BIOLOGI REPRODUKSI & MIKROBIOLOGI

Selasa, 13 Oktober 2020

BAB II PERDARAHAN 2 JAM POSTPARTUM

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

                                                                       

A.        Konsep Dasar

1.         Pengertian Nifas

            Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2009).

            Periode pascapartum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil (Varney, 2007).

            Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha, 2009).

            Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masa nifas merupakan masa pemulihan dari proses kehamilan dan kelahiran yang di dalamnya terjadi proses perubahan secara fisik maupun psikologis yang akan kembali ke kondisi sebelum hamil dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan keadaan tubuh seorang ibu nifas.

2.         Perubahan fisiologis pada masa nifas

            Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan anatomi dan fisiologis pada ibu, diantaranya adalah sebagai berikut :         

a.  Perubahan Dalam Sistem Reproduksi

     1). Uterus

            a). Proses Involusi

                                     Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi (Bobak, 2004). Involusi uterus meliputi reorganisasi dan pengeluaran desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokhia (Varney, 2007).

       Tabel 2.1 Tinggi fundus dan berat uterus berdasarkan masa                         involusi

Involusi

TFU

Berat Uterus

Bayi lahir

Setinggi pusat-2 jari di bawah pusat

1.000gr

1 minggu

Pertengahan pusat simfisis

750gr

2 minggu

Tidak teraba di atas simfisis

500gr

6 minggu

Normal

50gr

8 minggu

Normal (sebelum hamil)

30gr

                        (Saleha, 2009)

     

                        b). Lokia

 Lokia adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui vagina selama puerperium. Rata-rata jumlah total sekret lokia adalah sekitar 8-9 ons atau 40-270 ml (Varney, 2007). Berikut adalah beberapa jenis lokia pada masa nifas :

1)        Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban. Sel-sel desisua, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 sampai 3 hari pasca persalinan.

2)        Lokia sanguilenta berwarna merah kekuningan berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pascaapersalinan.

3)        Lokia serosa berbentuk serum dan berwarna merah muda kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai hari ke-14 pascapersalinan. Mengandung cairan serum, jaringan desidua, leukosit, dan eritrosit.

4)        Lokia alba dimulai dari hari ke-14 kemudian semakin sedikit hingga berhenti sama sekali. Berbentuk cairan putih seperti krim, mengandung  sel-sel desidua dan leukosit (Saleha, 2009).

2).  Serviks Uteri

Serviks akan menjadi lunak segera setelah melahirkan. Dua puluh jam setelah persalinan, serviks memendek dengan konsistensi lebih padat dan kembali ke bentuk semula dalam masa involusi (Maryunani, 2009).        

3). Vulva dan Vagina

     Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih menonjol.

4). Perineum

     Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonus-nya, sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum hamil.

b.  Perubahan Sistem Pencernaan

     Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau dehidrasi (Bobak, 2004).

c. Perubahan Urinarius

     Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Pengeluaran urin sekitar lebih dari 3000 mL per hari (Varney, 2007). Diuresis pascapartum merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pascapartum (Bobak, 2004).      

d. Perubahan Payudara

     Selama kehamilan jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk proses laktasi. Setelah melahirkan, hormon prrolaktin akan keluar dan efek yang ditimbulkan mulai terasa sampai hari ketiga postpartum. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituari untuk menyekresikan hormon oksitosin. Oksitosin meransfang refleks let down (mengalirkan), sehingga menyebabkan pengeluaran ASI (Saleha, 2009).        

e. Perubahan Sistem Endokrin

Kadar estrogen dan progesteron menurun dengan cepat setelah plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi daripada wanita yang menyususi pada pasca partum hari ke-17 (Bowes, 1991 dalam Bobak, 2004). 

f. Perubahan Tanda-Tanda Vital

Pada ibu nifas, terdapat beberapa perubahan tanda-tanda vital sebagai berikut:

1). Suhu

   Selama 24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38oC, sebagai akibat meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal. Jika terjadi peningkatan suhu 38oC yang menetap 2 hari setelah 24 jam melahirkan, maka perlu dipikirkan adanya infeksi seperti sepsis puerperalis (infeksi selama postpartum), infeksi saluran kemih, endometritis (peradangan endometrium), pembengkakan payudara, dan lain-lain.

2). Nadi                                

       Dalam periode waktu 6-7 jam sesudah melahirkan, sering ditemukan adanya bradikardia 50-70 kali per menit (normalnya 80-100 kali per menit) dan berlangsung sampai 6-10 hari setelah melahirkan. Keadaan ini bisa berhubungan dengan penurunan usaha jantung dan penurunan volume darah. Takhikardia kurang sering terjadi, bila terjadi berhubungan dengan peningkatan kehilangan darah dan proses persalinan yang lama.

3). Tekanan Darah

 Ibu mengalami hipotensi orthostatik (penurunan 20 mmHg)  selama beberapa jam setelah melahirkan yang ditandai dengan adanya pusing segera setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga 46 jam pertama. Peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg dan penambahan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia dan ibu perlu dievaluasi lebih lanjut.

4). Pernafasan

 Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah melahirkan (Maryunani, 2009).

g. Penurunan berat badan

Penurunan berat badan segera setelah melahirkan rata-rata sebanyak 6 kg dan mencakup berat janin, plasenta, cairan amnion, dan kehilangan darah. Sekitar 4,5 sampai 5 kg lainnya turun selama minggu pertama pascapartum akibat involusi uterus, pengeluaran lokia, proses perspirasi, dan diuresis. Penurunan berat badan total ibu yang berhubungan dengan proses melahirkan dan pascapartum berkisar dari 9,5 kg sampai 12 kg.

Tabel 2.2 Sumber dan Jumlah Penurunan Badan Selama Masa Pascapartum

 

Sumber Penurunan Berat Badan

Jumlah Penurunan Berat (Kg)

Janin dan plasenta; cairan amnion dan kehilangan darah pada pelahiran

5,5 – 6

Perspirasi dan dieresis selama minggu pertama pascapartum

2,5 – 4

Involusi uterus dan lokia

1

Penurunan berat badan total

9 – 10

(Reeder, 2011)

h. Perubahan Sistem Integumen

     Tekstur kulit dan tonus kulit akan kembali normal segera setelah melahirkan. Setiap iritasi kulit yang disebabkan oleh kolestasis obstetri atau peregangan kulit akan segera sembuh (Medforth dkk, 2011).

     Hiperpigmentasi puting, areola, dan linea nigra yang disebabkan peningkatan melanin pada kehamilan akan berkurang secara bertahap setelah melahirkan. Kloasma (topeng kehamilan) pada umumnya membaik, walaupun kondisi ini tidak menghilang secara sempurna (Reeder, 2011).

 

i.   Perubahan Sistem Neuromuskular

     Selama kehamilan tubuh mengalami adaptasi neurologis berupa penekanan saraf yang terjadi akibat pembesaran uterus. Ketidaknyamanan tersebut seperti rasa baal, rasa seperti terstrum pada jari-jari tangan, atau kram pada kaki yang akan menghilang setelah melahirkan karena tekanan mekanik akibat pembesaran uterus dan tekanan akibat retensi cairan tubuh mereda. Pembesaran payudara karena laktasi dan melemahnya dinding otot abdomen dapat menjadi penyebab memburuknya postur setelah melahirkan (Tulman, et al., 1990) dalam (Reeder, 2011).

3.         Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

a.       Nutrisi Dan Cairan

Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut :

1)      Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

2)      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup

3)      Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari

4)      Tablet Fe harus diminum untuk menambah zat besi, setidaknya selama 40 hari pascapersalinan.

5)      Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

b.         Ambulasi

Ambulasi dini adalah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Ibu postpartum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.

c.Eliminasi

Ibu diminta untuk BAK 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Ibu postpartum diharapkan dapat BAB setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka dilakukan klisma (huknah).

d.      Personal Hygiene

Pada saat postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. .Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting utnuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.

1)      Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum

2)      Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang, kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasihati ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.

3)      Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari dan disetrika.

4)      Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin

5)      Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut kecuali jika akan membersihkan/mengeringkan luka setelah buang air.

e.       Istirahat Dan Tidur

Hal-hal yang bisa dilakukan pada ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur adalah sebagai berikut :

1)      Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan

2)      Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.

3)      Kurang istirahat akan memengaruhi ibu dalam beberapa hal :

-          Mengurangi jumlah ASI

-          Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan

-          Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

4.         Kunjungan Masa Nifas

a.       Kunjungan I : 6- 8 jam setelah persalinan

Tujuannya :

-          Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

-          Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, merujuk bila perdarahan berlanjut

-          Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

-          Pemberian ASI awal.

-          Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.

-          Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi

b.              Kunjungan II : 6  hari setelah persalinan

Tujuannya:

-          Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.

-          Menilai adanya tanda–tanda demam infeksi atau perdarahan abnormal.

-          Memastikan ibu mendapat cukup makanan, minuman dan istirahat

-          Memastikan ibu menyusui dengan dan memperhatikan tanda – tanda penyakit.

-          Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari– hari.

c.       Kunjungan III  : 2  minggu setelah persalinan

Tujuannya :                                       

Sama dengan di atas (6 hari setelah persalinan).

d.      Kunjungan IV

6 minggu setelah persalinan

Tujuannya :

-            Menanyakan ibu tentang penyakit – penyakit yang dialami

-            Memberikan konseling untuk KB secara dini

B.        Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Postpartum.

Varney ( 1997 ) menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal tahun 1970-an. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga pemeriksaan pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai.

Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti aturan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.

Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :

a.      Pengkajian Data Ibu Nifas

1)      Data subjektif

a)      Biodata

-          Umur

Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti  kurang dari 20 tahun, alat - alat reproduksi belum matang, mental, dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas.

b)      Keluhan utama

      Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa nifas. Keluhan pada ibu nifas  adalah sebagai berikut :

-       Pasien mengatakan perut masih terasa mulas dan sedikit lelah.

c)        Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

-       Riwayat kehamilan yang lalu dikaji usia kehamilan (aterm, preterm, postterm) dan penyulit selama kehamilan.

-       Riwayat persalinan dikaji :

Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan tempat melahirkan yaitu di fasilitas kesehatan, jenis persalinan yaitu normal.

-   Riwayat nifas yaitu keadaan klien baik/tidak mengalami komplikasi nifas, proses laktasinya, pemberian vitamin A dan tablet Fe.

d)     Riwayat kesehatan

Pasien tidak pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus, hipertensi, hipotensi, atau hepatitis.

e)      Riwayat Keluarga Berencana

Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, ada keluhan selama menggunakan kontrasepsi.

f)       Pola makan

Beberapa hal yang perlu ditanyakan pada pasien dalam kaitannya dengan pola makan antara lain :

-       Menu

Bidan dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan, dan lain-lain).

-       Frekuensi

-       Seberapa banyak asupan makanan yang dimakan.

-       Seberapa banyak makanan yang ia makan dalam satu kali waktu makan. Untuk mendapatkan gambaran total dari makanan yang ia makan, dikalikan dengan frekuensi makan dalam sehari.

-       Pantangan

Hal ini juga ditanyakan tidak ada kemungkinan pasien berpantang makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan, atau telur.

g)        Pola Minum

Yang perlu ditanyakan pada pasien tentang pola minum antara lain :

-       Frekuensi

     Berapa kali minum dalam sehari dan dalam sekali minum dapat     habis berapa gelas.

-       Jumlah per hari

     Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak dalam sekali minum   akan diperoleh data jumlah in take dalam sehari.

h)        Pola istirahat

Istirahat sangat diperukan oleh ibu postpartum. Bidan dapat menyakan tentang berapa lama ibu tidur siang dan malam hari. Untuk istirahat malam, rata-rata waktu yang diperlukan adalah 6-8 jam.

i)        Personal hygiene

Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan kebersihan dirinya maka bidan harus dapat memberikan bimbingan cara perawatan kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin.

j)        Data psikososial

Respon ibu terhadap kelahiran bayinya, bidan dapat menyakan langsung kepada pasien mengenai bagaimana perasaannya terhadap kelahiran bayinya. Respon ayah terhadap bayi dapat ditanyakan langsung pada suami pasien atau kepada pasien itu sendiri. Data mengenai respon ayah ini sangat penting karena bidan dapat  jadikan sebagai salah satu acuan mengenai bagaimana pola bidan dalam memberikan asuhan kepada pasien dan bayinya. Jika suami memberikan respon yang positif terhadap istri dan anaknya maka akan memberikan kemudahan bagi bidan untuk melibatkannya dalam memberikan perawatan.

b.      Data objektif

Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut :

1)        Pemeriksaan umum

a)        Keadaan umum

       Pada ibu postpartum normal menunjukkan keadaan umum baik dengan kesadaran compos mentis

b)        Tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu)

-       Tekanan Darah

Ibu mengalami hipotensi orthostatik (penurunan 20 mmHg), normal terjadi hingga 46 jam pertama (Maryunani, 2009).

-       Nadi

Ibu postpartum normal biasanya mengalami bradikardia 50-70 kali permenit. Kriteria nadi normal orang dewasa adalah 80-100 kali per menit (Maryunani, 2009).

-       Pernapasan

Frekuensi pernafasan yang dihitung dalam 1 menit, respirasi normal 16 – 20 x/ menit.

-       Suhu

Terjadi peningkatan suhu pada 24 jam pertama setelah melahirkan yang mencapai 38OC (Maryunani, 2009).

c)             Pemeriksaan Fisik

-       Payudara (bentuk, gangguan, ASI, keadaan puting, kebersihan)

Ada pembesaran/ tidak, ada benjolan/ tidak, simetris/ tidak, areola hyperpigmentasi/ tidak, puting susu menonjol/ tidak, kolustrum sudah keluar/ belum.

d)         Ekstremitas

-       Ada/ tidak oedema dan varices

2)      Pemeriksaan khusus

a)      Abdomen

Inspeksi     : pembesaran perut

Palpasi        : nilai okntraksi uterus, TFU  setinggi pusat-2 jari dibawah pusat

b)      Genitalia

-          Vulva

Untuk mengetahui adakah varises/ tidak, kemerahan/tidak, nyeri/ tidak, ada pengeluaran pervaginam/tidak.

-          Perineum

Untuk mengetahui ada bekas luka/tidak, ada hematoma/tidak

-          Anus

Untuk mengetahui hemorroid/tidak

b. Diagnosis, Masalah dan Kebutuhan Ibu Postpartum

      Diagnosa kebidanan yang muncul pada ibu postpartum  normal adalah :

Ny. (...) , P (..) A (..) , waktu  postpartum

      Masalah yang biasa ditemukan pada ibu postpartum  normal adalah:

1)      Nyeri luka jahitan

  Masalah ini biasanya muncul atau dirasakan pasien selama hari-hari awal post partum.

Data dasar subjektif :

Keluhan pasien tentang rasa nyeri

Data dasar objektif :

-          Post partum hari pertama sampai hari ketiga

-          Inspeksi : adanya luka jahitan perineum pada persalinan spontan.

2)    Masalah pada payudara

Data dasar subjektif :

-          Keluhan nyeri pasien pada payudaranya

-          Badan terasa demam dan dingin

-          Pasien mengatakan tidak dapat menyusui bayinya karena putingnya masuk ke dalam

Data dasar objektif :

-          Puting susu masuk ke dalam (tidak menonjol)

-          Payudara lecet

-          Payudara bengkak

c.   Mengantisipasi diagnosa/ masalah potensial

Mengantisipasi diagnosis atau masalah potensial yang mungkin terjadi berdasarkan masalah atau diagnosis yang teridentifikasi. Langkah ini merupakan tindakan penyelamatan terhadap klien dan bertujuan mencegah komplikasi yang dapat timbul khususnya kondisi klien yang patologis. (Roito, 2013). Contohnya pada klien yang menyusui dan berpotensial mengalami bendungan ASI, untuk mengantisipasi masalah potensial yang muncul maka ibu disarankan untuk menyusui bayi secara on demand atu sesering mungkin.

d. Identifikasi Perlunya Tindakan Segera

Asuhan kebidanan  pada ibu nifas  normal sebenarnya tidak memerlukan tindakan segera. Akan tetapi, hal ini diperlukan apabila kondisi klien yang bersifat fisiologis berubah menjadi keadaan patologis. Oleh karena itu tindakan segera yang dimaksud adalah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien. Pada langkah ini mungkin untuk munculnya data baru akibat komplikasi yang terjadi sehingga memerlukan adanya tindakan segera. Misalnya pada klien yang mengalami gangguan buang air besar maka tindakan segera oleh bidan yaitu memberikan obat pencahar supositoria (Sulistyawati, 2009).

e.  Merencanakan Asuhan Kebidanan

Merencanakan asuhan yang menyeluruh dan ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya dengan rasional. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Perencanaan asuhan pada ibu nifas normal meliputi evaluasi terus menerus penyebab terjadinya perdarahan karena atonia uteri, atasi gangguan nyeri, berikan kenyamanan pada ibu, bantu ibu menyusui bayi, siapkan pemulangan pasien.

f. Implementasi Asuhan

Melaksanakan rencana asuhan komprehensif dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Pelaksanaan asuhan kebidanan meliputi tindakan mandiri, kolaborasi, tindakan pengawasan, dan pendidikan atau penyuluhan. Implementasi asuhan mencangkup usaha melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman tentang kontak dini sesering mungkin dengan bayi, mobilisasi atau istirahat, diet, perawatan perineum,  dan lain-lain.

g. Evaluasi

    Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

 

PERDARAHAN 2 JAM POSTPARTUM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang                              

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Berdasarkan data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian ibu meningkat dari 228/100.000 per kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 359/100.000 per kelahiran hidup pada tahun 2012 (Badan Pusat Statistik, 2013).

Lima penyebab kematian ibu terbesar adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK), dan infeksi (Kemenkes, 2014).

Perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab utama dari 150.000 kematian ibu setiap tahun di dunia dan hampir 4 dari 5 kematian karena perdarahan pasca persalinan terjadi dalam waktu 4 jam setelah persalinan (Saifuddin, 2010).

Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2009).

Pelayanan pada masa nifas harus terselenggara dengan baik agar kebutuhan ibu dan bayi dapat terpenuhi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi pada masa nifas (Saifuddin, 2010).

Berdasarkan uraian pada latar belakang penulis tertarik menyusun laporan kasus sebagai tugas mata kuliah Praktik Klinik Kebidanan dengan judul “Asuhan Kebidanan pada Ibu Postpartum Normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru Tahun 2016”.        

B.   Tujuan Penulisan

1.         Tujuan Umum

            Memberikan asuhan  kebidanan komprehensif pada ibu postpartum.

2.         Tujuan Khusus

a.    Melakukan pengkajian data pada ibu postpartum  normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

b.    Menegakkan diagnosa/masalah yang mungkin terjadi pada ibu postpartum di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

c.    Mengantisipasi masalah atau diagnosis potensial yang sudah di identifikasi pada ibu postpartum normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

d.   Mengidentifikasi perlunya tindakan segera terhadap kegawatdaruratan masa postpartum di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

e.    Merencanakan asuhan kebidanan pada ibu postpartum normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

f.     Mengimplementasikan rencana asuhan yang telah dibuat pada ibu postpartum normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

g.    Mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan secara berkesinambungan pada ibu postpartum normal di BPM Siti Julaeha Pekanbaru

C.   Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus

            Waktu pengambilan kasus pada senin, 26 september 2016 pukul 19.50 WIB. Tempat pengambilan kasus di BPM Siti Julaeha Amd.Keb

D.  Gambaran Kasus

Data S:

·         Pada 2 jam post partum ibu mengatakan lega telah melahirkan seorang bayi perempuan dan ingin istirahat karena lelah. Ibu mengatakan badan terasa pegal dan tidak dapat tidur  pulas setelah melahirkan

Data O :

Pemeriksaan Fisik

·         Keadaan umum ibu baik dan sadar

·         TTV : TD= 140/80                                          S= 36,3’ c

            N= 100 x/menit                                   R= 18 x/menit

·         Pemeriksaan dalam ( Ano-genetalia )

-          Terlihat vulva tidak ada varises

-          Perdarahan merembes dan jumlah ± 60 ml

-          Perineum masih utuh

-          Lokhia rubra dan hemoroid tidak ada.

Asessment :

Ny. D P4 A0 H4, post partum 2 jam, keadaan umum ibu baik.

Penatalaksanaan :

-          Mencegah terjadinya perdarahan masa nifas

-          Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga cara mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uteri

-          Pemberian ASI awal dan mengajarkan posisi menyusui yang benar

-          Melakukan rooming in antara ibu dan bayi baru lahir

-          Menjaga bayi tetap hangat dan mencegah terjadinya hipotermia

-          Tetap mengontrol keadaan stabil pada ibu dan bayi.