10 |
Minyak
goreng, lemak atau mentega |
√ |
|
|
11 |
Gula
atau madu |
|
√ |
|
12 |
Jenis
makanan lain seperti bumbu rempah, kopi, teh dll |
|
√ |
3.
Data Sekolah ( Bila Ada Anggota
Keluarga Yang Masih Sekolah)
a.
Jajanan
: Tidak, karena selalu bawa
bekal
b.
Cuci
tangan : Iya
4.
Kebersihan Perorangan/Personal Hygiene
|
No |
Nama |
Mandi |
Gosok Gigi |
Ganti pakaian dalam |
|
1 |
Tn. A |
2 kali/ hari |
2 kali/ hari |
2 kali/ hari |
|
2 |
Ny. H |
2 kali/ hari |
2 kali/ hari |
2 kali/ hari |
|
3 |
An. M |
2-3kali/ hari |
2 kali/ hari |
3-4kali/ hari |
|
4 |
An. J |
2
kali/hari |
2
kali/ hari |
2-3
kali/ hari |
|
5 |
An. H |
2
kali/ hari |
- |
Sering |
Catatan: Ibu mengatakan belum
pernah melakukan perawatan dan senam payudara meskipun sekarang masih dalam keadaan
menyusui.
5.
Pola
Kebiasaan Kesehatan Dalam Keluarga
a. Aktivitas
fisik/ olahraga : Lari
/ Joging
b. Merokok/
alkohol/ napza: Tn. A tidak
merokok
a.
Jaminan Kesehatan : Tidak Ada
b.
Sanitasi
Lingkungan
1.
Perumahan
a.
Status Rumah : Kontrak
b.
Jenis Bangunan : Permanen
c.
Atap Rumah : Genteng
d.
Lantai : Keramik
e.
Ventilasi/Jendela : Ada, > 10% luas lantai
f.
Cahaya Matahari Masuk
Ruangan : Ya,
(memenuhi Ruangan)
g.
Penerangan :
Listrik
h.
Kepadatan Anggota Keluarga : Sesuai
2.
Sumber
Air Bersih
a. Sumber Air Minum :
Air Galon
b. Sumber Air Memasak : Air Bor
Jarak Sumber Air Minum Dengan Septi Tank: >
10 meter
c. Sumber Air Untuk MCK :
Air Bor
Kualitas Fisik Air Bersih : Memenuhi syarat kesehatn (Jernih, tidak berbau dan tidak berasa).
3.
Sistem
Pembuangan Air Limbah/ Kotoran Rumah Tangga
a. Tempat
Penampung Sampah Rumah Tangga : Tempat Sampah Tertutup
b. Pembuangan Sampah
: Tempat
Sampah Umum
c. Kepemilikan Jamban : Ada
d. Jenis Jamban : Leher
Angsa
e. Saluran Pembuangan Air Limbah Rumah
Tangga (SPAL) : Ada (Memenuhi syarat kesehatan).
4.
Lingkungan
Rumah
a.
Keadaan
Tanah :
Kering
b.
Jarak rumah dengan tetangga : Dekat (<
12 meter)
5.
Hewan
Piaraan/ Kepemilikan Ternak : Tidak Ada
III.
Analisa
Data
Dari hasil pengkajian, masalah kesehatan yang dialami
oleh keluarga Tn. A disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang
bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi dan kebutuhan di
keluarga Tn. A yaitu Penkes tentang gizi bayi dan balita, Penkes prilaku cuci tangan 6
langkah, Penkes pijat bayi, Penkes perawatan dan senam
payudara serta Penkes tentang kebiasaan makan
buah sebelum makan nasi. Dalam
hal ini bidan perlu memberikan penyuluhan kepada keluarga Tn. A, khususnya
mengenai masalah yang ada pada keluarga tersebut.
IV.
Perumusan
Masalah
Dari data di atas dan hasil analisa yang sederhana, maka
ada permasalahan yang timbul dalam keluarga Tn. A yang disebabkan oleh faktor
ketidaktahuan dan ketidakmampuan keluarga dalam menjalankan tugas-tugas
keluarga dalam bidang kesehatan, sehingga timbullah masalah keluarga dalam hal
kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh
kembang bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi.
V.
Prioritas
Masalah
1.
Prioritas 1 (Kurangnya pengetahuan
tentang tumbuh kembang pada bayi dan balita)
|
Kriteria |
Bobot |
Perhitungan |
Skor |
Pembenaran |
|
Sifat
masalah |
1 |
2/3 x 1 |
2/3 |
Sifat masalah adalah ancaman
kesehatan karena seharusnya tumbuh kembang bayi dan balita dilakukan
pemantauan 1 bulan sekali, apabila tidak dilakukan pemantauan akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti
stanting, down sindrom, gizi buruk dll. |
|
Kemungkinan
masalah dapat diubah |
2 |
1/2 x 2 |
1 |
Masalah
dapat dirubah hanya sebagian karena ibu mau memantau tumbang bayi dan
balitanya, namun ibu tidak melakukannya karena alasan tidak punya waktu dan
lebih fokus mengasuh bayinya. |
|
Potensi
masalah untuk dicegah |
1 |
3/3 x 1 |
1 |
Potensi masalah untuk dirubah tinggi
karena ibu cukup merutinkan memantau tumbangnya dan mempertahankan tumbang
anak-anaknya, karena tumbang anaknya sudah baik atau sesuai dengan usianya. |
|
Menonjolanya
masalah |
1 |
0/2 x 1 |
0 |
Ibu tidak
merasakan masalah dan perlu untuk segera ditangani. |
|
Total skor |
2 2/3 |
|
||
2.
Prioritas 2 (Kurangnya
Pengetahuan Tentang Immunisasi)
|
Kriteria |
Bobot |
Perhitungan |
Skor |
Pembenaran |
|
|
Sifat
masalah |
1 |
2/3 x 1 |
2/3 |
Ancaman
terhadap penyakit-penyakit yg dapat dicegah oleh vaksin imunisasi seperti TB,
polio, campak dll |
|
|
Kemungkinan
masalah dapat diubah |
2 |
1/2 x 2 |
1 |
Masalah
dapat dirubah hanya sebagian karena
dua balitanya sudah terlambat untuk mendapatkan imunisasi yang
seharusnya dan ibu harus membawa bayinya immunisasi rutin sesuai usianya. |
|
|
Potensi
masalah untuk dicegah |
1 |
3/3 x 1 |
1 |
Potensi
masalah untuk dirubah tinggi karena Masalah dapat
dicegah mengguanakan penkes dan ibu membawa bayinya posyandu rutin. |
|
|
Menonjolanya
masalah |
1 |
2/2 x 1 |
1 |
Penonjolan
masalah termasuk berat karena dapat mengancam
kesehatan bayi dan balita. |
|
|
|
Total
skor |
3 2/3 |
|
||
Berdasarkan
hasil pembobotan masalah diatas, maka urutan prioritas masalah kesehatan dan kebutuhan
pada keluarga Tn. A adalah
sebagai berikut:
1.
Prioritas
Masalah
a. Prioritas
1 : Masalah kurangnya pengetahuan tentang immunisasi
b. Prioritas
2 : Masalah kurangnya pengetahuan Ibu tentang tumbuh kembang pada bayi dan balita
2. Kebutuhan
a. Gizi bayi dan balita
b. Prilaku cuci tangan 6
langkah
c. Pijat bayi
d. Perawatan dan senam payudara
e. Kebiasaan makan buah sebelum
makan nasi
ASUHAN
KELUARGA PADA TN. A RT
02 RW 06 DUSUN HARAPAN DESA LIMBUNGAN
KECAMATAN RUMBAI PESISIR KOTA
PEKANBARU
|
Kunjungan |
Data |
Masalah kesehatan |
Tujuan |
Pelaksanaan |
Evaluasi |
|||||
|
Kunjungan
1 Tanggal 11 Oktober 2019 |
- Balita
memiliki riwayat immunisasi tidak lengkap - Ibu
tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai immunisasi |
Balita
memiliki riwayat immunisasi tidak lengkap sehubungan dengan keluarga tidak
mengetahui mengenai immunisasi |
Setelah diberikan pendidikan
kesehatan, keluarga dapat memahami serta mampu menjelaskan
kembali tentang immunisasi, dan ibu membawa bayinya immunisasi. |
Memberikan
penkes kepada keluarga tentang pentingnya immunisasi dan menganjurkan ibu
untuk membawa bayinya immunisasi. |
Ibu
mengerti tentang pentingnya immunisasi dan ibu akan membawa bayinya
immunisasi. |
|||||
|
- Ibu
tidak pernah memantau BB dan PB anak-anaknya secara rutin - Ibu
tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai tumbuh kembang anak |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai tumbuh kembang bayi dan balita |
Setelah diberikan pendidikan
kesehatan, keluarga dapat memahami serta mampu menjelaskan
kembali tentang pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita, seperti
menimbang BB dan mengukur PB setiap bulannya kemudian mengisi KMS dan menilai
pertumbuhan dan perkembangannya. |
Memberikan
penkes kepada keluarga mengenai pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan
balita serta mengajarkan ibu mengisi KMS |
Ibu
paham tentang pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita dan ibu akan
membawa bayi dan balita untuk timbang BB, ukur PB setiap bulannya kemudian
mengisi KMS serta menilai pertumbuhan dan perkembangannya. |
||||||
|
Ibu
sudah memberikan bayinya MP-ASI namun ibu tidak mengetahui cara memasak yang
baik dan benar |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai gizi bayi serta cara memasak MP-ASI yang baik dan
benar. |
Ibu
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan memberikan MP-ASI setelah usia
anak 6 bulan dan terus melanjutkan ASI sampai 2 tahun. |
Memberikan
penkes kepada ibu mengenai ASI eksklusif dan MP-ASI |
Ibu
mengerti dengan apa yang sudah dijelaskan dan ibu memberikan bayinya ASI
eksklusif |
||||||
|
Kunjungan 2 Tanggal 16 Oktober 2019 |
- Ibu
sudah memberikan bayinya MP-ASI seperti bubur susu dan buah. - ibu
tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan,
serta cara memasak makanan yang baik dan benar |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan bayi dan balita,
serta cara memasak makanan yang baik dan benar. |
Keluarga
lebih memperhatikan kebutuhan gizi bayi dan balitanya, porsi makan bayi dan
balita sesuai kebutuhannya serta dapat memasak makanan dengan baik dan benar. |
Memberikan
penkes mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan bayi dan balita sesuai
kebutuhanya dan cara memasak makanan yang baik dan benar |
Ibu
mengerti dengan apa yang dijelaskan dan ibu akan memperhatikan asupan nutrisi
bayi dan balitanya serta ibu akan memasak makanan dengan baik dan benar. |
||||
|
Ibu
tidak mengetahui cara memantau tumbang anak dengan SDIDTK |
Kurangnya
pengetahuan pengenai cara pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita
menggunakan SDIDTK. |
Ibu
dapat menilai pertumbuhan dan perkembangannya dengan menggunakan SDIDTK
sesuai usianya |
Memberikan
penkes kepada ibu mengenai cara pemantauan tumbang menggunakan SDIDTK sesuai umurnya, dan
kunjungan selanjutnya akan melakukan
SDIDTK balita usia 60 bulan |
Ibu
mengerti dengan apa yang dijelaskan dan ibu setuju jika anaknya dilakukan
SDIDTK. |
|||||
|
Kunjungan 3 Tanggal 18 Oktober 2019 |
Ibu
dapat menjelaskan kembali mengenai
SDIDTK, dan ibu setuju balitanya dilakukan SDIDTK |
Ibu belum mengetahui cara mengaplikasikan
SDIDTK |
Ibu
dapat memperhatikan cara menilai pertumbuhan dan perkembangannya dengan
menggunakan SDIDTK sesuai usianya seperti gerak halus, gerak kasar, bicara,
bahasa, sosialisasi, kemandirian dll, sehingga diharapkan ibu dapat
menstimulasi SDIDTK pada anaknya yg lain. |
-
Melakukan SDIDTK pada balita usia 60
bulan -
Memberitahu ibu bahwa kunjungan
selanjutnya akan melakukan SDIDTK ke balitanya yang usia 36 bulan |
- Ibu
memperhatian tindakan stimulasi dengan baik dan ibu senang dengan hasil
stimulasi anaknya yaitu dari 10 indikator penilaian SDIDTK diperoleh skor
10 dan ibu akan lebih memperhatikan serta terus
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anaknya. - Ibu
setuju anaknya dilakukan SDIDTK |
||||
|
Kunjungan 4 Tanggal 19 Oktober 2019 |
- Ibu Sudah menstimulasi ulang tumbang balitanya
yang usia 60 bulan - Ibu belum berani melakukan SDIDTK
kebalitanya yg usia 36 bulan. - Ibu setuju balitanya usia 36 bulan
dilakukan SDIDTK |
Kurangnya keberanian ibu melakukan SDIDTK pada
balitanya yg usia 36 tahun |
Ibu dapat memperhatikan SDIDTK dengan baik,
sehingga ibu berani melakukan SDIDTK pada bayinya yg usia 6 bulan |
- Melakukan
SDIDTK pada balita usia 36 bulan - Menganjurkan
ibu untuk menstimulasi kembali tumbang balitanya serta kunjungan selanjutnya
akan mengajarkan ibu SDIDTK ke bayinya |
- Ibu
memperhatikan dengan baik saat balinyanya dilakukan SDIDTK dan ibu senang
dengan hasilnya yaitu dari 10 indikator penilaian diperoleh skor 8 - Ibu
akan menstimulasi gerak halus dan gerak kasarnya dan ibu mau melakukan SDIDTK
pada bayinya. |
||||
|
Kunjungan 5 Tanggal 21 Oktober 2019 |
-
Ibu
sudah menstimulasi balitanya dengan mengajarkan membuat garis dan mengajarkan
mengayuh sepeda -
Ibu
mau melakukan SDIDTK pada bayinya yg usia 6 bulan |
|
Ibu dapat melakuakn SDIDTK pada bayinya,
sehingga kedepannya ibu juga bisa menstimulasi ulang ke balita dan bayinya
secara rutin sesuai usianya. |
Mengajarkan
ibu melakukan SDIDTK ke bayinya yang usia 6 bulan |
Ibu
dapat melakukan SDIDTK pada bayinya dengan baik dan Ibu senang dengan
hasilnya yaitu dari 10 indikator penilaian skor 9, dan ibu akan lebih sering
lagi menstimulasi gerak halus pada bayinya |
||||
|
Ibu sudah melakukan prilaku hidup sehat dan
bersih namun masih ada beberapa dari indikator PHBS yang belum keluarga
lakukan, seperti tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, ibu
sudah melakukan kebiasaan mencuci tangan, namun ibu tidak tahu cara mencuci
tangan yang baik dan benar |
- Keluarga
sudah mengetahui prilaku hidup sehat dan bersih, namun masih ada beberapa
dari indikator PHBS yang belum keluarga lakukan, seperti tidak pernah
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. - Kurangnya
pengetahuan ibu cara cuci tangan yang
baik dan benar |
- Keluarga
dapat memaksimalkan prilaku hidup sehat dan bersih seperti melakukan pemeriksaan kesehatan
rutin minimal 1 bulan sekali walaupun dalam keluarga tidak ada yang sakit. -
Menerapkan cuci tangan
6 langkah menurut WHO dalam kesehariannya dan mengajarkan keluarga
ataupun orang-orang sekitarnya. |
- Memberikan
penkes kepada ibu mengenai prilaku hidup bersih dan sehat salah satunya
melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, cuci tangan yang baik dan
benar. - Mengajarkan
ibu cara cuci tangan yang baik dan benar
(6 langkah menurut WHO) |
Ibu
mengerti tentang PHBS, ibu akan membawa keluarganya memeriksakan kesehatannya
rutin dan ibu dapat memperagakan cara mencuci tangan 6 langkah dengan baik
dan benar. |
|||||
|
Kunjungan 6 Tanggal 22 Oktober 2019 |
Ibu
tidak pernah melakukan pijat bayi |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai pijat bayi yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan bayi |
Ibu
juga dapat melakukan pijat bayi secara rutin yang fungsinya bias menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan bayinya, merileks kan tubuh bayi, meningkatkan
napsu makan dan bayi menyusu lebih lama, tidur bayi nyenyak dll. |
Memberikan
penkes kepada ibu bahwa pijat bayi juga dapat menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan bayi serta mengajarkan ibu cara pijat bayi. |
Ibu
mengerti mengenai pijat bayi, ibu dapat melakukan pijat bayi dengan baik dan
benar, dan ibu mau melakukan pijat bayi dilain waktu |
||||
|
Ibu tidak pernah melakukan
perawatan dan senam payudara |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai perawatan dan senam payudara walau ibu masih dalam
menyusui |
Ibu
dapat melakukan perawatan dan senam payudara secara rutin, supaya produksi
ASI tetap lancar dan payudara bersih, sehingga ibu dapat memberikan ASI
sampai 2 tahun |
Memberikan
penkes mengenai perawatan dan senam payudara, serta memberitahu ibu kunjungan
selanjut akan mengajarkan ibu perawatan dan senam payudara |
Ibu
mengerti dengan perawatan dan senam payudara dan ibu bersedia diajarkan
perawatan dan senam payudara. |
|||||
|
Kunjungan 7 Tanggal 23 Oktober 2019 |
Ibu
bersedia diajarkan perawatan dan senam payudara |
Ibu
belum tau cara mengaplikasikan perawatan dan senam payudara secara langsung |
Ibu
dapat memperhatikan langkah-langkah perawatan dan senam payudara dengan baik
sehingga ibu dapat mengulangi gerakannya serta ibu dapat mengaplikasikan
perawatan dan senam payudara dilain waktu secara rutin. |
Mengajarkan
ibu cara perawatan payudara dan senam payudara dan menganjurkan ibu untuk
melakuannya secara rutin minimal 2 kali dalam 1 minggu |
Ibu
dapat melakukan perawatan payudara dan senam payudara dengan baik dan ibu
akan mengulanginya dilain waktu. |
||||
|
Ibu
sudah memiliki kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, namun ibu tidak
menjarakkan waktu antara makan buah dan makna nasi |
Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai jarak antara makan buah dan makan nasi |
Keluarga
lebih memperhatikan kebiasaan hidup sehat mulai dari hal yang kecil seperti
makan buah terlebih dahulu baru makan
nasi dengan menjarakkan waktu 30
menit-1 jam. |
Menganjurkan
ibu untuk mendahulukan makan buah kemudian member jarak waktu 30 menit-1 jam
untuk makan nasi |
Ibu
mengerti dan ibu akan menjarakan waktu antara makan buah dan makan nasi |
|||||
BAB 4
PEMBAHASAN
Keluarga Tn. A tinggal dirumah dengan status rumah
kontrak dan keadaan rumah
permanen, berlantai keramik, beratap genteng dan ventilasi sesuai dengan luas
lantai sehingga cahaya dapat masuk ke dalam rumah, walaupun masih ada beberapa
bagian rumah yang tidak masuk cahaya karena lebih sering ditutup
pintu dan jendelanya. Luas dari rumah keluarga Tn. A sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dirumah
tersebut. Keadaan rumah dan lingkungan sekitar bersih.
Setelah
dilakukan pengumpulan data dan analisis data pada keluarga Tn. A secara umum,
kesehatan keluarga Tn. A sudah cukup baik tetapi terdapat beberapa masalah dan kebutuhan
yang ada di keluarga Tn.
A. Masalahnya yaitu kurangnya pengetahuan keluarga mengenai
pentingnya immunisasi dan kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi
dan balita, sehingga riwayat immunisasi balitanya tidak lengkap serta
pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balitanya tidak pernah dipantau. Selain
itu kebutuhannya yaitu
pengetahuan tentang gizi bayi dan balita, prilaku cuci tangan 6 langkah yang baik dan benar,
pengetahuan tentang pijat bayi, pengetahuan tentang perawatan dan senam payudara
serta pengetahuan tentang kebiasaan makan buah sebelum makan nasi.
Adapun
pembahasan mengenai masalah dan kebutuhan yang ada pada keluarga Tn. A yaitu :
1. Kurangnya
Pengetahuan Tentang Immunisasi
Setelah
dilakukannya pengkajian, didapatkanlah hasil bahwa Ny. H memiliki dua balita dengan riwayat
immunisasi tidak lengkap, serta bayinya yang saat ini umur 5 bulan namun belum
mendapatkan immunisasi DPT 3 dan polio 4. Bayi dan balita yang tidak
mendapatkan immunisasi akan medah terpapar oleh virus atau bakteri yang dapat
menyebabkan penyakit hepatitip B, TBC, polio, Difteri, Pertusis, Tetatus,
Campak dll.
Oleh sebab
itu asuhan yang diberikan untuk mengatasi permasalahan
ini adalah dengan
memberikan pendidikan
kesehatan mengenai immunisasi diantaranya apa immunisasi,
tujuan immunisasi, manfaat immunisasi, jenis-jenis immunisasi, keadaan-keadaan yang
timbul setelah immunisasi, perawatan yang dapat diberikan setelah immunisasi,
dan kapan immunisasi tidak boleh diberikan. Sehingga diharapkan ibu
mengerti mengenai immunisasi dan dapat membawa bayinya immunisasi rutin sesuai
usianya, asuhan ini dilakukan selama 6 hari dengan dua kali kunjungan. Setelah
dilakukannya evaluasi pada hari ke enam atau kunjungan kedua Ny. H mengerti dan
mampu menjelaskan kembali mengenai immunisasi, dan sudah membawa bayi
immunisasi (DPT 3 dan polio 4) di BPM Dince Safrina.
2. Kurangnya Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Pada
Bayi Dan Balita
Setelah dilakukannya
pengkajian pada Ny.
H, dan diketahui
keluarga tidak
pernah memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balitanya seperti tidak
pernah menimbang BB dan mengukur PB balitanya setiap bulannya. Dimana pemantauan
tumbuh kembang pada bayi dan balita sangat penting dilakukan minimal sebulan sekali, ataupun pemantauan motorik halus,
motorik kasar, berbicara, bahasa, sosialisasi, kemandirian bayi dan balita dll.
Apabila tidak dilakukan pemantauan tumbang anak akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti stanting, down sindrom,
gizi buruk dll.
Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan
kesehatan mengenai tumbuh kembang pada bayi dan
balita, tujuan dan manfaat pemantauan tumbang, indicator pemantauan tumbang,
cara mengisi KMS, ancaman tidak dilakukannya pemantauan tumbang, melakukan dan
mengajarkan ibu SDIDTK pada bayi dan balita serta memberikan hardcopy SDIDTK
dengan tujuan supaya ibu dapat memantau tumbang sesuai usianya, asuhan ini
dilakukan selama 11 hari dengan 5 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi
pada hari ke 11 atau kunjungan kelima, Ny. H sudah mengerti pentingnya pemantauan
tumbuh kembang bayi dan balitanya, Ny. H sudah melakukan SDIDTK pada bayi dan
balitanya dengan baik dan Ny. H kedepannya akan memantau BB, PB bayi secara
rutin, kemudian memantau tumbang dengan KMS, Ny. H akan melakukan SDIDTK pada
bayi dan balitanya seperti gerak halus, motorik kasar, berbicara, bahasa,
sosialisasi, kemandirian bayi dan balita dengan SDIDTK sesuai usianya.
3.
Pendidikan
Kesehatan Tentang Gizi Bayi Dan Balita
Setelah dilakukannya
pengkajian pada Ny.
H, dan diketahui
Ny. H sudah memperhatikan asupan nutrisi bayi dan balitanya, Ny. H juga sudah
memberikan bayinya MP-ASI namun Ny. H tidak mengetahui mengenai porsi makanan
pada balita serta tidak tahu cara memasak MP-ASI buat bayinya. Porsi makan
bagi bayi dan balita sangat penting diperhatikan bagi orang tua hal ini sangat
berpengaruh terhadap kebutuhan gizi bayi dan balita sesuai usianya seperti
banyaknya kebutuhan karbohidrat, protein, vit A dll. Apabila porsi makan bayi
dan balita tidak sesuai dengan kebutuhannya justru akan berdampak buruk
terhadap gizinya, bayi dan balita akan mengalami gizi buruk, gizi lebih, atau
bahkan sampai ke kanker usus karena orang tua yang memberikan makan pada bayi
yang belum usianya.
Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai
gizi bayi dan balita, menunjukkan porsi makan bayi dan balita serta cara
memasak makanan yang baik dan benar, asuhan ini dilakukan selama 3 hari dengan
2 kali kunjungan. Setelah
dilakukannya evaluasi pada hari ke 3 atau kunjungan
kedua, Ny. H
sudah mengerti mengenai gizi bayi dan balita, Ny. H sudah memberikan makanan
paba bayi dan balita sesuai porsinya dan sudah memasak makanan dengan baik dan
benar.
4. Pendidikan
Kesehatan
Prilaku Mencuci Tangan Yang Baik Dan Benar (6 Langkah Menurut WHO)
Setelah dilakukannya
pengkajian pada Ny.
H, dan keluarga
sudah melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, namun keluarga tidak
mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar yaitu 6 langkah menurut WHO.
Kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar ini sangat penting terhadap
kesehatan, cuci tangan 6 langkah menurut WHO ini efektif membersihkan kuman-kuman
yang ada ditangan kita. Kebiasaan mencuci tangan merupakan hal yang dasar dan sepele
namun apabila dalam keluarga tidak menerapkan cuci tangan yang baik dan benar
justru akan berpengaruh terhadap kesehatan seperti kuman-kuman yang ada
ditangan akan terbawa bersama dengan makanan yang akan berdampak buruk terhadap
organ pencernaan, pernapasan, ataupun organ lainnya yang tersentuh oleh tangan
kita dan bahkan dapat menularkan dan tertular oleh penyakit-penyakit lainnya.
Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai
pentingnya cuci tangan 6 langkah, dan mengajarkan keluarga cara mencuci tangan 6
langkah, asuhan ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi
pada hari ke 2 atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai cuci tangan 6
langkah, mengulangi gerakan cuci tangan 6 langkah dengan baik dan Ny. H sudah
mengajarkan cuci tangan 6 langkah keanggota keluarganya dan sudah menerapkan
dalam kesehariannya.
5.
Pendidikan Kesehatan Pengetahuan Tentang
Pijat Bayi
Setelah dilakukannya
pengkajian pada Ny.
H tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan pijat bayi. Pijat bayi dapat
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangannya seperti BB bayi akan naik, bayi
menyusu dengan kuat, tidur bayi baik, bayi tidak rewel dll. Untuk mengatasi
permasalahan ini asuhan
yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai
pijat bayi, tujuan dan manfaat pijat bayi, dampak yang ditimbulkan dari pijat
bayi, kapan dilakukan pijat bayi serta mengajarkan ibu cara pijat bayi, asuhan
ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi
pada hari kedua atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai pijat bayi,
dan sudah mengulangi pijat bayi pada anaknya walaupaun gerakan pijat bayi tidak
berurutan, karena Ny.H merasakan langsung manfaat yang ditimbulkan setelah
dilakukannya pijat bayi seperti bayi menyusu lebih lama, bayi tidur nyenyak,
dan bayi tidak rewel lagi.
6.
Pendidikan Kesehatan Mengenai Perawatan
Dan Senam Payudara
Setelah dilakukannya
pengkajian pada Ny.
H tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan perawatan dan senam payudara
walau ibu dalam masih menyusui. Perawatan dan senam payudara sangat baik
dilakukan seperti dapat memperlancar produksi ASI, mencegah bendungan ASI,
payudara menjadi bersih dan kencang. Namun apabila ibu tidak pernah melakukan
perawatan maupun senam payudara akan mengakibatkan bendungan ASI menyebab ASI
tidak lancar dan payudara bengkak, payudara kotor sehingga dapat mengakibatkan
infeksi pada payudara atau mastitis, bahkan bisa mengakibatkan kanker payudara.
Untuk mengatasi permasalahan ini asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai
perawatan dan senam payudara, tujuan dan manfaat perawatan dan senam payudara,
kapan dilakukan perawatan dan senam payudara serta mengajarkan ibu cara
perawatan dan senam payudara, asuhan ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali
kunjungan. Sehingga diharapkan ibu dapat melakukan perawatan dan senam payudara
secara rutin. Setelah dilakukan evaluasi pada hari kedua atau kunjungan kedua, Ny.
H sudah mengerti mengenai perawatan dan senam payudara, Ny.H dapat memperagakan
perawatan dan senam payudara dengan baik dan benar dan Ny. H akan mengulangi
perawatan dan senam payudara dilain waktu.
7.
Pendidikan Kesehatan Kebiasaan Makan Buah
Sebelum Makan Nasi
Setelah dilakukan
pengkajian keluarga Tn. A sudah memiliki kebiasaan makan buah sebelum makan
nasi, namun tidak menjarakan waktu antara makan buah dan makan nasi. Makan buah
sebelum makan sangat baik terhadap kesehatan seperti gizi yang diserap dalam
tubuh maksimal dan baik bagi organ pencernaan. Jikalau makan buah sesudah makan
ataupun bersamaan saat makan nasi gizi yang ada dalam buah tidak diserap secara
maksimal oleh tubuh dan akan menggangu sistem pencernaan. Untuk mengatasi
masalah tersebut asuhan yang dapat diberikan adalah memberikan pendidikan
kesehatan mengenai kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, tujuan, manfaat,
jarak antara makan buah dan makan nasi, asuhan ini dilakukan selama 1 hari
dengan satu kali kunjungan. Setelah dilakukan evaluasi pada saat itu Ny. H sudah makan buah sebelum makan nasi dan
akan menjarakkan antara makan buah dan makan nasi.
BAB 5
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Asuhan kebidanan komunitas komprehensif yang dilakukan pada keluarga Tn. A
dimana keluarga Tn. A telah di prioritaskan permasalahan
dan kebutuhan. Prioritas msalahnya yaitu kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh
kembang bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi dan
ketubuhannya yaitu penkes gizi bayi dan balita, penkes prilaku cuci tangan 6
langkah, penkes pijat bayi, penkes perawatan dan senam
payudara, penkes kebiasaan makan buah
sebelum makan nasi, pembinaan keluarga dilaksanakan dari tanggal 11-24 Oktober
2019 dengan kunjungan selama 7 kali. Penatalaksanaan yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah kurangnya
pengetahuan mengenai tumbuh
kembang bayi dan balita,
memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemantauan
tumbuh kembang pada bayi dan balita, pemantauan tumbang secara rutin dilakukan
untuk mencegah ancaman kesehatan, apabila tidak dilakukan pemantauan akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti
stanting, down sindrom, gizi buruk dll. Selanjutnya memberikan penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi, dan dampak
kedepannya yang diakibatkan jika tidak imunisasi.
Penatalaksanaan dalam memenuhi kebutuhan yaitu dengan memberikan penkes
mengenai gizi bayi dan balita, cara memasak makanan yang baik dan benar,
memberitan penkes prilaku cuci tangan 6
langkah, penkes pijat bayi yang dapat
menstimulasi tumbang bayi, penkes perawatan dan senam payudara
serta penkes kebiasaan makan buah
sebelum makan nasi. Semua asuhan yang diberikan dapat diterima dengan baik
oleh keluarga Tn.A dan apa yang telah disampaikan sudah dijalankan oleh keluarga
Tn.A.
5.2 SARAN
Setelah
dilakukan asuhan kebidanan komunitas komprehensif, diharapkan keluarga Tn. A
dapat bertambah wawasannya mengenai masalah kesehatan yang terjadi dalam
keluarganya terutama pada kebutuhan bayi dan balitanya dalam masa pertumbuhan
dan perkembangan serta
membutuhkan perhatian yang jauh dari biasanya. Selanjutnya diharapkan keluarga
mampu mengenali masalah dan kebutuhan kesehatan yang
ada dalam keluarga
serta mampu mengatasi masalah tersebut secara mandiri khususnya yang berkaitan
dengan masalah kesehatan ibu dan anak (KIA).
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zaidin. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta
: EGC.
Bailon dan Maglaya. 1978. Konsep Keluarga. Diakses melalui
[http://id.shvoong.com/books/1896185-konseo-keluarga]
Biofarma,2006, Vademecum, Bandung,
http://www.bumn.go.id/biofarma/publikasi
/berita/who-prequalified-of-dtp-hepatitis-b-vaccine-produced-by-bio-farma/,
diakses 14 Maret 2012.
Depkes RI, 2005. Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor : 23 tahun 2005 Tentang Kesehatan. Jakarta: Fisioterapi
Indonesia
Dwienda, O. 2014. Buku
Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi / Balita dan Anak Prasekolah untuk Para
Bidan. Yogyakarta : Deepublish
Friedman,
Marilyn M. 2010. Buku Ajar Keperawatan
Keluarga. Jakarta : EGC
Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta
: Pustaka Pelajar
Hidayati, dkk. 2008. Pengembangan
Pendidikan IPS SD. Surakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional.
Kemenkes RI. 2016. Profil
Kesehatan 2015. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI
Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan keluarga.
Yogyakarta: Nuha Medika
Suprajitno.2012.Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi dalam
Praktik.Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Syamsussabri, Muhammad,2013. Konsep Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik. Jurnal
Perkembangan Peserta Didik, Volume 1 Nomor 1 tahun.
Undang-undang (UU) No. 10 Tahun
1992. Perkembangan Kependudukan Dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera
Varney,
Helen. 2004. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.
Jakarta : EGC
Wakhida, Siti Nuraini.
2017. Keluarga Binaan. Diakses
melalui [http://sitinurainiwakhida.blogspot.com/2017/08/keluarga-binaan.html?m=1] pada tanggal 21 Oktober 2019 pukul 21.06
WIB
Yuniarti,
Sri. (2015). Asuhan Tumbuh Kembang
Neonatus Bayi: Balita dan Anak Prasekolah. Bandung : PT Refika Aditama.







0 komentar:
Posting Komentar