BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. Konsep
Dasar
1.
Pengertian Nifas
Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2009).
Periode
pascapartum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin (menandakan
akhir periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada
kondisi tidak hamil (Varney, 2007).
Masa
nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta
selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti
sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masa nifas merupakan masa pemulihan dari proses kehamilan dan kelahiran yang di dalamnya terjadi proses perubahan secara fisik maupun psikologis yang akan kembali ke kondisi sebelum hamil dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan keadaan tubuh seorang ibu nifas.
2. Perubahan fisiologis pada masa nifas
Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan
anatomi dan fisiologis pada ibu, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Perubahan Dalam Sistem Reproduksi
1).
Uterus
a). Proses Involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum
hamil setelah melahirkan disebut involusi (Bobak, 2004). Involusi uterus
meliputi reorganisasi dan pengeluaran desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat
perlekatan plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta
perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokhia
(Varney, 2007).
Tabel
2.1 Tinggi fundus dan berat uterus berdasarkan masa involusi
|
Involusi |
TFU |
Berat Uterus |
|
Bayi lahir |
Setinggi pusat-2 jari di bawah pusat |
1.000gr |
|
1 minggu |
Pertengahan
pusat simfisis |
750gr |
|
2 minggu |
Tidak teraba di atas simfisis |
500gr |
|
6 minggu |
Normal |
50gr |
|
8 minggu |
Normal (sebelum hamil) |
30gr |
(Saleha, 2009)
b). Lokia
Lokia
adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama
puerperium. Rata-rata jumlah total sekret lokia adalah sekitar 8-9 ons atau
40-270 ml (Varney, 2007). Berikut adalah beberapa jenis lokia pada masa nifas :
1)
Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa
selaput ketuban. Sel-sel desisua, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama
2 sampai 3 hari pasca persalinan.
2)
Lokia sanguilenta berwarna merah
kekuningan berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7
pascaapersalinan.
3)
Lokia serosa berbentuk serum dan
berwarna merah muda kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada
hari ke-7 sampai hari ke-14 pascapersalinan. Mengandung cairan serum, jaringan
desidua, leukosit, dan eritrosit.
4)
Lokia alba dimulai dari hari ke-14 kemudian
semakin sedikit hingga berhenti sama sekali. Berbentuk cairan putih seperti
krim, mengandung sel-sel desidua dan
leukosit (Saleha, 2009).
2). Serviks Uteri
Serviks
akan menjadi lunak segera setelah melahirkan. Dua puluh jam setelah persalinan,
serviks memendek dengan konsistensi lebih padat dan kembali ke bentuk semula
dalam masa involusi (Maryunani, 2009).
3).
Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari pertama sesudah proses
tersebut, kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva
dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali,
sementara labia menjadi lebih
menonjol.
4). Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post natal
hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonus-nya, sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum
hamil.
b. Perubahan
Sistem Pencernaan
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan
pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau
dehidrasi (Bobak, 2004).
c. Perubahan Urinarius
Diuresis
mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum.
Pengeluaran urin sekitar lebih dari 3000 mL per hari (Varney, 2007). Diuresis
pascapartum merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan.
Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan
penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pascapartum (Bobak, 2004).
d. Perubahan Payudara
Selama
kehamilan jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk proses
laktasi. Setelah melahirkan, hormon prrolaktin akan keluar dan efek yang
ditimbulkan mulai terasa sampai hari ketiga postpartum. Pembuluh darah payudara
menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa
sakit. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior
pituari untuk menyekresikan hormon oksitosin. Oksitosin meransfang refleks let down (mengalirkan), sehingga
menyebabkan pengeluaran ASI (Saleha, 2009).
e. Perubahan Sistem Endokrin
Kadar estrogen dan progesteron menurun dengan cepat setelah plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi daripada wanita yang menyususi pada pasca partum hari ke-17 (Bowes, 1991 dalam Bobak, 2004).
f. Perubahan Tanda-Tanda Vital
Pada
ibu nifas, terdapat beberapa perubahan tanda-tanda vital sebagai berikut:
1).
Suhu
Selama
24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38oC, sebagai akibat
meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal. Jika terjadi
peningkatan suhu 38oC yang menetap 2 hari setelah 24 jam melahirkan,
maka perlu dipikirkan adanya infeksi seperti sepsis puerperalis (infeksi selama
postpartum), infeksi saluran kemih, endometritis (peradangan endometrium),
pembengkakan payudara, dan lain-lain.
2).
Nadi
Dalam periode waktu 6-7 jam sesudah
melahirkan, sering ditemukan adanya bradikardia 50-70 kali per menit (normalnya
80-100 kali per menit) dan berlangsung sampai 6-10 hari setelah melahirkan.
Keadaan ini bisa berhubungan dengan penurunan usaha jantung dan penurunan
volume darah. Takhikardia kurang sering terjadi, bila terjadi berhubungan
dengan peningkatan kehilangan darah dan proses persalinan yang lama.
3).
Tekanan Darah
Ibu
mengalami hipotensi orthostatik (penurunan 20 mmHg) selama beberapa jam setelah melahirkan yang
ditandai dengan adanya pusing segera setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga
46 jam pertama. Peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg dan penambahan diastolik
15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa
menandakan ibu mengalami preeklamsia dan ibu perlu dievaluasi lebih lanjut.
4).
Pernafasan
Fungsi
pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam
setelah melahirkan (Maryunani, 2009).
g. Penurunan berat badan
Penurunan
berat badan segera setelah melahirkan rata-rata sebanyak 6 kg dan mencakup
berat janin, plasenta, cairan amnion, dan kehilangan darah. Sekitar 4,5 sampai
5 kg lainnya turun selama minggu pertama pascapartum akibat involusi uterus,
pengeluaran lokia, proses perspirasi, dan diuresis. Penurunan berat badan total
ibu yang berhubungan dengan proses melahirkan dan pascapartum berkisar dari 9,5
kg sampai 12 kg.
Tabel 2.2 Sumber
dan Jumlah Penurunan Badan Selama Masa Pascapartum
|
Sumber
Penurunan Berat Badan |
Jumlah
Penurunan Berat (Kg) |
|
Janin dan
plasenta; cairan amnion dan kehilangan darah pada pelahiran |
5,5 – 6 |
|
Perspirasi dan
dieresis selama minggu pertama pascapartum |
2,5 – 4 |
|
Involusi
uterus dan lokia |
1 |
|
Penurunan berat badan total |
9 – 10 |
(Reeder, 2011)
h.
Perubahan Sistem Integumen
Tekstur kulit dan tonus kulit akan kembali
normal segera setelah melahirkan. Setiap iritasi kulit yang disebabkan oleh
kolestasis obstetri atau peregangan kulit akan segera sembuh (Medforth dkk,
2011).
Hiperpigmentasi
puting, areola, dan linea nigra yang disebabkan peningkatan melanin pada
kehamilan akan berkurang secara bertahap setelah melahirkan. Kloasma (topeng
kehamilan) pada umumnya membaik, walaupun kondisi ini tidak menghilang secara
sempurna (Reeder, 2011).
i. Perubahan Sistem Neuromuskular
Selama kehamilan tubuh mengalami adaptasi neurologis berupa penekanan saraf yang terjadi akibat pembesaran uterus. Ketidaknyamanan tersebut seperti rasa baal, rasa seperti terstrum pada jari-jari tangan, atau kram pada kaki yang akan menghilang setelah melahirkan karena tekanan mekanik akibat pembesaran uterus dan tekanan akibat retensi cairan tubuh mereda. Pembesaran payudara karena laktasi dan melemahnya dinding otot abdomen dapat menjadi penyebab memburuknya postur setelah melahirkan (Tulman, et al., 1990) dalam (Reeder, 2011).
3. Kebutuhan
Dasar Ibu Nifas
a. Nutrisi Dan Cairan
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai
berikut :
1)
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
2)
Makan dengan diet berimbang
untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup
3)
Minum sedikitnya 3 liter air
setiap hari
4)
Tablet Fe harus diminum untuk menambah zat besi,
setidaknya selama 40 hari pascapersalinan.
5)
Minum kapsul vitamin A
200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
b.
Ambulasi
Ambulasi dini adalah kebijaksanaan
agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat
tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Ibu postpartum
sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.
c.Eliminasi
Ibu diminta untuk BAK 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Ibu postpartum diharapkan dapat BAB setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka dilakukan klisma (huknah).
d.
Personal Hygiene
Pada saat postpartum,
seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. .Oleh
karena itu, kebersihan diri sangat penting utnuk mencegah terjadinya infeksi.
Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk
tetap dijaga.
1)
Anjurkan kebersihan seluruh
tubuh, terutama perineum
2)
Mengajarkan ibu bagaimana
membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti
untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke
belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasihati ibu untuk
membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
3)
Sarankan ibu untuk mengganti
pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan
ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari dan
disetrika.
4)
Sarankan ibu untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin
5)
Jika ibu mempunyai luka
episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh
daerah tersebut kecuali jika akan membersihkan/mengeringkan luka setelah buang
air.
e.
Istirahat Dan Tidur
Hal-hal yang bisa dilakukan
pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur adalah sebagai berikut :
1)
Anjurkan ibu untuk istirahat
cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
2)
Sarankan ibu untuk kembali
pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur
siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
3)
Kurang istirahat akan
memengaruhi ibu dalam beberapa hal :
-
Mengurangi jumlah ASI
-
Memperlambat proses involusi
uterus dan memperbanyak perdarahan
- Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
4. Kunjungan
Masa Nifas
a.
Kunjungan I : 6- 8 jam
setelah persalinan
Tujuannya :
-
Mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
-
Mendeteksi dan merawat
penyebab lain perdarahan, merujuk bila perdarahan berlanjut
-
Memberikan konseling pada
ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas
karena atonia uteri
-
Pemberian ASI awal.
-
Melakukan hubungan antara
ibu dan bayi.
-
Menjaga bayi tetap sehat
dengan cara mencegah hipotermi
b.
Kunjungan II :
6 hari setelah persalinan
Tujuannya:
-
Memastikan involusi uterus
berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
-
Menilai adanya tanda–tanda
demam infeksi atau perdarahan abnormal.
-
Memastikan ibu mendapat cukup
makanan, minuman dan istirahat
-
Memastikan ibu menyusui
dengan dan memperhatikan tanda – tanda penyakit.
-
Memberikan konseling kepada
ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan
merawat bayi sehari– hari.
c. Kunjungan
III : 2 minggu setelah
persalinan
Tujuannya :
Sama dengan di atas (6 hari
setelah persalinan).
d. Kunjungan IV
6 minggu setelah
persalinan
Tujuannya :
-
Menanyakan ibu tentang
penyakit – penyakit yang dialami
-
Memberikan konseling untuk
KB secara dini
B. Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Postpartum.
Varney ( 1997 )
menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang
ditemukan oleh perawat-bidan pada awal tahun 1970-an. Proses manajemen ini
bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga pemeriksaan
pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai.
Dengan demikian
proses manajemen harus mengikuti aturan yang logis dan memberikan pengertian
yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah
menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
Proses
manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah
disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan
berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah
tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Pengkajian Data
Ibu Nifas
1) Data
subjektif
a)
Biodata
-
Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui
adanya resiko seperti kurang dari 20
tahun, alat - alat reproduksi belum matang, mental, dan psikisnya belum siap.
Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam
masa nifas.
b)
Keluhan
utama
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi
yang berkaitan dengan masa nifas. Keluhan pada ibu nifas adalah sebagai berikut :
-
Pasien mengatakan perut masih terasa
mulas dan sedikit lelah.
c)
Riwayat
kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
-
Riwayat
kehamilan yang lalu dikaji usia kehamilan (aterm, preterm, postterm) dan
penyulit selama kehamilan.
-
Riwayat
persalinan dikaji :
Penolong persalinan oleh tenaga
kesehatan tempat melahirkan yaitu di fasilitas kesehatan, jenis
persalinan yaitu normal.
-
Riwayat
nifas yaitu keadaan klien baik/tidak mengalami komplikasi nifas, proses laktasinya, pemberian
vitamin A dan tablet Fe.
d)
Riwayat
kesehatan
Pasien tidak pernah atau sedang menderita
penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus, hipertensi, hipotensi, atau
hepatitis.
e)
Riwayat
Keluarga Berencana
Untuk
mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa
lama, ada keluhan selama menggunakan kontrasepsi.
f)
Pola
makan
Beberapa hal yang perlu ditanyakan
pada pasien dalam kaitannya dengan pola makan antara lain :
-
Menu
Bidan dapat menanyakan pada pasien
tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan, dan lain-lain).
-
Frekuensi
-
Seberapa
banyak asupan makanan yang dimakan.
-
Seberapa
banyak makanan yang ia makan dalam satu kali waktu makan. Untuk mendapatkan
gambaran total dari makanan yang ia makan, dikalikan dengan frekuensi makan
dalam sehari.
-
Pantangan
Hal ini juga ditanyakan tidak ada kemungkinan pasien berpantang
makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan, atau
telur.
g)
Pola
Minum
Yang perlu ditanyakan pada pasien tentang pola minum antara
lain :
-
Frekuensi
Berapa kali minum dalam sehari dan dalam sekali minum dapat habis berapa gelas.
-
Jumlah
per hari
Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak dalam sekali minum
akan diperoleh data jumlah in take dalam sehari.
h)
Pola
istirahat
Istirahat sangat diperukan oleh ibu
postpartum. Bidan dapat menyakan tentang berapa lama ibu tidur siang dan malam
hari. Untuk istirahat malam, rata-rata waktu yang diperlukan adalah 6-8 jam.
i)
Personal
hygiene
Jika pasien mempunyai kebiasaan yang
kurang baik dalam perawatan kebersihan dirinya maka bidan harus dapat
memberikan bimbingan cara perawatan kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin.
j)
Data
psikososial
Respon ibu terhadap kelahiran
bayinya, bidan dapat menyakan langsung kepada pasien mengenai bagaimana
perasaannya terhadap kelahiran bayinya. Respon ayah terhadap bayi dapat
ditanyakan langsung pada suami pasien atau kepada pasien itu sendiri. Data
mengenai respon ayah ini sangat penting karena bidan dapat jadikan sebagai salah satu acuan mengenai
bagaimana pola bidan dalam memberikan asuhan kepada pasien dan bayinya. Jika
suami memberikan respon yang positif terhadap istri dan anaknya maka akan
memberikan kemudahan bagi bidan untuk melibatkannya dalam memberikan perawatan.
b. Data
objektif
Langkah-langkah pemeriksaannya
adalah sebagai berikut :
1)
Pemeriksaan umum
a)
Keadaan
umum
Pada ibu postpartum normal menunjukkan
keadaan umum baik dengan kesadaran compos
mentis
b)
Tanda
vital (tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu)
-
Tekanan Darah
Ibu mengalami
hipotensi orthostatik (penurunan 20 mmHg), normal terjadi hingga 46 jam pertama
(Maryunani, 2009).
- Nadi
Ibu postpartum normal
biasanya mengalami bradikardia 50-70 kali permenit. Kriteria nadi normal orang
dewasa adalah 80-100 kali per menit (Maryunani, 2009).
- Pernapasan
Frekuensi pernafasan yang dihitung dalam 1
menit, respirasi normal 16 – 20 x/ menit.
- Suhu
Terjadi
peningkatan suhu pada 24 jam pertama setelah melahirkan yang mencapai 38OC
(Maryunani, 2009).
c)
Pemeriksaan Fisik
-
Payudara
(bentuk, gangguan, ASI, keadaan puting, kebersihan)
Ada pembesaran/ tidak, ada benjolan/
tidak, simetris/ tidak, areola hyperpigmentasi/ tidak, puting susu menonjol/
tidak, kolustrum sudah keluar/ belum.
d)
Ekstremitas
-
Ada/ tidak oedema dan varices
2) Pemeriksaan
khusus
a)
Abdomen
Inspeksi : pembesaran perut
Palpasi : nilai okntraksi uterus, TFU setinggi pusat-2 jari dibawah pusat
b)
Genitalia
-
Vulva
Untuk
mengetahui adakah varises/ tidak, kemerahan/tidak, nyeri/ tidak, ada
pengeluaran pervaginam/tidak.
-
Perineum
Untuk mengetahui ada bekas
luka/tidak, ada hematoma/tidak
-
Anus
Untuk mengetahui hemorroid/tidak
b. Diagnosis, Masalah dan Kebutuhan Ibu Postpartum
Diagnosa
kebidanan yang muncul pada ibu postpartum normal adalah :
Ny. (...) , P
(..) A (..) , waktu postpartum
Masalah yang biasa ditemukan pada ibu
postpartum normal adalah:
1) Nyeri luka
jahitan
Masalah ini biasanya muncul atau dirasakan pasien selama
hari-hari awal post partum.
Data dasar subjektif :
Keluhan pasien tentang rasa nyeri
Data dasar objektif :
-
Post partum hari pertama sampai hari ketiga
-
Inspeksi : adanya luka jahitan perineum pada persalinan
spontan.
2) Masalah pada payudara
Data dasar subjektif :
-
Keluhan nyeri pasien pada payudaranya
-
Badan terasa demam dan dingin
-
Pasien mengatakan tidak dapat menyusui bayinya karena
putingnya masuk ke dalam
Data dasar objektif :
-
Puting susu masuk ke dalam (tidak menonjol)
-
Payudara lecet
-
Payudara bengkak
c.
Mengantisipasi diagnosa/ masalah potensial
Mengantisipasi diagnosis
atau masalah potensial yang mungkin terjadi berdasarkan masalah atau diagnosis
yang teridentifikasi. Langkah ini merupakan tindakan penyelamatan terhadap
klien dan bertujuan mencegah komplikasi yang dapat timbul khususnya kondisi
klien yang patologis. (Roito, 2013). Contohnya pada klien yang menyusui dan
berpotensial mengalami bendungan ASI, untuk mengantisipasi masalah potensial
yang muncul maka ibu disarankan untuk menyusui bayi secara on demand atu sesering mungkin.
d. Identifikasi Perlunya Tindakan
Segera
Asuhan kebidanan pada ibu nifas normal sebenarnya tidak memerlukan tindakan
segera. Akan tetapi, hal ini diperlukan apabila kondisi klien yang bersifat
fisiologis berubah menjadi keadaan patologis. Oleh karena itu tindakan segera
yang dimaksud adalah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien. Pada langkah
ini mungkin untuk munculnya data baru akibat komplikasi yang terjadi sehingga
memerlukan adanya tindakan segera. Misalnya pada klien yang mengalami gangguan buang air besar maka tindakan segera oleh bidan
yaitu memberikan obat pencahar supositoria
(Sulistyawati, 2009).
e.
Merencanakan Asuhan Kebidanan
Merencanakan
asuhan yang menyeluruh dan ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya dengan
rasional. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau
masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Perencanaan asuhan pada
ibu nifas normal meliputi
evaluasi terus menerus penyebab
terjadinya perdarahan karena atonia uteri, atasi gangguan nyeri, berikan
kenyamanan pada ibu, bantu ibu menyusui bayi, siapkan pemulangan pasien.
f. Implementasi Asuhan
Melaksanakan
rencana asuhan komprehensif dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian
dilakukan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Pelaksanaan asuhan
kebidanan meliputi tindakan mandiri, kolaborasi, tindakan pengawasan, dan
pendidikan atau penyuluhan. Implementasi asuhan mencangkup usaha melaksanakan
rencana asuhan secara efisien dan aman tentang kontak dini sesering mungkin
dengan bayi, mobilisasi atau istirahat, diet, perawatan perineum, dan lain-lain.
g. Evaluasi
Pada langkah
ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan
diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah
efektif sedang sebagian belum efektif.







0 komentar:
Posting Komentar