BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Cacing
tanah telah lama dikenal oleh manusia. Hewan ini hidup di tempat atau tanah
yang terlindung dari sinar matahari, lembab dan gembur. Habitat ini sangat
spesifik bagi cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Tubuh
cacing tanah banyak mengandung lendir sehingga seringkali orang menganggapnya
menjijikan.
Dalam dunia pengobatan tradisional Tiongkok, cacing
tanah digunakan dalam ramuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Cacing tanah
mampu mengobati berbagai infeksi saluran pencernaan seperti typus, demam,
diare, serta gangguan perut lainnya seperti maag. Bisa juga untuk mengobati
penyakit infeksi saluran pernapasan seperti batuk, asma, influenza dan
tuberculosis (Julendra & Sofyan, 2007).
Di beberapa
tempat di Indonesia seperti Jawa Barat dan Lampung, cacing tanah sudah
dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Salah satu jenis cacing tanah yang
sering digunakan adalah Lumbricus rubellus yang mengandung protein cukup
tinggi yaitu 58-78% berat kering, selain itu juga mengandung 20 jenis
asam amino. Di dalam ekstrak cacing tanah juga terdapat zat antipurin,
antipiretik, antidota, vitamin dan beberapa enzirn misalnya lumbrokinase,
peroksidase, katalase dan selulose yang berkhasiat untuk pengobatan (Rina,
2001).
Aktivitas antibakteri cacing tanah sebagian besar
disebabkan oleh adanya peptida antibakteri yang berfungsi untuk
melindungi cacing tanah dari mikroorganisme patogen yang hidup di lingkungan
yang sama dengannya. Lumbricin-1 merupakan peptida antibakteri yang telah
berhasil diidentifikasi dari cacing tanah Lumbricus rubellus dan diduga
bekerja dengan cara melubangi dinding sel bakteri dan dapat mengakibatkan
kematian bakteri. Peptida ini terbukti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap
bakteri Gram negatif, Gram positif dan jamur (Najib, 2014).
Enterococcus faecalis merupakan bakteri Gram positif fakultatif
anaerob dengan prevalensi resistensi antibiotik meningkat. Bakteri ini
ditemukan pada 4-40% infeksi endodontik primer namun sering ditemukan dalam
jumlah yang banyak pada gigi pada paska perawatan endodontik dengan lesi
periapikal yang persisten. Infeksi umumnya disebabkan Enterococcus
faecalis termasuk infeksi saluran kemih, endocarditis, bakteremia, infeksi
kateter terkait, infeksi luka dan
infeksi intra abdomen dan panggul. (Matthew dan Boopathy, 2011).
Bakteri
penyebab diare yang sangat sering ditemukan adalah Escherichia coli. Escherichia coli merupakan bakteri oportunis yang
banyak ditemukan dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Escherichia coli dapat menyebabkan
infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan diare pada pelancong
(Karsinah et al, 2010).
Penelitian yang dilakukan Sandra (2012) membuktikan
bahwa tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Enterococcus faecalis
dengan konsentrasi 5%,10%,20% dan 80% dalam pelarut akuades dapat
menghambat pertumbuhan Shigella dysentriae. Biblio (2011) juga telah
membuktikan bahwa tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menghambat pertumbuhan
Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Salmonella typhi.
Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian “Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus
rubellus) Terhadap Pertumbuhan Enterococcus
faecalis dan Escherichia
coli Secara In vitro”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu apakah air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat
menghambat pertumbuhan Enterocccus faecalis dan Escherichia
coli secara In
vitro.
1.2
Tujuan
Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk
mengetahui pengaruh air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap
pertumbuhan Enterocccus faecalis dan Escherichia
coli.
1.3.2 Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui apakah air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat
menghambat pertumbuhan Enterococcus faecalis
dan Escherichia coli
b.
Untuk mengetahui besar zona hambatan
yang dihasilkan air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli
c.
Untuk mengetahui perbedaan zona hambat yang dihasilkan air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap
pertumbuhan Enterococcus faecalis dan
Escherichia coli
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Penulis
a. Menambah
pengalaman dan pengetahuan tentang pengaruh air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap
pertumbuhan Enterococcus faecalis dan
Escherichia coli
1.4.2 Bagi Institusi
Pendidikan
Menambah
referensi perpustakaan Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru khususnya dalam
bidang mikrobiologi.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Memberikan
informasi kepada masyarakat tentang khasiat air rebusan cacing tanah sebagai
antibakteri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
2.1.1 Klasifikasi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
Menurut Rina (2001), klasifikasi cacing
tanah (Lumbricus rubellus) adalah
sebagai berikut :
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Annelida
Kelas :
Oligochaeta
Ordo :
Torrisela
Family :
Lumbricidae
Genus :
Lumbricus
Spesies :
Lumbricus rubellus
2.1.2 Morfologi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
Secara
alamiah, morfologi dan anatomi cacing tanah berevolusi menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya. Khairuman (2010) menjelaskan bahwa cacing tanah yang
ditemukan hidup di tumpukan sampah dan tanah sekitarnya mempunyai ukuran
panjang sangat bervariasi, yaitu berkisar antara beberapa milimeter sampai 15
cm atau lebih.
Gambar
2.1
Sumber : http://blog.ub.ac.id/nawaby/files/2012/05/cacing.jpg
(18
Agustus 2014)
Cacing tanah bertubuh
tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen fraksi luar dan fraksi dalam
yang saling berhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis berupa
kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan
seta, kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut), bersifat hemaphrodit (berkelamin
ganda) dengan peranti kelamin seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila
dewasa, bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelium
(tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (selubung
bulat) berisi telur dan ova (bakal telur) (Amri, 2010).
Cacing tanah mempunyai
rongga besar coelomic yang mengandung coelomycetes (pembuluh-pembuluh
mikro), yang merupakan sistem vaskuler tertutup. Saluran makanan berupa tabung
anterior dan posterior, kotoran dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang
disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kutikuler
(Hanafiah et al, 2003).
2.1.3 Manfaat dan Kandungan Cacing Tanah
(Lumricus rubellus)
Cacing tanah
merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka
sejak fase awal evolusi,
oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme
patogen
di lingkungan mereka. Lumbricus rubellus
memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin
2. Sebuah riset baru-baru ini
melaporkan, kadar protein yang dimiliki cacing tanah mencapai 58-78% dari bobot
kering, dihitung dari jumlah nitrogen yang terkandung di dalamnya. Protein
yang dimiliki oleh cacing tanah memiliki mekanisme antimikroba yang berbeda
dengan mekanisme antibiotik.
Antibiotik
membunuh mikroganisme dengan dua cara, yaitu dengan menghentikan jalur
metabolik yang dapat menghasilkan nutrient yang dibutuhkan oleh mikroorganisme
atau menghambat enzim spesifik yang dibutuhkan untuk membantu menyusun dinding
sel bakteri. Sedangkan, mekanisme yang dilakukan oleh protein yang dimiliki
oleh cacing tanah adalah dengan membuat pori di dinding sel bakteri. Hal ini
menyebakan sitoplasma sel bakteri menjadi terpapar dengan lingkungan luar yang
dapat mengganggu aktivitas dalam sel bakteri dan menyebabkan kematian.
Cacing tanah
juga diyakini mengandung 13 jenis asam amino esensial yang kualitasnya melebihi
ikan dan daging, dengan demikian mengonsumsi cacing tanah selain bergizi tinggi
dan sebagai antibakteri juga dapat menghindari risiko ancaman kholesterol.
2.2 Enterococcus
faecalis
2.2.1 Klasifikasi Enterococcus faecalis
Menurut Jawetz (2000), klasifikasi Enterocccus faecalis sebagai berikut :
Kingdom : Bakteria
Filum : Proteobakteria
Kelas : Gamma Proteobakteria
Ordo : Eubacteriales
Famili : enterococcaceae
Genus : Enterococcus
Spesies :
E. faecalis
2.2.2 Morfologi Enterococcus faecalis
Menurut Soemarno (2001), Enterocccus faecalis adalah
bakteri yang non motil, Gram positif dan bakteri yang berbentuk bulat. Bakteri
ini terdiri dari rantai pendek, berpasangan atau bahkan tunggal.
Bakteri mempunyai habitat di
saluran pencernaan, saluran kemih dan juga dapat berkoloni di rongga
mulut manusia. Enterocccus faecalis merupakan bakteri yang tidak membentuk
spora, fakultatif anaerob dengan
metabolisme fermentasi. Bakteri ini
berbentuk ovoid dengan diameter 0,5um -1um.
Enterocccus faecalis resisten terhadap banyak antibiotik spectrum
luas . Resistensi ini diperoleh dari mutasi DNA atau pengadaan gen baru melalui
transfer plasmid dan transporson. Gen resisten pada Enterocccus faecalis disimpan
di plasmid sehingga dapat ditransfer kapan saja. Hal ini disebabkan ini disebut
dengan resistensi faktor R atau plasmid (resistensi silang)
Gambar 2.2
Enterocccus faecalis Pada Pewarnaan Gram
Sumber: Soemarno, 2001
2.2.3 Infeksi Enterocccus
faecalis
Terdapat sedikitnya 12 spesies enterococcus . Enterocccus faecalis merupakan
yang paling sering dan menyebabkan 85-90% infeksi enterococcus. Enterococcus
adalah bakteri yang paling sering meyebabkan infeksi nosokomial , terutama pada
unit perawatan intensif dan hanya pada pengobatan dengan sefalosporin dan
antibiotic lainnya dimana bersifat resisten (Hare, 2003).
Enterocccus
faecalis ditularkan
dari satu pasien ke pasien lainnya terutama melalui tangan perawat kesehatan
yang beberapa diantara mereka mungkin pembawaenterococcus pencernaan. Enterocccus faecalis kadang - kadang ditularkan melalui alat
kedokteran. Pada pasien tempat yang paling sering terkena infeksi adalah
saluran kemih, luka tusuk dan dan saluran empedu dan darah. Virulensi bakteri
ini disebabkan kemampuannya dalam pembentukan kolonisasi pada host, dapat bersaing dengan bakteri
lain, resistensi terhadap mekanisme pertahanan host, menghasikan perubahan patogen baik secara langsung atau
secara tidak langsung melalui rangsangan terhadap mediator inflamasi (Jawetz, 2000).
2.2.4 Pembiakan dan Sifat Pertumbuhan Enterococcus
faecalis
Enterococcus faecalis adalah bakteri yang bertahan
hidup pada suhu 5-50 oC dengan pH 4-11. Pertumbuhan pada medium Agar darah permukaan koloni sirkular, halus
dan menyeluruh. Koloni bewarna abu-abu bersifat alfha atau gamma hemolisa. Enterococcus faecalis memefermentasi glukosa tanpa
pembentukan gas dan tidak menghasilkan katalase dengan hidrogen peroksida. Hal
ini dapat menghasilkan reaksi pseudokatalase jika ditanam pada agar darah dan
bersifat tidak mencairkan gelatin.Bakteri ini dapat mengkatabolisasi sumber energi dari karbohidrat, gliserol, laktat, malat dan sitrat. Hal ini sangat membantu ketika E. faecalis hidup di daerah yang minim nutrisi
seperti saluran usus yang terinfeksi atau lambung (Jawetz, 2005).
2.3
Escherichia
coli
2.3.1
Klasifikasi Escherichia coli
Menurut
Entjang (2003), klasifikasi Escherichia
coli secara sistematik adalah sebagai berikut :
Filum : Protophyta
Kelas : Schizomycetes
Ordo : Eubacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli
2.3.2 Sifat Umum dan Morfologi Escherichia coli
Escherichia
coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek, gram
negatif, mempunyai ukuran 0,4-0,7 µm × 1,4 µm, dan sebagian besar gerak
positif. Escherichia coli memiliki
susunan antigen yang terdiri dari antigen O (somatik), H (flagelar) dan K yang
terdapat pada bagian pembungkus bakteri
(Entjang, 2003).
Escherichia
coli
bersifat oportunis dan banyak ditemukan dalam usus besar manusia sebagai flora
normal. Escherichia coli dapat
menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan diare pada
pelancong (Karsinah et al, 2010).
Gambar 2.3
Escherichia coli Pada
Pewarnaan Gram
Sumber :
Karsinah et al, 2010
2.3.3 Patogenitas Escherichia coli
Escherichia
coli merupakan penyebab diare yang sangat sering
ditemukan. Bakteri ini memiliki berbagai strain (jenis) patogenik, di antaranya
adalah Escherichia coli
Enterotoksigenik (ETEC) sebagai penyebab utama diare pelancong (travelers
diarrhea) dan diare pada bayi di negara-negara berkembang, Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC) penyebab utama diare kronik
pada anak, Escherichia coli
Enteroinvasif (EIEC) yang menyebabkan penyakit mirip disentri, dan Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
peyebabkan infeksi yang ditandai dengan diare berdarah (Hawley, 2003).
2.3.4 Pembiakan dan Pertumbuhan Escherichia coli
Jika
dilakukan pembiakan, Escherichia coli sangat
baik pertumbuhannya pada media Endo Agar dan Mac Concay karena mampu
menguraikan laktosa. Penguraian laktosa oleh Escherichia coli akan dihasilkan asam dan formaldehid yang akan
melepas ikatan leucofuchin menjadi natrium sulfite dan fuchin kembali, sehingga
menimbulkan warna merah. Pembiakan pada media Endo Agar akan terlihat koloni Escherichia coli berwarna merah dengan
kilap logam sebagai ciri khas bakteri ini, sedangkan pada media Mac Concay,
koloni Escherichia coli berwarna
merah (Entjang, 2003).
2.4 Sterilisasi
Menurut
Hasdianah (2012), sterilisasi adalah usaha yang dilakukan untuk membebaskan
alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroba.
Penyelididkan suatu spesies mikroba selalu didasarkan atas penyelidikan biakan
murni spesies. Oleh karena
itu, untuk dapat memisahkan kegiatan mikroba satu dengan mikroba lain atau
untuk memelihara suatu biakan murni perlu dipergunakan alat-alat dan medium
yang steril.
Sterilisasi
alat atau medium dapat dikerjakan secara mekanik (misalnya secara penyaringan),
secara kimia (misalnya dengan desinfektan), atau secara fisik (misalnya dengan
pemanasan, sinar ultra violet dan sinar X). Cara sterilisasi yang dipakai
tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan ( ketahanan
terhadap panas, bentuk bahan yang disterilkan: padat, cair atau gas).
Sterilisasi secara fisik terdiri atas pemanasan basah dan pemanasan
kering. Sterilisasi dengan pemanasan
basah menggunakan autoclave yang
dilengkapi dengan katup pengaman dengan suhu sterilisasi 1210C
selama 15 menit. Steriilisasi dengan
pemanasan kering terdiri dari pemanasan dengan menggunakan Oven dengan suhu 150-160 0C selama
1 jam dan pembakaran dengan nyala api sampai pijar (Entjang, 2000).
Sterilisasi
kimia selain menggunakan
desinfektan maka dapat juga digunakan
bahan antiseptik. Antiseptik adalah suatu
bahan yang tergantung dari sifat dan cara pemakaiannya ditujukan untuk
mencegah pertumbuhan atau membunuh bakteri pada jaringan hidup sehingga dapat
mencegah sepsis. Beberapa jenis antiseptik
antara lain preparat jodium,
alkohol 70% dan lain-lain (Depkes, 2002).
2.5 Pengujian Secara In vitro
Pengujian
secara In vitro adalah pengujian yang
dilakukan diluar tubuh, yang berkenaan dengan percobaan biologis yang dilakukan
di dalam tabung reaksi atau alat-alat laboratorium lainnya, biasanya dilakukan
dengan tujuan untuk percobaan atau penelitian. Penelitian secara In vitro ini bertujuan untuk menjelaskan
pengaruh dari variabel eksperimental pada subjek dari bagian pokok suatu organisme. Hal ini
cenderung untuk memfokuskan pada organ , jaringan, sel , komponen sel, protein
, atau biomolekul (Irianto, 2006).
2.6 Ampicilin
Ampicillin
adalah antibiotik beta laktam. Sama dengan penicilin lain ampicilin relatif non-toxic. Ampicillin tergolong kelas
antibiotik yg disebut penicillin yang digunakan untuk treating infeksi
bakteri. Anggota lain dari kelas ini adalah amoxicillin (Amoxil),
piperacilln (Piperacil), ticarcillin (Ticar), dan beberapa lainnya.
Antibiotik-antibiotik tersebut punya mekanisme reaksi yang sama yaitu
menghentikan perkembangbiakan bakteri dengan menghalangi bakteri dari
pembentukan dinding yang mengelilinginya. Dinding dibutuhkan untuk melindungi
bakteri dari lingkungan dan untuk menjaga isi sel. Ampicilin memiliki spektrum
kerja yang luas terhadap bakteri Gram negatif misalnya Haemophilus influenzae, Neisseria gonorrhoea, Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Streptococci (Roeshadi, 2005).
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian Eksperimental laboratories secara In
vitro yaitu melihat daya hambat air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap
pertumbuhan Enterococus faecalis dan Escherichia coli dengan metode difusi
cakram.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di Laboratorium Mikrobiologi
Akademi Analis Kesehatan Fajar Pekanbaru.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah semua penjual cacing
tanah di Jl. Pemuda Pekanbaru. Sampel dalam penelitian
ini adalah cacing tanah yang direbus dan air rebusannya di buat digunakan sebagai bahan uji kemudian dilakukan
dengan tiga kali pengulangan.
3.4 Alat , Bahan dan Medium Penelitian
3.4.1 Alat-alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah timbangan analitik, autoclave, Oven, gelas ukur, erlenmeyer,
lampu spritus, labu ukur, pipet ukur dan Bola hisap, pipet tetes, objek glas,
ose cincin, mikroskop, inkubator, batang pengaduk, kapas, kertas saring, disk
kosong, corong, spatula, tabung reaksi, rak tabung reaksi, cawan petri, kompor
gas, jangka sorong, dan kapas lidi steril.
3.4.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah air rebusan cacing tanah, strain
Enterococcus
faecalis, strain Escherichia
coli, NaCl 0,9% steril (kontrol negatif) dan disk ampicillin (kontrol
positif), alkohol 70% dan larutan Mc Farland (H2SO4 1%
dan BaCl22H2O 1,175%).
3.4.3 Media
Media
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Muller Hinton Agar (MHA)
sebagai medium uji daya hambat.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Sterilisasi
1. Sterilisasi alat
a) Cuci alat-alat kaca sampai bersih, lalu
keringkan.
b) Bungkus alat-alat tersebut dengan kertas
padi.
c) Sterilkan dalam Oven pada suhu 150-160o
C selama 1 jam.
d) Setelah cukup waktunya keluarkan dari dalam
oven dan biarkan dingin (Hasnyimi, 2010).
2. Pembuatan Media MHA
a)
Timbang 3,8 gram media Muller Hinton agar merk oxoid, masukkan dalam
labu erlemeyer (pemakaian sesuai
petunjuk kit : 38gr/L)
b)
Tambahkan dengan 100 ml aquadest sambil
dikocok, panaskan hingga larut, tutup dengan kapas.
c)
Kemudian masukkan media tersebut ke dalam autoclave.
d)
Sterilkan selama 15 menit pada suhu 121o
C.
e)
Setelah cukup waktu matikan autoclave, biarkan suhu turun, lalu
keluarkan media dari autoclave.
f)
Masukkan media tersebut ke dalam
Petridis steril
4. Desinfeksi Tempat Kerja
a)
Bersihkan meja kerja dari kotoran dan
debu.
b)
Kemudian desinfeksi dengan menggunakan alkohol 70%.
5. Antiseptik Tangan
a)
Cuci dan bersihkan tangan terlebih dulu
dengan air bersih .
b)
Lalu bersihkan tangan dengan menggunakan
alkohol 70%.
3.5.2 Pengujian Daya Hambat Bakteri
1. Pembuatan air rebusan Cacing
tanah (Lumbricus rubellus)
a)
Siapkan cacing tanah merah sebanyak 30 ekor
b)
Bersihkan dan pastikan tidak ada unsur tanah dan kotoran lain untuk
menjaga kehygienisannya
c)
Siapkan beaker gelas ukuran 500ml
d)
Masukkan cacing tanah ke dalam beaker
glas tambahkan 400ml gelas
air rebus hingga mendidih
e)
Saring dan ambil ambil airnya saja
2. Pembuatan Larutan Mc. Forland
a)
Pipet larutan H2SO4
1% sebanyak 9.5 ml, masukkan ke dalam tabung reaksi.
b)
Tambahkan larutan BaCl22H2O
1,175% sebanyak 0.5 ml, kemudian homogenkan.
3. Pembuatan Suspensi Bakteri
Ambil
satu ose koloni strain Enterococcus
faecalis dan Escherichia
coli , kemudian suspensikan dalam tabung yang berisi NaCl 0.9%
steril sampai kekeruhan sama dengan larutan standar Mc. Forland.
4. Penanaman Pada Media Muller
Hinton Agar plate
a. Celupkan
kapas lidi steril ke dalam suspensi bakteri yang sudah distandarisasi kekeruhannya,
tunggu sampai meresap ke dalam kapas. Kemudian kapas lidi diangkat dan diperas
dengan menekankan pada dinding tabung bagian dalam sambil diputar.
b.
Goreskan kapas lidi tersebut pada media
Muller Hinton Agar plate dengan memutar cawan petri sampai permukaan media
tertutup rapat
c.
Biarkan media Muller Hinton Agar plate
selama 5-15 menit supaya suspensi bakteri meresap ke dalam agar.
5. Penempelan Disk
a.
Penempelan pada Muller Hinton Agar plate
dilakukan secara manual satu-persatu dengan pinset.
b. Siapkan
air rebusan cacing tanah, kontrol positif (disk ampicilin), dan kontrol negatif
(NaCl 0,9%).
c. Ambil
disk kosong dan celupkan ke dalam air rebusan cacing tanah pada. Letakkan pada
permukaan media Muller Hinton yang sudah ditanam Enterococcus faecalis dan Escherichia coli dengan sedikit ditekan.
d. Ambil
disk ampicilin dan kontrol negatif
dengan menggunakan pinset letakkan pada permukaan media Muller Hinton yang
sudah digoreskan Enterococcus faecalis dan Escherichia coli dan tekan
sedikit.
e. Jarak antara disk yang satu dan disk yang
lain tidak kurang dari 2 cm.
f. Kemudian
inkubasi dalam inkubator selama 1 × 24 jam pada suhu 37o C
(Soemarno, 2001).
6. Pembacaan Zona Hambat
a. Amati
zona hambatan yang terjadi di sekeliling disk dan ukur panjang diameternya
dengan jangka sorong.
b. Jika
terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti air rebusan cacing tanah
memiliki kandungan zat aktif sebagai antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dan
Escherichia
coli
c. Jika
tidak terdapat zona hambatan di sekeliling disk, berarti air rebusan cacing
tanah tidak memiliki kandungan zat aktif sebagai antibakteri terhadap Enterococcus
faecalis dan Escherichia
coli. Untuk kontrol
positif lihat terjadinya zona hambatan apakah bersifat resisten, intermediate
dan sensitive (tabel zona hambat terlampir).
3.6
Analisa data
Analisa
data terhadap uji daya hambat air rebusan cacing tanah terhadap pertumbuhan Enterococcus
faecalisi dan Escherichia
coli secara in vitro
dilakukan dengan cara mengukur diameter zona bening yang ada di sekeliling disk
rebusan cacing tanah dan diameter yang ada
disekeliling disk ampicilin (kontrol positif) dan NaCl 0,9% steril (kontrol
negatif). Data yang diperoleh dari penelitian tersebut disajikan dalam bentuk
tabel dan dibahas secara deskriptif.
DAFTAR PUSTAKA
Biblio, 2011. Uji Efektivitas Tepung Cacing Tanah Dalam
Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi, Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus, (Online),
(//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260,
diakses 28 April 2014).
Direktorat
Jendral PPM & PL dan Direktorat Jendral Pelayanan Medik Mepartemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman sanitasi rumah sakit di Indonesia.
Jakarta.
Entjang,
I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi.
Citra Aditya Bakti. Bandung.
Hare, R. 2007.
Mikrobiologi dan Imunologi. Yayasan Essensia Medica. Jakarta.
Hasyimi, M. 2010. Mikrobiologi Untuk Mahasiswa
Kebidanan. Trans Info Media.
Jakarta.
Hawley. 2003. Mikrobiologi dan Infeksi Penyakit.
Penerbit Hipokrates. Jakarta.
Irianto. 2006. Mikrobiologi.
Yrama Widaya. Bandung.
Jawetz, Melnick &
Adelberg. 2000. Mikrobiologi Kedokteran
edisi 20. EGC. Jakarta.
Jawetz,
Melnick & Adelberg. 2005. Mikrobiologi
Kedokteran. Salemba Medika.
Jakarta.
Julendra dan Sofyan, 2007. Uji in
Vitro Penghambatan Aktivitas Escherichia
coli dengan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus
rubellus), (Online),
(//ejournal.stkip-pgri bar.ac.id/index.php/bio/article/view/44/41,
diakses 28 April 2014).
Karsinah
et al . 2010. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa Aksara. Jakarta.
Matthews dan
Boopathy, 2011. Enterococcus faecalis an endodontic chalenge.
KSR.
Rina, W. 2001. Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli, (Online),
(//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260,
diakses 28 April 2014)
Sandra, M.
2012. Uji Efektivitas Tepung Cacing Tanah
Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Shigella dysentri, (Online), (//journal.ipb.ac.id/index.php/mediapeternakan/article/viewFile/1031/260,
diakses 28 April 2014)
Belum ada
: Najib, khairuman, amri, hanafiah,
hasdiana, roeshadi.
Soemarno.
2001. Isolasi dan Identifikasi Bacteri
Klinik. Akademi Analis Kesehatan. Yogyakarta.






