BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Rabu, 14 Oktober 2020

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KELUARGA " KEBIDANAN"

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Kesehatan merupakan keadaan sejahtera fisik, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomi. Berkaitan dengan perspektif tersebut, pembangunan kesehatan berbanding lurus dengan pembangunan ekonomi, sehingga melalui pembangunan kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk membangun kesehatan masyarakat adalah melalui program Indonesia sehat (Kemenkes RI, 2016).

Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak, baik individu maupun kelompok. Program Indonesia sehat ialah salah satu upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berprilaku sehat, hidup dalam lingkungan sehat, serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai target tersebut, kementerian kesehatan menyusun strategi penguatan pelayanan yang mengacu pada tiga pilar utama program Indonesia Sehat, yaitu: (1) penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3) pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan. Sedangkan pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan manfaat (benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu ditujukan kepada tercapainya keluarga-keluarga sehat. (Kemenkes RI, 2016).

Keluarga yang sehat akan menciptakan komunitas yang sehat pula. Oleh karena itu, salah satu aspek terpenting dari asuhan kebidanan komunitas adalah pemberian asuhan kebidanan pada unit keluarga. Pelaksanaan asuhan keluarga ini dilakukan dengan pengembangan model One Student One Client (OSOC) yang merupakan model pelayanan kesehatan dengan melibatkan satu mahasiswa mendampingi satu klien (Zidin, 2009).

Di Desa Limbungan wilayah kerja Puskesmas Rumbai, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan terdapat lebih kurang 316 KK yang tersebar pada RW 6 dan 7. Pelaksanaan praktik kerja lapangan kebidanan komunitas ini dilakukan di RW 6 dan 7 yang ada di desa Limbungan dengan sasaran ibu hamil, ibu nifas, bayi dan balita, remaja, pasangan usia subur (PUS) dan lansia. Pada RW 06 terdapat 176 kepala keluarga (KK) dari jumlah tersebut, terdapat beberapa KK yang memenuhi kriteria untuk diberikan asuhan keluarga karena memiliki masalah kesehatan dalam keluarganya. Salah satu KK tersebut adalah KK Tn. A yang memiliki istri, balita perempuan, balita laki-laki dan satu bayi perempuan, beralamat di RT 02 RW 06 dusun Harapan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan pengawasan dan pemberian pendidikan kesehatan kepada Tn. A dan Ny. H dengan judul laporan “Asuhan Kebidanan Komunitas dalam Konteks Keluarga pada Keluarga Tn. A di RT 02 RW 06 Dusun Harapan Desa Limbungan Wilayah Kerja Puskesmas Rumbai Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru Tahun 2019”.

 

1.2 Tujuan Penulisan

A.  Tujuan Umum

Melakukan asuhan kebidanan dalam konteks keluarga secara menyeluruh dan berkesinambungan pada keluarga Tn. A melalui pendekatan manajemen kebidanan serta mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan.

 

B.   Tujuan Khusus

a.       Melakukan pengkajian data subjektif dan objektif pada keluarga Tn. A

b.      Melakukan analisa data dan merumuskan masalah pada keluarga Tn. A

c.       Merencanakan asuhan berdasarkan analisa data dan rumusan masalah bersama keluarga Tn. A

d.      Melaksanakan asuhan yang telah direncanakan pada keluarga Tn. A

e.       Menganalisis keefektifan rencana dan pelaksanaan asuhan yang telah dilakukan pada keluarga Tn. A

f.       Mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada keluarga Tn. A.

 

1.3  Manfaat Penulisan

A.    Bagi Keluarga

Dapat meningkatkan kesehatannya serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan secara mandiri.

 

B.     Bagi Penulis

Dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengalaman penulis dalam memberikan asuhan kebidanan dalam konteks keluarga secara komprehensif dan berkesinambungan serta mendokumentasikan asuhan khususnya pada keluarga Tn. A.


 

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1  KONSEP KELUARGA

2.1.1      Pengertian Keluarga

Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan. (WHO, dalam Harmoko 2012).

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Friedman, 2010).

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dimana terjadi interaksi antara anak dan orang tuanya.Keluarga berasal dari bahasa sansekerta kulu dan warga atau kuluwarga yang berarti anggota kelompok kerabat (Padila, 2012).

Definisi yang sering dipakai oleh masyarakat indonesia, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Dari beberapa pengertian tentang keluarga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :

1.         Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.

2.         Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.

3.         Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial: suami, istri, anak, kakak dan adik.

4.         Mempunyai tujuan: menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.

Peran dan fungsi keluarga sangat penting dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi sangatlah tepat bila keluarga sebagai titik sentral pelayanan kebidanan. Dipercaya bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat dalam mewujudkan masyarakat yang sehat (UU Nomor 10 Tahun 1992).

 

2.1.2  Struktur Keluarga

Struktur keluarga oleh Friedman di gambarkan sebagai berikut:

A.      Struktur komunikasi

Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan hierarki kekuatan. Komunikasi keluarga bagi pengirim yakin mengemukakan pesan secara jelas dan berkualitas, serta meminta dan menerima umpan balik. Penerima pesan mendengarkan pesan, memberikan umpan balik, dan valid.

Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila tertutup, adanya isu atau berita negatif, tidak berfokus pada satu hal, dan selalu mengulang isu dan pendapat sendiri. Komunikasi keluarga bagi pengirim bersifat asumsi, ekspresi perasaan tidak jelas, judgemental ekspresi, dan komunikasi tidak sesuai. Penerima pesan gagal mendengar, diskualifikasi, ofensif (bersifat negatif), terjadi miskomunikasi, dan kurang atau tidak valid.

1)      Karakteristik pemberi pesan :

a.        Yakin dalam mengemukakan suatu pendapat.

b.        Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.

c.        Selalu menerima dan meminta timbal balik.

2)      Karakteristik pendengar

a.        Siap mendengarkan

b.        Memberikan umpan balik

c.        Melakukan validasi

3). Struktur peran

Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi, pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal. Posisi/status adalah posisi individu dalam masyarakat misal status sebagai istri/suami.

 

 

4). Struktur kekuatan

Struktur kekuatan adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol, memengaruhi, atau mengubah perilaku orang lain. Hak (legimate power), ditiru (referent power), keahlian (exper power), hadiah (reward power), paksa (coercive power), dan efektif power.

5). Struktur nilai dan norma

Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu. Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.

a.       Nilai, suatu sistem, sikap, kepercayaan yang secara sadar atau tidak dapat mempersatukan anggota keluarga.

b.      Norma, pola perilaku   yang baik menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.

c.       Budaya, kumpulan daripada perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah. (Friedman, dalam Harmoko, 2012).

 

2.1.3     Tipe atau Bentuk Keluarga

a.       Keluarga Inti (NuclearFamily) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang belum mengikat diri dalam membentuk keluarga sendiri, tinggal dalam satu rumah yang di tetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan.

b.      Keluarga Besar (ExtendedFamily) adalah keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

c.       Single parent family adalah suatu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dan anak (kandung atau angkat).Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

d.      Single adult adalah satu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.

e.       Dyad family adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang tinggal dalam satu rumah tanpa anak.

f.       Keluarga berkomposisi (composite adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.

g.      Keluarga kabitas (cohabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

h.      Multigenerational family adalah keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah (Suprajitno, 2012).

 

2.1.4  Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga

a.       Patriakal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.

b.      Matriakal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.

c.       Equalitarian, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah dan ibu.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemegang kekuasaan dalam keluarga sebagai berikut :

a.       Hirarki kekuasaan keluarga

b.      Tipe bentuk keluarga (orangtua tunggal, keluarga campuran, keluarga inti dua-orang tua tradisional, dll)

c.       Pembentukan koalisi/persatuan

d.      Jaringan komunikasi keluarga

e.       Kelas sosial

f.       Tahap perkembangan keluarga

Latar belakang budaya dan religius (Suprajitno, 2012).

 

2.1.5  Peran Keluarga

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:

a.       Peranan ayah

Ayah sebagai suami dan ayah dari anak-anaknya, ayah berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

b.      Peranan ibu

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

c.       Peranan anak

Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual (Wakhida, Siti Nuraini, 2017)

 

2.1.6  Fungsi Keluarga

Keluarga memiliki beberapa fungsi, yaitu:

a.       FungsiAfektif

Memfasilitasi stabilisasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis anggota keluarga.

b.      FungsiSosialisasi

Memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan untuk menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang produktif serta memberikan status pada anggota keluarga.

c.       FungsiReproduksi

Untuk mempertahankan kelanjutan keluarga selama beberapa generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

d.      FungsiEkonomi

Fungsi ekonomi sangat penting bagi kehidupan keluarga, karena merupakan pendukung utama bagi keutuhan dan kelangsungan keluarga. Fungsi ekonomi keluarga meliputi : menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya.

e.       Fungsi Rekreatif

Fungsi rekreatif sangat penting bagi anggota keluarga, karena dapat menjamin keseimbangan kepribadian anggota keluarga, memperkokoh kerukunan dan solidaritas keluarga, mengurangi ketegangan perasaan, meningkatkan sling pengertian dan meningkatkan rasa kasih sayang.

f.       FungsiPerlindungan (Protektif)

Diantara alasan seseorang membentuk keluarga, yaitu:

1)      Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luarkeluarga.

2)      Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dariluar.

3)      Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga kecil bahagiasejahtera.

g.      Fungsi Biologis

Keluarga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis manusia, yang secara khusus dalam bentuk hubungan seks agar manusia tidak memenuhi kebutuhan tersebut secara bebas seperti binatang.

h.      Fungsi Edukatif (Pendidikan)

Fungsi edukatif atau pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab yang sangat penting dipikul oleh orang tua.Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak.Pendidikan dikeluarga menjadi dasar bagi anak untuk melanjutkan/mengembangkan pendidikan selanjutnya.

i.        Fungsi Religius (Keagamaan)

Keluarga mempunyai kewajiban memperkenalkan dan mengajak anak serta anggota keluarga lain kepada kehidupan beragama, memberikan contoh      konkrit dalam hidup sehari-hari dalam pengamalan dari ajaranagama. Anak akan mempunyai keyakinan agama dan landasan hidup yang kuat, jika keluarga mampu melaksanakan fungsi religius dengan baik.

j.        Fungsi Cinta Kasih

Keluarga berfungsi untuk menumbuh kembangkan potensi kasih sayang antar anggota keluarga, membina tingkah laku saling menyayangi untuk mewujudkan keluarga bahagia sejahtera.

k.      Fungsi PerawatanKesehatan

Keluarga berkewajiban untuk menyediakan kebutuhan fisik makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan, dll (Wakhida, Siti Nuraini. 2017).

 

2.1.7   Tahap Dan Tugas Perkembangan Keluarga

Tahap-tahap perkembangan kehidupan yang dilalui dalam keluarga sebagai berikut ini:

1.      Tahap pembentukan keluarga atau keluarga baru (beginningfamily).Tahap ini dimulai dari pernikahan yang dilanjutkan dalam membentuk rumah tangga.Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya.

2.      Tahap menjelang kelahiran anak (child bearing family). Pada tahap ini merupakan persiapan menjadi orang tua, membagi peran dan tanggung jawab dalam mempersiapkan kelahiran dan membesarkan anak.Melahirkan anak suatu kebahagian yang sangat dinantikan bagi keluarga.

3.      Tahap menghadapi bayi. Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak, karena pada tahap ini bayi kehidupannya sangat tergantung kepada kedua orangtuanya, serta kondisinya masih sangat lemah.

4.      Tahap menghadapi anak pra sekolah (famillies withpreschool).Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosial, sudah mulai bergaul dengan teman sebaya.Anak pada tahap ini sangat rawan dalam masalah kesehatan, karena tidak mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih. Dalam fase ini anak sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai menanamkan norma-norma kehidupan, norma-norma agama, sosial budaya dan sebagainya.

5.      Tahap menghadapi anak sekolah(famillies with children). Dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan masa depan. Membiasakan anak belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas sekolah anak, dan meningkatkan pengetahuan umum anak.

6.      Tahap menghadapi anak remaja (familles withteenagers). Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya, oleh karena itu pengawasan dan perhatian dari kedua orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian antara kedua orang tua dan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.

7.      Tahap pelepasan anak ke masyarakat(lounching center famillies). Setelah melalui tahap remaja dan anak telah menyelesaikan pendidikan, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke masyarakat untuk memulai kehidupannya yang sesungguhnya, dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.

8.      Tahap keluarga berdua kembali atau usia pertengahan (middle age familles). Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-sendiri, suami istri tinggal berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi, bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan depresi dan stres.

9.      Tahap masa tua atau usialanjut. Pada tahap ini terjadi adaptasi kehilangan pasangan dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini (Suprajitno, 2012).

Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:

a.       Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.

b.      Pemeliharaan sumber-sumber yang ada dalam keluarga.

c.       Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.

d.      Sosialisasi antar anggota keluarga.

e.       Pengaturan jumlah anggota keluarga.

f.       Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.

g.      Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.

h.      Memberikan dorongan dan semangat para anggota k

2.2      LANNGKAH-LANGKAH ASUHAN KEBIDANAN TINGKAT KELUARGA

Dalam memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan manajemen yaitu suatu metode yang digunakan oleh bidan dalam menentukan dan mencari langkah-langkah pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasiennya dari gangguan kesehatan.

Langkah-langkah kebidanan komunitas ialah:

A.      Identitas Masalah

Pengkajian yaitu upaya yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai langkah awal untuk menentukan masalah dan kebutuhan komunitas akan pelayanan kebidanan komunitas. Pengkajian diawali dengan mengumpulkan data kesehatan di tingkat keluarga yang ada di komunitas wilayah kerja (Survey Mawas Diri/SMD). Data yang dikumpulkan secara umum antara lain :

a.         Wilayah desa (Luas, keadaan geografis, jarak desa dan fasilitas pelayanan kesehatan)

b.        Penduduk (Jumlah, komposisi penduduk, jumlah keluarga, mata pencaharian, pertumbuhan penduduk, dinamika penduduk)

c.         Status kesehatan (Angka kematian, jenis dan angka kesakitan ibu, anak dan balita)

d.        Keadaan lingkungan (Jumlah sarana air minum, jumlah jamban keluarga, pembuangan sampah dan kotoran, pembuangan tinja)

e.         Sosial ekonomi (Pendidikan, pendapatan perkapita, organisasi dari lembaga swadaya masyarakat yang ada, media komunikasi yang dimiliki masyarakat)

f.         Data keluarga (Pemeriksaan fisik anggota keluarga yaitu ibu, bayi dan balita, pemeriksaan lingkungan keluarga yaitu rumah, perkarangan, pembuangan sampah dan kotoran).

B.       Analisa Dan Perumusan Masalah

Setelah data dikumpulkan dan dicatat sebagai syarat dengan ditetapkan masalah kesehatan lingkungan di komunitas.

a.    Analisis

Analisa Data adalah kemampuan untuk mengolah dan menganalisis data untuk mengetahui dan melihat kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh keluarga apakah itu masalah kesehatan atau masalah terkait lainnya, yang dikaitkan dengan konsep, prinsip maupun teori yang relevan.Dari hasil tersebut dapat dirumuskan masalah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memprioritaskan masalah.

Rumusan Masalah merupakan suatu kesimpulan tentang permasalahan yang dialam keluarga serta kebutuhan keluarga akan pelayanan dan asuhan kebidanan. Sedangkan, Prioritas Masalah adalah masalah/Kebutuhan yang ditemukan biasanya lebih dari satu, sehingga perlu dilakukan prioritas masalah dengan mempertimbangkan, yaitu:

a)      Sifat masalah yang dihadapi

b)      Tingkat bahaya yang mengancam komunitas

c)      Kemungkinan masalah untuk diatasi

d)      Berat ringannya masalah yang dihadapi

e)      Sumberdaya yang tersedia di komunitas

Dalam memprioritaskan masalah ada beberapa kriteria prioritas masalah yang perlu diperhatikan sebagai berikut ini:

a)      Sifat masalah, dikelompokkan menjadi :

1.      Ancaman kesehatan

2.      Keadaan sakit atau kurang sehat

3.      Situasi krisis

b)      Kemungkinan masalah dapat diubah

Kemungkinan masalah dapat diubah merupakan kemungkinan keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mnecegah masalah bila dilakukan intervensi kesehatan

c)      Potensi masalah untuk dicegah

Potensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan kesehatan.

d)     Menonjolnya masalah adalah cara keluarga/kelompok melihat dan menilai masalah dalam hal beratnya dan mendesaknya untuk diatasi melalui intervensi kesehatan

 

 

Tabel  2.1 Skoring menurut Bailon dan Maglaya

No

Kriteria

Skor

Bobot

1

Sifat masalah

Skala :

Tidak/ kurang sehat

Ancaman kesehatan

Situasi krisis

 

 

3

2

1

1

2

Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala :

Mudah

Sebagian

Tidak dapat

 

 

2

1

0

2

3

Potensi masalah untuk dicegah

Skala :

Tinggi

Cukup

Rendah

 

 

3

2

1

1

4

Menonjolnya masalah

Skala :

Masalah berat harus segera ditangani

Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani

Masalah tidak dirasakan

 

 

2

1

0

1

 

Cara menghitung Skoring/Cara penilaian, yaitu :

1.      Tentukan skor untuk setiap kriteria

2.      Skor dibagi dengan angka skor tertinggi dan kalikan dengan bobot :

       Skor         x Bobot

  Skor Tertinggi     

3.      Jumlahkan skor untuk semua kriteria

Setelah dilakukan skoring, dilakukan penyusunan prioritas berdasarkan skor tertinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor terendah.

b.    Perumusan Masalah

Perumusan masalah dapat dikumpulkan berdasarkan hasil analisa. Dalam rumusan masalah mencakup masalah utama dan penyebabnya serta masalah potensial.

C.    Perencanaan Kebidanan

Perencanaan Kebidanan adalah rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien. Rencana kebidanan harus mencakup : Perumusan tujuan, Rencana tindakan yang akan dilaksanakan, kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan.

Perencanaan kebidanan dibuat berdasarkan  masalah yang telah  dirumuskan dan diprioritaskan dengan melibatkan  peran serta aktif  masyarakat. Dilakukan dalam bentuk kegiatan Musyawarah (MMD). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana sebagai berikut ini, yaitu :

1.      Keterlibatan tokoh masyarakat dan anggota  masyarakat dalam menyusun rencana penanggulangan masalah

2.      Rencana penanggulangan dapat dalam bentuk pelayanan di tingkat keluarga dan atau kelompok yang ada di masyarakat.

3.      Keterpaduan dengan pelayanan kesehatan lainnya, baik tenaga, biaya, sarana maupun waktu.

4.      Kerjasama lintas program dan lintas sektoral sehingga program pelayanan bersifat menyeluruh

D.    Pelaksanaaan (Implementasi)

Pelaksanaan (Implementasi) merupakan realisasi rencana yang telah ditetapkan bersama masyarakat. Melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan, yaitu:

a)      Melibatkan peran serta aktif  tokoh masyarakat dan anggota masyarakat.

b)      Bila ada masalah yang tidak bisa ditanggulangi, lakukan rujukan

c)      Kerjasama lintas program dan lintas sektoral

d)      Melakukan dokumentasi pelayananan kebidanan komunitas yang diberikan

E.     Penilaian (Evaluasi)

Penilaian (Evaluasi) merupakan kegiatan menilai/melihat hasil pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dalam perencanaan, yaitu :

a)      Membandingkan hasil pelayanan kebidanan komunitas yang diberikan  dengan tujuan yang ditetapkan.

b)      Menilai efektivitas pelayanan

Penilaian/evaluasi dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat kefektifan dari asuhan yang sudah diberikan sesuai dengan perubahan/perkembangan kondisi klien.

 

2.2  KONSEP TUMBUH KEMBANG

2.2.1  Definisi Tumbuh Kembang

Pertumbuhan (Growth) dan perkembangan (Development) memiliki definisi yang sama yaitu sama-sama mengalami perubahan, namun secara khusus keduanya berbeda. Pertumbuhan menunjukan perubahan yang bersifat kuantitas sebagai akibat pematangan fisik yang di tandai dengan makin kompleksnya sistem jaringan otot, sistem syaraf serta fungsi sistem organ tubuh lainnya dan dapat di ukur (Yuniarti, 2015).

 

2.2.2  Prinsip Tumbuh kembang

Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus. Prinsip tumbuh kembang : Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti rangkaian tertentu, perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, dengan pola konsisten dan kronologis dan perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola sebagai berikut (Dwienda, dkk 2014)

a.        Cephalocaudal : merupakan rangkaian pertumbuhan berlangsung terus dari kepala ke arah bawah bagian tubuh. Contohnya bayi biasanya menggunakan tubuh bagian atas sebelum mereka menggunakan tubuh bagian bawahnya.

b.        Proximodistal : perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat (proximal) tubuh ke arah luar tubuh (distal). Contohnya, anak-anak belajar mengembangkan kemampuan tangan dan kaki bagian atas baru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan dengan kemampuan menggunakan telak tangan dan kaki dan akhirnya jari-jari tangan dan kaki

c.        Differentiation yaitu ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah ke arah yang lebih kompleks. Sedangkan sequential yaitu perkembang yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan pola yang konsisten dan kronologis seperti tengkurap-merangkak-berdiri- berjalan. Setiap individu cenderung mencapai potensi maksimum perkembangannya.

 

2.3.3 Ciri-ciri Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain. Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjer timur, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu. Dalam pertumbuhan juga terdapat ciri baru seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis atau dada sedangkan perkembangan selalu melibatkkan proses pertumbuhan yang diikuti dengan perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti perubahan fungsi kelamin. Perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah kaudal atau bagian proksimal ke bagian distal. Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan dari kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju hal kemampuan hal yang sempurna. Setiap individu memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda (Hidayat, 2008).

 

            2.3.4 Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan

Tahapan perkembangan memiliki beberapa masa pertumbuhan, sebagai berikut (Yuniarti, 2015) :

1.      Masa pranatal, sejak konsepsi sampai kelahiran. Proses pertumbuhan berlangsung cepat 9 bulan 10 hari.

2.  Masa bayi dan anak 3 tahun pertama. Pada anak usia tersebut anak batita memiliki kelekatan emosi dengan orang tua, suka berkhayal, egosentris.

3.      Masa anak- anak awal (early childhood), dimulai usia 4-5 tahun 11 bulan. Anak masih terikat kepada orang tua, namun sudah mulai belajar mandiri, keinginanan besosialisasi dengan temans sebaya, dan masa ini masih meliputi kegiatan bermain sendiri.

4.        Masa anak tengah (Middle childhood), dimulai usia 6-9 tahun. Pada usia ini anak berada pada taraf operasional konkrit, anak mampu melakukan tugas-tugas seperti berhitung sederhana tetapi belum bersifat kompleks. Dimana anak mulai mengembangkan kepribadiaan, konsep diri, sosial, dan akademis.

5.        Masa anak akhir (Late childhood), dimulai usia 10-12 tahun. Pada masa ini anak melakukan aktifitas menyita energi, karena pertumbuhannya masuk ke awal remaja dimana fungsi-fungsi hormon mulai aktif dan anak pada usia tersebut lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.

6.        Masa remaja (adolecence), dimulai usia 13-21 tahun. Pada masa ini merupakan masa transisi, yaitu dari masa anak-anak ke masa dewasa, biasanya pada usia tersebut cendrung egosentris, tidak mau dikekang, revolusioner guna mencari jati diri.

7.        Masa dewasa muda (young adulthood), dimulai usia 22-40 tahun. Secara kognitif pada usia tersebut mereka sudah menyelesaikan pendidikan dan mulai mengembangkan karir.

8.        Masa dewasa tengah (Middle adulthood), dimulai usia 41-60 tahun. Masa ini dimana kondisi fisik menurun, masa penuh tantangan, tetapi mereka berhasil membentuk kepribadian terintegritas justru akan bersikap bijaksana dan mampu membmbing anak-anaknya.

9.        Masa dewasa akhir (Late adulthood), usia 60 tahun keatas. Pada usia tersebut, kondisi fisik sudah menurun, cepat lelah dan stimulus lambat sehingga sering terjadi stress.

Menurut Piaget dalam Syamsussabri (2013), perkembangan kognitif anak dari usianya sangat berbeda. Perkembangan kognitif ini meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan  mengakses informasi, berfikir logis, memecahkan masalah kompleks menjadi simpel dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit.

1.        Pada tahap sensori-motor (0-2 tahun) perilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat berpikir.

2.        Pada tahap pra operasional (2-7 tahun) pada tahap ini operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Mereka hanya menggunakan penalaran intuitif bukan logis dan mereka cenderung egosentris.

3.        Pada tahap operasional konkrit (7-12) anak sudah mampu menggunakan logika serta mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti, tinggi, besar, kecil, warna, bentuk, dan seterusnya.

4.        Pada tahap operasional-formal (mulai 12 tahun) anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek-objek yang ia pikirkan. Pola pikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.

            2.3.5 Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang

Setiap individu akan mengalami siklus yang berbeda pada kehidupan manusia dapat secara cepat maupun lambat tergantung individu dan lingkungannya. Proses cepat dan lambat tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor herediter, faktor lingkungan dan faktor hormonal.

1.        Faktor Herediter

Faktor herediter meliputi bawaan, jenis kelamin, ras dan suku bangsa. Faktor ini ditentukan dengan intensitas, kecepatan dalam pembuahan sel telur, tingkat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, usia pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun perempuan akan mengalamai pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa pubertas.

2.        Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan memiliki faktor yang memegang peran penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah di miliki. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal. Lingkungan prenatal atau lingkungan dalam kandungan juga meliputi gizi pada saat ibu hamil, lingkungan mekanis, zat kimia atau toksin dan hormonal. Sedangkan lingkungan postnatal atau lingkungan setelah lahir dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak seperti budaya lingkungan, sosia; ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan.

3.        Faktor Hormonal

Hormon somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilago dan sistem skeletal. Hormon tiroid berperan menstimulasi metabolisme tubuh. Hormon glukokortikoid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis (untuk memproduksi testoteron) dan ovarium (untuk memproduksi estrogen), selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks, baik pada laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya (Kompasiana, 2010).

 

2.3  KONSEP DASAR IMMUNISASI

2.3.1   Pengertian Immunisasi

Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1611/Menkes/SK/XI/2005 imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan (Depkes, 2005).

     

2.3.2  Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit dan menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)


2.4.3  Penyakit-Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian dari kegiatan preventif kedokteran yang mendapatkan prioritas. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan hepatitis-B.

 

2.4.4  Jenis-Jenis Imunisasi

Jenis-jenis imunisasi yang diwajibkan dan dianjurkan oleh pemerintah, adalah sebagai berikut:

A.      Vaksin Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B rekombinan mengandung antigen virus Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B rekombinan berbentuk suspensi steril berwarna keputihan. Vaksin Hepatitis B diberikan pada bayi sejak lahir untuk mencegah masuknya VHB, yaitu virus penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati dan kematian. Vaksin ini disuntikkan secara intramuskular pada bagian anterolateral paha dengan dosis 0,5 ml. Vaksin ini dapat disimpan sampai 26 bulan setelah tanggal produksi pada suhu 20C - 80C, dan jangan dibekukan (Bio Farma, 2006).

B.Vaksin BCG

Vaksin BCG kering adalah vaksin yang mengandung kuman hidup dari biakan Bacillus Calmette dan Guerin. Vaksin BCG diberikan pada bayi sejak lahir untuk mencegah penyakit tuberkulosa (TBC). Jika bayi sudah berumur lebih dari tiga bulan, harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Sesudah vaksin ini dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam dan sisanya harus dibuang. Penyuntikan BCG harus diberikan secara intrakutan di daerah insertio M. deltoideus dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada tempat suntikan. Kelebihan dosis dan suntikan  yang  terlalu  dalam  akan  menyebabkan  terjadinya  abses  di  tempa suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu di bawah 50C dan terhindar dari sinar matahari langsung maupun tidak langsung (indoor day-light). Pengangkutan diusahakan dalam keadaan dingin, misalnya dengan termos yang diisi es (Bio Farma, 2006).

C.    Vaksin Kombinasi (DPT-HB)

Vaksin kombinasi mengandung DTP berupa toksoid difteri dan toksoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis (batuk rejan) yang diinaktivasi serta vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HBsAg murni dan bersifat non-infectious. Vaksin Hepatitis B ini merupakan vaksin DNA rekombinan yang berasal dari HBsAg yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi. Vaksin ini bermanfaat untuk memberikan kekebalan/imunitas aktif terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan Hepatitis B. Tingkat efektivitasnya berdasarkan penelitian mencapai hampir di atas 90%. Vaksin DTP-HB diberikan secara intramuskuler terdiri dari 3 dosis masing- masing 0,5 ml, yaitu:

a.      Dosis Pertama: Pada bayi usia 2 bulan

b.      Dosis Kedua: Satu bulan setelah imunisasi pertama

c.      Dosis Ketiga: Satu bulan setelah imunisasi kedua

Untuk menjaga potensinya, vaksin harus disimpan pada suhu antara +20C - +80C, dan jangan dibekukan (Bio Farma, 2006).

D.    Vaksin Polio

Vaksin ini berisi virus polio tipe 1,2, dan 3 yang masih hidup, tetapi sudah dilemahkan (suku sabin), dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan. Untuk kekebalan terhadap polio, diberikan 1 dosis terdiri dari 2 tetes vaksin polio oral (0,1 ml). Vaksin polio oral harus diberikan melalui mulut (secara oral) pada bayi sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Sebaiknya vaksin polio disimpan pada suhu - 200C. Bila disimpan pada suhu 20C - 80C, potensi vaksin ini akan stabil selama 6 bulan. Bila disimpan pada suhu yang lebih tinggi, potensi vaksin ini akan segera menurun. Hindarkanlah perubahan dari keadaan beku ke cair yang berulang-ulang. Jangan dipakai bila vaksin menjadi keruh.

E.     Vaksin Campak

Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering atau freezeried, yang harus dilarutkan terlebih dahulu dengan pelarut khusus sebanyak 5 ml yang telah disediakan sebelum digunakan. Satu dosis vaksin campak cukup untuk membentuk kekebalan terhadap infeksi campak. Di negara berkembang dianjurkan imunisasi terhadap campak dilakukan sedini mungkin setelah usia 9 bulan. Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang disuntikkan secara subkutan pada lengan atas bayi. Vaksin yang telah dilarutkan hanya dapat digunakan pada hari itu juga (maksimum untuk 8 jam) dan itupun berlaku hanya jika vaksin selama waktu tersebut disimpan pada suhu 00C - 80C serta terlindung dari sinar matahari. Vaksin campak beku-kering harus disimpan pada suhu di bawah 80C (kalau memungkinkan di bawah 00C) sampai ketika vaksin digunakan. Tingkat stabilitas akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut) disimpan pada suhu di bawah -200C. Pelarut tidak boleh dibekukan, tetapi disimpan pada kondisi sejuk sampai dengan ketika digunakan. Di Indonesia vaksin campak pertama kali diberikan mulai bayi berumur 9 bulan. Campak kedua diberikan pada program BIAS SD kelas 1, umur 6 tahun (Bio Farma, 2006).

 

 

 

 

2.4.5 Pemberian Pelayanan Imunisasi

Kegiatan pelayanan imunisasi terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan tambahan. Dengan semakin mantapnya unit pelayanan imunisasi, maka proporsi kegiatan imunisasi tambahan semakin kecil.

1. Pelayanan imunisasi rutin

Jadwal pemberian imunisasi pada bayi, anak sekolah, dan wanita usia subur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi pada Bayi

UMUR

VAKSIN

 

0 bulan

HB1

 

1 bulan

BCG, Polio 1

 

2 bulan

DPT/HB kombo 1, Polio 2

 

3 bulan

DPT/HB kombo 2, Polio 3

 

4 bulan

DPT/HB kombo 3, Polio 4

 

9 bulan

Campak

 

 

 


           2. Pelayanan Imunisasi Tambahan

Pelayanan imunisasi tambahan hanya dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pematauan, atau evaluasi. Kegiatan ini sifatnya tidak rutin, membutuhkan biaya khusus. Meskipun beberapa di antaranya telah memiliki langkah-langkah yang baku, namun karena ditujukan untuk mengatasi masalah tertentu, maka tidak dapat diterapkan secara rutin. Yang termasuk dalam kegiatan imunisasi tambahan adalah Backlog Fighting, Crash Program, Akselerasi MNTE (Maternal Neonatus Tetanus Elimination), Catch Up, dan ORI (Outbreak Response Immunization) (Depkes, 2005).

 


 

BAB 3

TINJAUAN KASUS

 

Pengkajian yang dilakukan pada keluarga Tn. A dan Ny. H dimulai sejak hari Rabu tanggal 02­-24 Oktober 2019. Pengkajian ini dimulai dari lingkungan tempat tinggal keluarga sampai personal dari masing-masing individu yang ada dalam rumah tersebut. pendokumentasian yang digunakan pada asuhan keluarga ini dimulai dari data umum sampai metode SOAP (subyektif, obyektif, analisis, dan penatalaksanaan) seperti di bawah ini:

 

I.       DATA UMUM

A.    Demografi

a.       Kabupaten/Kota          : Pekanbaru

b.       Kecamatan                  : Rumbai Pesisir

c.       Desa/Kelurahan           : Limbungan

d.      Dusun                          : Harapan

e.       RT/RW                        : RT 02/ RW 06

f.        Alamat Rumah            : Jl. Pembina

 

B.     Sarana & Prasarana

1.      Sarana Kesehatan Terdekat

a.       Posyandu                    : Posyandu Mutiara dan Posyandu RW 6

b.      Puskesmas Pembantu : Puskesmas Pembantu Lembah Sari

2.      Sarana Transportasi            

a.       Sepeda Motor

b.      Kendaraan Umum                  

3.      Sarana Komunikasi

a.       Telepon Selular                      

b.      Internet

4.      Fasilitas Pendidikan terdekat :                                           

a.       SD       : SDN 117 dan SDN 118       

b.      Mts      : SMP It Junior dan Pondok Pesantren Phtri

5.      Tempat Peribadatan :

a.       Masjid : Mesjid Al Wathan                            

6.      Fasilitas Perdagangan :

a.       Pasar    : Pasar Kaget

b.      Warung :Warung warga

 

C.    Biografi Kepala Keluarga

1.      Nama               : Tn. A

2.      Umur               : 32 Tahun

3.      Agama             : Islam

4.      Pekerjaan         : Karyawan Swasta

5.      Pendidikan      : S1

6.      Suku/Bangsa   : Jawa

 

D.    Anggota Keluarga    

No

Nama

Umur

(Thn)

L/P

Status

Pendidikan

Pekerjaan

Cek Kesehatan

1.

Tn. A

32

L

Suami

S1

Karyawan Swasta

Tidak Rutin

2

Ny. H

28

P

Istri

SLTA

IRT

Tidak Rutin

3

An. M

5

P

Anak

TK

-

Tidak Rutin

4

An. J

3

L

Anak

B. Sekolah

-

Tidak Rutin

5

An. H

6 bln

P

Anak

B. Sekolah

-

Tidak Rutin

 

E.     Anggota Keluarga yang Meninggal (Dalam 1 Tahun Terakhir)

Tidak ada

II.      DATA KHUSUS

A.    Riwayat Penyakit Keluarga (Dalam 1 Tahun Terakhir)

Tidak ada

 

B.     Data Pasangan Usia Subur Dan Keluarga Berencana (15-49 Tahun)

NO

NAMA PUS

AKSEPTOR

DO

JENIS

KONTRASEPSI

LAMA PEMAKAIAN

KET

YA

TIDAK

1

Ny. H

-

-

IUD

+ 6 bulan

-

 

C.    Data Bayi/ Balita

No

Nama

L/P

Tgl Lhr

BB/PB

Status Gizi ( BB/TB)

ASI Eksklusif

Imunisasi

KMS

Vit A

Riwayat Kelahiran

1

An. M

P

24/10/14

15/110

Baik

Tidak

HB0

Tidak Ada

Ya

RS, SC, BB 3200 gr, PB 49 cm

2

An. J

L

2/5/17

12/80

Baik

Iya

HB0, BCG, Imunisasi Dasar

Tidak Ada

Tidak

RS, Normal, BB 3100 gr, PB 49 cm

3

An. H

P

15/4/19

8,2/68

Baik

Iya

HB0, BCG, DPT 1-3, Polio 1-4

Ada

-

RS, Normal, BB 3100 gr, PB 50 cm

Catatan:

1.      Ibu tidak membawa balitanya immunisai karena faktor agama dan tidak mendapat izin suami.

2.      Ibu tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai immunisasi

 

D.    Riwayat Tumbuh Kembang

a.       Bayi

Bayi usia 6 bulan, bayi sudah bisa telungkup, gigi bawah sudah tumbuh satu.

b.      Balita

Balita usia 3 tahun, sudah bisa menggunakan 2 kata pada saat berbicara, bisa menggunakan sepatu sendiri. Balita usia 5 tahun, sudah bisa menggunakan baju sendiri tanpa bantuan, sudah bisa membedakan warna-warna.

Catatan:

1.      Ibu tidak pernah memantau BB dan PB anak-anaknya secara rutin

2.      Ibu tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai tumbuh kembang anak

3.      Ibu tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan pijat bayi yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi.

E.     Pola Makan Keluarga

1.    Kebiasaan Makan

Di keluarga Tn. A memiliki kebiasaan makan 3 kali sehari. Menu yang biasa dikonsumsi adalah nasi, lauk pauk, sayur dan buah, keluarga memiliki kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, namun tidak menjarakkan waktu antara makan buah dan makan nasi. Ny. H sudah memberikan bayinya MP-ASI namun ibu kurang mengetahui cara memasak MP-ASI dengan baik dan benar. Penentuan menu adalah berdasarkan selera Ny. H. Pertimbangan yang menjadi dasar dalam memilih menu makanan adalah berdasarkan selera ibu saat belanja ke pasar. Jenis lauk-pauk yang sering dikonsumsi dalam keluarga adalah telur, ikan, ayam dan sayur. Anggota keluarga juga telah menerapkan kebiasaaan mencuci tangan sebelum makan, namun belum menggunakan 6 langkah cuci tangan yang baik dan benar.

 

2.    Jenis Keragaman Pangan (Dalam 1 Minggu Terakhit)

No

Pertanyaan

Konsumsi

Ya

Jarang

1

Nasi, roti, mie, biskuit atau makanan lain yang terbuat dari padi-padian

 

2

Kentang, singkong (dll yang terbuat dari akar atau umbi)

 

3

Sayur-sayuran

 

4

Buah-buahan

 

5

Daging, dll bagian dari daging

 

6

Telur

 

7

Ikan segar, ikan asin, kerang atau  seafood, dll.

 

8

Buncis, kacang panjang atau  polong-polongan  lainnya

 

9

Keju, yogurt, susu atau  produk susu

 

10

Minyak goreng, lemak atau mentega

 

11

Gula atau  madu

 

12

Jenis makanan  lain seperti bumbu  rempah, kopi, teh dll

 

 

 

3.      Data Sekolah ( Bila Ada Anggota Keluarga Yang Masih Sekolah)

a.       Jajanan            : Tidak, karena selalu bawa bekal

b.      Cuci tangan     : Iya

4.      Kebersihan Perorangan/Personal Hygiene

No

Nama

Mandi

Gosok Gigi

Ganti pakaian dalam

1

Tn. A

2 kali/ hari

2 kali/ hari

2 kali/ hari

2

Ny. H

2 kali/ hari

2 kali/ hari

2 kali/ hari

3

An. M

2-3kali/ hari

2 kali/ hari

3-4kali/ hari

4

An. J

2 kali/hari

2 kali/ hari

2-3 kali/ hari

5

An. H

2 kali/ hari

-

Sering

Catatan: Ibu mengatakan belum pernah melakukan perawatan dan senam payudara meskipun sekarang masih dalam keadaan menyusui. 

5.      Pola Kebiasaan Kesehatan Dalam Keluarga

a.    Aktivitas fisik/ olahraga : Lari / Joging

b.    Merokok/ alkohol/ napza: Tn. A tidak merokok

 

a.      Jaminan Kesehatan : Tidak Ada

 

b.        Sanitasi Lingkungan

1.      Perumahan

a.       Status Rumah                                      : Kontrak

b.      Jenis Bangunan                                   : Permanen

c.       Atap Rumah                                        : Genteng

d.      Lantai                                                  : Keramik

e.       Ventilasi/Jendela                                 : Ada, > 10% luas lantai

f.       Cahaya Matahari  Masuk  Ruangan    : Ya, (memenuhi Ruangan)    

g.      Penerangan                                          : Listrik

h.      Kepadatan Anggota Keluarga            : Sesuai

2.      Sumber Air Bersih

a.       Sumber Air Minum                             : Air Galon

b.      Sumber Air Memasak                         : Air Bor

Jarak Sumber Air Minum Dengan Septi Tank: > 10 meter

c.       Sumber Air Untuk MCK                                : Air Bor

Kualitas Fisik Air Bersih                                    : Memenuhi syarat kesehatn (Jernih, tidak berbau dan tidak berasa).

3.      Sistem Pembuangan Air Limbah/ Kotoran Rumah Tangga

a.       Tempat Penampung Sampah Rumah Tangga : Tempat Sampah Tertutup

b.      Pembuangan Sampah                                : Tempat Sampah Umum

c.       Kepemilikan Jamban                                 : Ada

d.      Jenis Jamban                                             : Leher Angsa

e.       Saluran Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga (SPAL) : Ada (Memenuhi syarat kesehatan).

4.      Lingkungan Rumah

a.       Keadaan Tanah                                   : Kering

b.      Jarak rumah dengan tetangga             : Dekat (< 12 meter)

5.      Hewan Piaraan/ Kepemilikan Ternak : Tidak Ada

 

III.       Analisa Data

Dari hasil pengkajian, masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga Tn. A disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi dan kebutuhan di keluarga Tn. A yaitu Penkes tentang gizi bayi dan balita, Penkes prilaku cuci tangan 6 langkah, Penkes pijat bayi, Penkes perawatan dan senam payudara serta Penkes tentang kebiasaan makan buah sebelum makan nasi. Dalam hal ini bidan perlu memberikan penyuluhan kepada keluarga Tn. A, khususnya mengenai masalah yang ada pada keluarga tersebut.

IV.    Perumusan Masalah

Dari data di atas dan hasil analisa yang sederhana, maka ada permasalahan yang timbul dalam keluarga Tn. A yang disebabkan oleh faktor ketidaktahuan dan ketidakmampuan keluarga dalam menjalankan tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan, sehingga timbullah masalah keluarga dalam hal kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi.

V.       Prioritas Masalah

1.      Prioritas 1 (Kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang pada bayi dan balita)

 

Kriteria

Bobot

Perhitungan

Skor

Pembenaran

Sifat masalah

1

2/3 x 1

2/3

Sifat masalah adalah ancaman kesehatan karena seharusnya tumbuh kembang bayi dan balita dilakukan pemantauan 1 bulan sekali, apabila tidak dilakukan pemantauan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti stanting, down sindrom, gizi buruk dll.

Kemungkinan masalah dapat diubah

2

1/2 x 2

1

Masalah dapat dirubah hanya sebagian karena ibu mau memantau tumbang bayi dan balitanya, namun ibu tidak melakukannya karena alasan tidak punya waktu dan lebih fokus mengasuh bayinya.

Potensi masalah untuk dicegah

1

3/3 x 1

1

Potensi masalah untuk dirubah tinggi karena ibu cukup merutinkan memantau tumbangnya dan mempertahankan tumbang anak-anaknya, karena tumbang anaknya sudah baik atau sesuai dengan usianya.

Menonjolanya masalah

1

0/2 x 1

0

Ibu tidak merasakan masalah dan perlu untuk segera ditangani.

Total skor

2 2/3

 

 

2.      Prioritas 2 (Kurangnya Pengetahuan Tentang Immunisasi)

Kriteria

Bobot

Perhitungan

Skor

Pembenaran

Sifat masalah

1

2/3 x 1

2/3

Ancaman terhadap penyakit-penyakit yg dapat dicegah oleh vaksin imunisasi seperti TB, polio, campak dll

Kemungkinan masalah dapat diubah

2

1/2 x 2

1

Masalah dapat dirubah hanya sebagian karena  dua balitanya sudah terlambat untuk mendapatkan imunisasi yang seharusnya dan ibu harus membawa bayinya immunisasi rutin sesuai usianya.

Potensi masalah untuk dicegah

1

3/3 x 1

1

Potensi masalah untuk dirubah tinggi karena

Masalah dapat dicegah mengguanakan penkes dan ibu membawa bayinya posyandu rutin.

Menonjolanya masalah

1

2/2 x 1

1

Penonjolan masalah termasuk berat karena dapat mengancam  kesehatan bayi dan balita.

 

Total skor

3 2/3

 

 

Berdasarkan hasil pembobotan masalah diatas, maka urutan prioritas masalah kesehatan dan kebutuhan pada keluarga Tn. A adalah sebagai berikut:

1.      Prioritas Masalah

a.    Prioritas 1  : Masalah kurangnya pengetahuan tentang immunisasi

b.    Prioritas 2 : Masalah kurangnya pengetahuan Ibu tentang tumbuh kembang pada bayi dan balita

2.      Kebutuhan

a.       Gizi bayi dan balita

b.      Prilaku cuci tangan 6 langkah

c.       Pijat bayi

d.      Perawatan dan senam payudara

e.       Kebiasaan makan buah sebelum makan nasi

 

 


 


ASUHAN KELUARGA PADA TN. A RT 02 RW 06 DUSUN HARAPAN DESA LIMBUNGAN KECAMATAN RUMBAI PESISIR KOTA PEKANBARU

 

Kunjungan

Data

Masalah kesehatan

Tujuan

Pelaksanaan

Evaluasi

Kunjungan 1

Tanggal 11 Oktober 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- Balita memiliki riwayat immunisasi tidak lengkap

- Ibu tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai immunisasi

Balita memiliki riwayat immunisasi tidak lengkap sehubungan dengan keluarga tidak mengetahui mengenai immunisasi

Setelah diberikan pendidikan kesehatan, keluarga dapat memahami serta mampu menjelaskan kembali tentang immunisasi, dan ibu membawa bayinya immunisasi.

Memberikan penkes kepada keluarga tentang pentingnya immunisasi dan menganjurkan ibu untuk membawa bayinya immunisasi.

Ibu mengerti tentang pentingnya immunisasi dan ibu akan membawa bayinya immunisasi.

 

 

 

 

-   Ibu tidak pernah memantau BB dan PB anak-anaknya secara rutin

-   Ibu tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai tumbuh kembang anak

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai tumbuh kembang bayi dan balita

Setelah diberikan pendidikan kesehatan, keluarga dapat memahami serta mampu menjelaskan kembali tentang pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita, seperti menimbang BB dan mengukur PB setiap bulannya kemudian mengisi KMS dan menilai pertumbuhan dan perkembangannya.

Memberikan penkes kepada keluarga mengenai pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita serta mengajarkan ibu mengisi KMS

Ibu paham tentang pentingnya memantau tumbuh kembang bayi dan balita dan ibu akan membawa bayi dan balita untuk timbang BB, ukur PB setiap bulannya kemudian mengisi KMS serta menilai pertumbuhan dan perkembangannya.

 

Ibu sudah memberikan bayinya MP-ASI namun ibu tidak mengetahui cara memasak yang baik dan benar

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi bayi serta cara memasak MP-ASI yang baik dan benar.

Ibu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan memberikan MP-ASI setelah usia anak 6 bulan dan terus melanjutkan ASI sampai 2 tahun.

Memberikan penkes kepada ibu mengenai ASI eksklusif dan MP-ASI

 

Ibu mengerti dengan apa yang sudah dijelaskan dan ibu memberikan bayinya ASI eksklusif

 

Kunjungan 2

Tanggal 16  Oktober 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

-    Ibu sudah memberikan bayinya MP-ASI seperti bubur susu dan buah.

-    ibu tidak bisa menjawab saat ditanya mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan, serta cara memasak makanan yang baik dan benar

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan bayi dan balita, serta cara memasak makanan yang baik dan benar.

Keluarga lebih memperhatikan kebutuhan gizi bayi dan balitanya, porsi makan bayi dan balita sesuai kebutuhannya serta dapat memasak makanan dengan baik dan benar.

 

Memberikan penkes mengenai gizi bayi dan balita, porsi makan bayi dan balita sesuai kebutuhanya dan cara memasak makanan yang baik dan benar

 

Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan dan ibu akan memperhatikan asupan nutrisi bayi dan balitanya serta ibu akan memasak makanan dengan baik dan benar.

 

 

 

Ibu tidak mengetahui cara memantau tumbang anak dengan SDIDTK

Kurangnya pengetahuan pengenai cara pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita menggunakan SDIDTK.

Ibu dapat menilai pertumbuhan dan perkembangannya dengan menggunakan SDIDTK sesuai usianya

Memberikan penkes kepada ibu mengenai cara pemantauan tumbang  menggunakan SDIDTK sesuai umurnya, dan kunjungan selanjutnya akan melakukan  SDIDTK balita usia 60 bulan

Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan dan ibu setuju jika anaknya dilakukan SDIDTK.

 

 

Kunjungan 3

Tanggal 18 Oktober 2019

 

Ibu dapat menjelaskan kembali  mengenai SDIDTK, dan ibu setuju balitanya dilakukan SDIDTK

 

Ibu belum mengetahui cara mengaplikasikan SDIDTK

Ibu dapat memperhatikan cara menilai pertumbuhan dan perkembangannya dengan menggunakan SDIDTK sesuai usianya seperti gerak halus, gerak kasar, bicara, bahasa, sosialisasi, kemandirian dll, sehingga diharapkan ibu dapat menstimulasi SDIDTK pada anaknya yg lain.

-     Melakukan SDIDTK pada balita usia 60 bulan

-     Memberitahu ibu bahwa kunjungan selanjutnya akan melakukan SDIDTK ke balitanya yang usia 36 bulan

-    Ibu memperhatian tindakan stimulasi dengan baik dan ibu senang dengan hasil stimulasi anaknya yaitu dari 10 indikator penilaian SDIDTK diperoleh skor 10  dan ibu akan  lebih memperhatikan serta terus menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

-    Ibu setuju anaknya dilakukan SDIDTK

 

Kunjungan 4

Tanggal 19 Oktober 2019

 

 

- Ibu Sudah menstimulasi ulang tumbang balitanya yang usia 60 bulan

- Ibu belum berani melakukan SDIDTK kebalitanya yg usia 36 bulan.

- Ibu setuju balitanya usia 36 bulan dilakukan SDIDTK

Kurangnya keberanian ibu melakukan SDIDTK pada balitanya yg usia 36 tahun

Ibu dapat memperhatikan SDIDTK dengan baik, sehingga ibu berani melakukan SDIDTK pada bayinya yg usia 6 bulan

-   Melakukan SDIDTK pada balita usia 36 bulan

-   Menganjurkan ibu untuk menstimulasi kembali tumbang balitanya serta kunjungan selanjutnya akan mengajarkan ibu SDIDTK ke bayinya

-   Ibu memperhatikan dengan baik saat balinyanya dilakukan SDIDTK dan ibu senang dengan hasilnya yaitu dari 10 indikator penilaian diperoleh skor 8

-   Ibu akan menstimulasi gerak halus dan gerak kasarnya dan ibu mau melakukan SDIDTK pada bayinya.

 

Kunjungan 5

Tanggal 21 Oktober 2019

 

-    Ibu sudah menstimulasi balitanya dengan mengajarkan membuat garis dan mengajarkan mengayuh sepeda

-    Ibu mau melakukan SDIDTK pada bayinya yg usia 6 bulan

 

Ibu dapat melakuakn SDIDTK pada bayinya, sehingga kedepannya ibu juga bisa menstimulasi ulang ke balita dan bayinya secara rutin sesuai usianya.

Mengajarkan ibu melakukan SDIDTK ke bayinya yang usia 6 bulan

 

 

 

Ibu dapat melakukan SDIDTK pada bayinya dengan baik dan Ibu senang dengan hasilnya yaitu dari 10 indikator penilaian skor 9, dan ibu akan lebih sering lagi menstimulasi gerak halus pada bayinya

 

Ibu sudah melakukan prilaku hidup sehat dan bersih namun masih ada beberapa dari indikator PHBS yang belum keluarga lakukan, seperti tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, ibu sudah melakukan kebiasaan mencuci tangan, namun ibu tidak tahu cara mencuci tangan yang baik dan benar

-   Keluarga sudah mengetahui prilaku hidup sehat dan bersih, namun masih ada beberapa dari indikator PHBS yang belum keluarga lakukan, seperti tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

-   Kurangnya pengetahuan ibu cara  cuci tangan yang baik dan benar

-   Keluarga dapat memaksimalkan prilaku hidup sehat dan bersih  seperti melakukan pemeriksaan kesehatan rutin minimal 1 bulan sekali walaupun dalam keluarga tidak ada yang sakit.

-   Menerapkan cuci  tangan  6 langkah menurut WHO dalam kesehariannya dan mengajarkan keluarga ataupun orang-orang sekitarnya.

-   Memberikan penkes kepada ibu mengenai prilaku hidup bersih dan sehat salah satunya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, cuci tangan yang baik dan benar.

-   Mengajarkan ibu cara cuci tangan yang baik dan benar  (6 langkah menurut WHO)

 

Ibu mengerti tentang PHBS, ibu akan membawa keluarganya memeriksakan kesehatannya rutin dan ibu dapat memperagakan cara mencuci tangan 6 langkah dengan baik dan benar.

 

 

Kunjungan 6

Tanggal 22 Oktober 2019

Ibu tidak pernah melakukan pijat bayi

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai pijat bayi yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi

Ibu juga dapat melakukan pijat bayi secara rutin yang fungsinya bias menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayinya, merileks kan tubuh bayi, meningkatkan napsu makan dan bayi menyusu lebih lama, tidur bayi nyenyak dll.

Memberikan penkes kepada ibu bahwa pijat bayi juga dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi serta mengajarkan ibu cara pijat bayi.

 

Ibu mengerti mengenai pijat bayi, ibu dapat melakukan pijat bayi dengan baik dan benar, dan ibu mau melakukan pijat bayi dilain waktu

 

Ibu tidak pernah melakukan perawatan dan senam payudara

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai perawatan dan senam payudara walau ibu masih dalam menyusui

Ibu dapat melakukan perawatan dan senam payudara secara rutin, supaya produksi ASI tetap lancar dan payudara bersih, sehingga ibu dapat memberikan ASI sampai 2 tahun

 

Memberikan penkes mengenai perawatan dan senam payudara, serta memberitahu ibu kunjungan selanjut akan mengajarkan ibu perawatan dan senam payudara

 

 

Ibu mengerti dengan perawatan dan senam payudara dan ibu bersedia diajarkan perawatan dan senam payudara.

 

Kunjungan 7

Tanggal 23 Oktober 2019

Ibu bersedia diajarkan perawatan dan senam payudara

Ibu belum tau cara mengaplikasikan perawatan dan senam payudara secara langsung

Ibu dapat memperhatikan langkah-langkah perawatan dan senam payudara dengan baik sehingga ibu dapat mengulangi gerakannya serta ibu dapat mengaplikasikan perawatan dan senam payudara dilain waktu secara rutin.

Mengajarkan ibu cara perawatan payudara dan senam payudara dan menganjurkan ibu untuk melakuannya secara rutin minimal 2 kali dalam 1 minggu

 

Ibu dapat melakukan perawatan payudara dan senam payudara dengan baik dan ibu akan mengulanginya  dilain waktu.

 

 

 

 

Ibu sudah memiliki kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, namun ibu tidak menjarakkan waktu antara makan buah dan makna nasi

Kurangnya pengetahuan ibu mengenai jarak antara makan buah dan makan nasi

Keluarga lebih memperhatikan kebiasaan hidup sehat mulai dari hal yang kecil seperti makan buah terlebih dahulu  baru makan nasi dengan menjarakkan waktu  30 menit-1 jam.

Menganjurkan ibu untuk mendahulukan makan buah kemudian member jarak waktu 30 menit-1 jam untuk makan nasi

Ibu mengerti dan ibu akan menjarakan waktu antara makan buah dan makan nasi

 


BAB 4

PEMBAHASAN

Keluarga Tn. A tinggal dirumah dengan status rumah kontrak dan keadaan rumah permanen, berlantai keramik, beratap genteng dan ventilasi sesuai dengan luas lantai sehingga cahaya dapat masuk ke dalam rumah, walaupun masih ada beberapa bagian rumah yang tidak masuk cahaya karena lebih sering ditutup pintu dan jendelanya. Luas dari rumah  keluarga Tn. A sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dirumah tersebut. Keadaan rumah dan lingkungan sekitar bersih.

Setelah dilakukan pengumpulan data dan analisis data pada keluarga Tn. A secara umum, kesehatan keluarga Tn. A sudah cukup baik tetapi terdapat beberapa masalah dan kebutuhan yang ada di keluarga Tn. A. Masalahnya yaitu kurangnya pengetahuan keluarga mengenai pentingnya immunisasi dan kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan balita, sehingga riwayat immunisasi balitanya tidak lengkap serta pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balitanya tidak pernah dipantau. Selain itu kebutuhannya yaitu pengetahuan tentang gizi bayi dan balita, prilaku cuci tangan 6 langkah yang baik dan benar, pengetahuan tentang pijat bayi, pengetahuan tentang perawatan dan senam payudara serta pengetahuan tentang kebiasaan makan buah sebelum makan nasi.

Adapun pembahasan mengenai masalah dan kebutuhan yang ada pada keluarga Tn. A yaitu :

1.      Kurangnya Pengetahuan Tentang Immunisasi

Setelah dilakukannya  pengkajian, didapatkanlah hasil  bahwa Ny. H memiliki dua balita dengan riwayat immunisasi tidak lengkap, serta bayinya yang saat ini umur 5 bulan namun belum mendapatkan immunisasi DPT 3 dan polio 4. Bayi dan balita yang tidak mendapatkan immunisasi akan medah terpapar oleh virus atau bakteri yang dapat menyebabkan penyakit hepatitip B, TBC, polio, Difteri, Pertusis, Tetatus, Campak dll.

Oleh sebab itu asuhan yang diberikan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai immunisasi diantaranya apa immunisasi, tujuan immunisasi, manfaat immunisasi, jenis-jenis immunisasi, keadaan-keadaan yang timbul setelah immunisasi, perawatan yang dapat diberikan setelah immunisasi, dan kapan immunisasi tidak boleh diberikan. Sehingga diharapkan ibu mengerti mengenai immunisasi dan dapat membawa bayinya immunisasi rutin sesuai usianya, asuhan ini dilakukan selama 6 hari dengan dua kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi pada hari ke enam atau kunjungan kedua Ny. H mengerti dan mampu menjelaskan kembali mengenai immunisasi, dan sudah membawa bayi immunisasi (DPT 3 dan polio 4) di BPM Dince Safrina.

2.      Kurangnya Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Pada Bayi Dan Balita

Setelah dilakukannya pengkajian pada Ny. H, dan diketahui keluarga tidak pernah memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balitanya seperti tidak pernah menimbang BB dan mengukur PB balitanya setiap bulannya. Dimana pemantauan tumbuh kembang pada bayi dan balita sangat penting dilakukan minimal  sebulan sekali, ataupun pemantauan motorik halus, motorik kasar, berbicara, bahasa, sosialisasi, kemandirian bayi dan balita dll. Apabila tidak dilakukan pemantauan tumbang anak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti stanting, down sindrom, gizi buruk dll.

Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai tumbuh kembang pada bayi dan balita, tujuan dan manfaat pemantauan tumbang, indicator pemantauan tumbang, cara mengisi KMS, ancaman tidak dilakukannya pemantauan tumbang, melakukan dan mengajarkan ibu SDIDTK pada bayi dan balita serta memberikan hardcopy SDIDTK dengan tujuan supaya ibu dapat memantau tumbang sesuai usianya, asuhan ini dilakukan selama 11 hari dengan 5 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi pada hari ke 11 atau kunjungan kelima, Ny. H sudah mengerti pentingnya pemantauan tumbuh kembang bayi dan balitanya, Ny. H sudah melakukan SDIDTK pada bayi dan balitanya dengan baik dan Ny. H kedepannya akan memantau BB, PB bayi secara rutin, kemudian memantau tumbang dengan KMS, Ny. H akan melakukan SDIDTK pada bayi dan balitanya seperti gerak halus, motorik kasar, berbicara, bahasa, sosialisasi, kemandirian bayi dan balita dengan SDIDTK sesuai usianya.

3.      Pendidikan Kesehatan Tentang Gizi Bayi Dan Balita

Setelah dilakukannya pengkajian pada Ny. H, dan diketahui Ny. H sudah memperhatikan asupan nutrisi bayi dan balitanya, Ny. H juga sudah memberikan bayinya MP-ASI namun Ny. H tidak mengetahui mengenai porsi makanan pada balita serta tidak tahu cara memasak MP-ASI buat bayinya. Porsi makan bagi bayi dan balita sangat penting diperhatikan bagi orang tua hal ini sangat berpengaruh terhadap kebutuhan gizi bayi dan balita sesuai usianya seperti banyaknya kebutuhan karbohidrat, protein, vit A dll. Apabila porsi makan bayi dan balita tidak sesuai dengan kebutuhannya justru akan berdampak buruk terhadap gizinya, bayi dan balita akan mengalami gizi buruk, gizi lebih, atau bahkan sampai ke kanker usus karena orang tua yang memberikan makan pada bayi yang belum usianya.

Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai gizi bayi dan balita, menunjukkan porsi makan bayi dan balita serta cara memasak makanan yang baik dan benar, asuhan ini dilakukan selama 3 hari dengan 2 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi pada hari ke 3 atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai gizi bayi dan balita, Ny. H sudah memberikan makanan paba bayi dan balita sesuai porsinya dan sudah memasak makanan dengan baik dan benar.

4.      Pendidikan Kesehatan Prilaku Mencuci Tangan Yang Baik Dan Benar (6 Langkah Menurut WHO)

Setelah dilakukannya pengkajian pada Ny. H, dan keluarga sudah melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, namun keluarga tidak mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar yaitu 6 langkah menurut WHO. Kebiasaan mencuci tangan yang baik dan benar ini sangat penting terhadap kesehatan, cuci tangan 6 langkah menurut WHO ini efektif membersihkan kuman-kuman yang ada ditangan kita. Kebiasaan mencuci tangan merupakan hal yang dasar dan sepele namun apabila dalam keluarga tidak menerapkan cuci tangan yang baik dan benar justru akan berpengaruh terhadap kesehatan seperti kuman-kuman yang ada ditangan akan terbawa bersama dengan makanan yang akan berdampak buruk terhadap organ pencernaan, pernapasan, ataupun organ lainnya yang tersentuh oleh tangan kita dan bahkan dapat menularkan dan tertular oleh penyakit-penyakit lainnya.

Oleh sebab itu asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai pentingnya cuci tangan 6 langkah, dan mengajarkan keluarga cara mencuci tangan 6 langkah, asuhan ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi pada hari ke 2 atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai cuci tangan 6 langkah, mengulangi gerakan cuci tangan 6 langkah dengan baik dan Ny. H sudah mengajarkan cuci tangan 6 langkah keanggota keluarganya dan sudah menerapkan dalam kesehariannya.

5.      Pendidikan Kesehatan Pengetahuan Tentang Pijat Bayi

Setelah dilakukannya pengkajian pada Ny. H tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan pijat bayi. Pijat bayi dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangannya seperti BB bayi akan naik, bayi menyusu dengan kuat, tidur bayi baik, bayi tidak rewel dll. Untuk mengatasi permasalahan ini asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai pijat bayi, tujuan dan manfaat pijat bayi, dampak yang ditimbulkan dari pijat bayi, kapan dilakukan pijat bayi serta mengajarkan ibu cara pijat bayi, asuhan ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali kunjungan. Setelah dilakukannya evaluasi pada hari kedua atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai pijat bayi, dan sudah mengulangi pijat bayi pada anaknya walaupaun gerakan pijat bayi tidak berurutan, karena Ny.H merasakan langsung manfaat yang ditimbulkan setelah dilakukannya pijat bayi seperti bayi menyusu lebih lama, bayi tidur nyenyak, dan bayi tidak rewel lagi.

6.      Pendidikan Kesehatan Mengenai Perawatan Dan Senam Payudara

Setelah dilakukannya pengkajian pada Ny. H tidak mengetahui dan tidak pernah melakukan perawatan dan senam payudara walau ibu dalam masih menyusui. Perawatan dan senam payudara sangat baik dilakukan seperti dapat memperlancar produksi ASI, mencegah bendungan ASI, payudara menjadi bersih dan kencang. Namun apabila ibu tidak pernah melakukan perawatan maupun senam payudara akan mengakibatkan bendungan ASI menyebab ASI tidak lancar dan payudara bengkak, payudara kotor sehingga dapat mengakibatkan infeksi pada payudara atau mastitis, bahkan bisa mengakibatkan kanker payudara. Untuk mengatasi permasalahan ini asuhan yang diberikan adalah pendidikan kesehatan mengenai perawatan dan senam payudara, tujuan dan manfaat perawatan dan senam payudara, kapan dilakukan perawatan dan senam payudara serta mengajarkan ibu cara perawatan dan senam payudara, asuhan ini dilakukan selama 2 hari dengan 2 kali kunjungan. Sehingga diharapkan ibu dapat melakukan perawatan dan senam payudara secara rutin. Setelah dilakukan evaluasi pada hari kedua atau kunjungan kedua, Ny. H sudah mengerti mengenai perawatan dan senam payudara, Ny.H dapat memperagakan perawatan dan senam payudara dengan baik dan benar dan Ny. H akan mengulangi perawatan dan senam payudara dilain waktu.

7.      Pendidikan Kesehatan Kebiasaan Makan Buah Sebelum Makan Nasi

Setelah dilakukan pengkajian keluarga Tn. A sudah memiliki kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, namun tidak menjarakan waktu antara makan buah dan makan nasi. Makan buah sebelum makan sangat baik terhadap kesehatan seperti gizi yang diserap dalam tubuh maksimal dan baik bagi organ pencernaan. Jikalau makan buah sesudah makan ataupun bersamaan saat makan nasi gizi yang ada dalam buah tidak diserap secara maksimal oleh tubuh dan akan menggangu sistem pencernaan. Untuk mengatasi masalah tersebut asuhan yang dapat diberikan adalah memberikan pendidikan kesehatan mengenai kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, tujuan, manfaat, jarak antara makan buah dan makan nasi, asuhan ini dilakukan selama 1 hari dengan satu kali kunjungan. Setelah dilakukan evaluasi pada saat itu  Ny. H sudah makan buah sebelum makan nasi dan akan menjarakkan antara makan buah dan makan nasi.

 

 


 

BAB 5

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Asuhan kebidanan komunitas komprehensif yang dilakukan pada keluarga Tn. A dimana keluarga Tn. A telah di prioritaskan permasalahan dan kebutuhan. Prioritas msalahnya yaitu kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan balita serta kurangnya pengetahuan tentang immunisasi dan ketubuhannya yaitu penkes gizi bayi dan balita, penkes prilaku cuci tangan 6 langkah, penkes pijat bayi, penkes perawatan dan senam payudara, penkes kebiasaan makan buah sebelum makan nasi, pembinaan keluarga dilaksanakan dari tanggal 11-24 Oktober 2019 dengan kunjungan selama 7 kali. Penatalaksanaan yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan balita, memberikan penyuluhan tentang pentingnya pemantauan tumbuh kembang pada bayi dan balita, pemantauan tumbang secara rutin dilakukan untuk mencegah ancaman kesehatan, apabila tidak dilakukan pemantauan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita seperti stanting, down sindrom, gizi buruk dll. Selanjutnya memberikan penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi, dan dampak kedepannya yang diakibatkan jika tidak imunisasi. Penatalaksanaan dalam memenuhi kebutuhan yaitu dengan memberikan penkes mengenai gizi bayi dan balita, cara memasak makanan yang baik dan benar, memberitan penkes prilaku cuci tangan 6 langkah, penkes pijat bayi yang dapat menstimulasi tumbang bayi, penkes perawatan dan senam payudara serta penkes kebiasaan makan buah sebelum makan nasi. Semua asuhan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh keluarga Tn.A dan apa yang telah disampaikan sudah dijalankan oleh keluarga Tn.A.

 

5.2  SARAN

Setelah dilakukan asuhan kebidanan komunitas komprehensif, diharapkan keluarga Tn. A dapat bertambah wawasannya mengenai masalah kesehatan yang terjadi dalam keluarganya terutama pada kebutuhan bayi dan balitanya dalam masa pertumbuhan dan perkembangan serta membutuhkan perhatian yang jauh dari biasanya. Selanjutnya diharapkan keluarga mampu mengenali masalah dan kebutuhan kesehatan yang ada dalam keluarga serta mampu mengatasi masalah tersebut secara mandiri khususnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan ibu dan anak (KIA).


 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.

Bailon dan Maglaya. 1978. Konsep Keluarga. Diakses melalui [http://id.shvoong.com/books/1896185-konseo-keluarga]

Biofarma,2006, Vademecum, Bandung, http://www.bumn.go.id/biofarma/publikasi /berita/who-prequalified-of-dtp-hepatitis-b-vaccine-produced-by-bio-farma/, diakses 14 Maret 2012.

Depkes RI, 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 tahun 2005 Tentang Kesehatan. Jakarta: Fisioterapi Indonesia

Dwienda, O. 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi / Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Yogyakarta : Deepublish

Friedman, Marilyn M. 2010. Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC

Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Hidayati, dkk. 2008. Pengembangan Pendidikan IPS SD. Surakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Kemenkes RI. 2016. Profil Kesehatan 2015. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI

Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika

Suprajitno.2012.Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi dalam Praktik.Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Syamsussabri, Muhammad,2013. Konsep Dasar Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik. Jurnal Perkembangan Peserta Didik, Volume 1 Nomor 1 tahun.

Undang-undang (UU) No. 10 Tahun 1992. Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga Sejahtera

Varney, Helen. 2004. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Wakhida, Siti Nuraini. 2017. Keluarga Binaan. Diakses melalui [http://sitinurainiwakhida.blogspot.com/2017/08/keluarga-binaan.html?m=1] pada tanggal 21 Oktober 2019 pukul 21.06 WIB

Yuniarti, Sri. (2015). Asuhan Tumbuh Kembang Neonatus Bayi: Balita dan Anak Prasekolah. Bandung : PT Refika Aditama.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar