BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Jumat, 16 Oktober 2020

ASKEB NIFAS TENTANG PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Pekanbaru, 24 September 2019

 

 

 

       Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 

DAFTAR ISI ..........................................................................................................  

BAB I     PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ....................................................................................  

1.2 Tujuan ................................................................................................

1.3 Manfaat……………………………………………………………………....  

BAB II    TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pijat Oksitosin………………………………………………………………

2.1.1 Definisi Pijat Oksitosin ..............................................................

2.1.2 Manfaat Pijat Oksitosin...............................................................

2.1.3 Langkah-Langkah Pijat Oksitosin ................................................  

2.1.4 Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif ..........................................  

                 2.2 Masa Nifas…………………………………………………………………..

                        2.2.1 Definisi Masa Nifas………………………………………………….

                        2.2.2 Tahapan Masa Nifas…………………………………………………

                        2.2.3 Perubahan Fisik Ibu Nifas Pada Payudara…………………………..

BAB III  KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan ........................................................................................

3.2 Saran ..................................................................................................  

Daftar Pustaka.......................................................................... ................................


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi. Banyak masalah muncul di hari-hari pertama pemberian ASI seperti ASIyang tidak keluar atau produksi ASI kurang sehingga mengakibatkan bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai. Hal tersebut terjadi karena banyak ibu nifas yang belum mengetahui pentingnya melakukan pijat oksitosin yang berpengaruh pada kelancaran produksi ASI.

ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan alami pertama untuk bayi, mengandung semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi dalam bulan pertama kehidupan (Nugroho dkk, 2014). UNICEF dan WHA (World HealthAssembly) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Kendala yang mengakibatkan ibu berhenti menyusui yaitu ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar sehingga ibu beranggapan bahwa ASInya tidak cukup (Dewi dan Tri, 2011).

Kecukupan ASI dapat dipengaruhi oleh 2 refleks, yaitu refleks pembentukan/produksi ASI atau refleks prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI (let down reflex) (Roesli, 2013). Refleks tersebut dapat dipengaruhi oleh rangsangan sentuhan pada payudara dan pemijatan oksitosin sehingga merangsang produksi oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel miopitel sehingga produksi ASI tersedia bagi bayi (Bahiyatun 2009). Oksitosin dapat memengaruhi sel-sel alveoli untuk berkontrasi, mengeluarkan air susu melalui sistem duktus ke dalam mulut bayi, yang disebut reflex let-down (reflex ejeksi susu). Dampaknya apabila reflex let-down tidak bekerja secara maksimal maka produksi ASI akan berkurang (Roesli, 2013).

1.2       Tujuan

            Untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu nifas.

1.3       Manfaat

Dapat menambah wawasan dan informasi dalam melakukan pijat oksitosin pada ibu nifas untuk meningkatkan produksi ASI.


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PIJAT OKSITOSIN

2.1.1    Definisi Pijat Oksitosin

Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari nervus ke 5 -6 sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar. Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin Ataulet down reflex. Selain untuk merangsanglet down reflex manfaat pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormone oksitosin, mempertahankan produksi ASI.

Pijat oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae) membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang kontraksi uterus dan sekresi ASI (Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015).

2.1.2    Manfaat Pijat Oksitosin

Manfaat pijat oksitosin bagi ibu nifas dan ibu menyusui, diantaranya :

a.       Mempercepat penyembuhan luka bekas implantasi plasenta.

b.      Mencegah terjadinya perdarahan post partum.

c.       Dapat mempercepat terjadinya proses involusi uterus.

d.      Meningkatkan produksi ASI.

e.       Meningkatkan rasa nyaman pada ibu menyusui.

f.       Meningkatkan hubungan psikologis antar ibu dan keluarga.

 

2.1.3    Langkah – Langkah Pijat Oksitosin

Menurut (Suherni dkk, 2010 dalam Nahdiah, 2015)

Cara melaksanakan pijat oksitosin, yaitu :

1.      Meminta bantuan orang lain untuk memijat punggung ibu.

2.      Membantu ibu membuka pakaian bagian atas.

3.      Ibu duduk dengan santai dan nyaman, melipat kedua lengan diatas sebuah meja didepannya, kemudian meletakkan kepala diatas lengan tersebut. Sehingga kedua payudara menggantung.

4.      Penolong menggenggamkan tangan/mengepalkan jari-jari tangan kecuali ibu jari, lalu memijat punggung ibu sejajar tulang belakang membentuk lingkaran kecil dengan kedua ibu jari.

5.      Pijatan dilakukan dari leher di kedua sisitulang belakang kanan dan kiri bersamaan sampai ke arah tulang belikat,selama 2-3 menit.

 

2.1.4    Tanda-Tanda Refleks Oksitosin Aktif

Tanda refleks oksitosin aktif yaitu:

1.      Adanya sensasi sakit seperti diperas atau menggelenyar didalam payudara sesaat sebelum atau selama menyusui bayinya.

2.      ASI mengalir dari payudaranya saat dia memikirkan bayinya atau mendengar bayinya menangis.

3.      ASI menetes dari payudaranya yang lain, ketika bayinya menyusu.

4.      ASI mengalir dari payudaranya dalam semburan halus jika bayi melepaskan payudara saat menyusu.

5.      Adanya nyeri yang berasal dari kontraksi rahim, kadang diiring dengan keluarna darah lochea selama menyusui di hari-hari pertama.

6.      Isapan ang lambat dan tegukan oleh bayi, menunjukan ASI mengalir dan ditelan oleh bayi.

7.      Ibu merasa haus.

2.2     MASA NIFAS

2.2.1    Definisi Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seeperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari.

2.2.2        Tahapan Masa Nifas

a.       Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.

b.      Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

c.       Remote puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna baik selama hamil atau sempurna berminggu-minggu, berbulan-bulan atau tahunan.


2.2.3        Perubahan Fisik Ibu Nifas Pada Payudara

Terkait proses laktasi, perubahan fisik pada masa nifas yang mempengaruhi laktasi adalah perubahan fisik pada payudara. Payudara atau mammae adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, diatas otot dada. Secara makroskopis, struktur payudara terdiri dari korpus (badan),areola dan papilla atau puting. Fungsi payudara adalah memproduksi susu (air susu ibu) sebagai nutrisi bagi bayi. Sejak kehamilan trimester pertama kelenjar mammae sudah dipersiapkan untuk menghadapi masa laktasi. Perubahan yang terjadi pada kelenjar mamae selama kehamilan adalah :

a.       Proliferasi jaringan atau pembesaran payudara. Terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang meningkat selama hamil, merangsang duktus dan alveoli kelenjar mammae untuk persiapan produksi ASI.

b.      Terdapat cairan yang berwarna kuning (kolostrum) pada duktus laktiferus. Cairan ini kadang-kadang dapat dikeluarkan atau keluar sendiri melalui puting susu saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga.

c.       Terdapat hipervaskularisasi pada bagian permukaan maupun bagian dalam kelenjar mammae. Setelah proses persalinan selesai, pengaruh hormon estrogen dan progesteron terhadap hipofisis mulai menghilang. Hipofisis mulai mensekresi hormon kembali yang salah satu diantaranya adalah lactogenic hormone atau hormon prolaktin. Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada hari-hari pertama ASI mengandung banyak kolostrum, yaitu cairan berwarna kuning dan sedikit lebih kental dari ASI yang disekresi setelah hari ketiga postpartum (Maritalia, 2012dalam Nahdiah, 2015). Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi berubah posisi dari hari ke hari. Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan (tampak seperti susu skim) dapat dikeluarkan dari puting susu (Bobak et al., 2005 dalam Nahdiah,2015).


 

BAB III

PENUTUP

 

3.1       Kesimpulan

Pijat oksitosin adalah pemijatan pada kedua sisi tulang belakang (vertebrae) membentuk gerakan melingkar dari leher ke arah tulang belikat dan merupakan usaha untuk merangsang hormon oksitosin yang berfungsi untuk merangsang kontraksi uterus dan sekresi ASI.

Adanya pengaruh pemijatan oksitosin terhadap produksi ASI.

3.2       Saran

Sebaiknya dapat menerapkan pijat oksitosin di rumah dan memberikan informasi kepada masyarakat lainnya sehingga menambah pengetahuan masyarakat tentang pijat oksitosin.


 

Daftar Pustaka

 

Sutanto, Andina Vita. 2018. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta : PT.Pustaka Baru

http://digilib.unisayogya.ac.id/68/1/NASKAH%20PUBLIKASI%20LITA.pdf

http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/514/3/BAB%20II.pdf

 

 

 

Kamis, 15 Oktober 2020

STAPHYLOCOCCUS AUREUS

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Kesadaran masyarakat mengenai kebersihan makanan merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena makanan atau minuman yang mengandung bahan tercemar bila dikonsumsi akan menyebabkan penyakit bawaan makanan atau foodborne illness, yaitu penyakit yang ditularkan melalui makanan. Penyakit bawaan makanan oleh bakteri umumnya akan menimbulkan gejala diare (Hastuti, 2004).

Penyakit bawaan makanan oleh bakteri dapat berupa intoksifikasi atau infeksi. Intoksifikasi melalui makanan disebabkan oleh adanya toksin bakteri yang terbentuk didalam makanan pada saat bakteri bermultiplikasi, sedangkan infeksi melalui makanan disebabkan oleh masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi dan tubuh memberikan reaksi terhadap bakteri tersebut. Kedua hal ini akan menyebabkan penyakit pada saluran cerna (Moehyi, 2000).

Makanan yang aman adalah makanan yang hygiene yaitu terhindar dari cemaran yang berasal dari faktor-faktor lingkungan seperti bangunan tempat pengolahan makanan, alat yang dipakai, hygiene peroranganpenjamah makanan, dan air yang digunakan. Ada keterkaitan antara air, sanitasi, peralatan, lalat, hewan lain, hygiene perorangan dengan makanan yang mengakibatkan penularan penyakit (Sulistiyani, 2002).

Penyakit dapat ditularkan dari makanan ke manusia melalui tangan yang tidak bersih, kotoran yang menempel di badan maupun pakaian, dan percikan ludah. Penjamah makanan atau orang yang menangani makanan dengan personal hygiene yang rendah dan kebiasaan sanitasi yang tidak baik, lebih sering mengkontaminasi makanan dengan organisme enterik. Selama ini, kasus keracunan makanan sering terjadi adalah akibat seseorang menelan makanan yang telah dicemari racun yang dikeluarkan oleh bakteri Staphylococcus (Hartono, 2001).

   Makanan siap saji (nasi bungkus) yang di jual di warung-warung non permanen (tenda maupun gerobak) merupakan golongan makanan yang berisiko tinggi terkontaminasi bakteri karena disajikan dalam keadaan tidak panas, sehingga sangat memungkinkan terkontaminasi mikroba. Sumber Staphylococcus aureus adalah carrier atau orang pembawa Staphylococcus aureus  dalam tubuhnya yang biasanya menderita luka atau lesi. Staphylococcus  mengkontaminasi makanan dengan dengan cara kontak langsung, misalnya kontak langsung melalui tangan atau kulit dan pakaian atau melalui sapu tangan.

Keracunan Staphylococcus  merupakan gejala intoksikasi yang paling banyak dilaporkan di Amerika Serikat, dimana setiap tahunnya meliputi 20% sampai 50% dari seluruh keracunan yang disebabkan oleh makanan. Gejala keracunan ini disebabkan oleh tertelannya suatu toksin yang disebut enterotoksin yang mungkin terdapat di dalam makanan dan di produksi oleh spesies dan strain tertentu dari bakteri Staphylococcus. Toksin ini disebut enterotoksin karena dapat menyebabkan gastroenteritis atau infllamasi pada saluran usus.    

Hasil penelitian Siti Thomas dan Elly Karlina (2009), dari 22 penjual makanan siap saji (nasi bungkus) di Telogosari  Kulon, Pedurungan dan Semarang sebanyak 14(63,6%) sampel tidak  terkontaminasi Staphylococcus aureus dan 8 (36,4%) terkontaminasi Staphylococcus aureus.  Menurut Azwar (2000), dari survey yang perna dilakukan menunjukkan bahwa 43-97% pegawai yang bekerja pada berbagai industri pengolahan makanan merupakan pembawa bakteri Staphylococcus, Coliform dan Enterococci.

   Dari latar belakang diatas penulis tertarik melakukaan penelitian tentang “Identifikasi Staphylococcus aureus Pada Makanan Siap Saji (nasi bungkus)  Yang Dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru”.

 

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah apakah terdapat Staphylococcus aureus pada makanan siap Saji (nasi bungkus)  yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru ?

 

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui adanya cemaran  Staphylococcus aureus pada makanan siap saji (nasi bungkus)  yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.    Untuk mengetahui ada tidaknya  Staphylococcus aureus pada makanan siap saji (nasi bungkus)  yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru.

2.    Untuk mengetahui persentasi kontaminasi Staphylococcus aureus pada makanan siap saji (nasi bungkus) yang dijual di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru.

 

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahaya Staphylococcus aureus  pada nasi bungkus.

 

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti selanjutnya di Program DIII Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru khususnya tentang Identifikasi Staphylococcus aureus dan sebagai bahan bacaan di Perpustakaan Universitas Abdurrab.

 

1.4.3 Bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dalam mengolah makanan khususnya bagi pedagang makanan siap saji (nasi bungkus).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1    Staphylococcus aureus

    2.1.1 Klasifikasi Staphylococcus aureus

Dalam klasifikasi, Staphylococcus aureus dimasukkan ke dalam filum Protophyta, kelas Shizomycetes, ordo Eubacteriales, famili Micrococcaceae, genus Staphylococcus dan spesies S. aureus (Entjang, 2001).

 

   2.1.2 Morfologi  dan Sifat-sifat Umum

Staphylococcus aureus adalah bakteri yang tidak bergerak, tidak berspora, diameter 0,8-10 mikron dan gram positif bulat. Pada sediaan langsung yang diambil dari medium cair terlihat cocus tunggal, bergerombol dan seperti rantai pendek. Sediaan yang dibuat dari pembenihan padat biasanya terlihat sebagai gerombolan yang tidak teratur seperti buah anggur (Jawetz et al, 2005). Hasil pewarnaan Gram Staphylococcus aureus dapat dilihat pada Gambar 2.1

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 

Hasil Pewarnaan Gram Staphylococcus aureus

                              


                                         Sumber: http://tymask.wordpress.com

 

2.1.3        Pertumbuhan dan Perbenihan

Jenis-jenis Staphylococcus aureus di laboratorium tumbuh dengan baik pada media agar darah pada suhu 370C. Batas suhu untuk pertumbuhannya ialah 150C-400C, sedangkan suhu pertumbuhan optimum ialah 350C. Pertumbuhan terbaik dan khas ialah pada suasana aerob dan anaerob tetapi juga bersifat anaerob fakultatif dengan pH optimum pertumbuhannya 7,0-7,5. Pada Agar Darah umum koloni lebih besar dan dikelilingi zona hemolisis. Koloni masih sangat  muda tidak berwarna, tetapi dalam pertumbuhannya terbentuk pigmen kuning keemasan yang larut dalam alkohol, eter dan klorofom (Warsa, 2000).

Staphylococcus aureus umumnya meragikan manitol dan dapat tumbuh pada perbenihan dengan konsentrasi garam yang tinggi 7,5%-10%. Berdasarkan sifat ini maka bakteri ini dapat di isolasi dari tinja dengan menggunakan perbenihan dengan konsentrasi garam yang tinggi (Bonang dan Koeswardono, 2002).

2.1.4        Patologi Staphylococcus aureus

 Staphylococcus aureus menyebabkan penyakit pada hampir semua jaringan tubuh, terutama berupa abses yang bagian tengahnya mengalami nekrosis berisi leukosit polimorfonuklear, nanah dan bakteri yang dikelilingi oleh dinding fibroblastik avaskuler yang terdiri dari fibrin. Infeksinya digolongkan sebagai lokal atau menyebar. Staphylococcus aureus dapat menyebabkan folikulitis  (infeksi folikel rambut), furunkel dan karbunkel, pionika (infeksi pada kuku) dan keracunan makanan karena menghasilkan enterotoksin (Hart, 2001).

      2.1.5 Pencegahan dan Pengobatan

Penyebaran langsung dengan kontak fisik dapat dicegah dengan kebersihan kulit, mencegah pencemaran bakteri pada luka-luka dan lecet. Pengobatan untuk kasus ringan di luar Rumah Sakit dapat diberikan Penisilin G. Pada infeksi yang berat atau jika diduga tahan (resisten) terhadap penisilin dapat diberikan metisilin atau derivat penisilin lain yang resisten penisilinase (Warsa, 2000).          

 

2.2 Makanan

2.2.1 Penjamah Makanan

Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan sampai dengan penyajian. Menurut Purnawijayanti (2001) tenaga penjamah makanan adalah setiap orang yang secara langsung menangani makanan baik yang dikemas maupun tidak, menangani peralatan makanan atau yang melakukan kontak langsung dengan permukaan makanan  (Irnawati, 2004).

Syarat utama pengolah makanan adalah memiliki kesehatan yang baik. Untuk itu disarankan pekerja melakukan tes kesehatan, terutama tes darah dan pemotretan rontgen pada dada untuk melihat kesehatan paru-paru dan saluran pernapasannya. Tes kesehatan tersebut sebaiknya diulang setiap 6 bulan sekali, terutama bagi pengolah makanan di dapur (Moehyi, 2000).

2.2.2 Sanitasi Makanan

Secara luas sanitasi adalah penerapan dari prinsip-prinsip yang akan membantu dalam memperbaiki, mempertahankan atau mengembalikan kesehatan yang baik pada manusia. Untuk mempraktekkan ilmu ini, maka seseorang harus mengubah segala sesuatu dalam lingkungan yang dapat secara langsung atau tidak langsung membahayakan terhadap kehidupan manusia (Jenie, 2001).

Menurut WHO, sanitasi makanan dapat diartikan pula sebagai upaya penghilangan semua faktor luar makanan yang menyebabkan kontaminasi dari bahan makanan sampai dengan makanan siap saji. Tujuan dari sanitasi makanan itu sendiri adalah mencegah kontaminasi bahan makanan dan makanan siap saji sehingga aman dikonsumsi oleh manusia (Purnawijayanti, 2001).

 

 

 

 

2.3 Sterilisasi

Menurut Hasdianah (2012), sterilisasi adalah usaha yang dilakukan untuk membebaskan alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba. Penyelididkan suatu spesies mikroba selalu didasarkan atas penyelidikan biakan murni spesies. Oleh karena itu, untuk dapat memisahkan kegiatan mikroba satu dengan mikroba lain atau untuk memelihara suatu biakan murni perlu dipergunakan alat-alat dan medium yang steril.

Sterilisasi alat atau medium dapat dikerjakan secara mekanik (misalnya secara penyaringan), secara kimia (misalnya dengan desinfektan), atau secara fisik (misalnya dengan pemanasan, sinar ultra violet dan sinar X). Cara sterilisasi yang dipakai tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan  (ketahanan terhadap panas, bentuk bahan yang disterilkan: padat, cair atau gas).

 Sterilisasi secara fisik  terdiri atas pemanasan basah dan pemanasan kering.  Sterilisasi dengan pemanasan basah menggunakan autoclave yang dilengkapi dengan katup pengaman dengan suhu sterilisasi 1210C selama 15 menit.  Steriilisasi dengan pemanasan kering terdiri dari pemanasan dengan menggunakan  Oven dengan suhu 170-180 0C selama 2 jam dan pembakaran dengan nyala api sampai pijar (Entjang, 2000).

Sterilisasi kimia selain  menggunakan desinfektan  maka dapat juga digunakan bahan antiseptik. Antiseptik adalah suatu  bahan yang tergantung dari sifat dan cara pemakaiannya ditujukan untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh bakteri pada jaringan hidup sehingga dapat mencegah sepsis. Beberapa jenis antiseptik  antara lain  preparat jodium, alkohol 70% dan lain-lain (Depkes, 2002).  

 

2.4 Pengujian Secara Invitro

Pengujian secara In vitro adalah pengujian yang dilakukan diluar tubuh, yang berkenaan dengan percobaan biologis yang dilakukan di dalam tabung reaksi atau alat-alat laboratorium lainnya, biasanya dilakukan dengan tujuan untuk percobaan atau penelitian. Penelitian secara In vitro ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari variabel eksperimental pada subjek  dari bagian pokok suatu organisme. Hal ini cenderung untuk memfokuskan pada organ , jaringan, sel,  komponen sel, protein , atau biomolekul (Irianto, 2006).

 

 
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1    Desain Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Eksperimental Laboratory secara in vitro.

 

3.2    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.

 

 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah semua penjual makanan siap saji (nasi bungkus)  di Jalan Sempurna Gang Anggrek  Pekanbaru.  Sampel dalam penelitian ini adalah makanan siap saji (nasi bungkus)  yang di beli dari 3 penjual  makanan siap saji (nasi bungkus)  di Jalan Sampoerna Gang Anggrek  Pekanbaru. Sampel makanan siap saji (nasi bungkus) diambil masing-masing tiga nasi bungkus dengan lauk yang berbeda.

 

3.4    Teknik Pengambilan Sampel

Teknik  pengambilan sampel secara sensus artinya teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel. (Riduwan, 2010).

3.5       Bahan,  Medium dan Alat

Bahan-bahan yang dipakai adalah makanan siap saji (nasi bungkus), larutan NaCl 0,9%, Aquades, darah, H2O2 3%, Alkohol 96%, Alkohol 70%, disk novobiosin, Gentien Violet, Lugol, Fuchsin. Medium yang dipakai dalam penelitian ini adalah Agar Darah, Manitol Salt Agar (MSA), Brain Heart Infusion Broth (BHI), D-Nase Agar, Nutrien Agar, Muller Hinton Agar.

Alat yang digunakan adalah labu erlenmeyer, labu takar,gelas ukur, pipet takar, pipet tetes, gelas kimia, lumpang, timbangan analitik, pemanas, cawan Petri, tabung reaksi, rak tabung reaksi, batang pengaduk, autoclave, inkubator, oven, jarum ose, kaca objek, mikroskop, lampu bunsen, kertas pH, lemari es dan  kapas.

 

3.6    Prosedur Kerja

3.6.1 Persiapan Alat

Alat-alat gelas yang digunakan dalam penelitian ini disterilkan terlebih dahulu dalam oven pada suhu 1600C selama 1 jam atau autoclave pada suhu 1210C selama 15-20 menit pada tekanan 15 atm dan jarum ose dipijarkan pada lampu bunsen.

 

3.6.2 Penyediaan Medium

Pada dasarnya medium pengkulturan mikroba disediakan dengan cara melarutkan serbuk medium untuk Brain Heart Infussion Broth sebanyak 16 gram dan Manitol Salt Agar sebanyak 105 gram, Nutrien Agar sebanyak 23 gram, D-Nae agar sebanyak 28 gram, Muller hinton agar sebanyak 39 gram,  Agar Darah sebanyak 40 gram  (seperti tertera pada kemasan di dalam satu liter  aquades) dan diaduk serta dipanaskan.Untuk medium padat  setelah  agar larut semua, pH medium diukur dengan kertas pH. Kemudian medium tersebut disterilkan dengan autoclave pada suhu 1210C dengan tekanan 15 atm selama 15-20 menit. Seterusnya medium dituang ke cawan Petri steril, dan untuk medium Agar Darah ditambahkan darah 5-8%. Untuk  medium cair setelah semua bahan medium larut dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan disterilkan dengan autoclave.

 

3.6.3 Desinfektan Tempat Kerja dan Aseptis Tangan   

Bersihkan tempat kerja dan tangan dengan menggunakan larutan alkohol 70% sebagai desinfektan.

 

3.6 4 Isolasi Bakteri

Sampel makanan siap saji (nasi bungkus) diambil 10 gram ( nasi dan lauk yang sudah tercampur rata) ke dalam 100 ml larutan NaCl 0,9% haluskan dalam lumpang steril. Masukan 1 ml sampel yang telah diencerkan  dimasukkan ke dalam medium enrichment BHI Broth lalu di inkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam. Kemudian dari medium BHI Broth yang tumbuh dengan terjadinya kekeruhan dilakukan pewarnaan Gram untuk melihat bentuk sel bakteri. Jika didapat bakteri coccus Gram positif ditanam secara zig-zag ke medium Agar Darah. Lalu diinkubasikan pada suhu  370C selama 24 jam.

Setelah masa inkubasi akan terlihat koloni bakteri pada permukaan medium dengan mengamati bentuk, warna, sifat,ukuran dan permukaan koloni. Lakukan kembali pewarnaan Gram dari koloni yang terdapat pada medium dan tes katalase. Subkultur ke medium Agar Darah steril  jika tersangka Staphylococcus  untuk mendapatkan biakan murni. Kemudian ditanam ke dalam medium Manitol Salt Agar inkubasikan pada suhu  370C selama 24 jam Setiap reaksi yang timbul pada medium tersebut dicatat dengan teliti (Sembiring, 2000).

 

3.6.5 Pewarnaan Gram

Kaca objek bersih dari lemak ditetesi 1-2 tetes larutan NaCl 0,9% steril satu ose bakteri diletakkan di atas tetesan larutan NaCl 0,9%, ratakan dan fiksasi. Tetesi larutan gentien violet 1-2 tetes di atas kaca objek biarkan selama 1 menit, buang larutan gentien violet cuci  tetesi lugol selama  30 detik  cuci dengan air mengalir kemudian lunturkan dengan alkohol 96% sampai zat warna gentian violet tidak mau luntur lagi cuci dengan air mengalir dan tetesi fuchsin selam 1 menit cuci kembali dengan air mengalir dan keringkan. Kaca objek ditetesi dengan minyak imersi selanjutnya objek diamati di bawah mikroskop  (Merc, 2007).

 

3.6.6 Subkultur

Untuk mendapatkan biakan murni dari bakteri perlu dilakukan subkultur pada medium baru dengan cara menanam ulang koloni yang tumbuh pada medium Agar Darah .

 

3.7    Pengamatan

Semua pengamatan dilakukan berdasarkan panduan Bergeys Manual of Determinative Bakteriologi  ( Soemarmo, 2000)

 

3.7.1 Pertumbuhan Pada Medium Cair ( BHI Broth)

Untuk memperbanyak bakteri terlebih dahulu ditanam pada media cair jika terjadi pertumbuhan bakteri akan terlihat kekeruhan pada medium yang sebelumnya terlihat jernih dan jika tidak terjadi pertumbuhan maka medium tetap jernih seperti semula.

 

3.7.2 Hasil Pewarnaan Gram

Hasil pewarnaan Gram, diamati di bawah mikroskop. Pengamatan dilakukan terhadap zat warna. Jika bakteri berwarna ungu berarti termasuk bakteri Gram positif dan jika berwarna merah jambu termasuk bakteri Gram negatif.

 

3.7.3 Pertumbuhan Koloni Pada Medium Selektif (Agar Darah dan MSA)

Koloni Staphylococcus aureus  bentuk bulat, ukuran sedang, berwarna kuning emas dan mampu menghemolisa eritrosit terbentuk gelanggang jernih di sekeliling koloni. Pada medium Manitol Salt Agar berwarna kuning karena mampu meragikan manitol dan merubah pH menjadi asam.

 

3.7.4 Uji Katalase

Satu koloni dari medium Agar Darah ditetesi dengan larutan H2O2 3%, apabila ada gelembung udara katalase positif dan apabila tidak ada gelembung udara katalase negatif. Uji katalase digunakan untuk membedakan genus Staphylococcus dari genus Streptococcus.

 

 

15

 
3.7.5 D-Nase

Satu koloni dari medium Agar Darah di kultur pada medium D-Nase Agar setelah ditetesi dengan HCL 10 % jika terjadi gelanggang jernih dilaporkan tes D-Nase positif, jika tidak terjadi gelanggang jernih (sensitif).   Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus bersifat  yang lain.

 

 

 
3.7.6  Nutrien Agar

Satu koloni dari medium Agar Darah di kultur pada medium Nutrien Agar secara zig-zag setelah masa inkubasi dengan melihat warna pigmen yang dihasilkan  Staphylococcus aureus berwarna kuning emas, Staphylococcus albus berwarna putih susu dan Staphylococcus citreus berwarna kuning jeruk.

 

15

 
3.7.7  Novobiosin

Satu koloni dari medium Agar Darah di buat suspensi keruh yang telah disamakan dengan larutan Mc. Farland ditanam sampai merata dipermukaan medium Muller Hinton agar  biarkan selama 5 menit. Letakkan disk novobiosin tekan sedikit dan Inkubasi. Lihat apakah terjadi zona jernih   (sensitif). Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus bersifat sensitif terhadap novobiosin sedangkan erwarna putih susu dan Staphylococcus citreus bersifat resisten

3.8  Jenis dan Pengumpulan Data

                       Jenis dan pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui data primer, yaitu peneliti langsung melakukan penelitian dengan melakukan Eksperimen langsung terhadap sampel makanan siap saji (nasi bungkus).

 

3.9  Pengolahan dan Analisa Data

                  Data yang diperoleh dari penelitan ini di nyatakan secara Deskriptif dalam bentuk tabel.

 

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S.2000. Pedoman Bidang Studi Sanitasi Makanan dan Minuman Pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi. Pusat Tenaga Kesehatan. Depkes RI. Jakarta.

 

Bonang G dan E,S. Koeswardono. 2002. Mikrobiologi Kedokteran Untuk  Klinik. Gramedia. Jakarta

 

Depkes. 2000. Pedoman sanitasi Rumah sakit Di Indonesia.Direktorat Jendral 

                      PPM, PL dan Direktorat Jendral pelayanan Medik. Jakarta.

 

Entjang, I. 2000.  Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang sederajat. PT. Citra Aditya. Bandung  

 

Entjang, I. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan. Citra Aditya Bakti. Bandung

 

Hart. 2001. Atlas berwarna Mikrobiologi Kedokteran. Hipokrates. Jakarta

Hastuti, WP. 2004. Faktor Produksi Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Kontaminasi Bakteri Pada Makanan.

 

Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Yrama widya.  Bandung

 

Irnawati, M. 2004. Study Tentang Pengetahuan Dan Kebersihan Penjamah Makanan Pada Tempat Umum Pariwisata Di DKI Jakarta. (online). (https://www.google.co.id/search?q=penjamah+makanan+pdf&ie=utf-8&oe=u 8&rls=org.mozill a&channel=nts&gws_rd=cr&ei=dykpVI_HMs7JuATBx4GgDg diakses 01 Oktober 2014).

 

Jawetz, E., Melnick, G.E., 2000, Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Jenie, et all .2001. Sanitasi Dalam Industri Pangan. IPB

Merck. 2007. Microscopy Gram-color. Merck. Germay

Moehyi, S., 2000. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga. Jakarta: Bharata

 

Purnawijayanti, H.  2001. Sanitasi, Higiene dan Keselamatan Kerja dalam pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius

 

Riduwan. 2010. Metode dan Penyusunan Tesis. Alfabeta. Bandung

 

Sembiring,T.UJ.  2000. Teori dan Penuntun Bakteriologi Untuk Akademi Analis Kesehatan. Medan.

 

Thomas, S dan Karlina, E. 2009. Faktor Perilaku yang Berhubungan Dengan Kontaminan Bakteri Staphylococus aureus Pada Makanan Siap Saji. 

 

Soemarmo. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bacteri Klinik. Akademi Analis 

                             Kesehatan.Yogyakarta.

 

Sulistiyani. 2002. Manajemen Penyehatan Makanan dan Minuman. Lembaga Penelitian UNDIP. Semarang

 

Warsa,UC. 2000.  Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. AGC. Jakarta

Pustaka yang belum : hasdiana