BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Jumat, 16 Oktober 2020

ASKEB NIFAS TENTANG PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Pekanbaru, 24 September 2019

 

 

 

       Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 

DAFTAR ISI ..........................................................................................................  

BAB I     PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ....................................................................................  

1.2 Tujuan ................................................................................................

1.3 Manfaat……………………………………………………………………....  

BAB II    TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pijat Oksitosin………………………………………………………………

2.1.1 Definisi Pijat Oksitosin ..............................................................

2.1.2 Manfaat Pijat Oksitosin...............................................................

2.1.3 Langkah-Langkah Pijat Oksitosin ................................................  

2.1.4 Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif ..........................................  

                 2.2 Masa Nifas…………………………………………………………………..

                        2.2.1 Definisi Masa Nifas………………………………………………….

                        2.2.2 Tahapan Masa Nifas…………………………………………………

                        2.2.3 Perubahan Fisik Ibu Nifas Pada Payudara…………………………..

BAB III  KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................

3.2 Saran ..................................................................................................  

Daftar Pustaka.......................................................................... ................................


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi. Banyak masalah muncul di hari-hari pertama pemberian ASI seperti ASIyang tidak keluar atau produksi ASI kurang sehingga mengakibatkan bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai. Hal tersebut terjadi karena banyak ibu nifas yang belum mengetahui pentingnya melakukan pijat oksitosin yang berpengaruh pada kelancaran produksi ASI.

ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan alami pertama untuk bayi, mengandung semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi dalam bulan pertama kehidupan (Nugroho dkk, 2014). UNICEF dan WHA (World HealthAssembly) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Kendala yang mengakibatkan ibu berhenti menyusui yaitu ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar sehingga ibu beranggapan bahwa ASInya tidak cukup (Dewi dan Tri, 2011).

Kecukupan ASI dapat dipengaruhi oleh 2 refleks, yaitu refleks pembentukan/produksi ASI atau refleks prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI (let down reflex) (Roesli, 2013). Refleks tersebut dapat dipengaruhi oleh rangsangan sentuhan pada payudara dan pemijatan oksitosin sehingga merangsang produksi oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel miopitel sehingga produksi ASI tersedia bagi bayi (Bahiyatun 2009). Oksitosin dapat memengaruhi sel-sel alveoli untuk berkontrasi, mengeluarkan air susu melalui sistem duktus ke dalam mulut bayi, yang disebut reflex let-down (reflex ejeksi susu). Dampaknya apabila reflex let-down tidak bekerja secara maksimal maka produksi ASI akan berkurang (Roesli, 2013).

1.2       Tujuan

            Untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu nifas.

1.3       Manfaat

Dapat menambah wawasan dan informasi dalam melakukan pijat oksitosin pada ibu nifas untuk meningkatkan produksi ASI.


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PIJAT OKSITOSIN

2.1.1    Definisi Pijat Oksitosin

Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari nervus ke 5 -6 sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar. Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin Ataulet down reflex. Selain untuk merangsanglet down reflex manfaat pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormone oksitosin, mempertahankan produksi ASI.

Pijat oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae) membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang kontraksi uterus dan sekresi ASI (Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015).

2.1.2    Manfaat Pijat Oksitosin

Manfaat pijat oksitosin bagi ibu nifas dan ibu menyusui, diantaranya :

a.       Mempercepat penyembuhan luka bekas implantasi plasenta.

b.      Mencegah terjadinya perdarahan post partum.

c.       Dapat mempercepat terjadinya proses involusi uterus.

d.      Meningkatkan produksi ASI.

e.       Meningkatkan rasa nyaman pada ibu menyusui.

f.       Meningkatkan hubungan psikologis antar ibu dan keluarga.

 

2.1.3    Langkah – Langkah Pijat Oksitosin

Menurut (Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015)

Cara melaksanakan pijat oksitosin, yaitu :

1.      Meminta bantuan orang lain untuk memijat punggung ibu.

2.      Membantu ibu membuka pakaian bagian atas.

3.      Ibu duduk dengan santai dan nyaman, melipat kedua lengan diatas sebuah meja didepannya, kemudian meletakkan kepala diatas lengan tersebut. Sehingga kedua payudara menggantung.

4.      Penolong menggenggamkan tangan/mengepalkan jari-jari tangan kecuali ibu jari, lalu memijat punggung ibu sejajar tulang belakang membentuk lingkaran kecil dengan kedua ibu jari.

5.      Pijatan dilakukan dari leher di kedua sisitulang belakang kanan dan kiri bersamaan sampai ke arah tulang belikat,selama 2-3 menit.

 

2.1.4    Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif

Tanda refleks oksitosin aktif yaitu:

1.      Adanya sensasi sakit seperti diperas atau menggelenyar didalam payudara sesaat sebelum atau selama menyusui bayinya.

2.      ASI mengalir dari payudaranya saat dia memikirkan bayinya atau mendengar bayinya menangis.

3.      ASI menetes dari payudaranya yang lain, ketika bayinya menyusu.

4.      ASI mengalir dari payudaranya dalam semburan halus jika bayi melepaskan payudara saat menyusu.

5.      Adanya nyeri yang berasal dari kontraksi rahim, kadang diiring dengan keluarna darah lochea selama menyusui di hari-hari pertama.

6.      Isapan ang lambat dan tegukan oleh bayi, menunjukan ASI mengalir dan ditelan oleh bayi.

7.      Ibu merasa haus.

2.2     MASA NIFAS

2.2.1    Definisi Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seeperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.

2.2.2        Tahapan Masa Nifas

a.       Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

b.      Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

c.       Remote puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna baik selama hamil atau sempurna berminggu-minggu, berbulan-bulan atau tahunan.


2.2.3        Perubahan Fisik Ibu Nifas Pada Payudara

Terkait proses laktasi, perubahan fisik pada masa nifas yang mempengaruhi laktasi adalah perubahan fisik pada payudara. Payudara atau mammae adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, diatas otot dada. Secara makroskopis, struktur payudara terdiri dari korpus (badan),areola dan papilla atau puting. Fungsi payudara adalah memproduksi susu (air susu ibu) sebagai nutrisi bagi bayi. Sejak kehamilan trimester pertama kelenjar mammae sudah dipersiapkan untuk menghadapi masa laktasi. Perubahan yang terjadi pada kelenjar mamae selama kehamilan adalah :

a.       Proliferasi jaringan atau pembesaran payudara. Terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang meningkat selama hamil, merangsang duktus dan alveoli kelenjar mammae untuk persiapan produksi ASI.

b.      Terdapat cairan yang berwarna kuning (kolostrum) pada duktus laktiferus. Cairan ini kadang-kadang dapat dikeluarkan atau keluar sendiri melalui puting susu saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga.

c.       Terdapat hipervaskularisasi pada bagian permukaan maupun bagian dalam kelenjar mammae. Setelah proses persalinan selesai, pengaruh hormon estrogen dan progesteron terhadap hipofisis mulai menghilang. Hipofisis mulai mensekresi hormon kembali yang salah satu diantaranya adalah lactogenic hormone atau hormon prolaktin. Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada hari-hari pertama ASI mengandung banyak kolostrum, yaitu cairan berwarna kuning dan sedikit lebih kental dari ASI yang disekresi setelah hari ketiga postpartum (Maritalia, 2012dalam Nahdiah, 2015). Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi berubah posisi dari hari ke hari. Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan (tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu (Bobak et al., 2005 dalam Nahdiah,2015).


 

BAB III

PENUTUP

 

3.1       Kesimpulan

Pijat oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae) membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang kontraksi uterus dan sekresi ASI.

Adanya pengaruh pemijatan oksitosin terhadap produksi ASI.

3.2       Saran

Sebaiknya dapat menerapkan pijat oksitosin di rumah dan memberikan informasi kepada masyarakat lainnya sehingga menambah pengetahuan masyarakat tentang pijat oksitosin.


 

Daftar Pustaka

 

Sutanto, Andina Vita. 2018. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta : PT.Pustaka Baru

http://digilib.unisayogya.ac.id/68/1/NASKAH%20PUBLIKASI%20LITA.pdf

http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/514/3/BAB%20II.pdf

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar