BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Kamis, 15 Oktober 2020

INDEX MPN COLIFORM DAN COLIFECAL PADA AIR DI RUMAH SAKIT UMUM

 

BAB I

PENDAHULUA 

1.1 Latar Belakang

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh manusia mengandung air. Air juga salah satu sumber utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam penggunaan air bukan saja sejumlah air yang penting, tetapi mutu air juga sangat menentukan apakah air tersebut higenis atau layak untuk dikomsumsi. Air yang dapat dikomsumsi dapat diartikan sebagai air bebas dari jenis bakteri yang berbahaya (Chandra, 2006).

Air meliputi 70% dari permukaan bumi, tetapi banyak negara persediaan air dalam jumlah yang sangat terbatas. Bukan hanya jumlahnya yang penting, tetapi juga mutu air di perlukan untuk penggunaan tertentu, seperti air yang cocok untuk kegiatan industri atau untuk di minum. Oleh karena itu penanganan air tertentu biasanya di perlukan untuk persediaan air yang di dapat dari sumber di bawah tanah atau sumber-sumber di permukaan (Yunita, 2010).

Air yang bermutu sangat baik bila memasuki sistem distribusi mungkin mengalami kerusakan sebelum sampai pada kran konsumen. Kerusakan ini dapat terjadi dalam sistem distribusi dari sediaan air yang telah di beri klorin dan dimana sedikit sekali atau tidak ada sisa klorin di dalam air yang sampai pada konsumen seperti dalam sistem distribusi air yang tidak di cuci hamakan (Suharti, 2012).

Organisme Coliform  dapat masuk ke dalam air dari sistem distribusi dari pompa-pompa booster, dari pengepak yang di gunakan untuk menghubungkan pipa-pipa utama atau dari pipa pencuci di kran-kran umum. Selain itu , air dalam sistem distribusi dapat tercemar dari luar, misalnya melalui hubungan silang, terowongan balik, tandon air dan tangki air yang rusak, hidran atau tempat pencucian yang rusak atau melalui perbaikan yang kurang baik pada sistem pipa-pipa kran rumah (Nurjazuli, 2013).

Meskipun organisme Coliform yang berasal dari kran pencuci atau bahan penyambung pada pipa utama mungkin sedikit artinya dari segi kesehatan, masuknya pencemar dari luar ke dalam air dalam sistem distribusi setidak - tidaknya sama bahayanya dengan distribusi dari air yang kotor secara aslinya dan tidak di tangani dengan secukupnya (Prasetyo, 2007).

Sebagai indikator pencemaran air biasanya di tandai dengan adanya bakteri Coliform  misalnya Escherichia coli. Kehadiran bakteri tersebut dalam contoh air menunjukan adanya pencemaran yang berasal dari kotoran manusia atau hewan. Hal ini di anggap identik dengan adanya bakteri patogen yang menyebabkan diare atau muntaber terutama pada anak-anak..  Dengan di lakukan penelitian mikroorganisme dalam air yang di konsumsi masyarakat, kita dapat menentukan apakah air yang di konsumsi layak untuk di gunakan atau tidak (Entjang, 2003).

 

 

 

Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan rumah sakit. Namun mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan dan perawatan orang sakit, maka kualitas dan kuantitas perlu dipertahankan setiap saat agar tidak mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita karena air merupakan media penyebab terjadinya infeksi nosokomial.

 Infeksi nosokomial terjadi di seluruh negara di dunia, salah satunya adalah Indonesia. Survei WHO di 55 rumah sakit dari 14 negara yang mewakili 4 kawasan WHO (Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik Barat) menunjukan rata-rata 8,7 % pasien di rumah sakit mengalami infeksi nosokomialdan rata-rata 9%dari 1,4juta pasien rawat inap.  Data infeksi nosokomial di Indonesia sendiri dapat dilihat dari data surveilans yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun 1987 di 10 RSU Pendidikan, diperoleh angka infeksi nosokomial cukup tinggi yaitu sebesar 6-16% dengan rata-rata 9,8%. Penelitian yang pernah dilakukan di 11 rumah sakit DKI Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 9,8% pasien rawat inap mendapat infeksi yang baru selama di rawat (Balaguris, 2009).

Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya mikroba patogen menular yang bisa berasal dari penderita penyakit menular. Mikroorganisme penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit seperti : udara, air lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Air sangat penting bagi kehidupan manusia dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk minum, mencuci baju, mencuci peralatan makan, mencuci tangan, mandi , mencuci botol susu dan memandikan bayi, tetapi air dapat membawa mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia beracun (Darmadi, 2008).     

 Definisi air minum dan air bersih adalah air yang memiliki kualitas minimal sebagaimana dalam lampiran  Peraturan   Menteri kesehatan No. 416 tahun 1990 dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 tahun 2002 tentang syarat-syarat  dan pengawasan kualitas air minum. Persyaratan kualitas bakteriologi  untuk penyediaan air di rumah sakit adalah  indeks MPN Coliform = 50/100ml sampel dam Colifecal   = 20/100ml sampel sedangkan untuk air minum adalah MPN Coliform =0/100ml sampel dan Colifecal = 0/100ml. Kuantitas jumlah kebutuhan air minum minimal 300 liter per penderita yang dirawat, sedangkan untuk air bersih minimal 500 liter per tempat tidur per hari. Pemeriksaan bakteriologi terhadap sarana air bersih di rumah sakit minimal 1(satu) kali sebulan, jumlah sampel air yang diambil /diperiksa disesuaikan dengan banyaknya tempat tidur yang tersedia di rumah sakit (Depkes, 2002).

Hasil penelitiaan Fatrianda Putri Cynintia Kennedy et all (2001),  di unit perinatologi Rumah Sakit Umum Abdul Moeluk  Bandar Lampung  terdapat hasil MPN Colifecal < 100/100ml dan Coliform total <1000/100 ml dan adapun 5 jenis bakteri yang banyak ditemukan adalah  Klebsiella sp, Citrobacter sp, Clostridium sp, Pseudomonas sp, dan Escherichia coli.

Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik mengambil judul “Pemeriksaan  MPN Coliform dan Colifecal  Pada Air  di  Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang”.

1.2  Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat di tarik rumusan masalah berapakah index MPN Coliform dan Colifecal  Pada Air  di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang ?

 

 

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui  index  MPN Coli Pada Air  di  Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang.

 

1.3.2 Tujuan khusus

1.      Untuk mengetahui  index  MPN Coliform  Pada Air  di  Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang

2.      Untuk mengetahui  index  MPN Colifecal  Pada Air  di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang

3.       Untuk mengetahui persyaratan kualitas bakteriologi air bersih di Rumah Sakit Umum Daerah Bangkinang.

                                                                                                      

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Sebagai salah satu syarat ujian dalam jenjang pendidikan tinggi (D III) Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.

 

1.4.2 Bagi Instansi Pendidikan

Memberikan informasi serta referensi dibidang Mikrobiologi bagi perpustakaan Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru

 

1.4.3 Bagi masyarakat

Memberikan informasi dan kesadaran adanya dampak kesehatan yang akan ditimbulkan akibat dari penyakit akibat pemakaian air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

 

                                             BAB II

                                TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Air

2.1.1 Pengertian Air

          Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Penggunaan air yang utama dan sangat vital bagi kehidupan adalah sebagai air minum. Hal ini terutama untuk mencukupi kebutuhan air di dalam tubuh manusia itu sendiri. Kehilangan air untuk 15% dari berat badan dapat mengakibatkan kematian yang diakibatkan oleh dehidrasi. Karenanya orang dewasa perlu meminum minimal sebanyak 1,5 – 2 liter air sehari untuk keseimbangan dalam tubuh dan membantu proses metabolisme (Slamet, 2007 ). Di dalam tubuh manusia, air diperlukan untuk transportasi zat – zat makanan dalam bentuk larutan dan melarutkan berbagai jenis zat yang diperlukan tubuh. Misalnya untuk melarutkan oksigen sebelum memasuki pembuluh-pembuluh darah yang ada disekitar alveoli (Sutrisno, 2006).

 

2.1.2 Syarat - Syarat Air

  Syarat - syarat air minum menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI  Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 meliputi sebagai berikut :

a.   Syarat fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah air harus jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa.

b.  Syarat Bakteriologi

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut.

c.   Syarat Kimia

Tidak mengandung senyawa yang mempunyai efek yang berbahaya bagi kesehatan manusia, zat - zat mineral / zat - zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan (Sutrisno, 2006).

 

2.1.3 Manfaat Air          

                 Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia Air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan dan tubuhan. Tubuh manusia tersusun dari jutaan sel dan hampir keseluruhan sel tersebut mengandung senyawa air (H2O). Menurut penelitian, hampir 67% dari berat tubuh manusia terdiri dari air. Manfaat air bagi tubuh manusia adalah membantu proses pencernaan, mengatur proses metabolisme, mengangkut zat makanan dan menjaga keseimbangan suhu tubuh (Mulia, 2005).

Dalam kehidupan sehari-hari air juga dipergunakan untuk memasak, mencuci, mandi,  membersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi, dan lain-lain. Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat (Alamsyah, 2006).

2.1.4 Pencemaran Air

    Pencemaran air terjadi bila beberapa bahan atau kondisi yang dapat menyebabkan penurunan kualitas badan air sehingga tidak memenuhi baku mutu atau tidak dapat digunakan untuk keperluan tertentu (sesuai peruntukannya, misalnya sebagai bahan baku air minum, keperluan perikanan, industri, dan lain-lain)

Adapun berbagai jenis pencemaran baik yang berasal dari : Sumber domestik (rumah tangga), perkampungan, kota, pasar. Pada sumber non domestik (pabrik, pertanian, peternakan, perikanan serta sumber - sumber lainnya). Secara langsung atau tidak langsung pencemaran akan berpengaruh terhadap kualitas air, baik untuk keperluan air minum, air industri ataupun keperluan lainnya (Suriawiria, 2008).

2.2 Bakteri Coliform dan Bakteri Colifecal

2.2.1 Bakteri Coliform

    Coliform adalah kelompok bakteri indikator untuk menentukan kualitas/mutu dari lingkungan air, tanah atau makanan. Kelompok bakteri ini berasal dari sistem pencernaan binatang termasuk manusia dan juga pada tinja. Ciri-ciri dari bakteri Coliform adalah merupakan gram negatif, mikroba tidak berspora, mampu mempermentasi laktosa menjadi gas dan asam pada suhu 35-37OC (Sinta, 2010).

Eschericia coli adalah salah satu bakteri patogen yang tergolong Coliform dan hidup secara normal di dalam kotoran manusia maupun hewan sehingga Eschericia coli digunakan sebagai bakteri indikator  pencemaran air yang berasal dari kotoran hewan berdarah panas (Fardiaz dalam jurnal Dikri, 2012).

                                                           Gambar 2.1


https:// faguskrisnoblog.files.wordpress.com

Faguskrisnoblog.files.wordpress.com

 

 
 


                 

 

 

Bakteri Coliform dapat dibedakan menjadi dua grup yaitu : Coliform fekal misalnya Escherichia coli dan Coliform nonfekal misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanam – tanaman yang telah mati. Jadi, adanya Escherichia coli  dalam air minum menunjukkan bahwa air minum itu pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin dapat mengandung pathogen usus. Oleh karena itu, standar air minum masyarakat Escherichia coli  harus nol dalam 100 ml (Ni Putu, 2003).

 

2.2.3 Bakteri Colifecal

    Bakteri Colifecal adalah bakteri golongan Coli, yang ditandai dengan kemampuan bakteri ini menguraikan laktosa menjadi asam dan gas di dalam media Brilliant Green Laktose Bile Broth, bakteri ini mampu tumbuh pada inkubasi suhu 44,5oC selama 24 – 48 jam (Soemarno, 2001).

Bakteri Colifekal adalah bakteri yang berasal dari kotoran manusia atau hewan. Bakeri ini bias masuk ke perairan bila ada hubungan feses yang masuk ke dalam badan air. Kalau terdeteksi adanya bakteri Colifekal yang berlebihan di dalam air maka air itu kemungkinan tercemar sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sumber air bersih.


2.3 Metode MPN

MPN adalah suatu metode untuk menaksir suatu populasi mikrobial dilahan, perairan dan produk agrikultur. Metoda ini digunakan untuk menaksir populasi mikrobial berdasarkan pada ukuran kualitatif spesifik dari jasad rengik yang sedang terhitung. Menetapkan adanya bakteri Coliform dalam contoh air dan memperoleh indeks berdasarkan tabel MPN untuk menyatakan perkiraan jumlah Coliform dalam sampel.

Menurut Depkes (2002), ada dua macam ragam tanaman yang sering digunakan yaitu ragam I untuk spesimen yang sudah diolah atau angka kumannya diperkirakan rendah, digunakan ragam 5x10, 1x1, 1x0,1 ml. Ragam II untuk spesimen yang belum diolah atau angka kumannya diperkirakan tinggi (misalnya air sumur, air sungai, air mata air dan sebagainya)., digunakan ragam 5x10, 5x1, 5x0,1 ml, mungkin dapat dilanjutkan dengan 5x0,01 ml.

Menurut Ni Putu (2003) metode MPN terbagi atas tiga tahap yaitu :

1.      Uji Penduga (Presumptive test)

Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri Coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli.

2.      Uji Penegasan (Corfirmed test)

Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 24 - 48 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar (EMBA) Secara Aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi.

3.      Uji Pelengkap (Completed test)

Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrien Agar (NA), dengan jarum inokulasi secara aseptik.

 

2.4  Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat - alat atau bahan - bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba. Oleh karena itu untuk dapat memisahkan mikroba yang satu dengan mikroba yang lain secara biakan murni perlu dipergunakan alat - alat dan media yang steril (Soemarno, 2000).

Cara sterilisasi yang dipakai tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan (ketahanan terhadap panas, bentuk bahan yang disterilkan padat, cair, atau bentuk gas) :

 

2.4.1 Pemanasan Basah

a. Autoclave

         Sterilisasi dengan autoclave merupakan sterilisasi yang paling baik jika dibandingkan dengan cara - cara sterilisasi yang lain. Alat autoclave terdiri atas suatu bejana tahan tekanan tinggi yang dilengkapi dengan manometer, termometer dan klep pengatur suhu. Suhu yang digunakan 121oC selama 15 menit.

 

2.4.2 Pemanasan kering

  a. Oven

          Sterilisasi ini menggunakan udara panas. Alat - alat yang disterilkan    ditempatkan dalam oven dimana suhunya dapat mencapai 1700 C selama

2 jam. Caranya adalah dengan memanaskan udara dalam oven tersebut dengan arus listrik.

b. Pembakaran

Pembakaran merupakan cara sterilisasi yang paling efektif, tetapi cara ini terbatas menggunakannya. Cara ini biasanya dipergunakan untuk mensterilkan alat penanaman kuman (jarum ose) yakni dengan membakarnya sampai pijar.

 

2.4.3  Antiseptik Secara Kimia

                    Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohol, umumnya alkohol 70% - 90% (Irianto, 2002).

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1 Metode Penelitian

            Penelitian ini menggunakan metode Most Probable Number (MPN)  untuk melakukan uji Coliform  dan Colifecal secara eksperimental laboratory.

 

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

            Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Akademi analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.

 

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah semua air bersih di ruangan Rumah Sakit umum Daerah Bangkinang. Sampel penelitian ini adalah air bersih yang diambil sebanyak  6 sampel. Menurut Depkes  2002,  perbandingan jumlah sampel air bersih dengan jumlah tempat tidur adalah  jika  jumlah tempat tidur 25-100 bed  sampel air bersih yang diambil 4 sampel,   jumlah tempat tidur101- 400 bed  sampel air bersih yang diambil 6 sampel. Jumlah  tempat tidur 401-1000 bed sampel air bersih yang diambil 8 sampel dan  tempat tidur  > 1000 bed sampel air bersih yang diambil 10 sampel. Sampel diambil menggunakan botol steril yang kemudian di bawah ke laboratorium mikrobiologi Akademi Analis Kesehatan Yayasan Fajar Pekanbaru.

             

3.4    Alat dan Bahan

3.4.1 Alat

       Tabung reaksi dan rak tabung, tabung durham, erlenmeyer 250 ml, pipet takar 10 ml, pipet takar 1 ml, Pipet tetes, tissue, kain lap, korek api, kapas, ose cincin, gelas ukur 100 ml, timbangan analitik, batang pengaduk, beaker glass 250 ml, oven, autoclave, inkubator, spatula, inkubator, label, botol sampel , lampu spirtus

 

3.4.2   Bahan

                 Alkohol 70%, Natrium tiosulfat 10 %

 

3.4.3   Media

     Laktosa Broth (LB), Brilliant Green Laktosa Broth (BGLB)

 

3.5    Prosedur Kerja

3.5.1 Sterilisasi

1. Sterilisasi Jarum Ose

        Jarum ose disterilkan dengan cara dibakar pada lampu spritus yang menyala. Pada waktu memanaskan jarum ose, dimulai dari ujung kawat dan setelah terlihat merah berpijar secara pelan – pelan pemanasan dilanjutkan pada ujung kawat.

2. Sterilisasi Alat-Alat

         Alat-alat yang akan disterilkan di cuci terlebih dahulu dan dikeringkan lalu dibungkus dengan kertas koran, kemudian dimasukkan dalam oven pada suhu 170oC selama 1- 2 jam.

 

3. Desinfektan Tempat Kerja

        Meja kerja yang akan digunakan dibersihkan dari debu kemudian disemprot dengan desinfektan menggunakan alkohol 70%, lalu lampu Bunsen harus tetap hidup saat bekerja untuk menghindari kontaminasi dan tetap steril.

 

4. Antiseptik Tangan

             Sebelum melakukan penelitian tangan dicuci dan dibersihkan dengan desinfektan menggunakan alkohol 70% lalu gunakan sarung tangan steril.

 

 

3.5.2   Pembuatan Media

1.    Media LB Single

a.      Ditimbang media LB 1,95 g (dari pembuatan  ) masukkan ke dalam erlenmeyer tambahkan 150 ml aquadest diaduk hingga homogen

b.        Masukkan media LB single ke dalam tabung reaksi yang berisi tabung durham dengan posisi terbalik sebanyak 10 ml dan tutup tabung reaksi dengan kapas.

c.         Sterilkan dengan menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama 15 menit.

d.        Setelah cukup waktu keluarkan tabung reaksi dari dalam autoclave.

2.    Media LB Triple

a.          Ditimbang media LB 7,8 g (dari pembuatan  x 3) masukkan kedalam erlenmeyer tambahkan 200 ml aquadest diaduk hingga homogen.

b.        Masukkan media LB triple kedalam tabung reaksi yang berisi tabung durham dengan posisi terbalik sebanyak 10 ml dan tutup tabung reaksi dengan kapas.

c.         Sterilkan dengan menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama 15 menit.

d.        Setelah cukup waktu keluarkan tabung reaksi dari dalam autoclave.

 

3.      Media BGLB

a.         Ditimbang media BGLB 16 g (dari penimbangan )  masukkan ke dalam erlenmeyer tambahkan 400 ml aquadest diaduk hingga homogen.

b.         Masukkan media BGLB ke dalam tabung reaksi yang telah berisi tabung durham dengan posisi terbalik sebanyak 10 ml dan tutup menggunakan kapas

c.         Sterilkan dengan menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama 15 menit.

d.        Setelah cukup waktu keluarkan tabung reaksi dari dalam autoclave.

 

3.5.3   Persiapan Wadah

Untuk sampel berasal dari air kran, siapkan wadah botol berukuran 250 ml, isi dengan 5 tetes cairan natrium tiosulfat 10%, kemudianm botol ditutup (Depkes, 2002).

 

3.5.4   Pengambilan  Sampel Air Kran Secara Bakteriologi

a.       Bersihkan kran dari setiap benda yang menempel yang mungkin dapat mengganggu, dengan kain bersih, bersihkan ujung kran dari setisp kotoran atau debu.

b.      Putar sampai kran terbuka sehingga air mengalir secara maksimal dan biarkan air mengalir 1-2 menit.

c.       Mulut kran disterilkan dengan cara membakar denagn lidi kapas yang telah dicelupkan dengan etanol 70% atau menggunakan pembakar dari gas.

d.      Buka tali pengikat dan kertas pembungkus botol

e.       Buka tutup botol dengan tangan kiri , botol dipegang dengan tangan kanan. Untuk mencegah masuknya debu yang mungkin mengandung mikroorganisme, penutup dipegagng dengan muka menghadap ke bawah.

f.       Sambil memegang penutup, air kran ditampung hingga ¾ bagian botol. Tutup botol hati-hati. Kemudian bagian tutupnya dibungkus dengan kertas steril. Sekeliling leher botol diikat dengan tali. Kemudian botol diberi label dan catat suhu air tersebut (Depkes, 2000).

 

3.5.5   Pemeriksaan MPN Coliform dan Colifecal

1.    Uji Pendahuluan (Presumptive Test)

a.         Siapkan tabung - tabung reaksi yang berisi pembenihan  laktosa broth dan periksa apakah tabung durham benar - benar terbalik letaknya.

b.         Sistem penanaman  5:5:5  (LB triple: 5 x 10 ml, LB single: 5 x 1 ml, 5 x 0,1 ml) dipipet 10 ml sampel untuk 5 tabung media LB triple, dipipet 1 ml sampel untuk 1 tabung media LB single dan dipipet 0,1 sampel untuk 1 tabung media LB single.

c.         Semua tabung reaksi diinkubasi pada incubator pada suhu 37oC selama 2 x 24 jam.

d.        Setelah masa inkubasi 2 x 24 jam diamati terbentuknya gas  (gelembung udara pada tabung durham).

e.         Hasil yang positif dilanjutkan ke uji penegasan (Confirmed Test).

 

2.    Uji Penegasan (Confirmed Test)

a.         Hasil yang positif pada uji awal  diambil 1 kawat ose dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi media BGLB.

b.         Inkubasi semua tabung pada suhu 37oC untuk Coliform dan 44,5oC untuk Colifecal selama 24 - 48 jam.

c.         Setelah 24 - 48 jam pembentukan gas pada tabung durham dalam media BGLB memperkuat bukti adanya bakteri Coliform dan Colifecal, kemudian indeks MPN dibaca pada tabel MPN.

 

3.6 Analisa Data

            Analisa data bakteri Colifecal dan Coliform dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah tabung yang positif pada uji penegasan dan mencocokkannya dengan tabel MPN yang dapat dilihat pada lampiran I, sehingga diperoleh angka MPN bakteri Coliform untuk tabung yang diinkubasi pada suhu 37oC dan angka MPN bakteri Colitinja untuk tabung yang diinkubasi pada suhu 44oC.Dengan yang diperoleh ditabulasikan dalam bentuk tabel selanjutnya dibahas secara deskriptif.

  

DAFTAR PUSTAKA

Balaguris. 2009. Infeksi Nosokomial.TIM. Jakarta.

Chandra, B. 2006.  Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta.

Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial : Problematika dan Pengendaliannya. Salemba  

                         Medika.

Depkes.2000. Petunjuk Pemeriksaaan Bakteriologi Air. Pusat Laboratorium

                      Kesehatan.

Depkes.2002. Pedoman sanitasi Rumah sakit Di Indonesia.Direktorat Jendral 

                      PPM, PL dan Direktorat Jendral pelayanan Medik. Jakarta.

 Entjang, I.  2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan

                       Sekolah Tenaga Kesehatan yang sederajat. PT. Citra Aditya. Bandung.

Fatrianda Putri Cynintia Kennedy et all. 2013. Kualitas Mikrobiologi  Air di Unit

               Perinatalogi Rumah Sakit Abdul Moeluk  Bandar lampung.                          ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/download/5954/5106, diakses 01 Mei 2014)

Irianto. 2007. Mikrobiologi. Yrama Widaya. Bandung

Nurjazuli. 2013. Faktor Risiko Pencemaran Mikrobiologi pada Air Minum Isi  Ulang 

                          Di Kabupaten Tegal Kabupaten Tegal, (Online), (ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/download/5954/5106, diakses 01 Mei 2014)

 

Prasetyo, A.  2007. Uji Most Probable Number (MPN) Coliform Pada Pengelolaan Air MPSDH “TIRTO DHARMO”di Desa Genilangit Poncol Magetan, Akademi Analis Farmasi dan Makanan Sunan Giri Ponorogo,(Online) , diakses 01 Mei 2014)

Soemarmo. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bacteri Klinik. Akademi Analis Kesehatan.  

                           Yogyakarta.

Suharti, N. 2012. Kualitas Air Minum Yang Diproduksi Depot Air Minum Isi Ulang Di Kecamatan Bungus Padang Berdasarkan Persyaratan Mikrobiologi,(Online), /jurnal.fk.unand.ac.id/articles/vol_1no_3/129-133.pdf, diakses 01 Mei 2014)

Yunita P. 2010. Kualitas Mikrobiologi Nasi Jinggo Beradsarkan Angka Lempeng Total, Coliform Total dan Kandungan Escherichia coli Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, (Online), (pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/Permenkes1144_2010.pdf, diakses 01 Mei 2014).

Daftar pustaka yg belum: slamet, sutrisno, mulia, alamsah, suriawiria, sinta, fardiaz, ni putu