KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Dan harapan saya semoga makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Pekanbaru, 24 September 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................
DAFTAR
ISI ..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
....................................................................................
1.2 Tujuan
................................................................................................
1.3 Manfaat……………………………………………………………………....
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pijat Oksitosin………………………………………………………………
2.1.1 Definisi Pijat Oksitosin ..............................................................
2.1.2 Manfaat Pijat Oksitosin...............................................................
2.1.3 Langkah-Langkah Pijat Oksitosin
................................................
2.1.4 Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif ..........................................
2.2
Masa Nifas…………………………………………………………………..
2.2.1
Definisi Masa Nifas………………………………………………….
2.2.2
Tahapan Masa Nifas…………………………………………………
2.2.3
Perubahan Fisik Ibu Nifas Pada Payudara…………………………..
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan ........................................................................................
3.2 Saran
..................................................................................................
Daftar Pustaka..........................................................................
................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air
Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada
bulan-bulan pertama kehidupan bayi. Banyak masalah muncul di hari-hari pertama
pemberian ASI seperti ASIyang tidak keluar atau produksi ASI kurang sehingga
mengakibatkan bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai. Hal tersebut
terjadi karena banyak ibu nifas yang belum mengetahui pentingnya melakukan
pijat oksitosin yang berpengaruh pada kelancaran produksi ASI.
ASI
(Air Susu Ibu) merupakan makanan alami pertama untuk bayi, mengandung semua
energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi dalam bulan pertama kehidupan (Nugroho
dkk, 2014). UNICEF dan WHA (World HealthAssembly) merekomendasikan pemberian
ASI eksklusif selama 6 bulan. Kendala yang mengakibatkan ibu berhenti menyusui
yaitu ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar sehingga ibu
beranggapan bahwa ASInya tidak cukup (Dewi dan Tri, 2011).
Kecukupan
ASI dapat dipengaruhi oleh 2 refleks, yaitu refleks pembentukan/produksi ASI
atau refleks prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI (let down reflex)
(Roesli, 2013). Refleks tersebut dapat dipengaruhi oleh rangsangan sentuhan
pada payudara dan pemijatan oksitosin sehingga merangsang produksi oksitosin yang
menyebabkan kontraksi sel-sel miopitel sehingga produksi ASI tersedia bagi bayi
(Bahiyatun 2009). Oksitosin dapat memengaruhi sel-sel alveoli untuk
berkontrasi, mengeluarkan air susu melalui sistem duktus ke dalam mulut bayi,
yang disebut reflex let-down (reflex ejeksi susu). Dampaknya apabila reflex
let-down tidak bekerja secara maksimal maka produksi ASI akan berkurang
(Roesli, 2013).
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap
produksi ASI pada ibu nifas.
1.3 Manfaat
Dapat
menambah wawasan dan informasi dalam melakukan pijat oksitosin pada ibu nifas
untuk meningkatkan produksi ASI.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PIJAT
OKSITOSIN
2.1.1 Definisi Pijat Oksitosin
Pijat
oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari nervus ke
5 -6 sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk
menyampaikan perintah ke otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar. Pijat
oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin Ataulet down reflex.
Selain untuk merangsanglet down reflex manfaat pijat oksitosin adalah
memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, merangsang
pelepasan hormone oksitosin, mempertahankan produksi ASI.
Pijat
oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae)
membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan
usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang
kontraksi uterus dan sekresi ASI (Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015).
2.1.2 Manfaat Pijat Oksitosin
Manfaat
pijat oksitosin bagi ibu nifas dan ibu menyusui, diantaranya :
a. Mempercepat
penyembuhan luka bekas implantasi plasenta.
b. Mencegah
terjadinya perdarahan post partum.
c. Dapat
mempercepat terjadinya proses involusi uterus.
d. Meningkatkan
produksi ASI.
e. Meningkatkan
rasa nyaman pada ibu menyusui.
f. Meningkatkan
hubungan psikologis antar ibu dan keluarga.
2.1.3 Langkah – Langkah Pijat Oksitosin
Menurut
(Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015)
Cara
melaksanakan pijat oksitosin, yaitu :
1. Meminta
bantuan orang lain untuk memijat punggung ibu.
2. Membantu
ibu membuka pakaian bagian atas.
3. Ibu
duduk dengan santai dan nyaman, melipat kedua lengan diatas sebuah meja
didepannya, kemudian meletakkan kepala diatas lengan tersebut. Sehingga kedua
payudara menggantung.
4. Penolong
menggenggamkan tangan/mengepalkan jari-jari tangan kecuali ibu jari, lalu
memijat punggung ibu sejajar tulang belakang membentuk lingkaran kecil dengan
kedua ibu jari.
5. Pijatan
dilakukan dari leher di kedua sisitulang belakang kanan dan kiri bersamaan
sampai ke arah tulang belikat,selama 2-3 menit.
2.1.4 Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif
Tanda refleks oksitosin aktif yaitu:
1. Adanya sensasi sakit seperti diperas
atau menggelenyar didalam payudara sesaat sebelum atau selama menyusui bayinya.
2. ASI mengalir dari payudaranya saat
dia memikirkan bayinya atau mendengar bayinya menangis.
3. ASI menetes dari payudaranya yang
lain, ketika bayinya menyusu.
4. ASI mengalir dari payudaranya dalam
semburan halus jika bayi melepaskan payudara saat menyusu.
5. Adanya nyeri yang berasal dari
kontraksi rahim, kadang diiring dengan keluarna darah lochea selama menyusui di
hari-hari pertama.
6. Isapan ang lambat dan tegukan oleh
bayi, menunjukan ASI mengalir dan ditelan oleh bayi.
7. Ibu merasa haus.
2.2 MASA NIFAS
2.2.1 Definisi Masa
Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa
dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali
seeperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.
2.2.2
Tahapan Masa Nifas
a. Puerperium dini, yaitu kepulihan
dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial, yaitu
kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerperium, yaitu waktu yang
diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna baik selama hamil atau
sempurna berminggu-minggu, berbulan-bulan atau tahunan.
2.2.3
Perubahan
Fisik Ibu Nifas Pada Payudara
Terkait proses laktasi,
perubahan fisik pada masa nifas yang mempengaruhi laktasi adalah perubahan
fisik pada payudara. Payudara atau mammae adalah kelenjar yang terletak di
bawah kulit, diatas otot dada. Secara makroskopis, struktur payudara terdiri
dari korpus (badan),areola dan papilla atau puting. Fungsi payudara adalah
memproduksi susu (air susu ibu) sebagai nutrisi bagi bayi. Sejak kehamilan
trimester pertama kelenjar mammae sudah dipersiapkan untuk menghadapi masa
laktasi. Perubahan yang terjadi pada kelenjar mamae selama kehamilan adalah :
a. Proliferasi
jaringan atau pembesaran payudara. Terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan
progesteron yang meningkat selama hamil, merangsang duktus dan alveoli kelenjar
mammae untuk persiapan produksi ASI.
b. Terdapat
cairan yang berwarna kuning (kolostrum) pada duktus laktiferus. Cairan ini
kadang-kadang dapat dikeluarkan atau keluar sendiri melalui puting susu saat
usia kehamilan memasuki trimester ketiga.
c. Terdapat
hipervaskularisasi pada bagian permukaan maupun bagian dalam kelenjar mammae.
Setelah proses persalinan selesai, pengaruh hormon estrogen dan progesteron
terhadap hipofisis mulai menghilang. Hipofisis mulai mensekresi hormon kembali
yang salah satu diantaranya adalah lactogenic hormone atau hormon prolaktin.
Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum
keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan
progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan,
sehingga terjadi sekresi ASI. Pada hari-hari pertama ASI mengandung banyak
kolostrum, yaitu cairan berwarna kuning dan sedikit lebih kental dari ASI yang
disekresi setelah hari ketiga postpartum (Maritalia, 2012dalam Nahdiah, 2015).
Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu
yang terisi berubah posisi dari hari ke hari. Sebelum laktasi dimulai, payudara
teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum, dikeluarkan dari
payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara teraba hangat dan keras ketika
disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan
(tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu (Bobak et al.,
2005 dalam Nahdiah,2015).
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pijat
oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae)
membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan
usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang
kontraksi uterus dan sekresi ASI.
Adanya
pengaruh pemijatan oksitosin terhadap produksi ASI.
3.2 Saran
Sebaiknya
dapat menerapkan pijat oksitosin di rumah dan memberikan informasi kepada
masyarakat lainnya sehingga menambah pengetahuan masyarakat tentang pijat
oksitosin.
Daftar
Pustaka
Sutanto, Andina Vita. 2018. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta : PT.Pustaka Baru
http://digilib.unisayogya.ac.id/68/1/NASKAH%20PUBLIKASI%20LITA.pdf
http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/514/3/BAB%20II.pdf







0 komentar:
Posting Komentar