BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Kamis, 15 Oktober 2020

SALMONELLA SP

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Makanan yang sehat dan aman merupakan salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kualitas makanan baik secara bakteriologis, kimiawi maupun fisik, harus selalu dipertahankan agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit/gangguan kesehatan akibat makanan. Penyakit bawaan makanan oleh bakteri umumnya akan menimbulkan gejala diare (Hastuti, 2004).

Begitu pentingnya peranan makanan untuk kelangsungan pembangunan, sehingga Pemerintah sangat memperhatikan masalah penyediaan pangan melalui berbagai sektor. Hal ini disadari bahwa makanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan seperti diare, cholera, disentri, thypus dan keracunan  makanan, tetapi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan intelegensia masyarakat sehingga dapat mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia yang berdampak kepada pembangunan (Dewanto, 2000).

Makanan jajanan (street food) merupakan salah satu hasil produk dari tempat pengolahan makanan, sesuai dengan namanya merupakan makanan jajanan yang biasanya berada dekat atau bahkan berada di kaki lima, tempat bekerja, sekolah atau tempat keramaian. Menurut Kepmenkes RI No. 942/Menkes/SK/VII/2003 makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran dan hotel (Ariyani, 2006).

Jajanan didefenisikan oleh Food and Agricultur Organization (FAO) sebagai makanan dan minuman siap santap yang dibuat dan atau dijual di jalanan dan tempat umum lainnya. Urbanisasi yang semakin meningkat adalah salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya pedagang manana dan minuman di pinggir-pinggir jalan. Jajanan tersebut mejadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan makanan di lokasi umum yang mudah dijangkau dengan harga yang murah.  

Penyakit bawaan makanan oleh bakteri dapat berupa intoksifikasi atau infeksi. Intoksifikasi melalui makanan disebabkan oleh adanya toksin bakteri yang terbentuk didalam makanan pada saat bakteri bermultiplikasi, sedangkan infeksi melalui makanan disebabkan oleh masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui makanan yang terkontaminasi dan tubuh memberikan reaksi terhadap bakteri tersebut. Bakteri yang paling umum karena makanan tercemar yang menyebabkan penyakit bawaan adalah Escherichia coli dan Salmonella sp.  Kedua bakteri  ini akan menyebabkan penyakit pada saluran cerna  (Moehyi, 2000).

Salmonella ssp merupakan bakteri Gram negatif, dapat menyebabkan penyakit demam typoid yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi dengan tanda-tanda khas berupa perjalanan yang cepat berlangsung lebih kurang 3 minggu disertai demam, toksemia, gejala-gejala perut, pembesaran kelenjar limfa dan erupsi kulit. Salmonella sp  bisa terdapat pada bahan pangan mentah, seperti telur dan daging ayam mentah serta akan bereproduksi bila proses pemanasan  tidak sempurna.

Cara penularan yang utama adalah dengan menelan bakteri dalam pangan yang berasal dari pangan hewani yang terinfeksi. Pangan juga dapat terkontaminasi oleh penjamah yang terinfeksi, hewan peliharaan dan hama, atau melalui kontaminasi silang akibat higiene yang buruk. Penularan dari satu orang ke orang lain juga dapat terjadi selama infeksi (Jawetz, 2001).

Penelitian Sinaga (2010), dengan menguji kontaminasi Salmonella spp pada jajanan di sekitar sekolah-sekolah di Pekanbaru  hasil ditemukan dari 14 sampel dibeli 12 sampel terkontaminasi mikroba dan 2 sampel (martabak dan bakso) tidak terkontaminasi. Diantara 12 sampel yang terkontaminasi tersebut ditemukan satu sampel terkontaminasi Salmonella sp  yaitu teh es. Pada 11 sampel yang lainnya terkontaminasi dengan Citrobacter, Pseudomonas, Enterobacter, Escherichia coli dan Proteus.

Dari latar belakang diatas penulis tertarik melakukaan penelitian tentang “Identifikasi Salmonella sp pada Jajanan Yang Dijual Di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru”.

 

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah apakah Jajanan Yang Dijual Di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru tercemar oleh  Salmonella sp.

 

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Salmonella sp pada Jajanan Yang Dijual Di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru

 

1.3.2 Tujuan Khusus

1.    Untuk mengidentifikasi Salmonella sp pada Jajanan Yang Dijual Di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru

2.    Untuk mengetahui kualitas Jajanan Yang Dijual Di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru

 

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahaya bakteri Salmonella  sp  pada jajanan makanan.

 

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti selanjutnya di Program DIII Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru khususnya tentang Identifikasi Salmonella sp dan sebagai bahan bacaan di Perpustakaan Universitas Abdurrab.

 

 

1.4.3 Bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya bakteri Salmonella sp dan pentingnya menjaga kebersihan dalam mengolah makanan.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Salmonella sp

2.1.1 Klasifikasi Salmonella sp

Menurut Jawetz (2000), klasifikasi  Salmonella sp  sebagai berikut :

Kingdom         : Bacteria

Phylum            : Proteobacteria

Class                : Gammaproteobacteria

Ordo                : Enterobacteriales

Family             : Enterobacteriaceae

Genus              : Salmonella

Spesies            :Salmonella typhi

Salmonella paratyphi A, B, C, D

 

2.1.2 Morfologi dan Sifat Umum Salmonella sp.

 

 Salomonella Sp. merupakan bakteri berbentuk berbentuk batang, garam negatif, fakultatif anaerob dan aerob, tidak berspora bergerak dengan flagel peritrik, mudah tumbuh pada perbenihan biasa dan tumbuh baik pada perbenihan yang mengandung empedu. Tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa, membentuk asam dan kadang gas dari glukosa dan manosa, biasanya memporoduksi hidrogen sulfide atau H2S (Entjang, 2000).

Sebagian besar bersifat pathogen pada binatang ( tikus, unggas, kucing, anjing, ternak) dan merupakan sumber infeksi terhadap manusia. Di alam bebas Salmonella sp tahan hidup lama didalam air, tanah atau pada bahan makanan. Dalam feces di luar tubuh manusia tahan hidup 1-2 bulan, dalam air susu dapat berkembang biak dan hidup lebih lama sehingga sering merupakan batu loncatan untuk penularan penyakitnya (Jawetz, 2001).

Gambar 2.1

Salmonella sp


 

Sumber : http://3.bp.blogspot.com/_iY2.jpg (diakses 15 Oktober 2014)

 

 

 

2.1.3 Sifat Pertumbuhan Salmonella sp

Samonella sp mudah tumbuh pada perbenihan biasa dan tumbuh baik pada perbenihan yang mengandung empedu. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 370C dan pH optimum 6-8. Salmonella sp membentuk asam dan kadangkala gas dari fermentasi glukosa dan manosa. Salmonella sp tidak menghidrolisis urea dan membentuk H2S. Kuman ini bertahan dari pendinginan dalam waktu yang lama. Salmonella sp peka terhadap chlorampenicol, tetapi resistan pada beberapa bahan kimia (contoh hijau brilliant, sodium tetrathionat, sodium deoxycholat) yang menghibisi beberapa bakteri usus (Jawetz, 2005).

 

2.1.4 Patogenitas Salmonella sp

Menurut Entjang (2000), penularan Salmonella sp hampir selalu disebabkan oleh  mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman tersebut. Infeksi oleh Salmonella sp  disebut dengan infeksi gastroenteritris. Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh Salmonella sp adalah :

a. Demam tifoid

Demam tifoid adalah penyakit menular yang akut dan disebabkan oleh Salmonella tyhpi. Masa inkubasi umumnya 10–14 hari, gejala ini mencakup demam,perut kembung,sukar buang air besar,pusing,lesu,tidak nafsu makan,mual dan muntah. Diare biasanya terjadi selama infeksi minggu kedua dan mungkin terdapat darah dalam tinja. Bakteri ini dapat dijumpai dalam tinja baik selama menderita sakit maupun selama periode penyembuhan

b. Demam paratifoid

Demam paratifoid adalah penyakit enterik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella paratyphi. Ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar, infeksi ditandai dengan demam berkelanjutan, sakit kepala, nyeri perut, denyut jantung lambat, dan hepatosplenomegali (perbesaran hati atau limpa)

c. Gastroenteritris

Merupakan gejala paling sering dari infeksi Salmonella. 4–48 jam setelah makan makanan yang tercemar Salmonella timbul rasa sakit perut yang mendadak dengan diare encer/berair, kadang dengan lendir atau darah, sakit kepala, mual, muntah, demam dengan suhu 38–39oC sering terjadi. Gejala ini ada hubungannya dengan endotoksin tahan panas yang dihasilkan oleh Salmonella. Gejala–gejala tersebut biasanya hilang dalam 2–5 hari

 

2.2 Makanan Jajanan

2.2.1 Pengertian Makanan Jajanan

Makanan jajanan menurut didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 942/MENKES/SK/VII/2003, makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan atau restoran, dan hotel (Ariyani, 2006).

2.2.2 Makanan Jajanan Yang Aman

Menurut Ariyani (2006), masalah makanan jajanan di Indonesia umumnya terjadi karena pengolahan dan penyajiannya yang tidak higienis. Biasanya diproduksi dan dijual dalam kondisi yang kurang baik sehingga sering terkontaminasi oleh mikroorganisme dan hal ini dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Makanan sehat selain mengandung zat gizi yang cukup dan seimbang juga harus aman, yaitu bebas dari bakteri, virus, parasit, serta bebas dari pencemaran zat kimia. Makanan dikatakan aman apabila kecil kemungkinan atau sama sekali tidak mungkin menjadi sumber penyakit atau yang dikenal sebagai penyakit yang bersumber dari makanan (foodborne disease). Oleh sebab itu, makanan harus dipersiapkan, diolah, disimpan, diangkut dan disajikan dengan serba bersih dan telah dimasak dengan benar (Dewanto, 2000).

 

2.2.3 Dampak Negatif Jajana Yang Tidak Sehat

Menurut Irianto (2007) jajan yang terlalu sering dan menjadi kebiasaan akan berakibat negatif, antara lain:

1. Nafsu makan menurun.

2. Makanan yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit.

3. Salah satu penyebab terjadinya obesitas pada anak.

4. Kurang gizi sebab kandungan gizi pada jajanan belum tentu terjamin.

5. Pemborosan.

Keamanan makanan jajanan juga masih diragukan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella paratyphi A di 25%-50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Sejumlah ahli sudah meneliti bahaya beberapa jenis bahan tambahan pangan, termasuk yang digunakan dalam makanan jajanan ringan. Misalnya pewarna Erythrosin, tartazine dan sunset yellow bisa menimbulkan alergi saluran pernafasan, membuat anak jadi hiperaktif dan menimbulkan efek kurang baik pada otak dan perilaku (Ratnawati, 2001).

 

2.3 Sterilisasi

Menurut Hasdianah (2012), sterilisasi adalah usaha yang dilakukan untuk membebaskan alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba. Penyelididkan suatu spesies mikroba selalu didasarkan atas penyelidikan biakan murni spesies. Oleh karena itu, untuk dapat memisahkan kegiatan mikroba satu dengan mikroba lain atau untuk memelihara suatu biakan murni perlu dipergunakan alat-alat dan medium yang steril.

Sterilisasi alat atau medium dapat dikerjakan secara mekanik (misalnya secara penyaringan), secara kimia (misalnya dengan desinfektan), atau secara fisik (misalnya dengan pemanasan, sinar ultra violet dan sinar X). Cara sterilisasi yang dipakai tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan ( ketahanan terhadap panas, bentuk bahan yang disterilkan: padat, cair atau gas).

 Sterilisasi secara fisik  terdiri atas pemanasan basah dan pemanasan kering.  Sterilisasi dengan pemanasan basah menggunakan autoclave yang dilengkapi dengan katup pengaman dengan suhu sterilisasi 1210C selama 15 menit.  Steriilisasi dengan pemanasan kering terdiri dari pemanasan dengan menggunakan  Oven dengan suhu 170-180 0C selama 2 jam dan pembakaran dengan nyala api sampai pijar (Entjang, 2000).

Sterilisasi kimia selain  menggunakan desinfektan  maka dapat juga digunakan bahan antiseptik. Antiseptik adalah suatu  bahan yang tergantung dari sifat dan cara pemakaiannya ditujukan untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh bakteri pada jaringan hidup sehingga dapat mencegah sepsis. Beberapa jenis antiseptik  antara lain  preparat jodium, alkohol 70% dan lain-lain (Depkes, 2002).  

 

2.4 Pengujian Secara Invitro

Pengujian secara In vitro adalah pengujian yang dilakukan diluar tubuh, yang berkenaan dengan percobaan biologis yang dilakukan di dalam tabung reaksi atau alat-alat laboratorium lainnya, biasanya dilakukan dengan tujuan untuk percobaan atau penelitian. Penelitian secara In vitro ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari variabel eksperimental pada subjek  dari bagian pokok suatu organisme. Hal ini cenderung untuk memfokuskan pada organ , jaringan, sel , komponen sel, protein , atau biomolekul (Irianto, 2006).

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat Eksperiment laboratory secara In vitro yaitu melihat apakah jajanan yang dijual di Pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru tercemar oleh Salmonella ssp.

 

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.

 

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah semua jajanan yang dijual di pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru. Sampel dalam penelitian ini adalah jajanan makanan dan minuman yang dijual di pinggir SDN 133 Tangkerang Timur Pekanbaru.

 

3.4 Alat , Bahan dan Medium  Penelitian

3.4.1 Alat-alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah  timbangan analitik, autoclave, Oven, gelas ukur, lumpang steril,  erlenmeyer, lampu spritus, labu ukur, pipet ukur, Bola hisap, pipet tetes, objek glas, ose cincin, mikroskop, inkubator, batang pengaduk, kapas, tabung reaksi, tabung durham, spatula, rak tabung reaksi, cawan petri, kompor gas.

 

3.4.2 Bahan-bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah NaCl 0,9% steril, alkohol 70%, aquadest, indicator brom cresol purple, gentian violet, lugol, fuchin, glukoda, laktosa, maltose, manitol, sakarosa, triple sugar iron agar, sulfur indol motility, urea agar, simon citrat agar, Salmonella Shigella  agar dan Selenith broth.

 

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Sterilisasi Alat

1.    Alat-alat yang telah dicuci bersih kemudian dibersihkan

2.    Bungkus alat tersebut dengan kertas padi

3.    Masukkan ke dalam Oven suhu 1700C dan biarkan selama 1 jam

4.    Setelah waktunya cukup keluar alat dari Oven dan dinginkan

 

3.5.2 Membuat Media

1. Membuat Media Selenith Broth (Enrichment)

a.     Timbang 3,7 gram media  Selenith broth, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 37gr/L)

b.    Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

c.     Kemudian masukkan media tersebut kedalam tabung reaksi sebanyak 3-5 ml dan tutup dengan kapas

d.    Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

e.     Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

f.     Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

g.    Biarkan media tersebut dingin

2. Membuat Salmonella Shigella Agar (Selektif)

a.     Timbang 6,5 gram media SS agar masukkan dalam labu Erlenmeyer sebanyak 500  ml  (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 37,5 gr/L)

b.    Tambahkan dengan 250 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

c.     Tidak boleh disterilisasi di autoclave

d.    Medium dituangkan  ke dalam  cawan petri steril , biarkan hingga beku.

e.     Jika tidak dipakai langsung dapat disimpamn di lemari es selama 1 minggu dan jika langsung digunakan masukan ke dalam inkubator  suhu 370C selama 30 menit (Soemarmo, 2001).

3. Membuat Media Gula-Gula (Reaksi Biokimia)

a.    Timbang setiap media gula-gula sebanyak 1 gram dan masukkan ke dalam Erlenmeyer

b.    Larutkan dengan 100 ml pepton sambil dikocok dan dipanaskan tambahkan  indikator brom cresol purple sebanyak 3 ml

c.     Masukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 5 ml dan tutup pakai kapas

d.    Masukkan media tersebut kedalam Autoclave

e.     Sterilkan selama 15 menit pada suhu 1210C

f.     Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave dan biarkan dingin

4. Membuat Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA)

a.     Timbang 6,5 gram media  triple sugar irone agar merk oxoid, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 65gr/L)

b.    Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

c.     Kemudian masukkan media tersebut kedalam tabung reaksi sebanyak 3-5 ml dan tutup dengan kapas

d.    Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

e.     Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

f.     Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

g.    Biarkan media tersebut beku dalam keadaan miring

5. Membuat media Sulfur Indol Motility (SIM)

a.     Timbang 3,0 gram media  sulfur indol motility merk oxoid, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 30gr/L)

b.    Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

c.     Kemudian masukkan media tersebut kedalam tabung reaksi sebanyak 3-5 ml dan tutup dengan kapas

d.    Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

e.     Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

f.     Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

g.    Biarkan media tersebut beku dalam keadaan miring

6. Membuat Media Simon Citrat Agar

a.     Timbang 2,3 gram media  simon citrat agar merk oxoid, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 23gr/L)

b.    Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

c.     Kemudian masukkan media tersebut kedalam tabung reaksi sebanyak 3-5 ml dan tutup dengan kapas

d.    Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

e.     Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

f.     Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

g.    Biarkan media tersebut beku dalam keadaan miring

7. Membuat Media Urea Agar

f.     Timbang 2,5 gram media urea agar merk oxoid, masukkan dalam labu erlemeyer (pemakaian  sesuai petunjuk kit : 2,4gr/95ml)

g.    Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil dikocok, panaskan hingga larut

h.    Kemudian masukkan media tersebut kedalam tabung reaksi sebanyak 3-5 ml dan tutup dengan kapas

i.      Kemudian masukkan  media tersebut ke dalam autoclave.

j.      Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o C.

k.    Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu keluarkan media dari autoclave.

l.      Biarkan media tersebut beku dalam keadaan miring

 

3.5.3 Desinfeksi Tempat Kerja

a.    Bersihkan meja kerja dari kotoran dan debu.

b.    Kemudian desinfeksi dengan  menggunakan alkohol 70%.

 

3.5.4 Identifikasi Bakteri

1. Pengambilan dan Pengolahan Sampel

       a.  Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis dari tempat pengambilan ke

           laboratorium 

b.    Timbang masing-masing sampel 10 gram (untuk sampel padat)  sedangkan untuk sampel cair langsung dimasukkan 1 ml ke dalam medium enrichmen

c.      Kemudian haluskan dalam 100 ml NaCl 0,9% di dalam lumpang steril.

d.     Masukkan ke dalam labu erlenmeyer steril.

 

 

2. Pra- Pengayaan (Pre enrichmen)

a.     Ambil 1ml  inokulasikan ke dalam  selenith broth

b.    Simpan dalam inkubator selama 1x24 jam pada suhu 37oC

3. Pewarnaan Gram

a.     Buat sediaan dan fiksasi  dari medium Brain Heart Infusion Broth

b.    Tetesi dengan larutan genten violet selama 1 menit

c.     Buang larutan gentian violet, tetesi dengan larutan lugol selama 30 detik

d.    Lunturkan dengan alkohol 96%, cuci dengan aquadest tetesi larutan fuchsin selama 1 menit.

e.     Cuci kembaki dengan aquadest dan keringkan

f.     Periksa di bawah mikroskop lensa objektiif 100X dengan menggunakan imersi oil ( Merck, 2007).

4. Inokulasi Pada Media Selektif

  1. Hasil pewarnaan Gram jika temukan batang Gram negatif berwarna merah jambu  ambil satu ose dari medium pengayaan lalu digoreskan zig-zag ke permukaan medium SS agar.

b.    Simpan dalam inkubator selama 1x24 jam pada suhu 37oC

5. Re aksi Biokimia

a.     Pembacaan koloni pada media  SS agar dengan mengamati warna koloni dengan  ciri khas koloni kecil, sperti tetesan air, tidak berwarna, cembung. (Soemarmo, 2001).

b.    Lakukan penanaman ulang (subkultur) ke medium SS agar untuk mendapatkan biakan murni.

c.      Lakukan uji reaksi biokimia untuk menentukan spesies bakteri dengan cara menginokulasi koloni yang rein dari medium SS agar  ke  dalam medium TSIA (ditusuk sampai dasar kemudian di zig-zag bagian permukaan medium), SIM ( ditusuk samapai dasar medium ), Simon Citrat agar ( ditusuk sampai dasar kemudian di zig-zag bagian permukaan medium) dan Urea agar (di zig-zag permukaan medium).

d.    Lihat hasil reaksi biokimia bandingkan dengan tabel reaksi biokima Salmonella ssp

3.6  Analisa Data

Analisa data yang diperoleh dari hasil inokulasi pada berbagai medium biakan  ditabulasikan dalam bentuk tabel selanjutnya dibahas secara deskriptif.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Ariyani. 2006. Mutu Mikrobiologis Minuman Jajanan di Sekolah Dasar Wilayah Bogor Tengah, Jurnal Gizi dan Pangan. Bogor

 

Dewanto,A. 2000. Klarifikasi Status Gizi anak, (online), (andreasdewanto.blogspot.com/2012/02/klasifikasi-status-gizi-anakusia di akses 10 Oktober 2014).

 

Entjang, I. 2000. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang sederajat. PT. Citra Aditya. Bandung  

 

Hastuti, WP. 2004. Faktor Produksi Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Kontaminasi Eschercia coli Pada Makanan.

 

Irianto, K. 2006, Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Yrama widya.  Bandung.

 

Irianto, K. 2007, Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Yrama widya.  Bandung

 

Jawetz, E., Melnick, G.E., 2000, Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Jawetz, E., Melnick, G.E., 2001. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Jawetz, E., Melnick, G.E., 2005. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Merck. 2007. Microscopy Gram-color. Merck. Germay

Moehyi, S., 2000. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga. Jakarta: Bharata

 

Purnawijayanti, H A. 2001. Sanitasi, Higiene dan Keselamatan Kerja dalam pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius

 

 

 

 

Ratnawati. 2001. Sanitasi dan Higiene dalam pengolahan Makanan, (online), (https://www.google.com/search?q=sifat+pertumbuhan+salmonella&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&channel=nts&biw=1360&bih=634&source=lnms&sa=X&ei=SjA6VNGTDJaIuASGpoG4DA&ved=0CAUQ_AUoAA&dpr=1#rls=org.mozilla:en-US:official&channel=nts&q=jajanan+pdf, diakses 10 Oktober 2014).

 

Sinaga, R. 2010. Uji Kontaminasi Salmonella spp Pada Jajanan di Sekitar Sekolah-Sekolah di Pekanbaru, (online), (andreasdewanto.blogspot.com/2010/02/ di akses 10 Oktober 2014).

 

 

Soemarmo. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bacteri Klinik. Akademi Analis 

                             Kesehatan.Yogyakarta.